Perusahaan palm oil Indonesia yang ingin mengekspor produk ke China perlu memahami bahwa keberhasilan ekspor tidak hanya di tentukan oleh kualitas produk dan kelengkapan dokumen perdagangan. Selain itu, perusahaan juga harus memenuhi persyaratan kepatuhan yang di tetapkan oleh General Administration of Customs of the People’s Republic of China (GACC).
GACC compliance pada dasarnya mencakup kemampuan perusahaan untuk memenuhi persyaratan registrasi, keamanan pangan, higiene, dokumentasi, pelabelan, ketertelusuran, serta konsistensi antara data perusahaan dan produk yang di ekspor. Karena palm oil termasuk kelompok edible fats and oils dalam daftar produk yang memerlukan registrasi GACC dan rekomendasi otoritas berwenang, perusahaan perlu menyiapkan kepatuhan sejak sebelum pengajuan registrasi.
Baca Juga : GACC Palm Oil: Panduan Lengkap Ekspor Palm Oil Indonesia ke China
Namun, GACC compliance tidak sama dengan customs clearance. Registrasi GACC berkaitan dengan status perusahaan atau fasilitas produksi sebagai produsen makanan luar negeri yang dapat mengekspor ke China. Sementara itu, customs clearance berkaitan dengan pemeriksaan dan penilaian kepatuhan atas setiap impor atau pengiriman yang masuk ke China.
Oleh karena itu, perusahaan palm oil Indonesia perlu membangun sistem yang menghubungkan GACC registration, food safety, quality control, dokumen ekspor, PEB, shipping documents, dan persyaratan Customs China.
Artikel ini membahas GACC compliance untuk perusahaan palm oil Indonesia secara menyeluruh, mulai dari pengertian, persyaratan, dokumen, sistem keamanan pangan, pemeriksaan, hingga checklist sebelum ekspor.
Baca Juga : GACC Palm Refinery: Persyaratan Ekspor Produk Palm Oil ke China

Apa Itu GACC Compliance untuk Perusahaan Palm Oil?
GACC compliance adalah kepatuhan perusahaan terhadap persyaratan yang di tetapkan oleh otoritas kepabeanan China terkait produk makanan yang di ekspor ke wilayah China.
Dalam konteks palm oil, compliance tidak hanya berarti memiliki nomor registrasi GACC. Perusahaan juga harus mampu menunjukkan bahwa fasilitas produksi, sistem keamanan pangan, proses produksi, dokumentasi, serta produk yang di kirim memenuhi persyaratan yang berlaku.
Baca Juga : Cara Registrasi GACC untuk Palm Refinery Indonesia
Selain itu, mulai 1 Juni 2026, China menerapkan GACC Order No. 280 mengenai registrasi perusahaan produksi luar negeri untuk makanan impor. Juga, regulasi tersebut menggantikan Order No. 248 tahun 2021. Jadi, GACC menjadi pihak yang mengelola registrasi perusahaan produksi makanan luar negeri secara nasional.
Dalam regulasi tersebut, perusahaan luar negeri yang memproduksi makanan untuk ekspor ke China harus memenuhi beberapa kondisi dasar, antara lain:
- Didirikan secara sah dan berada di bawah pengawasan otoritas yang berwenang di negara asal.
- Memiliki sistem manajemen keamanan dan higiene pangan yang efektif.
- Memproduksi dan mengekspor secara legal.
- Menjamin produk yang di ekspor memenuhi hukum, regulasi, serta standar keamanan pangan China.
- Memenuhi persyaratan inspeksi dan karantina yang relevan.
Untuk kategori makanan yang masuk daftar wajib rekomendasi otoritas negara asal, persyaratannya menjadi lebih spesifik.
Produk edible fats and oils termasuk dalam daftar tersebut. Artinya, perusahaan palm oil yang masuk cakupan produk ini perlu memperhatikan proses rekomendasi dari otoritas berwenang di negara asal selain proses registrasi GACC.
Baca Juga : Syarat GACC untuk Perusahaan Palm Oil Indonesia
Mengapa GACC Compliance Penting bagi Perusahaan Palm Oil Indonesia?
China merupakan salah satu pasar penting bagi perdagangan minyak nabati dunia. Karena itu, perusahaan palm oil yang menargetkan pasar China harus memperlakukan kepatuhan sebagai bagian dari sistem ekspor, bukan sekadar formalitas administrasi.
Ada beberapa alasan utama.
