Syarat GACC untuk perusahaan Palm Oil Indonesia menjadi salah satu hal penting yang perlu di pahami oleh perusahaan yang ingin memasukkan produk minyak sawit dan turunannya ke pasar China. GACC atau General Administration of Customs of China mengatur registrasi perusahaan pangan luar negeri yang memproduksi, mengolah, atau menyimpan produk pangan untuk di ekspor ke China.
Khusus untuk produk minyak sawit yang masuk dalam kategori edible oils atau食用油脂 (minyak dan lemak pangan), proses registrasi memiliki perhatian khusus karena kategori tersebut termasuk kelompok pangan yang memerlukan rekomendasi dari otoritas kompeten negara asal. Ketentuan ini semakin penting setelah di berlakukannya GACC Decree No. 280 mulai 1 Juni 2026.
Oleh karena itu, perusahaan palm oil Indonesia tidak cukup hanya memiliki legalitas usaha dan produk yang siap ekspor. Perusahaan juga perlu menunjukkan bahwa fasilitas produksinya mampu menerapkan sistem keamanan pangan, higiene, sanitasi, pengendalian risiko, dan ketertelusuran yang dapat di verifikasi.
Selain itu, proses registrasi GACC untuk perusahaan palm oil perlu memperhatikan hubungan antara perusahaan eksportir, fasilitas produksi, Badan Karantina Indonesia atau otoritas terkait, importir China, serta GACC sebagai otoritas negara tujuan.
Baca Juga : GACC Palm Oil: Panduan Lengkap Ekspor Palm Oil Indonesia ke China
Apa Itu GACC untuk Perusahaan Palm Oil?
GACC adalah otoritas kepabeanan China yang juga menjalankan fungsi pengawasan keamanan pangan impor. Dalam konteks ekspor palm oil, registrasi GACC merupakan mekanisme untuk memastikan perusahaan luar negeri yang menghasilkan atau mengolah pangan untuk pasar China memenuhi persyaratan yang di tetapkan otoritas China.
Berdasarkan GACC Decree No. 280, perusahaan produksi, pengolahan, dan penyimpanan pangan di luar China yang mengekspor pangan ke China termasuk dalam cakupan pengaturan registrasi. GACC menjadi pihak yang bertanggung jawab atas pengelolaan registrasi tersebut.
Dengan demikian, perusahaan palm oil Indonesia perlu melihat GACC bukan hanya sebagai formalitas administrasi. Sebaliknya, registrasi berkaitan dengan kemampuan fasilitas dalam menjaga keamanan pangan sejak bahan baku di terima sampai produk siap di kirim.
Untuk perusahaan yang menghasilkan minyak sawit olahan, misalnya RBD Palm Oil, RBD Palm Olein, RBD Palm Stearin, atau produk minyak sawit lain yang di tujukan untuk konsumsi atau pengolahan pangan, klasifikasi produk perlu di periksa secara tepat sebelum proses registrasi.
Hal ini penting karena jenis produk, penggunaan produk, HS Code, proses produksi, serta kategori pangan dapat memengaruhi persyaratan yang harus di penuhi.
Baca Juga : GACC Palm Refinery: Persyaratan Ekspor Produk Palm Oil ke China

Mengapa Perusahaan Palm Oil Indonesia Membutuhkan Registrasi GACC?
China merupakan salah satu pasar penting bagi komoditas sawit Indonesia. Namun, akses pasar tidak hanya bergantung pada kemampuan perusahaan menyediakan volume dan harga yang kompetitif.
Di sisi lain, China memiliki mekanisme pengawasan terhadap pangan impor. Perusahaan luar negeri yang mengekspor pangan ke China harus mengikuti ketentuan registrasi dan keamanan pangan yang berlaku.
Dalam ketentuan GACC Decree No. 280, perusahaan pangan luar negeri harus mendapatkan registrasi dari GACC. Perusahaan juga harus memenuhi persyaratan pendirian dan pengawasan di negara asal, memiliki sistem keamanan dan higiene pangan yang efektif, serta memenuhi persyaratan pemeriksaan dan karantina yang di sepakati.
Baca Juga : Cara Registrasi GACC untuk Palm Refinery Indonesia
Untuk kategori edible oils, kewajibannya memiliki karakteristik tambahan. Berdasarkan pengumuman pelaksanaan aturan baru, edible oils termasuk dalam daftar kategori pangan yang memerlukan official recommendation dari otoritas kompeten negara asal.
Oleh karena itu, perusahaan palm oil tidak seharusnya menganggap proses registrasi sebagai proses yang sepenuhnya dilakukan sendiri kepada GACC.
Untuk kategori yang memerlukan rekomendasi, perusahaan harus melalui proses pemeriksaan atau verifikasi oleh otoritas kompeten Indonesia sebelum di rekomendasikan kepada GACC.
Baca Juga : GACC Registration Number untuk Palm Oil: Fungsi dan Cara Cek
Dasar Aturan GACC untuk Perusahaan Palm Oil
Salah satu perubahan penting yang perlu di ketahui perusahaan adalah di berlakukannya GACC Decree No. 280 tentang registrasi perusahaan produksi pangan luar negeri.
Peraturan tersebut berlaku mulai 1 Juni 2026 dan menggantikan Decree No. 248 yang sebelumnya di gunakan dalam pengaturan registrasi perusahaan pangan luar negeri.
Menurut panduan resmi GACC, terdapat beberapa prinsip utama dalam registrasi perusahaan pangan luar negeri.
Baca Juga : Cara Cek Perusahaan Palm Oil yang Sudah Terdaftar GACC
Pertama, perusahaan harus didirikan secara sah dan berada dalam pengawasan otoritas kompeten negara asal.
Kedua, perusahaan harus mempunyai sistem manajemen keamanan, higiene, dan perlindungan pangan yang efektif.
Ketiga, perusahaan harus memproduksi dan mengekspor secara legal di negara asal serta memastikan produk yang di kirim ke China memenuhi peraturan dan standar keamanan pangan China.
