Food Safety Requirement Palm Oil untuk China

Isma

Updated on:

Food Safety Requirement Palm Oil untuk China
Direktur Utama Jangkar Groups

Ekspor palm oil dari Indonesia ke China tidak hanya membutuhkan dokumen perdagangan dan kepabeanan. Selain itu, perusahaan juga harus memperhatikan food safety requirement yang berlaku untuk produk makanan impor di China. Persyaratan tersebut menjadi penting karena palm oil yang di gunakan sebagai minyak pangan termasuk dalam kategori produk yang berkaitan dengan keamanan pangan.

Terlebih lagi, sejak 1 Juni 2026 China menerapkan GACC Order No. 280 tentang registrasi perusahaan produksi makanan luar negeri. Regulasi ini menggantikan Order No. 248 dan memperbarui mekanisme registrasi, pengawasan, evaluasi, serta persyaratan bagi overseas food manufacturers. Dalam implementasi 2026, kategori edible fats and oils termasuk kelompok makanan yang memerlukan registrasi GACC dan rekomendasi dari otoritas berwenang negara asal.

DAFTAR ISI

Baca Juga : GACC Palm Oil: Panduan Lengkap Ekspor Palm Oil Indonesia ke China

Karena itu, perusahaan palm oil Indonesia perlu memahami food safety requirement secara menyeluruh. Bukan hanya nomor registrasi GACC yang harus di perhatikan, tetapi juga proses produksi, higiene, quality control, pengujian laboratorium, traceability, penyimpanan, kemasan, hingga konsistensi dokumen.

Selanjutnya, perusahaan juga harus membedakan persyaratan keamanan pangan dengan customs clearance. Registrasi GACC merupakan bagian dari persyaratan akses pasar untuk produsen makanan luar negeri. Sementara itu, customs clearance merupakan proses penilaian terhadap barang yang masuk ke China.

Dengan demikian, artikel ini membahas food safety requirement palm oil untuk China, mulai dari prinsip dasar keamanan pangan, persyaratan fasilitas, quality control, COA, traceability, kontaminasi, dokumen, sampai checklist sebelum ekspor.

Baca Juga : GACC Palm Refinery: Persyaratan Ekspor Produk Palm Oil ke China

Apa Itu Food Safety Requirement Palm Oil untuk China

Apa Itu Food Safety Requirement Palm Oil untuk China?

Food safety requirement palm oil untuk China adalah kumpulan persyaratan yang harus di perhatikan agar produk palm oil yang di ekspor dapat memenuhi ketentuan keamanan pangan yang berlaku di China.

Secara sederhana, persyaratan tersebut menjawab beberapa pertanyaan utama:

  1. Apakah produk aman di konsumsi?
  2. Apakah fasilitas produksinya memenuhi standar higiene?
  3. Apakah proses produksinya terkendali?
  4. Apakah bahan baku dapat di telusuri?
  5. Apakah produk telah melalui pemeriksaan kualitas?
  6. Apakah hasil pengujian sesuai spesifikasi?
  7. Apakah dokumen produk dapat membuktikan identitas dan kualitasnya?
  8. Apakah produsen telah memenuhi persyaratan registrasi yang berlaku?

Baca Juga : Cara Registrasi GACC untuk Palm Refinery Indonesia

Selain itu, China Customs memiliki mekanisme imported food conformity assessment. Penilaian tersebut dapat mencakup pemeriksaan sistem keamanan pangan, registrasi overseas food manufacturer, filing pihak terkait, pemeriksaan dokumen, pemeriksaan di lokasi, sampling, dan bentuk pengawasan lainnya.

Oleh karena itu, perusahaan palm oil tidak sebaiknya hanya mempersiapkan dokumen ketika shipment akan berangkat. Sebaliknya, sistem keamanan pangan harus sudah berjalan sejak proses produksi.

Baca Juga : Syarat GACC untuk Perusahaan Palm Oil Indonesia

Mengapa Food Safety Penting untuk Ekspor Palm Oil ke China?

Palm oil merupakan produk pangan yang dapat di gunakan secara langsung maupun sebagai bahan baku berbagai produk makanan.

Karena itu, kualitas dan keamanan palm oil dapat memengaruhi produk akhir yang menggunakan minyak tersebut.

Baca Juga : GACC Registration Number untuk Palm Oil: Fungsi dan Cara Cek

Misalnya, palm oil dapat di gunakan untuk:

  1. cooking oil;
  2. margarine;
  3. shortening;
  4. bakery products;
  5. confectionery;
  6. processed foods;
  7. food ingredients.

Dengan demikian, kualitas palm oil bukan hanya persoalan harga dan spesifikasi perdagangan. Namun, keamanan produk juga menjadi bagian penting dari akses pasar.

Selain itu, perusahaan yang telah memperoleh registrasi GACC tetap harus mempertahankan compliance. Registrasi bukan berarti semua pengiriman otomatis bebas dari pemeriksaan.