Baca Juga : GACC Registration Number untuk Palm Oil: Fungsi dan Cara Cek
1. Registrasi merupakan bagian dari persyaratan akses pasar
Untuk produk yang termasuk dalam sistem registrasi GACC, perusahaan produsen luar negeri harus terdaftar sebelum mengekspor produk yang berada dalam cakupan regulasi.
GACC juga dapat melakukan evaluasi melalui pemeriksaan dokumen, pemeriksaan video, pemeriksaan lapangan, atau kombinasi metode tersebut berdasarkan tingkat risiko.
Baca Juga : Cara Cek Perusahaan Palm Oil yang Sudah Terdaftar GACC
2. Meminimalkan masalah saat import clearance
Registrasi GACC tidak otomatis membuat setiap shipment bebas pemeriksaan. China Customs tetap melakukan proses penilaian kesesuaian terhadap makanan impor.
Penilaian tersebut dapat mencakup pemeriksaan dokumen, pemeriksaan fisik, sampling, pemeriksaan sertifikat, serta aktivitas pengawasan lain sesuai risiko.
Dengan demikian, perusahaan harus menjaga compliance secara berkelanjutan.
Baca Juga : Masa Berlaku Registrasi GACC Palm Oil dan Cara Perpanjangannya
3. Menjaga konsistensi data
Data perusahaan pada registrasi GACC harus dapat di kaitkan dengan dokumen perdagangan dan pengiriman.
Misalnya, nama fasilitas produksi, alamat, jenis produk, nomor registrasi, serta informasi eksportir harus di kelola secara konsisten.
Jika terjadi perubahan besar pada fasilitas atau informasi registrasi, perusahaan tidak boleh menganggap nomor GACC sebagai data yang dapat di gunakan tanpa pembaruan.
Baca Juga : HS Code Palm Oil untuk Ekspor ke China
GACC Compliance Berbeda dengan Customs Clearance
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap GACC registration sama dengan customs clearance.
Baca Juga : HS Code 1511902001: Palm Stearin 50–56°C
Padahal, keduanya berada pada tahap berbeda.
| Aspek | GACC Compliance | Customs Clearance China |
|---|---|---|
| Fokus | Perusahaan/fasilitas dan keamanan pangan | Pengiriman atau shipment |
| Otoritas | GACC | China Customs |
| Objek utama | Produsen makanan luar negeri | Barang yang masuk China |
| Dokumen | Registrasi dan bukti compliance | Import declaration dan dokumen shipment |
| Pemeriksaan | Dapat berupa dokumen, video, atau onsite | Penilaian kesesuaian impor |
| Tujuan | Memenuhi persyaratan akses pasar | Menentukan apakah shipment dapat di impor |
China Customs menjelaskan bahwa penilaian kesesuaian makanan impor dapat mencakup evaluasi sistem keamanan pangan negara asal, registrasi perusahaan produksi luar negeri, filing importir dan eksportir, pemeriksaan dokumen, pemeriksaan lapangan, sampling, serta aktivitas pengawasan lainnya.
Karena itu, perusahaan palm oil perlu memastikan dua lapisan compliance tersebut berjalan bersamaan.
Baca Juga : HS Code 1511902001 untuk Ekspor Palm Stearin Indonesia ke China
Siapa yang Wajib Memperhatikan GACC Compliance?
Dalam rantai ekspor palm oil terdapat beberapa pihak yang berbeda.
1. Produsen atau refinery
Produsen merupakan pihak yang memiliki fasilitas produksi. Jika fasilitas tersebut menghasilkan produk makanan yang di ekspor ke China, status registrasi produsen menjadi bagian penting dari GACC compliance.
Baca Juga : Perbedaan HS Code 1511902001 dan 1511902090
2. Eksportir
Eksportir bertanggung jawab terhadap aktivitas perdagangan dan pengiriman. Status eksportir tidak otomatis sama dengan status manufacturer.
China juga memiliki mekanisme filing untuk overseas food exporters atau agents. Sistem ini berbeda dari registrasi manufacturer.
Baca Juga : Perbedaan HS Code Palm Olein dan Palm Stearin
3. Importir China
Importir bertanggung jawab terhadap proses impor di China, termasuk deklarasi dan pemenuhan persyaratan import clearance.
Baca Juga : HS Code Palm Oil RBD untuk Ekspor ke China
4. PPJK dan freight forwarder
Di Indonesia, PPJK dapat membantu proses PEB dan kepabeanan ekspor. Namun, peran tersebut tidak berarti PPJK menggantikan tanggung jawab perusahaan dalam memenuhi GACC compliance.