Keempat, perusahaan harus memenuhi persyaratan pemeriksaan dan karantina yang relevan berdasarkan pengaturan antara China dan negara asal.
Selain itu, perusahaan yang produknya masuk dalam daftar kategori yang membutuhkan rekomendasi resmi harus mendapatkan rekomendasi dari otoritas kompeten negara asal.
Karena edible oils termasuk kategori tersebut, perusahaan palm oil Indonesia perlu mempersiapkan proses pemeriksaan dan rekomendasi secara serius.
Baca Juga : Masa Berlaku Registrasi GACC Palm Oil dan Cara Perpanjangannya
Syarat GACC untuk Perusahaan Palm Oil Indonesia
Secara umum, syarat GACC dapat di bagi menjadi beberapa kelompok. Pembagian ini membantu perusahaan memahami bahwa registrasi bukan sekadar mengisi data perusahaan secara online.
1. Perusahaan Harus Legal di Indonesia
Syarat pertama adalah perusahaan harus merupakan badan usaha yang sah dan dapat di buktikan keberadaannya.
Baca Juga : HS Code Palm Oil untuk Ekspor ke China
Dokumen legalitas yang umumnya perlu di persiapkan antara lain:
- Akta pendirian perusahaan.
- Nomor Induk Berusaha atau NIB.
- Dokumen perizinan usaha yang relevan.
- Identitas perusahaan.
- Data alamat kantor.
- Data alamat fasilitas produksi.
- Data penanggung jawab perusahaan.
- Informasi kontak perusahaan.
- Dokumen atau nomor registrasi yang di terbitkan otoritas Indonesia jika relevan.
Data tersebut harus konsisten.
Baca Juga : HS Code 1511902001: Palm Stearin 50–56°C
Misalnya, nama perusahaan pada dokumen legalitas harus sama dengan nama yang di gunakan dalam pengajuan GACC. Demikian pula alamat fasilitas produksi tidak boleh berbeda tanpa penjelasan.
Oleh karena itu, sebelum mengajukan registrasi, perusahaan sebaiknya melakukan pemeriksaan silang terhadap seluruh dokumen.
2. Memiliki Fasilitas Produksi yang Jelas
GACC tidak hanya melihat nama eksportir. Dalam konteks registrasi perusahaan pangan luar negeri, fasilitas produksi merupakan bagian penting dari evaluasi.
Baca Juga : HS Code 1511902001 untuk Ekspor Palm Stearin Indonesia ke China
Perusahaan perlu menjelaskan:
- Nama fasilitas.
- Alamat fasilitas.
- Status kepemilikan atau penggunaan fasilitas.
- Jenis produk yang di produksi.
- Kapasitas produksi.
- Proses produksi.
- Area penerimaan bahan baku.
- Area pengolahan.
- Area penyimpanan.
- Area pengemasan.
- Sistem pengawasan mutu.
- Sistem sanitasi.
- Sistem penyimpanan produk.
Dengan demikian, perusahaan perlu membedakan antara kantor perusahaan, pabrik, refinery, storage facility, dan fasilitas lain yang di gunakan dalam rantai produksi.
Baca Juga : Perbedaan HS Code 1511902001 dan 1511902090
Jika perusahaan memiliki beberapa fasilitas, jangan langsung menganggap bahwa satu nomor registrasi dapat di gunakan untuk semua fasilitas. Data fasilitas yang terdaftar harus sesuai dengan ruang lingkup registrasi yang di berikan.
3. Memiliki Sistem Keamanan Pangan
Salah satu syarat terpenting adalah perusahaan mempunyai sistem keamanan pangan dan higiene yang efektif.
GACC secara resmi mensyaratkan perusahaan memiliki sistem manajemen keamanan dan higiene pangan serta mampu menjamin produk yang di ekspor ke China memenuhi standar yang relevan.
Baca Juga : Perbedaan HS Code Palm Olein dan Palm Stearin
Dalam praktiknya, perusahaan palm oil perlu memiliki prosedur tertulis yang mencakup berbagai aktivitas.
Misalnya:
- penerimaan bahan baku;
- pemeriksaan bahan baku;
- penyimpanan;
- pengolahan;
- refining;
- pemurnian;
- filtrasi;
- pengendalian kontaminasi;
- pengemasan;
- penyimpanan produk jadi;
- pengiriman;
- penanganan produk tidak sesuai.
Selain itu, perusahaan perlu memiliki catatan yang membuktikan bahwa prosedur tersebut benar-benar di terapkan.
Dokumen SOP saja tidak cukup apabila pelaksanaannya tidak dapat di buktikan melalui catatan.
Baca Juga : HS Code Palm Oil RBD untuk Ekspor ke China
4. Sistem Higiene dan Sanitasi
Produk minyak sawit yang di tujukan sebagai pangan harus di produksi dengan memperhatikan higiene dan sanitasi fasilitas.
Karena itu, perusahaan sebaiknya memiliki program sanitasi yang mencakup:
- kebersihan area produksi;
- kebersihan peralatan;
- kebersihan tangki;
- kebersihan jalur produksi;
- pengelolaan limbah;
- pengendalian hama;
- kebersihan pekerja;
- penggunaan bahan kimia pembersih;
- jadwal pembersihan;
- dokumentasi hasil inspeksi.
Selain itu, perusahaan perlu memisahkan aktivitas yang berpotensi menimbulkan kontaminasi dari area produksi pangan.
Pengendalian hama juga penting. Program tersebut sebaiknya memiliki jadwal pemeriksaan, titik monitoring, tindakan koreksi, serta catatan hasil monitoring.
Baca Juga : Cara Menentukan HS Code Palm Oil yang Tepat
5. Pengendalian Bahan Baku
Perusahaan palm oil juga perlu mempunyai sistem pengendalian bahan baku.
Bahan baku harus dapat di telusuri asalnya. Misalnya, perusahaan perlu mempunyai catatan mengenai pemasok, penerimaan bahan baku, jumlah bahan baku, tanggal penerimaan, serta hasil pemeriksaan.