Sebaliknya, China Customs tetap memiliki kewenangan untuk melakukan conformity assessment terhadap makanan impor berdasarkan ketentuan dan manajemen risiko yang berlaku.

Baca Juga : Cara Cek Perusahaan Palm Oil yang Sudah Terdaftar GACC

Hubungan Food Safety Requirement dengan GACC

Food safety dan GACC memiliki hubungan yang sangat erat, tetapi keduanya bukan istilah yang sepenuhnya sama.

GACC registration berhubungan dengan registrasi perusahaan produksi makanan luar negeri.

Sementara itu, food safety compliance merupakan kepatuhan terhadap sistem keamanan pangan yang harus di terapkan oleh perusahaan.

Baca Juga : Masa Berlaku Registrasi GACC Palm Oil dan Cara Perpanjangannya

Dengan kata lain:

GACC registration = status registrasi perusahaan/fasilitas

sedangkan:

Food safety compliance = sistem untuk memastikan produk aman dan memenuhi ketentuan.

Karena itu, perusahaan palm oil harus menjalankan keduanya secara bersamaan.

Dalam Order No. 280, GACC dapat mengevaluasi perusahaan melalui pemeriksaan dokumen, pemeriksaan video, pemeriksaan lapangan, atau metode lain sesuai kondisi dan tingkat risiko.

Oleh sebab itu, dokumen yang di berikan kepada GACC harus mencerminkan kondisi aktual fasilitas.

Baca Juga : HS Code Palm Oil untuk Ekspor ke China

Persyaratan Dasar Food Safety Palm Oil

Secara umum, perusahaan palm oil perlu membangun sistem keamanan pangan melalui beberapa komponen.

Komponen tersebut meliputi:

  1. legalitas fasilitas;
  2. higiene personel;
  3. kebersihan fasilitas;
  4. pengendalian bahan baku;
  5. pengendalian proses produksi;
  6. pengendalian kontaminasi;
  7. quality control;
  8. pengujian laboratorium;
  9. traceability;
  10. pengelolaan produk tidak sesuai;
  11. penyimpanan;
  12. dokumentasi;
  13. corrective action.

Baca Juga : HS Code 1511902001: Palm Stearin 50–56°C

Selanjutnya, seluruh komponen tersebut perlu di dukung oleh catatan yang dapat di verifikasi.

Jadi, perusahaan tidak cukup mengatakan bahwa prosedur keamanan pangan telah di terapkan. Perusahaan juga perlu memiliki bukti bahwa prosedur tersebut benar-benar di jalankan.

Baca Juga : HS Code 1511902001 untuk Ekspor Palm Stearin Indonesia ke China

1. Persyaratan Bahan Baku Palm Oil

Food safety di mulai dari bahan baku.

Untuk perusahaan yang melakukan pengolahan atau refining, sumber bahan baku harus dapat d itelusuri.

Baca Juga : Perbedaan HS Code 1511902001 dan 1511902090

Perusahaan sebaiknya memiliki sistem penerimaan bahan baku yang mencatat:

  • tanggal penerimaan;
  • supplier;
  • jenis bahan;
  • volume;
  • nomor batch;
  • hasil pemeriksaan;
  • status penerimaan;
  • lokasi penyimpanan.

Kemudian, bahan baku yang tidak memenuhi spesifikasi harus di pisahkan dari bahan yang telah di setujui.

Selain itu, perusahaan perlu memiliki prosedur untuk menangani bahan baku yang bermasalah.

Dengan demikian, risiko masuknya bahan yang tidak sesuai ke dalam proses produksi dapat di kendalikan sejak awal.

Baca Juga : Perbedaan HS Code Palm Olein dan Palm Stearin

2. Kebersihan Fasilitas Produksi

Kebersihan fasilitas merupakan bagian penting dari food safety.

Area produksi, tangki, pipa, peralatan, lantai, saluran, dan fasilitas pendukung harus di kelola dengan prosedur kebersihan yang terdokumentasi.

Baca Juga : HS Code Palm Oil RBD untuk Ekspor ke China

Misalnya, perusahaan dapat memiliki:

  • cleaning schedule;
  • sanitation SOP;
  • cleaning record;
  • inspection checklist;
  • corrective action record.

Selanjutnya, pelaksanaan sanitasi harus dapat di buktikan melalui catatan.

Jika perusahaan memiliki SOP tetapi tidak memiliki record, maka penerapan sistem tersebut menjadi lebih sulit untuk diverifikasi.

Karena itu, setiap aktivitas penting sebaiknya memiliki bukti pelaksanaan.

3. Higiene Personel

Selain fasilitas, personel yang bekerja di area produksi juga harus mengikuti prosedur higiene.