Karena itu, perusahaan sebaiknya membagi tanggung jawab dengan jelas.
Persyaratan Dasar GACC Compliance Palm Oil
Perusahaan palm oil perlu membangun compliance dari beberapa aspek.
1. Legalitas Perusahaan
Perusahaan harus memiliki legalitas yang sah di Indonesia.
Dokumen legalitas dapat menjadi bagian dari informasi registrasi perusahaan. GACC mensyaratkan bukti identitas perusahaan, seperti dokumen izin usaha yang di terbitkan otoritas negara asal.
Informasi perusahaan harus konsisten antara dokumen legal, data registrasi, dan dokumen perdagangan.
2. Legalitas Fasilitas Produksi
Compliance tidak hanya berkaitan dengan nama perusahaan.
Alamat fasilitas produksi juga menjadi informasi penting karena registrasi berkaitan dengan overseas food manufacturer.
Oleh sebab itu, perusahaan perlu memastikan:
- alamat fasilitas benar;
- fasilitas masih beroperasi;
- fasilitas sesuai dengan data registrasi;
- produk yang di ajukan memang di produksi di fasilitas tersebut;
- perubahan lokasi di laporkan sesuai prosedur.
Jika terjadi perubahan besar seperti relokasi fasilitas, perubahan tersebut dapat berdampak pada status registrasi. Order No. 280 menyebutkan bahwa perubahan tertentu yang berdampak besar terhadap sistem keamanan dan higiene dapat menyebabkan perusahaan perlu melakukan registrasi kembali.
Sistem Keamanan dan Higiene Pangan
Salah satu komponen utama GACC compliance adalah sistem keamanan pangan.
Perusahaan palm oil sebaiknya memiliki sistem terdokumentasi yang menjelaskan bagaimana produk di kendalikan sejak bahan baku sampai barang siap di ekspor.
Sistem tersebut dapat mencakup:
- penerimaan bahan baku;
- pemeriksaan bahan baku;
- penyimpanan;
- proses produksi;
- pengendalian suhu;
- kebersihan fasilitas;
- pengendalian kontaminasi;
- pengendalian hama;
- pemeriksaan laboratorium;
- pengelolaan produk tidak sesuai;
- traceability;
- corrective action;
- dokumentasi batch.
GACC dapat meminta informasi mengenai sistem keamanan pangan, higiene, perlindungan pangan, jenis produksi, dan kapasitas produksi apabila di perlukan untuk proses registrasi atau pengawasan.
GACC Compliance dan Quality Control Palm Oil
Selain sistem keamanan pangan, perusahaan harus dapat menunjukkan bahwa produk yang di kirim sesuai dengan spesifikasi.
Dalam perdagangan palm oil, quality control dapat mencakup parameter yang di sepakati dalam kontrak dan spesifikasi pembeli.
Untuk produk seperti palm stearin, misalnya, melting point atau parameter terkait karakteristik produk dapat menjadi bagian dari spesifikasi. Sementara itu, parameter lain dapat mencakup:
- moisture and impurities;
- acid value;
- peroxide value;
- iodine value;
- saponification value;
- fatty acid composition;
- melting point atau parameter fisik sesuai metode pengujian;
- parameter lain berdasarkan spesifikasi produk.
Namun, perusahaan tidak sebaiknya menggunakan satu daftar parameter untuk seluruh jenis palm oil.
Spesifikasi harus di sesuaikan dengan produk, kontrak, standar yang berlaku, metode pengujian, dan kebutuhan importir China.
Certificate of Analysis dalam GACC Compliance
Certificate of Analysis atau COA merupakan dokumen penting untuk menunjukkan hasil pengujian suatu batch produk.
COA idealnya dapat di telusuri ke shipment tertentu.
Misalnya, perusahaan memiliki:
Batch → Production Date → Tank → COA → Invoice → Packing List → B/L → Shipment
Hubungan tersebut membantu perusahaan menunjukkan traceability apabila terjadi pertanyaan mengenai kualitas produk.
Selain itu, COA harus konsisten dengan spesifikasi yang di sepakati.
Perusahaan sebaiknya menghindari penggunaan COA yang hanya bersifat template tanpa hubungan yang jelas dengan batch aktual.
Traceability sebagai Bagian Penting Compliance
Traceability berarti kemampuan perusahaan untuk menelusuri asal dan perjalanan produk.
Juga, untuk palm oil, sistem traceability sebaiknya mampu menjawab beberapa pertanyaan:
- Bahan baku berasal dari mana?
- Kapan bahan di terima?
- Di fasilitas mana produk di proses?
