GACC Palm Oil menjadi salah satu aspek penting yang perlu di pahami perusahaan Indonesia yang ingin mengekspor minyak sawit ke China. Selain karena China merupakan salah satu pasar besar untuk produk minyak nabati, ekspor palm oil juga berkaitan dengan persyaratan keamanan pangan, registrasi fasilitas produksi, karantina, dokumen perdagangan, serta ketentuan kepabeanan di Indonesia dan China.
Oleh karena itu, perusahaan tidak cukup hanya memiliki produk palm oil dan menemukan pembeli di China. Sebaliknya, eksportir perlu memastikan bahwa produk, fasilitas produksi, dokumen, serta proses pengiriman telah sesuai dengan ketentuan negara asal dan negara tujuan.
Terlebih lagi, aturan registrasi perusahaan pangan luar negeri di China mengalami perubahan penting pada 2026. Mulai 1 Juni 2026, GACC Decree 280 menggantikan Decree 248 sebagai dasar baru pengelolaan registrasi perusahaan produksi pangan luar negeri. Sementara itu, kategori edible oil and fats atau minyak dan lemak pangan termasuk dalam daftar produk yang memerlukan registrasi melalui mekanisme rekomendasi otoritas kompeten.
Dengan demikian, calon eksportir palm oil Indonesia perlu memahami GACC bukan sekadar sebagai nomor registrasi, melainkan sebagai bagian dari sistem pengawasan keamanan pangan dan ketertelusuran produk.
Artikel ini membahas secara lengkap pengertian GACC Palm Oil, produk yang termasuk, persyaratan registrasi, dokumen ekspor, proses pengajuan, standar mutu, sertifikat karantina, kepabeanan, biaya, sampai tips mempersiapkan ekspor palm oil Indonesia ke China.
Apa Itu GACC Palm Oil?
GACC adalah singkatan dari General Administration of Customs of the People’s Republic of China, yaitu otoritas bea cukai China yang memiliki kewenangan dalam pengawasan perdagangan lintas batas, termasuk pemeriksaan dan pengawasan produk pangan impor.
Sementara itu, istilah GACC Palm Oil dalam konteks perdagangan biasanya merujuk pada pemenuhan persyaratan registrasi dan pengawasan GACC untuk perusahaan serta produk minyak sawit yang akan masuk ke pasar China.
Dengan kata lain, GACC Palm Oil bukan nama sebuah jenis visa, sertifikat tunggal, atau izin ekspor yang berdiri sendiri. Sebaliknya, istilah tersebut menggambarkan rangkaian kepatuhan yang perlu di penuhi agar produk palm oil dari perusahaan Indonesia dapat di ekspor dan di terima di China.
Hal ini penting karena perusahaan sering kali menganggap bahwa setelah memiliki izin ekspor di Indonesia, produk otomatis dapat di kirim ke China. Padahal, kedua negara memiliki sistem pengawasan masing-masing.
Di Indonesia, eksportir harus memenuhi ketentuan perdagangan, kepabeanan, karantina, dan ketentuan khusus komoditas sawit. Sementara itu, di China, produk pangan impor harus memenuhi persyaratan GACC serta standar keamanan pangan China.
Oleh karena itu, proses ekspor palm oil sebaiknya di pandang sebagai dua sisi yang saling berkaitan.
Pertama, perusahaan harus memastikan legalitas dan kepatuhan ekspor di Indonesia. Kedua, perusahaan harus memastikan bahwa produsen dan produk memenuhi ketentuan impor China.
Mengapa GACC Penting untuk Ekspor Palm Oil Indonesia ke China?
GACC penting karena minyak sawit yang di tujukan untuk konsumsi atau di gunakan sebagai bahan pangan masuk dalam ruang lingkup pengawasan pangan China.
Selain itu, minyak nabati merupakan komoditas yang membutuhkan perhatian terhadap keamanan pangan, kualitas, proses produksi, serta ketertelusuran.
Karena itu, China tidak hanya melihat dokumen perdagangan seperti invoice dan packing list. Pemeriksaan dapat berkaitan dengan status registrasi fasilitas, informasi produk, dokumen kesehatan atau karantina, label, serta kesesuaian barang dengan deklarasi impor.
Lebih lanjut, pemerintah China menerapkan sistem registrasi perusahaan produksi pangan luar negeri. Berdasarkan aturan baru yang berlaku sejak 1 Juni 2026, perusahaan produksi pangan luar negeri harus terdaftar pada GACC untuk dapat mengekspor pangan ke China.
Selain itu, GACC dapat melakukan penilaian melalui pemeriksaan dokumen, pemeriksaan video, pemeriksaan lapangan, atau kombinasi dari beberapa metode tersebut.
Dengan demikian, kesiapan perusahaan menjadi sangat penting sejak sebelum kontrak ekspor dilakukan.
Perubahan Penting GACC pada 2026
Salah satu hal terpenting dalam membahas GACC Palm Oil saat ini adalah perubahan regulasi.
Sebelumnya, registrasi perusahaan pangan luar negeri banyak mengacu pada GACC Decree 248. Namun, mulai 1 Juni 2026, ketentuan tersebut digantikan oleh GACC Decree 280.
Perubahan tersebut tidak berarti kewajiban registrasi GACC hilang. Sebaliknya, sistem registrasi di perbarui dan mekanisme klasifikasi produk menjadi lebih terstruktur.
GACC menetapkan daftar produk yang membutuhkan rekomendasi dari otoritas kompeten negara asal. Dalam daftar tersebut terdapat kategori edible oil and fats atau minyak dan lemak pangan.
Karena palm oil untuk konsumsi termasuk minyak pangan, perusahaan harus memperhatikan mekanisme registrasi yang berlaku untuk kategori tersebut.
Selanjutnya, GACC juga menerbitkan aturan pelaksanaan melalui pengumuman tahun 2026. Dalam aturan tersebut, kategori seperti edible oil and fats termasuk dalam daftar produk yang memerlukan official recommendation registration.
Oleh karena itu, perusahaan palm oil Indonesia tidak sebaiknya menggunakan informasi lama yang hanya mengacu pada Decree 248.
Sebaliknya, perusahaan perlu memeriksa ketentuan terbaru, status registrasi, kategori produk, serta mekanisme pengajuan yang berlaku pada saat aplikasi dilakukan.
Apakah Palm Oil Wajib Registrasi GACC?
Secara umum, produsen palm oil yang termasuk kategori minyak pangan dan akan di ekspor ke China perlu memperhatikan registrasi GACC.
Hal tersebut berbeda dengan anggapan bahwa hanya perusahaan eksportir yang perlu memiliki nomor GACC.