Aturan internal dapat mencakup:

  • kebersihan tangan;
  • pakaian kerja;
  • penggunaan perlengkapan pelindung;
  • larangan membawa benda tertentu ke area produksi;
  • prosedur ketika pekerja mengalami kondisi yang dapat memengaruhi keamanan pangan;
  • aturan keluar-masuk area produksi.

Dengan demikian, perusahaan dapat mengurangi risiko kontaminasi yang berasal dari aktivitas manusia.

4. Pengendalian Kontaminasi

Salah satu aspek utama food safety adalah mencegah kontaminasi.

Untuk palm oil, perusahaan perlu mempertimbangkan berbagai kemungkinan kontaminasi selama:

bahan baku → produksi → refining → storage → loading → shipping.

Kontaminasi dapat berasal dari lingkungan, peralatan, bahan asing, residu, atau kesalahan proses.

Oleh karena itu, perusahaan harus mempunyai prosedur pengendalian yang sesuai dengan karakteristik fasilitas.

Selain itu, peralatan yang di gunakan untuk penyimpanan dan pengangkutan harus di kelola agar tidak menyebabkan penurunan mutu produk.

5. Pengendalian Suhu dan Penyimpanan

Karakteristik fisik palm oil dan fraksinya dapat berbeda-beda.

Oleh sebab itu, kondisi penyimpanan harus di sesuaikan dengan jenis produk.

Perusahaan perlu memperhatikan:

  • jenis tangki;
  • kebersihan tangki;
  • suhu penyimpanan;
  • kondisi pemanasan bila di gunakan;
  • waktu penyimpanan;
  • prosedur transfer;
  • kondisi sebelum loading.

Untuk produk tertentu seperti palm stearin, karakteristik melting point juga berkaitan dengan penanganan produk.

Namun, perusahaan tidak boleh menggunakan satu standar penyimpanan untuk semua produk palm oil. Sebaliknya, kondisi penyimpanan harus mengacu pada spesifikasi produk dan prosedur teknis yang di gunakan perusahaan.

6. Quality Control Palm Oil

Quality control merupakan bagian penting dari food safety.

Perusahaan perlu memiliki prosedur untuk memastikan bahwa produk yang akan di ekspor sesuai dengan spesifikasi.

Parameter pengujian dapat berbeda berdasarkan jenis palm oil.

Misalnya, pengujian dapat mencakup:

ParameterTujuan Umum
MoistureMengontrol kandungan air
ImpuritiesMengontrol kotoran tidak larut
Acid ValueMenilai tingkat keasaman
Peroxide ValueMengontrol indikator oksidasi
Iodine ValueMenunjukkan karakteristik ketidakjenuhan
Saponification ValueParameter karakteristik minyak
Fatty Acid CompositionMenilai komposisi asam lemak
Melting PointMenilai karakteristik fisik produk tertentu

Namun, daftar tersebut bukan berarti seluruh parameter wajib untuk setiap jenis palm oil.

Sebaliknya, perusahaan harus menentukan parameter berdasarkan jenis produk, spesifikasi kontrak, standar yang berlaku, metode analisis, serta persyaratan buyer dan negara tujuan.

Certificate of Analysis atau COA

Certificate of Analysis atau COA menjadi dokumen penting untuk membuktikan hasil pengujian suatu batch.

COA sebaiknya tidak hanya berisi angka hasil laboratorium.

Lebih jauh lagi, COA harus dapat di kaitkan dengan produk yang benar-benar di kirim.

Karena itu, perusahaan sebaiknya memastikan terdapat hubungan antara:

Batch Produksi → Sampling → Laboratory Test → COA → Invoice → Shipment.

Jika hubungan tersebut jelas, perusahaan dapat menunjukkan traceability dengan lebih baik.

Selain itu, hasil pada COA harus konsisten dengan spesifikasi produk.

Apabila terdapat perbedaan besar antara COA dan product specification, perusahaan perlu melakukan investigasi sebelum produk di kirim.

Laboratorium dan Pengujian Produk

Pengujian dapat dilakukan melalui laboratorium internal, eksternal, atau kombinasi keduanya sesuai sistem quality control perusahaan.

Yang terpenting adalah perusahaan memiliki metode pengujian yang terdokumentasi dan hasil yang dapat di telusuri.

Selain itu, alat ukur dan instrumen laboratorium perlu di kelola dengan baik.

Misalnya:

  • calibration;
  • maintenance;
  • reference standard;
  • testing procedure;
  • analyst record;
  • test report.

Dengan demikian, perusahaan dapat menunjukkan bahwa hasil pengujian bukan sekadar angka administratif.

Food Safety dan Spesifikasi Produk

Spesifikasi produk harus di buat dengan jelas.

Product specification setidaknya dapat menjelaskan:

  • nama produk;
  • grade;
  • bentuk produk;
  • karakteristik fisik;
  • parameter kimia;
  • batas penerimaan;
  • metode pengujian;
  • packaging;
  • storage condition.