- Batch produksi berapa?
- Tangki penyimpanan mana yang di gunakan?
- Kapan produk di muat?
- Container atau vessel apa yang di gunakan?
- Kepada siapa produk di kirim?
Semakin baik sistem traceability, semakin mudah perusahaan memberikan penjelasan jika terdapat masalah kualitas atau keamanan pangan.
Selain itu, traceability membantu mengurangi risiko ketidaksesuaian antara data produksi dan data shipping.
Dokumen yang Perlu Di siapkan
GACC compliance membutuhkan dokumentasi yang terorganisasi.
Dokumen dapat di bagi menjadi beberapa kelompok.
1. Dokumen legal perusahaan
Contohnya:
- legalitas perusahaan;
- dokumen fasilitas;
- informasi alamat;
- data penanggung jawab;
- nomor registrasi yang relevan.
2. Dokumen sistem keamanan pangan
Contohnya:
- food safety management system;
- SOP produksi;
- SOP sanitasi;
- pest control;
- cleaning record;
- quality control procedure;
- corrective action;
- traceability procedure.
3. Dokumen kualitas produk
Contohnya:
- specification sheet;
- COA;
- laboratory test;
- production record;
- batch record.
4. Dokumen ekspor
Contohnya:
- commercial invoice;
- packing list;
- Bill of Lading;
- Certificate of Origin jika di perlukan;
- PEB;
- dokumen teknis lainnya sesuai produk dan transaksi.
Untuk PEB di Indonesia, invoice dan packing list termasuk dokumen pelengkap yang harus di unggah pada saat submit awal PEB berdasarkan mekanisme yang berlaku.
GACC Registration Number dan Compliance
Setelah perusahaan memperoleh registrasi, nomor registrasi tersebut harus di kelola secara benar.
Order No. 280 menyatakan bahwa perusahaan yang telah memperoleh registrasi harus mencantumkan nomor registrasi di China atau nomor registrasi yang di setujui otoritas negara asal pada kemasan makanan yang di ekspor ke China.
Karena itu, bagian produksi, quality control, regulatory, packaging, dan ekspor harus menggunakan data yang sama.
Selain itu, kesalahan sederhana seperti nomor registrasi yang tidak sesuai dengan data perusahaan dapat menciptakan masalah administratif.
Pemeriksaan GACC terhadap Perusahaan Palm Oil
GACC dapat melakukan evaluasi berdasarkan tingkat risiko.
Metodenya dapat berupa:
- pemeriksaan dokumen;
- pemeriksaan video;
- pemeriksaan lapangan;
- kombinasi beberapa metode.
Hal tersebut di sebutkan dalam Order No. 280 dan panduan registrasi GACC.
Karena itu, perusahaan tidak cukup hanya menyiapkan dokumen.
Perusahaan juga harus memastikan bahwa kondisi aktual fasilitas sesuai dengan dokumen.
Misalnya, SOP menyatakan proses sanitasi dilakukan setiap hari, tetapi catatan sanitasi tidak tersedia. Dalam situasi seperti ini, perusahaan dapat mengalami kesulitan menunjukkan implementasi sistem yang sebenarnya.
Apa yang Harus Di siapkan untuk Audit atau Assessment?
Sebelum assessment, perusahaan dapat melakukan internal gap assessment.
Area 1: Legalitas
Periksa:
- nama perusahaan;
- alamat;
- izin;
- fasilitas;
- penanggung jawab;
- nomor registrasi.
Area 2: Produksi
Periksa:
- alur produksi;
- kebersihan;
- peralatan;
- penyimpanan;
- pengendalian kontaminasi.
Area 3: Quality Control
Periksa:
- spesifikasi;
- sampling;
- laboratory testing;
- COA;
- calibration;
- batch record.
Area 4: Traceability
Periksa apakah satu shipment dapat di telusuri kembali ke batch produksinya.
Area 5: Corrective Action
Selanjutnya, periksa apakah perusahaan memiliki mekanisme untuk menangani produk yang tidak sesuai.
GACC Compliance dan Label Produk
Kemasan merupakan salah satu bagian yang harus di perhatikan.
Selain itu, informasi yang di gunakan pada packaging harus sesuai dengan data registrasi dan persyaratan yang berlaku untuk produk.
Terutama, nomor registrasi yang di wajibkan harus di cantumkan sesuai ketentuan GACC.
Selain itu, perusahaan harus menghindari perbedaan data antara:
Packaging → COA → Invoice → Packing List → B/L → GACC registration
Jika nama produk berbeda-beda secara tidak wajar, proses pemeriksaan dapat menjadi lebih kompleks.