Dalam sistem China, yang menjadi fokus utama adalah overseas food manufacturer, yaitu perusahaan luar negeri yang memproduksi atau mengolah pangan yang di ekspor ke China.
Dengan demikian, apabila perusahaan Indonesia bertindak sebagai trader tetapi produk di buat oleh pabrik lain, struktur bisnis tersebut perlu di periksa secara hati-hati.
Misalnya, perusahaan A di Indonesia membeli palm oil dari pabrik B kemudian mengekspornya kepada importir China.
Dalam kondisi tersebut, nomor registrasi GACC tidak serta-merta dapat di anggap sebagai nomor milik perusahaan trader A. Sebaliknya, status perusahaan produksi B dan produk yang di daftarkan perlu di periksa.
Oleh karena itu, sebelum membuat kontrak, eksportir sebaiknya memastikan:
- siapa produsen sebenarnya;
- siapa eksportir;
- siapa pemilik merek;
- siapa importir di China;
- jenis palm oil yang di kirim;
- HS Code produk;
- status registrasi GACC;
- alamat fasilitas produksi;
- serta kesesuaian produk dengan informasi registrasi.
Produk Palm Oil Apa Saja yang Dapat Masuk dalam Registrasi?
Jenis palm oil perlu di tentukan berdasarkan spesifikasi produk dan klasifikasi HS.
Data Kementerian Perdagangan Indonesia untuk persyaratan mutu minyak sawit ke China mencantumkan beberapa klasifikasi, antara lain:
- HS 1511100000 untuk virgin palm oil;
- HS 1511901000 untuk palm oil;
- HS 1511909000 untuk other refined palm oil;
- HS 1513210000 untuk virgin palm kernel oil atau produk terkait.
Namun demikian, HS Code tidak boleh di tentukan hanya berdasarkan nama dagang.
Sebaliknya, perusahaan perlu melihat karakteristik produk, tingkat pemurnian, proses modifikasi, bentuk produk, tujuan penggunaan, dan klasifikasi kepabeanan yang berlaku.
Selain itu, sistem registrasi China juga menyediakan fasilitas pencarian kategori produk berdasarkan HS Code, CIQ Code, nama produk, serta kategori produk.
Oleh karena itu, eksportir sebaiknya melakukan verifikasi HS Code sebelum mengajukan registrasi maupun membuat dokumen komersial.
GACC Palm Oil dan Perbedaan Produsen dengan Eksportir
Salah satu bagian yang sering menimbulkan kesalahpahaman adalah perbedaan antara produsen dan eksportir.
Produsen adalah perusahaan yang menghasilkan atau mengolah palm oil. Sementara itu, eksportir adalah pihak yang melakukan transaksi dan pengiriman barang ke luar negeri.
Dalam sistem GACC, registrasi perusahaan produksi pangan memiliki peranan penting.
Karena itu, apabila perusahaan eksportir tidak memiliki pabrik sendiri, perusahaan harus memahami siapa yang menjadi produsen yang tercantum dalam registrasi.
Selain itu, data fasilitas produksi harus konsisten.
Misalnya, alamat pabrik yang tercantum dalam dokumen registrasi berbeda dengan alamat pada invoice atau dokumen lainnya. Kondisi tersebut dapat menimbulkan pertanyaan ketika dilakukan pemeriksaan.
Oleh karena itu, koordinasi antara produsen, eksportir, PPJK, freight forwarder, importir China, dan pihak karantina perlu dilakukan sejak awal.
Syarat Registrasi GACC Palm Oil
Secara umum, perusahaan produksi palm oil perlu mempersiapkan beberapa kelompok informasi.
Pertama, informasi legal perusahaan.
Kedua, informasi fasilitas produksi.
Ketiga, informasi sistem keamanan pangan.
Keempat, informasi produk yang akan di ekspor.
Kelima, dokumen pendukung yang di minta dalam mekanisme registrasi.
Berdasarkan ketentuan GACC yang berlaku mulai 2026, perusahaan yang mengajukan registrasi harus merupakan perusahaan yang secara legal didirikan dan berada dalam pengawasan otoritas negara asal.
Selain itu, perusahaan harus memiliki sistem manajemen keamanan dan higiene pangan yang efektif.
Perusahaan juga harus dapat memastikan bahwa pangan yang di ekspor memenuhi ketentuan China serta standar keamanan pangan yang berlaku.
Dengan demikian, registrasi GACC tidak sekadar mengisi formulir online.
Sebaliknya, perusahaan harus mampu menunjukkan bahwa fasilitas produksi dan sistem pengendalian mutunya benar-benar berjalan.
Dokumen yang Perlu Di persiapkan
Dokumen dapat berbeda berdasarkan jenis produk, mekanisme registrasi, serta permintaan otoritas. Namun, secara umum, perusahaan dapat mempersiapkan:
1. Legalitas perusahaan
Dokumen legalitas perusahaan di butuhkan untuk membuktikan identitas dan status badan usaha.
2. Informasi fasilitas produksi
Informasi tersebut dapat meliputi:
- nama fasilitas;
- alamat lengkap;
- kontak;
- jenis fasilitas;
- proses produksi;
- kapasitas;
- area produksi;
- gudang;
- sistem sanitasi;
- serta informasi terkait fasilitas pendukung.
3. Informasi produk
Informasi produk sebaiknya meliputi:
- nama produk;
- HS Code;
- kategori pangan;
- bahan baku;
- proses pengolahan;
- spesifikasi;
- penggunaan;
- kemasan;
- dan informasi label.
4. Sistem keamanan pangan
Perusahaan perlu memiliki dokumentasi terkait:
- hygiene;
- sanitation;
- quality control;
- traceability;
- pest control;
- pengendalian bahan baku;
- pengendalian proses;
- penyimpanan;
- serta penanganan produk yang tidak sesuai.
5. Dokumen sertifikasi
Jika perusahaan memiliki sertifikasi seperti HACCP, ISO 22000, GMP, atau sertifikasi relevan lainnya, dokumen tersebut dapat menjadi bagian dari dokumentasi sistem mutu sesuai kebutuhan proses registrasi dan persyaratan produk.
Namun, perusahaan tidak sebaiknya menganggap bahwa satu sertifikat otomatis menggantikan registrasi GACC.
Sebaliknya, sertifikasi dan registrasi GACC merupakan hal yang berbeda.
Apakah HACCP Wajib untuk GACC Palm Oil?
HACCP merupakan sistem penting dalam pengendalian keamanan pangan.
Namun demikian, memiliki sertifikat HACCP tidak otomatis berarti perusahaan telah mendapatkan registrasi GACC.