Jika perusahaan membeli CPO dari pihak lain untuk kemudian di proses di refinery, sistem traceability harus mampu menghubungkan bahan baku tersebut dengan batch produk jadi.
Dengan demikian, apabila suatu produk mengalami masalah, perusahaan dapat mengetahui bahan baku yang di gunakan dan distribusi produk yang terdampak.
Aspek ketertelusuran ini semakin relevan karena audit GACC terhadap industri sawit Indonesia pada 2026 mencakup proses produksi, sistem pengendalian mutu, sanitasi dan higiene, serta ketertelusuran produk.
Baca Juga : Kesalahan HS Code Palm Oil yang Bisa Menghambat Customs Clearance China
6. Sistem Traceability atau Ketertelusuran
Traceability menjadi salah satu aspek penting dalam persyaratan perusahaan palm oil.
Perusahaan harus mampu menjawab pertanyaan seperti:
- Dari mana bahan baku berasal?
- Kapan bahan baku di terima?
- Batch mana yang di produksi?
- Produk tersebut di proses menggunakan lini produksi mana?
- Ke mana produk di kirim?
- Siapa pembelinya?
- Kapan produk di kirim?
- Berapa jumlah produk yang di kirim?
Baca Juga : Apa Itu Palm Stearin? Pengertian dan Fungsinya
Oleh karena itu, sistem traceability sebaiknya di buat dari hulu ke hilir.
Sebagai contoh, satu batch RBD Palm Olein yang di ekspor ke China seharusnya dapat di telusuri kembali ke batch bahan baku yang di gunakan dalam proses produksi.
Semakin jelas sistem tersebut, semakin mudah perusahaan menunjukkan pengendalian produknya ketika menghadapi pemeriksaan.
7. Pengendalian Mutu Produk
Perusahaan palm oil perlu memiliki sistem quality control yang terdokumentasi.
Parameter mutu yang di periksa harus di sesuaikan dengan jenis produk dan persyaratan yang berlaku.
Baca Juga : Spesifikasi Palm Stearin HS Code 1511902001
Dokumen yang dapat menjadi bagian dari sistem pengendalian mutu antara lain:
- spesifikasi produk;
- standar bahan baku;
- standar produk jadi;
- metode pengujian;
- jadwal sampling;
- hasil laboratorium;
- Certificate of Analysis atau COA;
- catatan inspeksi;
- catatan produk tidak sesuai;
- tindakan koreksi.
Namun, perusahaan tidak boleh sekadar menyediakan COA untuk memenuhi dokumen ekspor.
Sistem pengujian harus mempunyai hubungan dengan proses produksi dan pengendalian mutu perusahaan.
Baca Juga : Melting Point Palm Stearin 50–56°C dan Hubungannya dengan HS Code
8. Memiliki Laboratorium atau Akses Pengujian
Perusahaan perlu dapat menunjukkan bagaimana pengujian mutu produk dilakukan.
Jika perusahaan mempunyai laboratorium internal, fasilitas dan metode pengujiannya perlu di kelola secara konsisten.
Sementara itu, jika pengujian dilakukan oleh laboratorium eksternal, perusahaan perlu menyimpan dokumen hasil pengujian dan informasi laboratorium yang di gunakan.
Selain itu, perusahaan perlu memastikan parameter pengujian sesuai dengan kebutuhan produk dan persyaratan negara tujuan.
Hal ini penting karena minyak nabati impor dapat di periksa terhadap berbagai aspek keamanan dan mutu. Dokumen analisis harus dapat mendukung klaim bahwa produk memenuhi spesifikasi.
Baca Juga : Kegunaan Palm Stearin untuk Industri
9. Memiliki SOP Produksi
SOP produksi merupakan bagian penting dalam persiapan audit.
Untuk palm oil refinery, SOP dapat mencakup:
- Penerimaan CPO.
- Pemeriksaan bahan baku.
- Penyimpanan bahan baku.
- Proses refining.
- Bleaching.
- Deodorization.
- Filtration.
- Fractionation jika dilakukan.
- Penyimpanan minyak jadi.
- Pengemasan.
- Loading.
- Pembersihan peralatan.
Urutan proses harus di sesuaikan dengan proses aktual perusahaan.
Jangan membuat diagram proses yang berbeda dengan kondisi lapangan. Sebaliknya, dokumen harus menggambarkan proses yang benar-benar di lakukan.
Baca Juga : Palm Stearin untuk Bahan Baku Industri Makanan
10. Pengendalian Titik Kritis Keamanan Pangan
Perusahaan perlu mengidentifikasi risiko keamanan pangan pada proses produksi.
Risiko tersebut dapat berupa:
- bahaya kimia;
- bahaya fisik;
- bahaya biologis;
- kontaminasi silang;
- residu bahan kimia;
- kontaminasi dari peralatan;
- kesalahan penyimpanan;
- kontaminasi saat transportasi.
Oleh karena itu, perusahaan perlu mempunyai sistem analisis risiko yang sesuai dengan karakteristik produk dan proses.
Untuk perusahaan yang sudah menerapkan HACCP atau sistem manajemen keamanan pangan lainnya, dokumen tersebut dapat menjadi bagian penting dari bukti sistem pengendalian.
Namun, perusahaan tetap harus memastikan penerapannya sesuai dengan fasilitas yang benar-benar di gunakan.
Baca Juga : Palm Stearin untuk Industri Oleochemical
11. Pengendalian Bahan Kimia
Penggunaan bahan kimia di fasilitas produksi perlu di kendalikan.
Contohnya:
- bahan pembersih;
- sanitizer;
- pest control chemicals;
- bahan laboratorium;
- bahan kimia pengolahan.
Karena itu, perusahaan sebaiknya memiliki daftar bahan kimia yang di gunakan, lokasi penyimpanan, fungsi penggunaan, serta prosedur penggunaannya.
Bahan kimia juga perlu di simpan secara aman dan tidak menimbulkan risiko terhadap produk pangan.