GACC Compliance dan HS Code
HS Code juga harus di perhatikan, walaupun HS classification bukan pengganti GACC registration.
Perusahaan perlu membedakan:
- HS Code Indonesia;
- HS Code China;
- deskripsi produk;
- karakteristik produk;
- bentuk produk;
- proses pengolahan;
- spesifikasi.
Misalnya, palm oil, palm olein, palm stearin, dan produk fraksi lainnya tidak selalu menggunakan klasifikasi yang sama.
Karena itu, perusahaan sebaiknya tidak menentukan HS Code hanya berdasarkan nama dagang.
Deskripsi produk dan karakteristik aktual harus di periksa terlebih dahulu.
GACC Compliance untuk Palm Stearin
Palm stearin membutuhkan perhatian tambahan karena karakteristik produk dapat berkaitan dengan klasifikasi dan spesifikasi perdagangan.
Untuk produk yang di kategorikan berdasarkan melting point, perusahaan harus memastikan hasil pengujian menggunakan metode yang tepat dan konsisten dengan spesifikasi kontrak.
Misalnya, jika suatu produk di jual dengan spesifikasi melting point tertentu, maka hasil COA, product specification, commercial invoice, dan informasi produk sebaiknya tidak saling bertentangan.
Namun, perusahaan tidak boleh menganggap bahwa semua palm stearin otomatis menggunakan satu HS Code tertentu. Klasifikasi harus berdasarkan karakteristik aktual dan nomenklatur yang berlaku pada negara ekspor maupun negara tujuan.
GACC Compliance dan Commercial Invoice
Commercial invoice merupakan dokumen perdagangan yang juga menjadi bagian penting dari konsistensi data.
Invoice sebaiknya memuat informasi seperti:
- exporter;
- buyer/importer;
- invoice number;
- invoice date;
- product description;
- quantity;
- unit;
- unit price;
- total value;
- currency;
- Incoterms;
- country of origin;
- contract atau purchase order jika relevan.
Data tersebut harus konsisten dengan dokumen lainnya.
Misalnya, quantity pada invoice tidak seharusnya berbeda tanpa penjelasan dengan quantity pada packing list dan shipping documents.
GACC Compliance dan Packing List
Packing list berfungsi memberikan informasi mengenai bentuk fisik barang.
Untuk palm oil, terutama pengiriman dalam drum, flexitank, ISO tank, atau bentuk kemasan lainnya, packing list perlu di buat sesuai kondisi aktual.
Informasi dapat mencakup:
- jumlah package;
- net weight;
- gross weight;
- container number;
- seal number;
- shipping marks;
- product description;
- batch information bila relevan.
Karena invoice dan packing list di gunakan dalam proses PEB, konsistensi kedua dokumen tersebut juga penting di sisi ekspor Indonesia.
GACC Compliance dan Bill of Lading
Bill of Lading atau B/L menjadi penghubung antara transaksi dan pengangkutan.
Data penting yang perlu di periksa meliputi:
- shipper;
- consignee;
- notify party;
- vessel;
- voyage;
- port of loading;
- port of discharge;
- container number;
- seal number;
- quantity;
- cargo description;
- weight.
Juga, kesalahan data B/L dapat menimbulkan kebutuhan amendment dan berpotensi memperlambat proses administrasi.
Karena itu, pengecekan B/L sebaiknya dilakukan sebelum final document release.
GACC Compliance dan Certificate of Origin
Certificate of Origin atau COO membuktikan asal barang.
Untuk transaksi Indonesia-China, perusahaan juga dapat mempertimbangkan penggunaan skema preferensi tarif seperti ACFTA apabila persyaratan Rules of Origin terpenuhi.
Form E di gunakan untuk membuktikan asal Indonesia dalam konteks fasilitas tarif preferensial ACFTA.
Namun, Form E bukan pengganti GACC registration.
Dengan demikian:
GACC registration = compliance produsen makanan
sedangkan:
Form E = dokumen asal barang untuk fasilitas tarif preferensial apabila persyaratan terpenuhi.
Keduanya memiliki fungsi yang berbeda.
Hubungan GACC Compliance dengan PEB Indonesia
Compliance ekspor tidak berhenti pada GACC.
Perusahaan juga harus memenuhi prosedur ekspor Indonesia.
Eksportir wajib menyampaikan PEB kepada kantor pabean pemuatan dan melengkapinya dengan dokumen yang dipersyaratkan. PEB dapat di sampaikan sendiri oleh eksportir atau melalui PPJK.