HACCP berfokus pada identifikasi dan pengendalian bahaya keamanan pangan. Sementara itu, GACC merupakan sistem registrasi dan pengawasan perusahaan pangan luar negeri untuk akses pasar China.
Oleh karena itu, perusahaan dapat menggunakan sistem HACCP sebagai bagian dari sistem manajemen keamanan pangan, tetapi tetap perlu mengikuti prosedur registrasi GACC yang berlaku.
Selain itu, perusahaan harus memastikan bahwa implementasi HACCP benar-benar sesuai dengan proses produksi.
Dokumen yang hanya tersedia di atas kertas tetapi tidak di terapkan dalam kegiatan produksi dapat menjadi masalah ketika perusahaan menghadapi audit atau evaluasi.
Peran Barantin dalam Ekspor Palm Oil ke China
Di Indonesia, Badan Karantina Indonesia atau Barantin memiliki peranan penting dalam urusan karantina dan persyaratan ekspor komoditas tumbuhan.
Saat ini, portal Barantin juga menyediakan layanan GACC Tumbuhan – Pengajuan GACC untuk Komoditas Tumbuhan.
Selain itu, pada 2026 Barantin melakukan pendampingan audit GACC terhadap komoditas minyak nabati dan turunan kelapa sawit di Indonesia.
Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa aspek keamanan pangan, ketertelusuran, dan kualitas komoditas sawit menjadi bagian penting dalam hubungan ekspor Indonesia-China.
Lebih lanjut, Barantin juga mencatat bahwa audit GACC terhadap sektor kelapa sawit dapat mencakup aspek budidaya, penggunaan pupuk, pengelolaan pestisida, penyimpanan bahan kimia pertanian, serta penerapan praktik budidaya yang aman.
Dengan demikian, eksportir tidak sebaiknya hanya mempersiapkan produk jadi.
Sebaliknya, sistem pengendalian bahan baku dan ketertelusuran sejak sumbernya juga perlu di perhatikan.
Apa Itu Audit GACC untuk Palm Oil?
Audit GACC merupakan proses evaluasi terhadap pemenuhan persyaratan yang di tetapkan China.
Audit dapat dilakukan melalui pemeriksaan dokumen, video, maupun kunjungan lapangan sesuai mekanisme dan tingkat risiko.
Dalam konteks palm oil, aspek yang dapat menjadi perhatian antara lain:
- sistem keamanan pangan;
- higiene;
- sanitasi;
- pengendalian kontaminasi;
- pengendalian bahan baku;
- traceability;
- laboratorium;
- sistem mutu;
- proses produksi;
- penyimpanan;
- serta dokumentasi.
Selain itu, audit dapat berkaitan dengan rantai pasok.
Artinya, perusahaan sebaiknya memiliki kemampuan untuk menjelaskan asal bahan baku dan bagaimana bahan tersebut di kendalikan sampai menjadi produk akhir.
Oleh karena itu, traceability menjadi sangat penting.
Pentingnya Traceability dalam Ekspor Palm Oil
Traceability atau ketertelusuran adalah kemampuan perusahaan untuk menelusuri perjalanan produk dari sumber bahan baku hingga produk akhir.
Dalam industri palm oil, sistem tersebut dapat mencakup:
- sumber bahan baku;
- penerimaan bahan baku;
- penyimpanan;
- proses produksi;
- pengujian;
- pengemasan;
- penyimpanan produk jadi;
- pengiriman;
- dan penerima akhir.
Dengan sistem tersebut, apabila terjadi masalah pada suatu batch, perusahaan dapat mengetahui sumber dan distribusi produk.
Selain itu, traceability membantu perusahaan menjawab pertanyaan dari buyer maupun otoritas.
Karena itu, perusahaan yang ingin membangun ekspor palm oil jangka panjang sebaiknya tidak menganggap traceability sebagai sekadar administrasi.
Sebaliknya, traceability perlu menjadi bagian dari sistem operasional.
Standar Mutu Palm Oil untuk China
Selain registrasi GACC, perusahaan harus memperhatikan standar mutu dan keamanan pangan China.
Salah satu standar yang relevan untuk edible vegetable oil adalah GB 2716 mengenai edible vegetable oil.
Namun demikian, standar yang berlaku dapat berubah dan penerapannya bergantung pada karakteristik produk.
Oleh karena itu, perusahaan perlu mencocokkan:
- jenis minyak;
- spesifikasi produk;
- bahan baku;
- proses produksi;
- parameter kimia;
- parameter keamanan pangan;
- kontaminan;
- residu;
- bahan tambahan;
- kemasan;
- dan label.
Selanjutnya, perusahaan perlu membandingkan spesifikasi internal dengan standar yang di minta oleh buyer China.
Hal ini penting karena standar buyer dapat lebih spesifik di bandingkan persyaratan umum.
Sertifikat Fitosanitari untuk Palm Oil
Persyaratan karantina perlu di periksa berdasarkan karakteristik komoditas dan ketentuan negara tujuan.
Dalam informasi perdagangan China yang di terbitkan untuk minyak nabati, pengiriman edible oil juga di kaitkan dengan persyaratan phytosanitary certificate dari otoritas kompeten negara eksportir.
Namun demikian, penerapan dokumen karantina perlu di konfirmasi berdasarkan HS Code, bentuk produk, kondisi pengiriman, dan persyaratan China yang berlaku pada saat ekspor.
Oleh karena itu, jangan menggunakan asumsi bahwa semua palm oil memiliki dokumen karantina yang sama.
Sebaliknya, eksportir perlu memeriksa persyaratan komoditas melalui sistem resmi dan berkoordinasi dengan Barantin sebelum pengiriman.
Dokumen Ekspor Palm Oil Indonesia ke China
Selain registrasi GACC, ekspor palm oil biasanya membutuhkan dokumen perdagangan dan kepabeanan.
Dokumen tersebut dapat mencakup:
- Commercial Invoice;
- Packing List;
- Bill of Lading;
- Pemberitahuan Ekspor Barang atau PEB;
- dokumen perizinan ekspor;
- dokumen karantina;
- sertifikat atau dokumen mutu;
- Certificate of Origin apabila dipersyaratkan;
- dokumen kontrak;
- dokumen asuransi apabila di gunakan;
- serta dokumen lain sesuai transaksi.
Namun, daftar dokumen dapat berbeda berdasarkan jenis palm oil, mekanisme ekspor, ketentuan buyer, negara tujuan, serta kebijakan yang berlaku.
Karena itu, eksportir sebaiknya membuat checklist berdasarkan shipment tertentu.