Kemudian, spesifikasi tersebut harus sesuai dengan produk aktual.

Misalnya, jika perusahaan menjual palm stearin dengan karakteristik tertentu, maka informasi produk, COA, dan dokumen perdagangan harus saling mendukung.

Karena itu, product specification sebaiknya menjadi salah satu dokumen utama dalam sistem compliance.

Food Safety dan Traceability

Traceability merupakan kemampuan perusahaan untuk menelusuri produk dari sumber sampai shipment.

Untuk ekspor palm oil, sistem traceability sebaiknya mampu menghubungkan:

Supplier

↓

Raw Material

↓

Production Batch

↓

Storage Tank

↓

QC Test

↓

COA

↓

Container/Tank

↓

B/L

↓

China Importer

Dengan sistem tersebut, apabila terjadi masalah pada shipment, perusahaan dapat melakukan penelusuran secara lebih cepat.

Selain itu, traceability juga membantu proses recall apabila di perlukan.

Sistem Recall Produk

Perusahaan yang memiliki sistem food safety sebaiknya juga mempunyai prosedur penarikan produk atau recall.

Sistem recall dapat menjelaskan:

  1. bagaimana masalah di temukan;
  2. siapa yang bertanggung jawab;
  3. bagaimana shipment di identifikasi;
  4. bagaimana importir di beritahu;
  5. bagaimana produk di tahan;
  6. bagaimana penyebab masalah di selidiki;
  7. bagaimana corrective action dilakukan.

Walaupun recall tidak selalu terjadi, prosedur tersebut penting sebagai bagian dari kesiapan perusahaan.

Dengan demikian, perusahaan tidak hanya fokus pada pencegahan, tetapi juga memiliki mekanisme respons jika terjadi ketidaksesuaian.

Pengendalian Produk Tidak Sesuai

Tidak semua produk yang keluar dari proses produksi otomatis memenuhi persyaratan.

Karena itu, perusahaan perlu memiliki prosedur untuk non-conforming product.

Produk yang tidak sesuai dapat:

  • di tahan;
  • di uji ulang;
  • di rework jika di perbolehkan;
  • di turunkan grade;
  • di kembalikan;
  • di musnahkan;
  • atau di tangani melalui prosedur lain.

Yang paling penting adalah produk tidak sesuai tidak boleh tercampur dengan produk yang telah di setujui tanpa prosedur yang jelas.

Food Safety dan Pest Control

Pest control juga menjadi bagian dari pengelolaan higiene fasilitas.

Perusahaan perlu melakukan monitoring terhadap potensi hama di:

  • area produksi;
  • warehouse;
  • storage;
  • loading area;
  • fasilitas pendukung.

Selain itu, penggunaan pest control harus di kelola agar tidak menciptakan risiko kontaminasi terhadap produk.

Karena itu, dokumentasi pest control sebaiknya tersedia dan di perbarui secara berkala.

Pengendalian Warehouse

Warehouse dan area penyimpanan harus di kelola dengan sistem yang mendukung keamanan produk.

Perusahaan perlu memperhatikan:

  • kebersihan;
  • identifikasi produk;
  • status produk;
  • segregasi;
  • kondisi penyimpanan;
  • akses personel;
  • pencatatan keluar-masuk barang.

Selanjutnya, produk yang telah lulus QC perlu di bedakan dari produk yang masih menunggu hasil pengujian.

Dengan demikian, risiko salah kirim dapat di kurangi.

Food Safety Requirement pada Proses Loading

Proses loading sering kali di anggap hanya sebagai aktivitas logistik.

Padahal, proses tersebut juga dapat memengaruhi keamanan dan kualitas produk.

Sebelum loading, perusahaan dapat memeriksa:

  • kebersihan container atau tank;
  • kondisi hose;
  • kondisi equipment;
  • identitas produk;
  • batch;
  • quantity;
  • seal;
  • dokumen loading.

Selain itu, perusahaan perlu memastikan produk yang di muat sesuai dengan shipment yang di rencanakan.

Food Safety dan Packaging

Kemasan harus sesuai dengan karakteristik produk dan metode pengangkutan.

Untuk bulk palm oil, perusahaan dapat menggunakan metode pengangkutan tertentu seperti tank container atau fasilitas pengangkutan bulk lainnya.

Sementara itu, produk dalam kemasan dapat menggunakan drum, flexitank, atau bentuk packaging lain sesuai transaksi.

Apapun bentuknya, material dan kondisi packaging harus mendukung keamanan produk.

Selain itu, informasi pada kemasan harus konsisten dengan data registrasi dan dokumen ekspor.

GACC Registration untuk Edible Fats and Oils

Salah satu hal penting dalam ekspor palm oil ke China adalah memahami kategori registrasi GACC.