Untuk produk kelapa sawit, perusahaan juga perlu memperhatikan regulasi ekspor Indonesia yang berlaku.
Saat ini, Permendag No. 16 Tahun 2026 tentang Kebijakan dan Pengaturan Ekspor Komoditas Sumber Daya Alam Strategis Kelapa Sawit berstatus berlaku.
Kemendag menjelaskan bahwa aturan tersebut mulai berlaku pada 1 Juni 2026 dan mengatur tata kelola ekspor komoditas kelapa sawit. Pada Tahap I, kegiatan ekspor masih menggunakan Eksportir Terdaftar atau ET dan Laporan Surveyor atau LS atas nama pelaku usaha, dengan ketentuan masa berlaku sebagaimana di atur dalam kebijakan tersebut.
Oleh karena itu, perusahaan harus memeriksa ketentuan ekspor Indonesia yang berlaku pada saat shipment dilakukan.
Checklist GACC Compliance Sebelum Ekspor Palm Oil
Sebelum barang di kirim, perusahaan dapat menggunakan checklist berikut.
| Area | Pemeriksaan |
|---|---|
| Registrasi | Status GACC masih aktif |
| Produk | Produk sesuai dengan kategori registrasi |
| Fasilitas | Alamat dan fasilitas sesuai data |
| Legalitas | Dokumen perusahaan masih berlaku |
| Food safety | Sistem keamanan pangan berjalan |
| QC | Produk telah di uji |
| COA | COA sesuai batch |
| Traceability | Batch dapat di telusuri |
| Packaging | Informasi sesuai ketentuan |
| GACC number | Nomor sesuai data registrasi |
| Invoice | Data transaksi benar |
| Packing list | Data fisik benar |
| B/L | Data pengiriman benar |
| COO | Disiapkan jika di perlukan |
| PEB | Sudah di siapkan dan di sampaikan |
| Export regulation | Ketentuan Indonesia terpenuhi |
| Importer | Importir China siap melakukan deklarasi |
| Customs | Dokumen import clearance siap |
Maka, checklist tersebut sebaiknya di periksa oleh lebih dari satu bagian.
Misalnya, tim regulatory memeriksa compliance, tim QC memeriksa produk, tim ekspor memeriksa dokumen, dan tim logistik memeriksa shipping information.
Kesalahan GACC Compliance yang Sering Terjadi
1. Menganggap nomor GACC sudah cukup
Nomor registrasi bukan berarti perusahaan bebas dari kewajiban menjaga keamanan pangan.
Compliance harus di pertahankan selama masa registrasi.
2. Data perusahaan tidak konsisten
Perbedaan nama perusahaan, alamat, fasilitas, atau produk dapat menimbulkan pertanyaan dalam proses pemeriksaan.
3. COA tidak sesuai batch
COA yang tidak dapat di telusuri ke shipment membuat sistem quality control menjadi kurang kuat.
4. SOP hanya ada di atas kertas
Perusahaan harus dapat menunjukkan bukti pelaksanaan SOP melalui record.
5. Mengabaikan perubahan fasilitas
Relokasi atau perubahan besar pada fasilitas dapat berdampak terhadap status registrasi. Juga, order No. 280 mengatur mekanisme perubahan dan registrasi kembali untuk kondisi tertentu.
6. Menganggap GACC sama dengan clearance
Registrasi produsen dan pemeriksaan shipment merupakan dua hal berbeda.
7. Tidak memantau masa berlaku
Registrasi GACC pada dasarnya memiliki masa berlaku lima tahun. Namun, mekanisme perpanjangan dapat berbeda berdasarkan kategori dan status produk.
Bagaimana Menjaga GACC Compliance Secara Berkelanjutan?
Compliance sebaiknya tidak dilakukan hanya ketika perusahaan ingin mendapatkan registrasi.
Selain itu, perusahaan dapat membuat sistem monitoring bulanan atau kuartalan.
Monitoring legalitas
Periksa apakah izin perusahaan, fasilitas, dan dokumen terkait masih berlaku.
Monitoring produksi
Pastikan SOP tetap di jalankan.
Monitoring QC
Pastikan alat ukur, laboratory testing, dan COA tetap terkendali.
Monitoring shipment
Periksa setiap shipment sebelum dokumen di kirim kepada importir.
Monitoring regulasi
Regulasi China dan Indonesia dapat berubah. Karena itu, bagian regulatory harus melakukan review secara berkala.