Apa Itu PEB dalam Ekspor Palm Oil?
PEB atau Pemberitahuan Ekspor Barang merupakan dokumen kepabeanan yang di gunakan untuk memberitahukan ekspor barang kepada Bea Cukai.
Dalam proses ekspor, eksportir atau PPJK menyiapkan PEB berdasarkan dokumen pelengkap pabean seperti invoice, packing list, serta dokumen lain yang di wajibkan.
Selanjutnya, sistem melakukan penelitian terhadap data dan ketentuan larangan atau pembatasan.
Apabila kewajiban telah di penuhi, Bea Cukai dapat menerbitkan Nota Pelayanan Ekspor atau NPE.
Setelah itu, barang dapat memperoleh persetujuan untuk di muat dan di berangkatkan sesuai prosedur kepabeanan.
Dengan demikian, GACC dan PEB berada dalam sistem yang berbeda.
GACC berkaitan dengan persyaratan masuk pangan ke China, sedangkan PEB merupakan bagian dari proses kepabeanan ekspor Indonesia.
Ketentuan Ekspor Kelapa Sawit Indonesia pada 2026
Selain aturan China, eksportir palm oil harus memperhatikan perubahan besar dalam kebijakan ekspor Indonesia.
Pada 2026, pemerintah menerbitkan Permendag Nomor 16 Tahun 2026 tentang Kebijakan dan Pengaturan Ekspor Komoditas Sumber Daya Alam Strategis Kelapa Sawit.
Aturan tersebut merupakan bagian dari kebijakan baru tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam strategis.
Implementasinya dilakukan secara bertahap.
Pada Tahap I, 1 Juni sampai 31 Desember 2026, ekspor masih dapat dilakukan melalui perizinan yang telah di terbitkan sebelumnya, dengan adanya kewajiban tambahan untuk menyampaikan laporan dan dokumen ekspor kepada BUMN Ekspor.
Selanjutnya, pemerintah menetapkan Tahap II yang di mulai paling lambat 1 Januari 2027, ketika mekanisme ekspor komoditas SDA strategis, termasuk kelapa sawit sesuai cakupan aturan, di arahkan melalui BUMN Ekspor.
Oleh karena itu, perusahaan yang sedang mempersiapkan ekspor palm oil ke China pada akhir 2026 perlu memperhatikan masa transisi tersebut.
Jangan hanya mengandalkan prosedur lama.
Sebaliknya, perusahaan perlu memeriksa ketentuan Permendag yang berlaku pada tanggal shipment.
Bea Keluar dan Pungutan Ekspor Palm Oil
Palm oil dan produk turunannya dapat di kenakan pungutan ekspor dan/atau bea keluar sesuai ketentuan yang berlaku.
Besaran pungutan tidak selalu sama karena dapat di pengaruhi oleh harga referensi, jenis produk, tarif yang berlaku, serta periode ekspor.
Sebagai contoh, untuk September 2026, Kementerian Perdagangan menetapkan Harga Referensi CPO sebesar USD 1.007,51 per metrik ton. Untuk periode tersebut, pemerintah menyebut Bea Keluar CPO sebesar USD 148 per MT dan Pungutan Ekspor sebesar 12,5% dari Harga Referensi.
Namun demikian, angka tersebut hanya berlaku untuk periode yang di sebutkan.
Oleh karena itu, eksportir tidak boleh menggunakan angka September sebagai dasar perhitungan untuk shipment pada bulan berbeda.
Sebaliknya, perhitungan harus menggunakan ketentuan dan harga referensi yang berlaku pada periode ekspor.
Apakah GACC Memungut Biaya Registrasi?
Berdasarkan pengumuman GACC mengenai implementasi aturan baru, pelaksanaan registrasi perusahaan pangan luar negeri melalui sistem GACC tidak di kenakan biaya oleh GACC.
Namun, hal tersebut tidak berarti proses ekspor tidak membutuhkan biaya.
Perusahaan tetap dapat memiliki biaya lain, misalnya:
- pengujian laboratorium;
- sertifikasi;
- inspeksi;
- tindakan karantina;
- penerjemahan;
- legalisasi dokumen jika di perlukan;
- freight forwarding;
- PPJK;
- stuffing;
- trucking;
- pelabuhan;
- bea keluar;
- pungutan ekspor;
- biaya bank;
- asuransi;
- serta biaya jasa profesional apabila menggunakan penyedia jasa.
Dengan demikian, penting membedakan antara biaya registrasi GACC dan total biaya persiapan serta ekspor palm oil.
Berapa Biaya Ekspor Palm Oil ke China?
Tidak ada satu angka yang dapat di gunakan untuk semua shipment.
Sebaliknya, biaya di pengaruhi oleh:
- jenis palm oil;
- volume;
- harga barang;
- pelabuhan asal;
- pelabuhan China;
- Incoterms;
- biaya kontainer atau bulk shipment;
- freight;
- asuransi;
- pungutan ekspor;
- biaya karantina;
- biaya pemeriksaan;
- biaya dokumen;
- biaya PPJK;
- biaya warehouse;
- biaya handling;
- dan ketentuan buyer.
Oleh karena itu, perusahaan sebaiknya membuat simulasi landed cost.
Dengan simulasi tersebut, eksportir dapat mengetahui berapa biaya barang sampai ke lokasi yang di sepakati dalam kontrak.
Alur Ekspor Palm Oil Indonesia ke China
Secara sederhana, prosesnya dapat di bagi menjadi beberapa tahap.
Tahap 1: Menentukan Produk
Pertama, tentukan jenis palm oil yang akan di ekspor.
Misalnya:
- CPO;
- refined palm oil;
- palm olein;
- palm stearin;
- atau produk turunan lainnya.
Selanjutnya, tentukan HS Code berdasarkan karakteristik produk.
Tahap 2: Memeriksa Persyaratan China
Kemudian, periksa persyaratan GACC dan standar China.
Pada tahap ini, perusahaan harus memastikan kategori produk dan status registrasi.
Tahap 3: Menyiapkan Fasilitas
Setelah itu, perusahaan memastikan fasilitas produksi memenuhi sistem keamanan pangan, sanitasi, higiene, traceability, dan pengendalian mutu.
Tahap 4: Pengajuan Registrasi
Selanjutnya, perusahaan mengikuti mekanisme registrasi GACC sesuai kategori produk.
Untuk kategori yang memerlukan official recommendation, proses harus mengikuti mekanisme otoritas kompeten.
Tahap 5: Verifikasi GACC
Kemudian, GACC melakukan evaluasi sesuai mekanisme yang berlaku.