Dalam ketentuan implementasi 2026, edible fats and oils termasuk kelompok makanan yang membutuhkan registrasi GACC dengan rekomendasi dari otoritas kompeten negara asal.

Untuk kelompok makanan tersebut, prosesnya tidak hanya berupa pengisian data perusahaan.

Sebaliknya, otoritas negara asal memiliki peran dalam proses rekomendasi.

Karena itu, perusahaan harus menyiapkan sistem keamanan pangan dan dokumen pendukung sebelum proses pengajuan.

Persyaratan Rekomendasi Otoritas Negara Asal

Untuk kategori makanan yang memerlukan rekomendasi, perusahaan perlu memperhatikan mekanisme otoritas kompeten di negara asal.

Dalam kerangka Order No. 280, otoritas kompeten negara asal melakukan pemeriksaan terhadap perusahaan dan memberikan audit report serta recommendation letter untuk kategori yang memerlukan rekomendasi.

Dengan demikian, perusahaan perlu memastikan bahwa:

  • fasilitas dapat di audit;
  • dokumen tersedia;
  • sistem keamanan pangan di terapkan;
  • data perusahaan benar;
  • produk sesuai kategori;
  • proses produksi dapat di jelaskan;
  • catatan QC tersedia.

Dokumen Food Safety yang Sebaiknya Di siapkan

Untuk mendukung compliance, perusahaan dapat membuat document master.

Dokumen tersebut dapat mencakup:

1. Dokumen perusahaan

  • business license;
  • legalitas fasilitas;
  • struktur organisasi;
  • informasi penanggung jawab.

2. Dokumen food safety

  • food safety policy;
  • SOP sanitasi;
  • SOP produksi;
  • pest control;
  • hygiene procedure;
  • traceability procedure;
  • recall procedure.

3.Dokumen QC

  • product specification;
  • sampling procedure;
  • laboratory procedure;
  • COA;
  • calibration record;
  • test report.

4. Dokumen produksi

  • production record;
  • batch record;
  • storage record;
  • loading record.

5. Dokumen ekspor

  • commercial invoice;
  • packing list;
  • Bill of Lading;
  • Certificate of Origin;
  • PEB;
  • dokumen teknis lainnya.

Dengan struktur tersebut, proses pencarian dokumen akan menjadi lebih cepat.

Konsistensi Data Antardokumen

Salah satu bagian yang sering di anggap sederhana, tetapi sebenarnya penting, adalah konsistensi data.

Misalnya:

DataHarus Konsisten dengan
Nama perusahaanGACC, invoice, B/L
Alamat fasilitasGACC dan dokumen perusahaan
Nama produkCOA, invoice, packing list
BatchProduction record dan COA
QuantityInvoice, packing list, B/L
ContainerPacking list dan B/L
GACC numberPackaging dan dokumen relevan
Country of originInvoice dan COO

Oleh karena itu, perusahaan sebaiknya mempunyai satu sumber data utama.

Kemudian, setiap departemen menggunakan data tersebut ketika membuat dokumen.

Food Safety dan Commercial Invoice

Commercial invoice bukan dokumen food safety secara langsung.

Namun, invoice tetap penting karena menggambarkan identitas produk dan transaksi.

Informasi seperti:

  • product name;
  • quantity;
  • grade;
  • country of origin;
  • exporter;
  • importer;

harus sesuai dengan informasi pada dokumen lainnya.

Jika nama produk pada invoice berbeda dengan nama pada COA tanpa alasan yang jelas, importir atau customs dapat meminta klarifikasi.

Karena itu, konsistensi menjadi bagian penting dari compliance.

Food Safety dan Packing List

Packing list juga perlu di buat berdasarkan kondisi fisik aktual.

Data seperti:

  • package;
  • net weight;
  • gross weight;
  • container;
  • seal;
  • batch;

harus diperiksa sebelum dokumen final di terbitkan.

Selanjutnya, data tersebut harus dapat di kaitkan dengan shipment.

Dengan demikian, packing list tidak hanya menjadi dokumen administratif, tetapi juga membantu proses identifikasi barang.

Food Safety dan Bill of Lading

B/L merupakan dokumen pengangkutan.

Walaupun demikian, data pada B/L juga harus konsisten dengan dokumen perdagangan.

Perusahaan sebaiknya melakukan cross-check terhadap:

  • shipper;
  • consignee;
  • notify party;
  • vessel;
  • port of loading;
  • port of discharge;
  • container;
  • seal;
  • cargo description;
  • weight.

Dengan demikian, risiko amendment akibat kesalahan data dapat dikurangi.

Apakah COA Wajib untuk Semua Palm Oil?

Kebutuhan COA harus di lihat berdasarkan jenis produk, kontrak, buyer requirement, serta dokumen yang di minta dalam proses impor.

Namun, dari sisi sistem quality control, COA sangat penting untuk menunjukkan hasil pengujian produk.