12. Pengendalian Hama
Program pest control perlu terdokumentasi.
Perusahaan dapat memiliki:
- peta titik perangkap;
- jadwal inspeksi;
- laporan monitoring;
- catatan temuan;
- tindakan koreksi;
- evaluasi efektivitas.
Selain itu, jika perusahaan menggunakan jasa pihak ketiga, dokumen kontrak dan laporan layanan juga sebaiknya di simpan.
Dengan demikian, perusahaan dapat membuktikan bahwa pengendalian hama bukan hanya kebijakan tertulis, tetapi benar-benar berjalan.
13. Kebersihan Karyawan
Karyawan yang terlibat dalam produksi pangan harus mengikuti prosedur higiene.
Sistem tersebut dapat mencakup:
- pakaian kerja;
- penggunaan alat pelindung;
- kebiasaan mencuci tangan;
- larangan membawa benda tertentu ke area produksi;
- pemeriksaan kesehatan sesuai kebutuhan;
- pelatihan higiene;
- aturan masuk area produksi.
Selain itu, perusahaan perlu menyimpan catatan pelatihan.
Juga, dokumen pelatihan dapat menunjukkan bahwa perusahaan secara aktif membangun kesadaran keamanan pangan di lingkungan kerja.
14. Sistem Penanganan Produk Tidak Sesuai
Perusahaan juga harus memiliki prosedur ketika produk tidak memenuhi spesifikasi.
Contohnya adalah:
- hasil laboratorium tidak sesuai;
- kontaminasi;
- kerusakan kemasan;
- kesalahan label;
- kesalahan batch;
- produk tercampur;
- produk tidak memenuhi persyaratan pelanggan.
Selain itu, produk tersebut sebaiknya di beri status yang jelas dan di pisahkan dari produk yang memenuhi persyaratan.
Selanjutnya, perusahaan menentukan apakah produk dapat di perbaiki, di proses ulang, di kembalikan, di musnahkan, atau diperlakukan sesuai prosedur lain yang sah.
15. Sistem Recall atau Penarikan Produk
Sistem recall menjadi bagian penting dalam manajemen keamanan pangan.
Jadi, perusahaan perlu memiliki prosedur untuk menarik produk apabila setelah ekspor di temukan masalah keamanan atau ketidaksesuaian yang signifikan.
Prosedur dapat mencakup:
- identifikasi batch;
- identifikasi pelanggan;
- penghentian distribusi;
- pemberitahuan;
- penarikan;
- investigasi;
- tindakan koreksi;
- evaluasi penyebab;
- dokumentasi.
Maka, dengan sistem traceability yang baik, proses recall dapat dilakukan secara lebih terarah.
16. Dokumen yang Dibutuhkan untuk Registrasi GACC
GACC menetapkan beberapa informasi dan dokumen dasar untuk proses registrasi.
Panduan resmi menyebutkan bahwa materi registrasi antara lain mencakup informasi permohonan registrasi, dokumen identitas perusahaan, serta pernyataan perusahaan bahwa persyaratan registrasi di penuhi. Untuk kategori yang membutuhkan rekomendasi resmi, perusahaan juga perlu menyerahkan laporan pemeriksaan dan surat rekomendasi dari otoritas kompeten negara asal.
Untuk perusahaan palm oil Indonesia, dokumen yang perlu di persiapkan dapat meliputi:
- profil perusahaan;
- legalitas perusahaan;
- alamat fasilitas;
- informasi penanggung jawab;
- kapasitas produksi;
- jenis produk;
- spesifikasi produk;
- proses produksi;
- diagram alur produksi;
- sistem keamanan pangan;
- SOP sanitasi;
- SOP pengendalian hama;
- SOP traceability;
- SOP recall;
- hasil pengujian;
- informasi pemasok;
- data bahan baku;
- data produksi;
- data ekspor;
- dokumen pendukung dari otoritas Indonesia.
Selain itu, dokumen final harus mengikuti permintaan sistem dan otoritas yang menangani kategori produk perusahaan.
17. Dokumen Harus Konsisten
Salah satu masalah yang sering menyebabkan proses registrasi menjadi lebih rumit adalah ketidaksesuaian data.
Misalnya:
Nama perusahaan pada dokumen legalitas berbeda dengan nama pada aplikasi.
Alamat pabrik pada dokumen berbeda dengan alamat yang di ajukan.
Nama produk pada spesifikasi berbeda dengan nama produk yang di gunakan dalam ekspor.
Kapasitas produksi pada satu dokumen berbeda dengan dokumen lain.
Nomor izin atau nomor registrasi berbeda antara dokumen.
Oleh karena itu, perusahaan sebaiknya membuat master data GACC sebelum mengajukan registrasi.
Master data tersebut dapat berisi:
| Data | Informasi |
|---|---|
| Nama perusahaan | Sesuai legalitas |
| Alamat pabrik | Alamat fasilitas produksi |
| Penanggung jawab | Nama PIC |
| Produk | Jenis palm oil |
| Kapasitas | Kapasitas aktual |
| Proses | Sesuai proses pabrik |
| Legalitas | Nomor dokumen |
| Kontak | Email dan telepon |
| Otoritas | Instansi terkait |
| Importir China | Sesuai transaksi |
Dengan demikian, seluruh dokumen dapat di periksa sebelum di kirim.
18. Rekomendasi Otoritas Indonesia
Karena edible oils termasuk kategori yang memerlukan official recommendation, perusahaan palm oil Indonesia perlu melalui mekanisme otoritas kompeten negara asal.
Dalam praktik ekspor sawit, Badan Karantina Indonesia telah terlibat dalam pendampingan dan audit GACC terhadap perusahaan minyak nabati dan turunan kelapa sawit.
Pada Juli 2026, misalnya, Badan Karantina Indonesia mendampingi audit GACC terhadap perusahaan di Gresik yang memproduksi minyak nabati dan produk turunan kelapa sawit. Audit mencakup produksi, pengendalian mutu, sanitasi, higiene, dan ketertelusuran.