Hasilnya dapat berupa persetujuan, permintaan perbaikan, atau keputusan lain sesuai hasil evaluasi.
Tahap 6: Menyiapkan Kontrak
Setelah aspek kepatuhan siap, perusahaan dapat menyusun kontrak dengan buyer China.
Pada tahap ini, Incoterms, volume, spesifikasi, harga, pembayaran, jadwal pengiriman, serta dokumen harus di sepakati.
Tahap 7: Persiapan Shipment
Selanjutnya, barang di produksi dan di persiapkan untuk shipment.
Dokumen komersial dan dokumen karantina di siapkan sesuai kebutuhan.
Tahap 8: Proses Karantina
Kemudian, perusahaan melakukan tindakan karantina sesuai persyaratan.
Tahap 9: Kepabeanan
Setelah itu, PEB di sampaikan kepada Bea Cukai.
Apabila semua persyaratan terpenuhi, proses di lanjutkan sampai penerbitan NPE.
Tahap 10: Pengiriman
Terakhir, barang di muat ke kapal dan di kirim ke China.
Namun, proses belum sepenuhnya selesai.
Importir China masih harus menjalankan proses customs clearance dan pemeriksaan di negara tujuan.
Peran Importir China dalam Ekspor Palm Oil
Eksportir Indonesia tidak bekerja sendiri.
Sebaliknya, importir China memiliki peranan yang sangat penting.
Importir perlu memastikan bahwa perusahaan tersebut dapat melakukan impor produk pangan sesuai ketentuan China.
Selain itu, importir perlu memeriksa dokumen yang di perlukan sebelum barang di berangkatkan.
Karena itu, eksportir sebaiknya meminta buyer memberikan informasi:
- nama importir;
- nomor registrasi;
- port of entry;
- jenis produk;
- HS Code China;
- CIQ Code;
- persyaratan label;
- spesifikasi;
- dokumen impor;
- dan persyaratan khusus lainnya.
Dengan demikian, potensi kesalahan dapat di minimalkan sejak tahap kontrak.
Label Palm Oil untuk Pasar China
Label merupakan aspek yang tidak boleh di abaikan.
Untuk produk pangan yang di kemas dan di pasarkan di China, informasi label harus mengikuti ketentuan China yang berlaku.
Selain itu, nomor registrasi perusahaan pangan luar negeri perlu di perhatikan.
Berdasarkan GACC Decree 280, perusahaan yang telah mendapatkan registrasi harus mencantumkan nomor registrasi China atau nomor registrasi yang di setujui otoritas negara asal pada kemasan pangan sesuai ketentuan.
Namun, format dan detail label harus disesuaikan dengan produk.
Karena itu, jangan sekadar menerjemahkan label Indonesia ke bahasa Mandarin.
Sebaliknya, label perlu di periksa berdasarkan regulasi pangan China dan spesifikasi produk.
Kesalahan Umum dalam Ekspor Palm Oil ke China
Berikut beberapa kesalahan yang sering perlu di hindari.
1. Menganggap nomor GACC sebagai izin ekspor Indonesia
GACC merupakan persyaratan dari China.
Sementara itu, izin ekspor Indonesia tetap harus di penuhi.
Oleh karena itu, keduanya tidak boleh di samakan.
2. Menggunakan HS Code yang tidak sesuai
HS Code memengaruhi klasifikasi dan persyaratan.
Karena itu, kesalahan HS Code dapat berdampak pada dokumen dan proses customs clearance.
3. Registrasi menggunakan data pabrik yang salah
Alamat fasilitas produksi harus konsisten.
Jika terjadi perubahan alamat, perusahaan harus mengikuti prosedur perubahan data sesuai aturan GACC.
4. Tidak memeriksa masa berlaku registrasi
Nomor GACC tidak boleh di anggap berlaku selamanya.
Decree 280 menetapkan masa registrasi lima tahun, dengan mekanisme perpanjangan tertentu.
Selain itu, sistem 2026 memperkenalkan automatic renewal untuk kategori tertentu, sementara kategori yang masuk daftar pengecualian tetap harus mengajukan perpanjangan.
5. Tidak memiliki traceability
Dokumen bahan baku yang tidak lengkap dapat menyulitkan proses audit.
Oleh karena itu, perusahaan perlu memiliki sistem pencatatan yang konsisten.
6. Mengandalkan informasi lama
Aturan GACC mengalami perubahan pada 2026.
Karena itu, artikel lama yang hanya menggunakan Decree 248 belum tentu mencerminkan seluruh ketentuan yang berlaku saat ini.
7. Mengabaikan kebijakan ekspor Indonesia
Perusahaan mungkin sudah memenuhi GACC, tetapi shipment tetap harus memenuhi kebijakan ekspor Indonesia.
Oleh karena itu, kedua sisi regulasi harus di periksa.
Cara Mengecek Status Registrasi GACC Palm Oil
Perusahaan dapat menggunakan sistem resmi China untuk memeriksa registrasi perusahaan pangan luar negeri.
Sistem tersebut menyediakan informasi seperti:
- nama perusahaan;
- negara;
- kategori produk;
- nomor registrasi;
- alamat fasilitas;
- tanggal registrasi;
- tanggal berakhir;
- dan status.
Selain itu, sistem menyediakan pencarian produk berdasarkan HS Code dan informasi terkait CIQ.
Dengan demikian, perusahaan dapat memeriksa apakah fasilitas dan produk yang dimaksud sudah tercatat.
Namun, status registrasi harus diperiksa menggunakan data terbaru.
Oleh karena itu, jangan hanya menggunakan screenshot lama dari buyer atau agen.
Apa yang Terjadi Jika Registrasi GACC Bermasalah?
Jika perusahaan tidak memenuhi persyaratan registrasi atau terjadi masalah dalam kepatuhan, GACC dapat meminta tindakan perbaikan.
Selain itu, status perusahaan dapat dipengaruhi oleh hasil pengawasan.
Dalam sistem GACC, status perusahaan dapat berkaitan dengan kondisi seperti approved, suspended, revoked, atau membutuhkan rectification sesuai proses yang berlaku.
Karena itu, menjaga kepatuhan setelah mendapatkan registrasi sama pentingnya dengan mendapatkan registrasi pertama kali.
Dengan demikian, perusahaan perlu membangun sistem internal untuk memastikan:
- dokumen tetap valid;
- proses produksi konsisten;
- sistem keamanan pangan berjalan;
- traceability tersedia;
- perubahan fasilitas dilaporkan;
- dan persyaratan China terus dipantau.
Berapa Lama Proses Registrasi GACC Palm Oil?
Tidak ada satu waktu yang berlaku untuk semua perusahaan.