Karena itu, perusahaan sebaiknya memiliki sistem penerbitan COA yang jelas.

Selain itu, COA harus menggambarkan hasil pengujian aktual dan dapat di telusuri ke batch tertentu.

Apakah Semua Parameter Laboratorium Harus Di uji?

Tidak selalu.

Parameter yang diperlukan dapat berbeda berdasarkan:

  • jenis palm oil;
  • bentuk produk;
  • spesifikasi buyer;
  • standar yang berlaku;
  • tujuan penggunaan;
  • persyaratan negara tujuan.

Oleh sebab itu, perusahaan sebaiknya tidak sekadar membuat daftar pengujian sebanyak mungkin.

Sebaliknya, perusahaan perlu membuat risk-based testing plan yang sesuai dengan produk dan persyaratan yang berlaku.

Food Safety dan Standar China

Produk makanan impor harus memenuhi ketentuan keamanan pangan China yang relevan.

China Customs menjelaskan bahwa makanan impor menjadi bagian dari sistem conformity assessment dan harus memenuhi persyaratan hukum, regulasi, serta standar keamanan pangan yang berlaku.

Karena itu, perusahaan palm oil sebaiknya tidak hanya menggunakan standar internal Indonesia.

Namun, perusahaan juga perlu melakukan gap analysis terhadap persyaratan China.

Misalnya, perusahaan dapat membuat tabel:

AreaStandar InternalPersyaratan ChinaGapCorrective Action
ProdukInternal specificationChina requirementAda/tidakPerbaikan
TestingInternal testRequired testAda/tidakTambah test
LabelExistingChina requirementAda/tidakRevisi
TraceabilityExistingRequired evidenceAda/tidakPerbaikan
PackagingExistingDestination requirementAda/tidakPenyesuaian

Dengan demikian, perusahaan dapat melihat kekurangan secara lebih sistematis.

Bagaimana Melakukan Food Safety Gap Assessment?

Gap assessment dapat dilakukan sebelum registrasi GACC.

Tahap pertama: Identifikasi produk

Tentukan produk yang akan di kirim.

Misalnya:

  • RBD Palm Oil;
  • RBD Palm Olein;
  • Palm Stearin;
  • produk fraksi lainnya.

Tahap kedua: Identifikasi proses

Petakan proses mulai dari bahan baku hingga loading.

Tahap ketiga: Identifikasi risiko

Tentukan titik yang berpotensi menyebabkan masalah keamanan pangan.

Tahap keempat: Periksa dokumen

Pastikan setiap proses memiliki SOP dan record.

Tahap kelima: Periksa implementasi

Bandingkan dokumen dengan kondisi aktual.

Tahap keenam: Corrective action

Perbaiki gap yang di temukan.

Tahap ketujuh: Internal audit

Lakukan audit ulang sebelum assessment eksternal.

Dengan pendekatan tersebut, perusahaan dapat mempersiapkan diri secara lebih terstruktur.

Food Safety Requirement dan Perubahan Perusahaan

Perusahaan juga harus memperhatikan perubahan setelah registrasi.

Misalnya:

  • perubahan alamat;
  • relokasi fasilitas;
  • perubahan nama perusahaan;
  • perubahan proses produksi;
  • perubahan kategori produk;
  • perubahan fasilitas;
  • perubahan sistem keamanan pangan.

Tidak semua perubahan memiliki konsekuensi yang sama.

Namun, perusahaan harus mengevaluasi setiap perubahan berdasarkan ketentuan GACC.

Order No. 280 mengatur kewajiban perusahaan terkait perubahan informasi registrasi dan kondisi tertentu yang dapat memerlukan tindakan registrasi kembali.

Karena itu, jangan menganggap bahwa data registrasi akan tetap benar selamanya.

Hubungan Food Safety dengan Customs Clearance

Food safety compliance dan customs clearance saling berkaitan.

Namun, keduanya tetap berbeda.

Alur sederhananya adalah:

Produsen memenuhi food safety

↓

Produsen memenuhi GACC registration

↓

Produk di produksi dan diuji

↓

Dokumen ekspor di siapkan

↓

Shipment di kirim

↓

Import declaration

↓

China Customs conformity assessment

↓

Clearance apabila persyaratan terpenuhi

China Customs memiliki mekanisme khusus untuk imported food conformity assessment. Karena itu, nomor GACC tidak boleh di anggap sebagai jaminan bahwa setiap shipment otomatis di lepas tanpa pemeriksaan.

Food Safety dan Regulasi Ekspor Indonesia

Selain memenuhi persyaratan China, perusahaan juga harus memenuhi regulasi ekspor Indonesia.

Permendag No. 16 Tahun 2026 tentang Kebijakan dan Pengaturan Ekspor Komoditas Sumber Daya Alam Strategis Kelapa Sawit di tetapkan pada 29 Mei 2026 dan berstatus berlaku. Regulasi tersebut mulai berlaku pada 1 Juni 2026.