GACC sendiri menerapkan sistem pengawasan berkelanjutan terhadap perusahaan yang telah terdaftar. Apabila perusahaan tidak lagi memenuhi persyaratan, GACC dapat meminta perbaikan dan dalam kondisi tertentu dapat menangguhkan impor dari perusahaan tersebut.
Apa yang Terjadi Jika Perusahaan Tidak Memenuhi GACC Compliance?
Ketidaksesuaian dapat menimbulkan beberapa konsekuensi.
Pertama, proses registrasi dapat tidak di setujui.
Kedua, perusahaan yang sudah terdaftar dapat di minta melakukan corrective action.
Ketiga, selama proses perbaikan, aktivitas impor produk perusahaan dapat di tangguhkan sesuai mekanisme yang berlaku.
Keempat, dalam kondisi serius, registrasi dapat dicabut.
Order No. 280 mencantumkan berbagai kondisi yang dapat menyebabkan pencabutan registrasi, termasuk masalah keamanan pangan serius, masalah higiene yang signifikan, pemberian informasi palsu, tidak kooperatif dalam pemeriksaan, serta penyalahgunaan nomor registrasi.
Karena itu, perusahaan harus memandang compliance sebagai sistem manajemen, bukan sekadar nomor registrasi.
Berapa Lama GACC Compliance Harus Dipertahankan?
Selama perusahaan masih mengekspor produk yang berada dalam cakupan registrasi ke China, compliance perlu dipertahankan.
Registrasi GACC berdasarkan Order No. 280 memiliki masa berlaku lima tahun. Untuk kategori tertentu yang tidak masuk daftar otomatis diperpanjang, perusahaan perlu mengajukan perpanjangan dalam periode yang ditentukan sebelum masa berlaku berakhir.
Karena itu, perusahaan sebaiknya memiliki reminder internal setidaknya beberapa bulan sebelum masa registrasi berakhir.
Selain itu, jangan menunggu sampai registrasi hampir habis untuk memeriksa dokumen.
Strategi Praktis Membangun GACC Compliance
Perusahaan palm oil dapat menggunakan pendekatan berikut.
Tahap 1: Mapping produk
Identifikasi produk yang akan diekspor.
Contohnya:
- crude palm oil;
- RBD palm oil;
- palm olein;
- palm stearin;
- produk fraksi lainnya.
Tahap 2: Mapping fasilitas
Tentukan fasilitas mana yang memproduksi produk untuk China.
Tahap 3: Mapping regulasi
Identifikasi persyaratan GACC dan regulasi ekspor Indonesia.
Tahap 4: Gap assessment
Bandingkan kondisi aktual perusahaan dengan persyaratan.
Tahap 5: Perbaikan
Perbaiki SOP, fasilitas, dokumentasi, QC, dan traceability.
Tahap 6: Registrasi
Siapkan pengajuan GACC sesuai kategori dan mekanisme yang berlaku.
Tahap 7: Shipment compliance
Setiap shipment diperiksa kembali sebelum dikirim.
Tahap 8: Continuous monitoring
Lakukan monitoring setelah perusahaan mendapatkan registrasi.
Dengan pendekatan tersebut, perusahaan tidak hanya mengejar registrasi, tetapi membangun sistem compliance yang dapat digunakan untuk ekspor secara berkelanjutan.
Alur GACC Compliance Palm Oil Indonesia ke China
Secara sederhana, alurnya dapat digambarkan sebagai berikut:
Identifikasi Produk
↓
Identifikasi Fasilitas Produksi
↓
Pemeriksaan Kategori GACC
↓
Persiapan Sistem Food Safety
↓
Gap Assessment
↓
Dokumen dan Rekomendasi Otoritas
↓
Pengajuan GACC
↓
Assessment GACC
↓
Registrasi
↓
Production & QC
↓
COA dan Traceability
↓
Invoice + Packing List + COO + B/L
↓
PEB Indonesia
↓
Shipment
↓
Import Declaration di China
↓
Customs Conformity Assessment
↓
Clearance
Alur tersebut menunjukkan bahwa GACC compliance merupakan salah satu bagian dari keseluruhan proses ekspor.
Tips Memilih Jasa Pendamping GACC Compliance
Perusahaan yang belum terbiasa dengan regulasi ekspor makanan dapat menggunakan pendamping profesional.
Namun, pilih layanan dengan hati-hati.
Beberapa hal yang dapat diperiksa antara lain:
- Memahami GACC Order No. 280.
- Memahami kategori edible fats and oils.
- Mampu membantu gap assessment.