Durasi dapat dipengaruhi oleh:
- kelengkapan dokumen;
- kesiapan fasilitas;
- kategori produk;
- mekanisme rekomendasi;
- evaluasi otoritas;
- permintaan perbaikan;
- audit;
- serta antrean proses.
Oleh karena itu, perusahaan sebaiknya tidak menjadikan tanggal pengiriman sebagai titik awal persiapan.
Sebaliknya, persiapan GACC sebaiknya dilakukan jauh sebelum shipment pertama.
Jika buyer sudah memiliki target pengiriman, perusahaan perlu menghitung waktu untuk registrasi, pengujian, produksi, dokumen, booking kapal, dan clearance.
Tips Mempersiapkan GACC Palm Oil untuk Pemula
Bagi perusahaan yang baru pertama kali ekspor, proses dapat terasa kompleks.
Namun, proses tersebut dapat dibagi menjadi beberapa pekerjaan.
Pertama, tentukan produknya
Jangan memulai dari formulir GACC.
Mulailah dari produk.
Pastikan jenis palm oil, spesifikasi, penggunaan, HS Code, kemasan, dan buyer sudah jelas.
Kedua, identifikasi produsen
Pastikan perusahaan yang didaftarkan benar-benar fasilitas yang memproduksi produk.
Ketiga, audit dokumen internal
Periksa legalitas, SOP, sistem keamanan pangan, traceability, pengujian, dan catatan produksi.
Keempat, cocokkan dengan persyaratan China
Jangan hanya menggunakan standar Indonesia.
Sebaliknya, cocokkan spesifikasi dengan ketentuan China.
Kelima, koordinasikan dengan buyer
Buyer dapat memberikan informasi terkait pelabuhan, label, spesifikasi, dokumen, dan customs requirement.
Keenam, koordinasikan dengan Barantin
Karena terdapat aspek karantina dan layanan GACC untuk komoditas tumbuhan, koordinasi dengan otoritas terkait penting dilakukan.
Ketujuh, periksa regulasi ekspor Indonesia
Terlebih lagi, kebijakan ekspor kelapa sawit Indonesia mengalami perubahan pada 2026.
Kedelapan, siapkan shipment
Setelah semua persyaratan terpenuhi, barulah proses produksi dan pengiriman dilakukan.
Checklist GACC Palm Oil Indonesia-China
Agar lebih mudah, berikut checklist sederhana yang dapat digunakan.
Legalitas
- Legalitas perusahaan
- Identitas produsen
- Alamat fasilitas
- Kontak perusahaan
- Dokumen otoritas negara asal
Produk
- Nama palm oil
- HS Code
- CIQ Code
- Spesifikasi
- Komposisi
- Proses produksi
- Kemasan
- Tujuan penggunaan
Sistem Mutu
- GMP
- HACCP atau sistem keamanan pangan relevan
- SOP sanitasi
- SOP produksi
- Pest control
- Quality control
- Traceability
- Sistem recall
- Catatan produksi
GACC
- Kategori produk telah ditentukan
- Mekanisme registrasi telah ditentukan
- Dokumen pengajuan siap
- Rekomendasi otoritas disiapkan jika diperlukan
- Registrasi diajukan
- Status aplikasi dipantau
- Nomor registrasi diverifikasi
Ekspor Indonesia
- Dokumen ekspor
- PEB
- Invoice
- Packing list
- Dokumen karantina
- Dokumen perizinan
- Pungutan ekspor
- Bea keluar jika berlaku
- NPE
China
- Importir China
- Customs requirement
- Label
- Spesifikasi produk
- Dokumen impor
- Pelabuhan tujuan
- CIQ requirement
Apakah Bisa Menggunakan Jasa Pengurusan GACC Palm Oil?
Perusahaan dapat menggunakan bantuan konsultan atau penyedia jasa untuk membantu persiapan administrasi.
Namun, penggunaan jasa tidak menghilangkan tanggung jawab produsen.
Karena itu, perusahaan sebaiknya tetap memahami prosesnya.
Penyedia jasa yang baik seharusnya dapat menjelaskan:
- kategori produk;
- mekanisme registrasi;
- dokumen yang dibutuhkan;
- pihak yang berwenang;
- tahapan pengajuan;
- status aplikasi;
- biaya resmi;
- dan batas pekerjaan mereka.
Sebaliknya, perusahaan perlu berhati-hati jika ada pihak yang menjanjikan:
- nomor GACC pasti terbit dalam waktu sangat singkat;
- tidak perlu dokumen;
- tidak perlu pemeriksaan;
- atau nomor GACC dapat dibeli tanpa proses.
Hal tersebut perlu diverifikasi melalui sistem resmi.
Selain itu, perusahaan sebaiknya meminta bukti pengajuan dan dapat melakukan pengecekan status secara mandiri.
Bagaimana Memilih Jasa Pengurusan GACC Palm Oil?
Jika menggunakan jasa profesional, beberapa hal perlu diperiksa.
Pertama, pastikan penyedia jasa memahami regulasi GACC terbaru.
Kedua, pastikan mereka memahami produk palm oil, bukan hanya registrasi pangan secara umum.
Ketiga, periksa apakah mereka memahami proses Indonesia.
Keempat, tanyakan siapa yang bertanggung jawab terhadap komunikasi dengan otoritas.
Kelima, minta rincian biaya.
Selanjutnya, pastikan kontrak menjelaskan pekerjaan yang termasuk dan tidak termasuk.
Dengan demikian, perusahaan dapat menghindari biaya tambahan yang tidak diperkirakan.
GACC Palm Oil Bukan Satu-Satunya Persyaratan Ekspor
Hal yang paling penting untuk dipahami adalah bahwa GACC hanya salah satu bagian dari keseluruhan proses ekspor.
Perusahaan tetap harus memenuhi:
Persyaratan Indonesia → persyaratan karantina → persyaratan kepabeanan → persyaratan GACC → persyaratan importir China → customs clearance China.
Oleh karena itu, perusahaan harus melihat ekspor secara menyeluruh.
Jika hanya fokus pada nomor GACC, risiko kesalahan masih tetap ada.
Misalnya, registrasi GACC sudah aktif tetapi HS Code pada PEB tidak sesuai.
Sebaliknya, dokumen ekspor Indonesia sudah lengkap tetapi produk tidak sesuai spesifikasi yang diminta buyer.
Karena itu, koordinasi lintas pihak menjadi kunci.
Hubungan GACC dengan Buyer China
Buyer China memiliki peranan penting dalam proses ekspor.
Sebelum menandatangani kontrak, eksportir sebaiknya meminta buyer memberikan persyaratan impor secara tertulis.