Dengan demikian, perusahaan harus memastikan bahwa compliance tidak hanya di lihat dari sisi negara tujuan.

Namun, perusahaan juga harus memenuhi ketentuan ekspor Indonesia yang berlaku pada saat shipment dilakukan.

Checklist Food Safety Palm Oil Sebelum Ekspor ke China

Berikut checklist yang dapat di gunakan perusahaan:

Fasilitas

  • Legalitas fasilitas tersedia
  • Alamat fasilitas sesuai
  • Area produksi bersih
  • Sanitasi terdokumentasi
  • Pest control berjalan
  • Peralatan terawat

Produksi

  • SOP produksi tersedia
  • Batch record tersedia
  • Proses produksi terkendali
  • Penyimpanan sesuai spesifikasi
  • Loading procedure tersedia

Quality Control

  • Product specification tersedia
  • Sampling procedure tersedia
  • Laboratory testing dilakukan
  • COA tersedia
  • Calibration record tersedia
  • Produk memenuhi spesifikasi

Traceability

  • Supplier dapat ditelusuri
  • Batch dapat ditelusuri
  • Tank/storage dapat ditelusuri
  • COA terhubung dengan batch
  • Shipment dapat ditelusuri

GACC

  • Kategori produk telah diperiksa
  • Registrasi GACC sesuai
  • Data fasilitas sesuai
  • Recommendation mechanism dipenuhi jika berlaku
  • GACC number digunakan dengan benar

Shipment

  • Commercial invoice sesuai
  • Packing list sesuai
  • B/L sesuai
  • COO tersedia jika diperlukan
  • PEB sesuai
  • Importer China siap melakukan deklarasi

Kesalahan Food Safety yang Perlu Dihindari

1. Hanya fokus pada nomor GACC

Nomor registrasi penting, tetapi sistem keamanan pangan tetap harus berjalan.

2. Tidak mempunyai production record

Tanpa catatan produksi, traceability menjadi lebih sulit.

3. COA tidak dapat ditelusuri

COA seharusnya terkait dengan batch aktual.

4. SOP berbeda dengan praktik

Dokumen dan kondisi aktual harus konsisten.

5. Tidak melakukan calibration

Alat ukur dan laboratorium harus dikelola dengan baik.

6. Mengabaikan kondisi storage

Kualitas produk dapat dipengaruhi oleh cara penyimpanan.

7. Tidak memeriksa container sebelum loading

Kebersihan dan kondisi alat angkut perlu diperhatikan.

8. Data shipment tidak konsisten

Invoice, packing list, B/L, COA, dan dokumen lain harus diperiksa sebelum dikirim.

9. Tidak memantau perubahan regulasi

Persyaratan China maupun Indonesia dapat berubah.

Karena itu, regulatory monitoring harus menjadi aktivitas rutin.

Berapa Lama Persiapan Food Safety Compliance?

Tidak ada satu durasi yang berlaku untuk semua perusahaan.

Waktu persiapan tergantung pada kondisi awal perusahaan.

Jika perusahaan sudah memiliki sistem food safety yang matang, dokumen lengkap, laboratorium terkendali, serta traceability yang baik, proses persiapan dapat lebih sederhana.

Sebaliknya, jika perusahaan baru mulai membangun sistem, diperlukan waktu untuk:

  • membuat SOP;
  • melatih karyawan;
  • membangun record;
  • memperbaiki fasilitas;
  • melakukan testing;
  • membuat traceability system;
  • melakukan internal audit.

Oleh karena itu, perusahaan sebaiknya tidak menunggu sampai jadwal ekspor sudah dekat.

Apakah Food Safety Compliance Harus Diperbarui?

Ya.

Food safety compliance bukan dokumen sekali jadi.

Perusahaan perlu melakukan review secara berkala.

Misalnya, review dapat mencakup:

Bulanan: kebersihan, pest control, QC record.

Triwulanan: internal audit, traceability test, corrective action.

Semesteran: review supplier dan sistem pengujian.

Tahunan: review menyeluruh terhadap food safety management system.

Selain itu, review harus dilakukan setiap kali terdapat perubahan besar pada produk, fasilitas, proses, atau regulasi.

Tips Mempersiapkan Perusahaan Palm Oil untuk China

Pertama, identifikasi kategori produk dengan benar.

Kedua, pastikan fasilitas produksi sesuai dengan data perusahaan.

Ketiga, bangun food safety management system yang benar-benar diterapkan.

Selanjutnya, pastikan quality control memiliki bukti dokumentasi.

Kemudian, bangun traceability dari bahan baku sampai shipment.

Setelah itu, lakukan gap assessment terhadap persyaratan China.

Selain itu, pastikan GACC registration dikelola dengan benar.