Hal tersebut menunjukkan bahwa perusahaan perlu mempersiapkan fasilitas secara nyata, bukan hanya dokumen administratif.
Persiapan Audit GACC
Jika perusahaan masuk dalam proses evaluasi atau audit, tim pemeriksa dapat menilai kesesuaian antara dokumen dan kondisi sebenarnya.
Karena itu, perusahaan perlu melakukan mock audit terlebih dahulu.
Mock audit dapat mencakup:
Area 1: Legalitas
Periksa apakah semua dokumen perusahaan masih berlaku.
Area 2: Produksi
Pastikan proses di lapangan sama dengan diagram alur produksi.
Area 3: Sanitasi
Periksa kebersihan fasilitas, peralatan, tangki, dan area kerja.
Area 4: Laboratorium
Pastikan hasil pengujian dan catatan laboratorium tersedia.
Area 5: Traceability
Lakukan simulasi penelusuran satu batch dari produk jadi ke bahan baku.
Area 6: Recall
Lakukan simulasi penarikan produk.
Area 7: Pest Control
Periksa perangkap, monitoring, dan catatan tindakan.
Area 8: Dokumen
Pastikan dokumen mudah di temukan dan konsisten.
Dengan demikian, perusahaan dapat menemukan kelemahan sebelum audit resmi.
Apa yang Dilihat GACC Saat Audit?
GACC dapat menggunakan evaluasi dokumen, pemeriksaan video, pemeriksaan lapangan, atau kombinasi metode tersebut berdasarkan tingkat risiko dan kebutuhan evaluasi.
Untuk perusahaan palm oil, aspek yang perlu di perhatikan antara lain:
- kondisi fasilitas;
- proses produksi;
- higiene;
- sanitasi;
- pengendalian mutu;
- bahan baku;
- sistem traceability;
- pengendalian hama;
- laboratorium;
- dokumentasi;
- pengendalian titik kritis;
- kapasitas produksi;
- penyimpanan;
- sistem penanganan produk tidak sesuai.
Selain itu, auditor dapat membandingkan informasi yang di sampaikan dalam dokumen dengan kondisi sebenarnya.
Oleh karena itu, perusahaan sebaiknya tidak menganggap audit sebagai pemeriksaan administratif semata.
Syarat GACC untuk Palm Oil Tidak Berhenti pada Registrasi
Hal yang sering di salahpahami adalah anggapan bahwa setelah perusahaan memperoleh nomor registrasi GACC, semua kewajiban selesai.
Padahal, GACC Decree No. 280 mengatur pengawasan berkelanjutan terhadap perusahaan yang sudah terdaftar. GACC dapat melakukan pemeriksaan ulang untuk menilai apakah perusahaan masih memenuhi persyaratan registrasi.
Selain itu, perusahaan harus mempertahankan sistem keamanan pangan.
Apabila perusahaan tidak lagi memenuhi persyaratan, perusahaan dapat di minta melakukan perbaikan. Dalam kondisi tertentu, impor produk perusahaan dapat di hentikan sementara sampai tindakan koreksi selesai dan di verifikasi.
Karena itu, GACC sebaiknya di pandang sebagai sistem continuous compliance, bukan sekadar sertifikat sekali jadi.
Masa Berlaku Registrasi GACC
Menurut Decree No. 280, registrasi perusahaan pangan luar negeri memiliki masa berlaku 5 tahun.
Namun, ketentuan perpanjangan perlu di perhatikan karena tidak semua kategori mengikuti mekanisme yang sama.
Aturan baru mengatur bahwa registrasi dapat di perpanjang secara otomatis selama lima tahun dalam kondisi tertentu. Akan tetapi, terdapat kategori pangan yang masuk dalam daftar yang tidak mendapatkan automatic renewal sehingga perusahaan perlu mengajukan perpanjangan sesuai prosedur.
Oleh karena itu, perusahaan palm oil harus selalu memeriksa status registrasinya dan ketentuan perpanjangan yang berlaku pada kategori produknya.
Perubahan Data Perusahaan
Perusahaan juga perlu memperhatikan perubahan data setelah registrasi.
Misalnya:
- perubahan nama perusahaan;
- perubahan alamat;
- perubahan fasilitas;
- perubahan legalitas;
- perubahan nomor registrasi negara asal;
- perubahan informasi produksi.
Tidak semua perubahan dapat di proses sebagai perubahan data biasa.
Decree No. 280 menyebutkan bahwa perubahan yang berdampak signifikan terhadap sistem keamanan, higiene, dan perlindungan pangan, seperti perpindahan lokasi fasilitas produksi, dapat menyebabkan perusahaan harus melakukan registrasi baru.
Karena itu, perusahaan perlu berkonsultasi dengan jalur registrasi yang di gunakan sebelum melakukan perubahan besar pada fasilitas.
Nomor Registrasi GACC pada Kemasan
Perusahaan yang sudah memperoleh registrasi harus memperhatikan pencantuman nomor registrasi pada kemasan produk yang di ekspor ke China.
Decree No. 280 menyatakan bahwa perusahaan yang sudah memperoleh registrasi harus mencantumkan nomor registrasi di China atau nomor registrasi yang di berikan oleh otoritas negara asal pada kemasan pangan yang di ekspor ke China.
Karena itu, bagian packaging perlu di libatkan sejak awal.
Jangan sampai perusahaan sudah mendapatkan registrasi, tetapi artwork kemasan masih menggunakan informasi lama.
Hubungan GACC dengan Importir China
Registrasi GACC merupakan kewajiban perusahaan luar negeri. Namun, proses impor juga melibatkan pihak importir di China.
Importir harus memastikan dokumen impor, deklarasi, dan informasi produk sesuai dengan persyaratan China.
Dengan demikian, perusahaan Indonesia sebaiknya berkomunikasi dengan importir sebelum pengiriman.