Hal tersebut penting karena setiap buyer dapat memiliki spesifikasi yang berbeda.
Misalnya, buyer dapat meminta:
- kadar tertentu;
- parameter mutu tertentu;
- jenis kemasan tertentu;
- dokumen tertentu;
- label Mandarin;
- Certificate of Analysis;
- certificate of origin;
- atau dokumen tambahan.
Oleh karena itu, kontrak sebaiknya tidak hanya berisi harga dan jumlah.
Sebaliknya, kontrak juga perlu mengatur spesifikasi dan dokumen.
Contoh Simulasi Ekspor Palm Oil ke China
Sebagai contoh sederhana, perusahaan Indonesia menjual refined palm oil kepada buyer di China.
Pertama, perusahaan menentukan spesifikasi dan HS Code.
Selanjutnya, perusahaan memastikan fasilitas produksi memiliki sistem keamanan pangan.
Kemudian, perusahaan memeriksa kategori produk pada sistem GACC.
Setelah itu, perusahaan mempersiapkan registrasi sesuai mekanisme yang berlaku.
Jika kategori produk membutuhkan rekomendasi otoritas kompeten, proses tersebut harus dipenuhi.
Berikutnya, setelah status registrasi sesuai, perusahaan membuat kontrak dengan buyer.
Kemudian, produk diproduksi sesuai spesifikasi.
Setelah produk siap, perusahaan mengurus dokumen karantina dan dokumen ekspor.
Selanjutnya, eksportir atau PPJK menyampaikan PEB.
Setelah proses kepabeanan selesai dan NPE diterbitkan, barang dapat dimuat.
Kemudian, kapal berangkat menuju China.
Di China, importir menjalankan proses customs clearance sesuai ketentuan.
Dengan demikian, satu shipment melibatkan banyak pihak dan dokumen.
Risiko Jika Dokumen GACC Tidak Sesuai
Ketidaksesuaian dokumen dapat menimbulkan berbagai konsekuensi.
Misalnya, proses impor dapat tertunda.
Selain itu, barang dapat membutuhkan pemeriksaan tambahan.
Dalam kondisi tertentu, importir dapat mengalami biaya penyimpanan atau biaya tambahan lainnya.
Bahkan, jika masalah menyangkut keamanan pangan atau ketidaksesuaian serius, konsekuensinya dapat lebih besar.
Oleh karena itu, pemeriksaan dokumen sebelum shipment sangat penting.
Sebaiknya, perusahaan melakukan pre-shipment document review.
Checklist tersebut dapat mencocokkan:
- nama produsen;
- nomor registrasi;
- HS Code;
- nama produk;
- jumlah;
- berat;
- batch;
- tanggal produksi;
- negara asal;
- invoice;
- packing list;
- Bill of Lading;
- sertifikat;
- dan informasi label.
Dengan demikian, kesalahan administratif dapat ditemukan sebelum kapal berangkat.
GACC Palm Oil dan Ketertelusuran Rantai Pasok
Dalam industri sawit, ketertelusuran semakin penting.
Perusahaan perlu mengetahui dari mana bahan baku berasal dan bagaimana bahan tersebut diproses.
Selain itu, sistem traceability dapat membantu perusahaan memberikan informasi ketika buyer atau otoritas meminta penjelasan.
Pada 2026, Barantin menyampaikan bahwa hasil audit GACC terhadap sektor komoditas tumbuhan masih menunjukkan kebutuhan penguatan pada sejumlah aspek, termasuk sistem ketertelusuran, pengendalian hama, environmental monitoring, pengendalian titik kritis keamanan pangan, serta kapasitas laboratorium.
Oleh karena itu, perusahaan palm oil sebaiknya memandang traceability sebagai bagian dari kesiapan ekspor, bukan sekadar persyaratan administratif.
Masa Berlaku Registrasi GACC
Menurut GACC Decree 280, registrasi perusahaan pangan luar negeri memiliki masa berlaku lima tahun.
Namun, mekanisme perpanjangan perlu diperhatikan berdasarkan kategori produk.
Pada 2026, sistem GACC juga diperbarui untuk mendukung automatic renewal bagi kategori tertentu.
Sementara itu, perusahaan yang masuk daftar produk yang tidak memperoleh automatic renewal harus mengajukan perpanjangan dalam periode yang ditentukan.
Oleh karena itu, perusahaan perlu menyimpan informasi:
- tanggal mulai registrasi;
- tanggal berakhir;
- kategori produk;
- status renewal;
- serta perubahan data perusahaan.
Dengan demikian, perusahaan tidak mengalami masalah akibat registrasi kedaluwarsa.
Apakah Nomor GACC Bisa Dipakai untuk Semua Produk?
Tidak selalu.
Registrasi GACC berkaitan dengan perusahaan dan kategori produk yang terdaftar.
Sistem resmi GACC juga menjelaskan bahwa kategori produk yang diizinkan untuk diekspor harus mengikuti informasi produk yang disetujui dalam sistem.
Oleh karena itu, perusahaan tidak sebaiknya menganggap satu nomor registrasi dapat digunakan secara bebas untuk seluruh jenis produk.
Misalnya, perusahaan memiliki registrasi untuk kategori tertentu tetapi kemudian ingin mengekspor produk berbeda.
Dalam kondisi tersebut, status produk harus diperiksa terlebih dahulu.
Karena itu, verifikasi melalui sistem GACC menjadi langkah penting sebelum shipment.
Apakah Trader Palm Oil Bisa Mendapat Nomor GACC?
Hal tersebut bergantung pada status dan peran perusahaan dalam rantai pasok.
GACC Decree 280 mengatur registrasi perusahaan produksi, pengolahan, dan kategori fasilitas tertentu yang termasuk dalam ruang lingkupnya.
Oleh karena itu, trader tidak boleh langsung menganggap bahwa dirinya harus atau dapat mendaftarkan fasilitas produksi milik pihak lain atas nama sendiri.
Sebaliknya, struktur transaksi perlu dianalisis:
Produsen → Exporter → Importer China
atau:
Produsen/Exporter → Importer China
Jika trader tidak memiliki fasilitas produksi, perusahaan harus memastikan siapa pihak yang menjadi registered overseas food manufacturer.
Dengan demikian, struktur kontrak dan struktur registrasi harus konsisten.
Kapan Sebaiknya Mulai Persiapan GACC Palm Oil?
Persiapan sebaiknya dimulai sebelum perusahaan menerima purchase order besar.
Pertama, lakukan pemetaan produk.
Kemudian, lakukan gap analysis.
Setelah itu, perbaiki dokumen dan sistem produksi.