Kemudian, lakukan cross-check terhadap semua dokumen ekspor.

Terakhir, pastikan importir China memahami kewajibannya dalam proses import declaration dan customs clearance.

Dengan cara tersebut, food safety compliance tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari sistem ekspor yang terintegrasi.

FAQ Food Safety Requirement Palm Oil untuk China

Apakah palm oil Indonesia harus memenuhi food safety requirement China?

Ya, apabila palm oil tersebut masuk sebagai makanan impor, perusahaan perlu memenuhi persyaratan keamanan pangan China yang relevan. Selain itu, edible fats and oils termasuk kategori yang masuk dalam mekanisme registrasi GACC berdasarkan implementasi 2026.

Apakah food safety sama dengan GACC?

Tidak. Food safety adalah sistem keamanan pangan, sedangkan GACC registration merupakan mekanisme registrasi perusahaan produksi makanan luar negeri.

Apakah COA penting untuk ekspor palm oil?

COA penting sebagai bukti hasil pengujian batch. Namun, parameter yang diuji harus disesuaikan dengan jenis produk, spesifikasi, standar, dan persyaratan yang berlaku.

Apakah semua palm oil menggunakan parameter pengujian yang sama?

Tidak. Parameter dapat berbeda berdasarkan jenis produk, spesifikasi, penggunaan, kontrak, dan persyaratan negara tujuan.

Apakah GACC menjamin barang pasti lolos customs?

Tidak. Setiap shipment tetap dapat menjalani conformity assessment oleh China Customs berdasarkan ketentuan dan manajemen risiko.

Apakah perusahaan harus memiliki traceability?

Traceability merupakan komponen penting dari sistem keamanan pangan karena membantu perusahaan menelusuri produk dari bahan baku sampai shipment.

Apakah fasilitas produksi harus sesuai dengan data GACC?

Ya. Data fasilitas merupakan bagian penting dari registrasi. Karena itu, perubahan fasilitas harus dievaluasi dan ditangani sesuai ketentuan yang berlaku.

Apakah food safety hanya menjadi tanggung jawab bagian QC?

Tidak. Food safety merupakan tanggung jawab lintas departemen. QC memang memiliki peran penting, tetapi produksi, warehouse, maintenance, purchasing, regulatory, dan export juga memiliki kontribusi.

Apakah perusahaan harus melakukan internal audit?

Internal audit sangat membantu untuk menemukan gap sebelum assessment atau shipment. Dengan demikian, perusahaan dapat melakukan corrective action lebih awal.

Apakah regulasi ekspor Indonesia juga harus dipenuhi?

Ya. Selain persyaratan China, perusahaan tetap harus memenuhi regulasi ekspor Indonesia. Permendag No. 16 Tahun 2026 merupakan salah satu regulasi yang saat ini mengatur kebijakan dan pengaturan ekspor komoditas SDA strategis kelapa sawit.

Food Safety Requirement Palm Oil untuk China merupakan bagian penting dari kesiapan perusahaan Indonesia memasuki pasar China.

Persyaratan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kualitas produk akhir. Sebaliknya, sistem keamanan pangan mencakup seluruh rantai proses, mulai dari bahan baku, produksi, sanitasi, penyimpanan, quality control, laboratorium, traceability, packaging, hingga loading dan pengiriman.

Selain itu, perusahaan perlu memahami hubungan antara food safety dan GACC. Untuk kategori edible fats and oils, implementasi GACC pada 2026 menempatkan produk tersebut dalam kelompok yang memerlukan registrasi dan rekomendasi otoritas kompeten negara asal.

Namun, registrasi GACC bukan akhir dari kewajiban perusahaan. Setelah registrasi diperoleh, perusahaan tetap perlu menjaga sistem keamanan pangan dan memenuhi persyaratan setiap shipment.

Selanjutnya, China Customs dapat melakukan conformity assessment terhadap makanan impor. Oleh karena itu, nomor GACC tidak boleh dipahami sebagai jaminan bahwa seluruh shipment otomatis lolos customs.

Pada akhirnya, sistem yang ideal dapat dirangkum sebagai berikut:

Product Identification → Food Safety Risk Assessment → Production Control → Quality Control → Laboratory Testing → COA → Traceability → GACC Registration → Document Consistency → Indonesian Export Compliance → Shipment → China Customs Conformity Assessment → Import Clearance

Dengan demikian, perusahaan palm oil Indonesia yang ingin mengekspor ke China sebaiknya membangun food safety compliance sebagai sistem yang berkelanjutan. Semakin baik perusahaan mengintegrasikan keamanan pangan, quality control, traceability, GACC compliance, dan dokumentasi ekspor, semakin siap pula perusahaan menghadapi proses registrasi maupun pengawasan impor di China.

Konsultasikan Ekspor Palm Oil Sekarang

Isma