Beberapa hal yang perlu di konfirmasi meliputi:
- nama produk;
- spesifikasi;
- HS Code;
- nomor registrasi GACC;
- label;
- dokumen ekspor;
- Certificate of Analysis;
- dokumen karantina;
- informasi batch;
- jumlah barang;
- pelabuhan tujuan.
Komunikasi tersebut penting karena kesalahan antara data eksportir dan importir dapat menghambat proses clearance.
GACC dan HS Code Palm Oil
HS Code merupakan bagian penting dalam ekspor palm oil.
Perusahaan perlu memastikan klasifikasi produk sesuai dengan karakteristik barang yang benar-benar di kirim.
Contohnya, palm oil mentah dan palm oil hasil refinery dapat memiliki klasifikasi yang berbeda. Begitu pula produk fraksinasi atau produk turunan lainnya.
Namun, perusahaan tidak sebaiknya menentukan HS Code hanya berdasarkan nama dagang.
Klasifikasi perlu memperhatikan:
- bentuk produk;
- tingkat pemurnian;
- komposisi;
- penggunaan;
- kemasan;
- karakteristik produk;
- aturan klasifikasi China.
Karena itu, koordinasi antara perusahaan, forwarder, customs broker, dan importir China dapat membantu menghindari kesalahan deklarasi.
Persyaratan Label Produk Palm Oil
Selain registrasi perusahaan, produk juga harus memenuhi persyaratan pelabelan yang berlaku di China.
Informasi label perlu di sesuaikan dengan karakteristik produk dan jalur distribusinya.
Perusahaan perlu memperhatikan:
- nama produk;
- komposisi;
- berat bersih;
- produsen;
- negara asal;
- tanggal produksi;
- masa simpan;
- kondisi penyimpanan;
- nomor registrasi yang di wajibkan;
- informasi lain sesuai ketentuan China.
Namun, persyaratan label dapat berbeda berdasarkan jenis produk dan bentuk kemasan.
Oleh karena itu, artwork sebaiknya di periksa sebelum produksi massal.
Pengujian dan Keamanan Minyak Sawit
Perusahaan palm oil harus memperhatikan parameter keamanan pangan yang relevan dengan produknya.
Beberapa parameter yang dapat menjadi perhatian dalam perdagangan minyak nabati antara lain:
- kualitas minyak;
- oksidasi;
- cemaran;
- residu;
- logam berat;
- parameter kimia tertentu;
- kontaminan lain yang ditetapkan;
- kesesuaian spesifikasi.
Dokumen kajian risiko GACC terkait minyak nabati menunjukkan bahwa keamanan dan mutu minyak nabati merupakan perhatian dalam pengawasan impor China.
Oleh karena itu, perusahaan perlu memastikan program pengujian sesuai dengan produk yang diekspor dan standar yang berlaku pada saat pengiriman.
Penyimpanan Palm Oil
Penyimpanan juga perlu dikendalikan.
Perusahaan perlu memastikan:
- tangki dalam kondisi sesuai;
- area penyimpanan bersih;
- produk dapat diidentifikasi berdasarkan batch;
- akses dapat dikontrol;
- prosedur loading tersedia;
- pencegahan kontaminasi diterapkan.
Khusus pengiriman minyak dalam bentuk curah, aspek transportasi dan kebersihan tangki menjadi sangat penting.
Penggunaan tangki atau sarana angkut yang tidak sesuai dapat menimbulkan risiko kontaminasi.
Oleh karena itu, perusahaan perlu menyimpan catatan pemeriksaan sarana pengangkutan sebelum proses loading.
Syarat Transportasi Palm Oil ke China
Perusahaan juga perlu memiliki prosedur untuk pengiriman.
Prosedur dapat mencakup:
- pemeriksaan tangki;
- pemeriksaan kebersihan;
- pemeriksaan dokumen;
- pemeriksaan segel;
- identifikasi batch;
- pencatatan jumlah;
- dokumentasi loading;
- dokumentasi pengiriman.
Selain itu, perusahaan perlu memastikan bahwa kondisi transportasi tidak menyebabkan penurunan mutu atau kontaminasi.
Dengan demikian, sistem keamanan pangan tidak berhenti di pintu keluar pabrik.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Menyiapkan GACC
Ada beberapa kesalahan yang sebaiknya dihindari.
1. Data perusahaan tidak konsisten
Nama dan alamat berbeda antara dokumen.
2. Produk tidak diklasifikasikan dengan benar
Perusahaan langsung mendaftarkan produk tanpa memeriksa kategorinya.
3. SOP hanya dibuat untuk audit
Dokumen terlihat lengkap, tetapi pelaksanaan di lapangan tidak sesuai.
4. Traceability tidak berjalan
Perusahaan memiliki nomor batch, tetapi tidak dapat menelusuri bahan bakunya.
5. Catatan tidak lengkap
Prosedur tersedia, tetapi tidak ada bukti penerapannya.
6. Tidak menyiapkan audit lapangan
Perusahaan baru mempersiapkan fasilitas setelah menerima informasi audit.
7. Tidak memperhatikan perubahan regulasi
Perusahaan masih menggunakan prosedur lama tanpa mengecek aturan terbaru.
8. Mengabaikan importir China
Data yang digunakan eksportir tidak sesuai dengan data yang dipakai importir.
Oleh karena itu, persiapan GACC sebaiknya dilakukan secara menyeluruh.