Selanjutnya, siapkan registrasi.
Baru setelah itu, koordinasikan shipment.
Cara tersebut lebih aman daripada menunggu barang sudah diproduksi kemudian baru memeriksa persyaratan China.
Terlebih lagi, apabila ada audit atau permintaan perbaikan, perusahaan membutuhkan waktu untuk menyesuaikan fasilitas.
Strategi Persiapan Ekspor Palm Oil ke China
Strategi praktis dapat dibuat menjadi lima tahap.
Tahap 1: Regulatory Mapping
Petakan semua regulasi Indonesia dan China.
Tahap 2: Product Mapping
Tentukan HS Code, kategori produk, spesifikasi, dan penggunaan.
Tahap 3: Facility Readiness
Pastikan fasilitas produksi memenuhi sistem keamanan pangan.
Tahap 4: Registration
Ikuti mekanisme GACC sesuai kategori produk.
Tahap 5: Shipment Compliance
Pastikan dokumen shipment, karantina, PEB, dan customs clearance sudah siap.
Dengan pendekatan tersebut, perusahaan dapat mengurangi ketergantungan pada satu dokumen.
Selain itu, perusahaan memiliki sistem yang dapat digunakan kembali untuk shipment berikutnya.
FAQ GACC Palm Oil
Apa itu GACC Palm Oil?
GACC Palm Oil adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kepatuhan terhadap persyaratan GACC bagi produk minyak sawit yang akan diekspor ke China. Persyaratan tersebut terutama berkaitan dengan registrasi perusahaan pangan luar negeri, keamanan pangan, produk, dan proses impor.
Apakah palm oil Indonesia wajib memiliki registrasi GACC?
Untuk palm oil yang termasuk kategori edible oil and fats, perusahaan produksi luar negeri perlu mengikuti ketentuan registrasi GACC yang berlaku. Sejak 1 Juni 2026, dasar regulasinya adalah GACC Decree 280.
Apakah Decree 248 masih berlaku?
Tidak. Decree 248 mengenai registrasi perusahaan produksi pangan luar negeri digantikan oleh Decree 280 yang mulai berlaku pada 1 Juni 2026.
Apakah GACC sama dengan izin ekspor Indonesia?
Tidak. GACC merupakan bagian dari persyaratan akses produk ke China, sedangkan izin dan proses ekspor Indonesia tetap harus dipenuhi.
Siapa yang perlu diperhatikan dalam registrasi GACC?
Perusahaan produksi pangan luar negeri merupakan pihak utama dalam sistem registrasi. Oleh karena itu, struktur produsen, eksportir, dan trader perlu ditentukan secara jelas.
Apakah GACC gratis?
GACC menyatakan bahwa pelaksanaan registrasi perusahaan pangan luar negeri tidak dipungut biaya oleh GACC. Namun, perusahaan tetap dapat memiliki biaya untuk pengujian, sertifikasi, dokumen, karantina, logistik, dan jasa profesional.
Berapa lama registrasi GACC?
Tidak ada satu durasi yang berlaku untuk semua perusahaan. Waktu dapat berbeda berdasarkan kategori produk, kelengkapan dokumen, proses rekomendasi, evaluasi, audit, dan perbaikan.
Apakah HACCP menggantikan GACC?
Tidak. HACCP merupakan sistem manajemen keamanan pangan, sedangkan GACC merupakan sistem registrasi dan pengawasan perusahaan pangan luar negeri.
Apakah perusahaan harus menggunakan jasa agen?
Tidak selalu. Namun, perusahaan dapat menggunakan jasa profesional apabila membutuhkan bantuan administrasi, pemetaan regulasi, persiapan dokumen, atau koordinasi proses.
Apakah nomor GACC berlaku selamanya?
Tidak. Registrasi memiliki masa berlaku. Berdasarkan Decree 280, masa registrasi adalah lima tahun, dengan mekanisme perpanjangan sesuai kategori.
Apakah ekspor palm oil Indonesia ke China hanya membutuhkan GACC?
Tidak. Selain GACC, perusahaan harus memperhatikan kebijakan ekspor Indonesia, karantina, kepabeanan, dokumen perdagangan, persyaratan buyer, serta proses impor China.
GACC Palm Oil merupakan salah satu aspek utama yang harus dipersiapkan oleh perusahaan Indonesia yang ingin mengekspor minyak sawit ke China. Namun, GACC tidak boleh dipandang sebagai satu-satunya izin yang menentukan keberhasilan ekspor.
Sebaliknya, ekspor palm oil merupakan proses yang menghubungkan beberapa sistem sekaligus.
Di Indonesia, perusahaan harus memenuhi ketentuan ekspor, kepabeanan, karantina, serta kebijakan khusus komoditas kelapa sawit. Sementara itu, di China, perusahaan harus memenuhi persyaratan GACC, keamanan pangan, registrasi fasilitas, standar produk, label, serta ketentuan importir.
Selain itu, perubahan regulasi pada 2026 perlu menjadi perhatian khusus. Mulai 1 Juni 2026, GACC Decree 280 menggantikan Decree 248. Kategori edible oil and fats termasuk dalam daftar produk yang membutuhkan official recommendation registration.
Oleh karena itu, perusahaan palm oil perlu memastikan status produsen, kategori produk, HS Code, dokumen, sistem keamanan pangan, traceability, serta mekanisme registrasi sebelum melakukan shipment.
Selanjutnya, kebijakan ekspor kelapa sawit Indonesia juga mengalami perubahan melalui Permendag Nomor 16 Tahun 2026. Pada masa transisi hingga akhir 2026, eksportir perlu memperhatikan ketentuan tahap pertama, sedangkan mekanisme tahap berikutnya dijadwalkan mulai paling lambat 1 Januari 2027.
Dengan demikian, persiapan ekspor palm oil ke China sebaiknya dilakukan secara menyeluruh.
GACC → registrasi produsen → standar produk → keamanan pangan → karantina → dokumen ekspor → PEB → NPE → pengiriman → customs clearance China.
Jika setiap tahapan dipersiapkan sejak awal, perusahaan dapat memiliki proses ekspor yang lebih terstruktur, terdokumentasi, dan mudah ditelusuri.
Pada akhirnya, kunci ekspor palm oil Indonesia ke China bukan hanya mendapatkan nomor GACC. Lebih dari itu, perusahaan perlu membangun sistem kepatuhan yang mampu menjaga kualitas produk, keamanan pangan, ketertelusuran, dan konsistensi dokumen dari fasilitas produksi sampai barang diterima di China.
Konsultasikan Ekspor Palm Oil Sekarang