- Memahami dokumen food safety.
- Tidak menjanjikan persetujuan GACC secara otomatis.
- Menjelaskan perbedaan GACC registration dan customs clearance.
- Memiliki sistem pengecekan dokumen.
- Menjelaskan biaya secara transparan.
- Membantu koordinasi dengan pihak perusahaan.
- Memberikan daftar dokumen yang jelas.
Perlu diingat bahwa registrasi GACC sendiri merupakan layanan pemerintah yang tidak dikenakan biaya. Namun, perusahaan dapat tetap mengeluarkan biaya internal atau biaya pihak ketiga untuk persiapan dokumen, audit internal, pengujian, penerjemahan, konsultasi, atau aktivitas compliance lainnya. Juga, panduan resmi China Customs mencantumkan registrasi overseas food manufacturers sebagai layanan yang tidak dikenakan biaya pemerintah.
FAQ GACC Compliance Perusahaan Palm Oil Indonesia
Apakah semua perusahaan palm oil wajib memiliki GACC?
Persyaratan bergantung pada jenis produk dan cakupan fasilitas. Untuk makanan yang termasuk dalam kategori registrasi GACC, produsen luar negeri harus memenuhi ketentuan registrasi. Pada implementasi 2026, edible fats and oils termasuk dalam kategori yang memerlukan registrasi dengan rekomendasi otoritas negara asal.
Apakah GACC registration sama dengan customs clearance?
Tidak. GACC registration berkaitan dengan registrasi perusahaan produksi makanan luar negeri, sedangkan customs clearance merupakan proses penilaian dan pelepasan shipment yang masuk ke China.
Apakah GACC registration gratis?
Registrasi GACC untuk overseas food manufacturers tercantum sebagai layanan yang tidak dikenakan biaya pemerintah. Namun, perusahaan tetap dapat memiliki biaya persiapan compliance atau jasa pendamping.
Berapa lama masa berlaku registrasi GACC?
Order No. 280 menetapkan masa berlaku registrasi lima tahun, dengan ketentuan perpanjangan tertentu berdasarkan kategori produk dan status perusahaan.
Apakah perusahaan harus menjaga compliance setelah mendapatkan nomor GACC?
Ya. Registrasi bukan akhir dari proses. Perusahaan harus tetap memenuhi persyaratan dan dapat menjadi objek pengawasan atau pemeriksaan ulang.
Apakah eksportir dan manufacturer memiliki registrasi yang sama?
Tidak selalu. Registrasi overseas food manufacturer berbeda dari filing untuk overseas food exporter atau agent. China Customs memiliki prosedur terpisah untuk eksportir atau agen luar negeri.
Apakah GACC menjamin shipment pasti lolos customs?
Tidak. Setiap shipment tetap dapat menjalani proses conformity assessment berdasarkan aturan dan manajemen risiko China Customs.
GACC compliance untuk perusahaan palm oil Indonesia merupakan sistem kepatuhan yang mencakup lebih dari sekadar memperoleh nomor registrasi.
Perusahaan perlu memastikan legalitas, fasilitas produksi, sistem keamanan pangan, higiene, quality control, COA, traceability, packaging, dokumentasi perdagangan, serta informasi shipment dikelola secara konsisten.
Terlebih lagi, sejak 1 Juni 2026, GACC Order No. 280 menjadi dasar baru registrasi perusahaan produksi makanan luar negeri dan menggantikan Order No. 248. Dalam daftar implementasinya, edible fats and oils termasuk kategori yang memerlukan registrasi GACC dan rekomendasi otoritas berwenang di negara asal.
Namun, GACC compliance bukan pengganti customs clearance. Setelah perusahaan terdaftar, setiap pengiriman tetap harus memenuhi persyaratan impor dan conformity assessment di China.
Sementara itu, dari sisi Indonesia, perusahaan tetap harus mematuhi ketentuan ekspor kelapa sawit yang berlaku, termasuk ketentuan dalam Permendag No. 16 Tahun 2026 serta prosedur kepabeanan seperti PEB dan dokumen pelengkap ekspor.
Maka dengan demikian, pola compliance yang ideal adalah:
GACC Registration → Food Safety Compliance → Quality Control → Traceability → Document Consistency → Indonesian Export Compliance → Shipment Compliance → China Customs Clearance.
Perusahaan palm oil yang membangun seluruh proses tersebut secara terintegrasi akan lebih siap menghadapi proses registrasi, pemeriksaan, dan ekspor berulang ke pasar China.
Konsultasikan Ekspor Palm Oil Sekarang