Checklist Syarat GACC untuk Perusahaan Palm Oil Indonesia
Berikut checklist sederhana yang dapat digunakan perusahaan:
| No | Persyaratan | Status |
|---|---|---|
| 1 | Legalitas perusahaan | ☐ |
| 2 | NIB dan perizinan relevan | ☐ |
| 3 | Alamat fasilitas produksi | ☐ |
| 4 | Data PIC | ☐ |
| 5 | Kapasitas produksi | ☐ |
| 6 | Daftar produk | ☐ |
| 7 | Spesifikasi produk | ☐ |
| 8 | Diagram proses produksi | ☐ |
| 9 | SOP produksi | ☐ |
| 10 | SOP sanitasi | ☐ |
| 11 | SOP pest control | ☐ |
| 12 | Sistem traceability | ☐ |
| 13 | Sistem recall | ☐ |
| 14 | Pengendalian bahan baku | ☐ |
| 15 | Pengendalian bahan kimia | ☐ |
| 16 | Program QC | ☐ |
| 17 | COA/pengujian produk | ☐ |
| 18 | Catatan produksi | ☐ |
| 19 | Catatan sanitasi | ☐ |
| 20 | Catatan pest control | ☐ |
| 21 | Catatan pelatihan | ☐ |
| 22 | Dokumen rekomendasi otoritas | ☐ |
| 23 | Pengajuan GACC | ☐ |
| 24 | Persiapan audit | ☐ |
| 25 | Pemeriksaan nomor registrasi | ☐ |
Checklist tersebut sebaiknya disesuaikan dengan jenis produk, fasilitas, dan mekanisme registrasi yang diterapkan pada perusahaan.
Berapa Lama Proses Registrasi GACC?
Tidak ada satu angka waktu yang dapat diterapkan untuk semua perusahaan palm oil.
GACC menyatakan bahwa proses evaluasi dapat dilakukan melalui pemeriksaan dokumen, video, pemeriksaan lapangan, atau kombinasi metode tersebut. Panduan resminya juga tidak menetapkan satu batas waktu penyelesaian yang berlaku umum untuk seluruh permohonan.
Karena itu, waktu proses dapat dipengaruhi oleh:
- kelengkapan dokumen;
- klasifikasi produk;
- proses rekomendasi otoritas Indonesia;
- hasil pemeriksaan;
- kebutuhan audit;
- permintaan perbaikan;
- evaluasi GACC;
- perubahan regulasi;
- komunikasi antara perusahaan dan otoritas.
Oleh karena itu, perusahaan sebaiknya tidak menjadwalkan shipment pertama terlalu dekat dengan target registrasi.
Apakah Registrasi GACC Berbayar?
Panduan resmi layanan registrasi GACC mencantumkan bahwa layanan registrasi tersebut tidak dikenakan biaya administrasi oleh GACC.
Namun, perusahaan tetap dapat mengeluarkan biaya untuk proses pendukung.
Misalnya:
- penerjemahan dokumen;
- pengujian laboratorium;
- audit internal;
- perbaikan fasilitas;
- sertifikasi tertentu;
- persiapan dokumen;
- perjalanan tim;
- pendampingan profesional;
- konsultasi;
- biaya karantina atau layanan terkait ekspor.
Dengan demikian, biaya GACC perlu dibedakan antara biaya registrasi resmi dan biaya persiapan kepatuhan perusahaan.
Apakah Semua Perusahaan Palm Oil Harus Melakukan Proses yang Sama?
Tidak selalu.
Persyaratan dapat bergantung pada jenis produk yang diekspor dan klasifikasinya.
Selain itu, perusahaan yang mengekspor edible oil untuk konsumsi manusia perlu memperhatikan kategori 食用油脂 yang masuk daftar official recommendation.
Sementara itu, perusahaan yang memproduksi produk turunan sawit non-pangan perlu terlebih dahulu memastikan apakah produk tersebut termasuk dalam cakupan registrasi pangan GACC.
Hal ini penting karena GACC Decree No. 280 mengatur perusahaan yang berkaitan dengan pangan impor.
Oleh karena itu, jangan menyamakan prosedur registrasi antara:
- CPO;
- RBD Palm Oil;
- RBD Palm Olein;
- RBD Palm Stearin;
- specialty fats;
- palm kernel oil;
- palm kernel expeller;
- produk oleokimia;
- produk turunan sawit non-pangan.
Masing-masing harus diperiksa berdasarkan karakteristik dan penggunaan produknya.
Perbedaan GACC, Barantin, dan Customs China
Ketiganya mempunyai fungsi berbeda.
GACC merupakan otoritas China yang mengelola registrasi perusahaan pangan luar negeri dan melakukan pengawasan impor.
Badan Karantina Indonesia atau Barantin memiliki peran dalam sistem perkarantinaan Indonesia dan dapat terlibat dalam pemenuhan persyaratan negara tujuan, pemeriksaan, serta pendampingan ekspor komoditas tertentu.
Customs clearance di China berkaitan dengan proses masuknya barang dan pemeriksaan di negara tujuan.
Karena itu, memperoleh registrasi GACC bukan berarti seluruh proses ekspor selesai.
Jadi, perusahaan tetap harus memenuhi dokumen perdagangan, persyaratan produk, persyaratan karantina, dan prosedur impor yang berlaku.
Tips Mempersiapkan GACC untuk Perusahaan Palm Oil
Agar proses lebih terstruktur, perusahaan dapat mengikuti beberapa langkah.
Pertama, tentukan produk.
Identifikasi produk yang benar-benar akan dikirim ke China.
Kedua, periksa klasifikasi.
Tentukan kategori pangan dan HS Code berdasarkan karakteristik produk.
Ketiga, periksa jalur registrasi.
Pastikan apakah produk membutuhkan official recommendation.
Keempat, audit internal.
Periksa fasilitas sebelum mengajukan.
Kelima, rapikan dokumen.
Pastikan semua informasi konsisten.
Keenam, siapkan traceability.
Lakukan simulasi penelusuran batch.
Ketujuh, siapkan sistem recall.
Pastikan perusahaan dapat menarik produk apabila diperlukan.
Kedelapan, koordinasikan dengan otoritas.
Untuk edible oils, perusahaan perlu memperhatikan mekanisme rekomendasi otoritas kompeten Indonesia.
Kesembilan, siapkan audit.
Pastikan kondisi fasilitas sesuai dokumen.
Kesepuluh, koordinasikan dengan importir.
Pastikan informasi eksportir dan importir sama.
Maka dari itu, perusahaan dapat mengurangi risiko keterlambatan akibat masalah administrasi maupun teknis.
Apakah Perusahaan Perlu Menggunakan Jasa Pengurusan GACC?
Perusahaan dapat mengurus proses registrasi dengan tim internal apabila mempunyai sumber daya dan pemahaman regulasi yang memadai.
Namun, perusahaan yang belum terbiasa dengan proses GACC dapat mempertimbangkan pendampingan profesional.
Pendampingan dapat membantu:
- pemeriksaan dokumen;
- pemetaan persyaratan;
- identifikasi gap;
- persiapan SOP;
- simulasi audit;
- koordinasi administratif;
- persiapan data produk;
- pemeriksaan konsistensi dokumen.
Namun, penggunaan jasa tidak menggantikan tanggung jawab perusahaan.
Sistem keamanan pangan tetap harus benar-benar diterapkan oleh perusahaan karena GACC dapat melakukan evaluasi terhadap kondisi aktual fasilitas.
Bagaimana Memilih Jasa Pengurusan GACC?
Jika perusahaan menggunakan jasa pendamping, periksa beberapa hal berikut.
Pertama, pastikan penyedia jasa memahami registrasi perusahaan pangan luar negeri ke China.
Kedua, tanyakan apakah mereka memahami ketentuan terbaru Decree No. 280.
Ketiga, pastikan mereka dapat menjelaskan kategori produk perusahaan.
Keempat, hindari pihak yang menjanjikan registrasi pasti tanpa pemeriksaan dokumen.
Kelima, minta rincian pekerjaan.
Keenam, bedakan biaya jasa dengan biaya pemerintah dan biaya pengujian.
Ketujuh, pastikan perusahaan tetap menerima salinan dokumen pengajuan dan hasil registrasi.
Dengan demikian, perusahaan tetap memiliki kendali terhadap prosesnya.
FAQ Syarat GACC untuk Perusahaan Palm Oil Indonesia
Apakah perusahaan palm oil Indonesia wajib memiliki registrasi GACC?
Untuk pangan yang diekspor ke China, perusahaan produksi, pengolahan, dan penyimpanan yang termasuk dalam cakupan Decree No. 280 harus mengikuti ketentuan registrasi. Selain itu, untuk produk edible oil, kategori tersebut termasuk dalam daftar yang membutuhkan rekomendasi otoritas kompeten negara asal.
Apakah palm oil termasuk edible oil?
Produk minyak sawit yang diproduksi untuk konsumsi atau sebagai bahan pangan dapat masuk dalam kategori edible oils, tetapi klasifikasi harus dilihat berdasarkan karakteristik dan penggunaan produk.
Apakah refinery membutuhkan GACC?
Jika refinery menghasilkan atau mengolah produk pangan yang diekspor ke China, fasilitas tersebut dapat termasuk dalam cakupan registrasi perusahaan pangan luar negeri. Penentuan akhirnya perlu mengikuti klasifikasi produk dan ruang lingkup fasilitas.
Apakah GACC hanya untuk eksportir?
GACC Decree No. 280 mengatur perusahaan produksi, pengolahan, dan penyimpanan pangan luar negeri dalam ruang lingkup yang ditetapkan. Karena itu, perusahaan perlu melihat fungsi fasilitasnya, bukan hanya statusnya sebagai eksportir.
Apakah nomor GACC berlaku selamanya?
Tidak. Registrasi mempunyai masa berlaku lima tahun berdasarkan Decree No. 280, dengan ketentuan perpanjangan tertentu.
Apakah registrasi GACC gratis?
Panduan resmi GACC mencantumkan bahwa layanan registrasi tidak dikenakan biaya. Namun, perusahaan dapat mengeluarkan biaya untuk persiapan dokumen, pengujian, audit, penerjemahan, dan kebutuhan kepatuhan lainnya.
Apakah setelah mendapat GACC perusahaan pasti bisa mengirim produk?
Registrasi GACC merupakan salah satu persyaratan, bukan satu-satunya persyaratan impor. Juga, produk tetap harus memenuhi persyaratan keamanan pangan, dokumen, deklarasi, karantina, label, dan ketentuan impor yang berlaku.
Apakah audit GACC bisa dilakukan terhadap pabrik palm oil?
Bisa. Pada 2026, Badan Karantina Indonesia mendampingi audit GACC terhadap fasilitas yang memproduksi minyak nabati dan turunan kelapa sawit di Indonesia. Audit mencakup antara lain proses produksi, pengendalian mutu, sanitasi, higiene, dan traceability.
Syarat GACC untuk perusahaan Palm Oil Indonesia pada dasarnya mencakup legalitas perusahaan, fasilitas produksi yang jelas, sistem keamanan pangan, higiene dan sanitasi, pengendalian bahan baku, quality control, traceability, sistem recall, dokumentasi produksi, serta pemenuhan persyaratan negara tujuan.
Namun, untuk produk minyak sawit yang termasuk kategori edible oils, perusahaan perlu memberikan perhatian khusus karena kategori tersebut termasuk kelompok pangan yang membutuhkan rekomendasi otoritas kompeten negara asal dalam kerangka aturan GACC yang berlaku sejak 1 Juni 2026.
Selain itu, perusahaan harus siap menghadapi kemungkinan evaluasi dokumen, pemeriksaan video, maupun audit lapangan. GACC juga menerapkan pengawasan berkelanjutan terhadap perusahaan yang telah terdaftar.
Oleh karena itu, persiapan GACC sebaiknya dimulai dari pemeriksaan fasilitas dan sistem keamanan pangan, bukan hanya dari pengisian formulir registrasi. Maka, perusahaan perlu memastikan bahwa data legalitas, fasilitas, produk, proses produksi, pengujian, traceability, dan dokumentasi saling konsisten.
Dengan sistem yang tertata, perusahaan palm oil Indonesia dapat mempersiapkan proses registrasi dengan lebih sistematis sekaligus membangun sistem kepatuhan yang dapat dipertahankan setelah registrasi diperoleh.
Konsultasikan Ekspor Palm Oil Sekarang