Penyebab Registrasi GACC Palm Oil Ditangguhkan

Isma

Updated on:

Penyebab Registrasi GACC Palm Oil Ditangguhkan
Direktur Utama Jangkar Groups

Registrasi GACC merupakan salah satu persyaratan penting bagi perusahaan luar negeri yang memproduksi makanan untuk di ekspor ke China. Bagi perusahaan Palm Oil Indonesia, aspek ini menjadi semakin penting karena edible fats and oils atau minyak dan lemak pangan termasuk kategori pangan yang memerlukan registrasi GACC melalui rekomendasi otoritas kompeten negara asal. Namun, perusahaan juga perlu memahami penyebab registrasi GACC Palm Oil ditangguhkan, terutama ketika terdapat ketidaksesuaian terhadap persyaratan yang di tetapkan. Ketentuan tersebut berlaku berdasarkan rezim baru GACC Order No. 280 yang mulai berlaku pada 1 Juni 2026.

Namun, memiliki nomor registrasi GACC bukan berarti status perusahaan akan selalu aman tanpa pengawasan. Sebaliknya, perusahaan yang telah terdaftar tetap di wajibkan mempertahankan kepatuhan terhadap persyaratan keamanan pangan, higiene, sistem pengendalian, serta ketentuan ekspor ke China.

DAFTAR ISI

Dalam kondisi tertentu, GACC dapat menangguhkan impor produk dari perusahaan yang telah terdaftar apabila perusahaan tidak lagi memenuhi persyaratan registrasi. Selama masa penangguhan, perusahaan perlu melakukan tindakan perbaikan sebelum status impor dapat di pulihkan.

Karena itu, memahami penyebab registrasi GACC Palm Oil ditangguhkan sangat penting bagi produsen, refinery, processor, maupun perusahaan yang terlibat dalam ekspor Palm Oil Indonesia ke China.

Baca Juga : GACC Palm Oil: Panduan Lengkap Ekspor Palm Oil Indonesia ke China

Apa Arti Registrasi GACC Palm Oil Ditangguhkan?

Secara sederhana, penangguhan berarti kegiatan impor produk dari perusahaan terkait ke China di hentikan sementara karena terdapat masalah kepatuhan yang harus di perbaiki.

Dalam Order No. 280, apabila GACC menemukan bahwa perusahaan yang sudah terdaftar tidak lagi memenuhi persyaratan registrasi, perusahaan dapat di perintahkan melakukan perbaikan dalam jangka waktu yang di tentukan. Selama proses perbaikan tersebut, impor makanan dari perusahaan bersangkutan di tangguhkan.

Dengan demikian, penangguhan berbeda dengan penolakan registrasi.

Baca Juga : GACC Palm Refinery: Persyaratan Ekspor Produk Palm Oil ke China

Penolakan biasanya berkaitan dengan perusahaan yang sedang mengajukan registrasi tetapi belum memperoleh persetujuan. Sementara itu, penangguhan berkaitan dengan perusahaan yang sudah memiliki status registrasi, tetapi kemudian di temukan masalah kepatuhan.

Selain itu, penangguhan juga berbeda dari pencabutan registrasi. Penangguhan pada prinsipnya merupakan tindakan sementara yang dapat di ikuti proses perbaikan dan pemulihan apabila persyaratan telah di penuhi.

Sebaliknya, pencabutan merupakan tindakan yang lebih permanen terhadap status registrasi dan dapat terjadi karena kondisi serius tertentu, termasuk masalah keamanan pangan yang berat, kegagalan perbaikan, pemberian informasi palsu, atau penyalahgunaan nomor registrasi.

Baca Juga : Cara Registrasi GACC untuk Palm Refinery Indonesia

Mengapa GACC Dapat Menangguhkan Registrasi Palm Oil?

Salah satu prinsip utama sistem GACC adalah bahwa registrasi tidak berhenti pada saat nomor registrasi di terbitkan.

Perusahaan harus tetap mempertahankan kondisi yang menjadi dasar pemberian registrasi. Dengan kata lain, perusahaan perlu terus memenuhi persyaratan keamanan dan higiene pangan, menjalankan sistem pengendalian secara efektif, serta memastikan produk yang di ekspor memenuhi ketentuan China.

Order No. 280 menetapkan bahwa perusahaan produksi makanan luar negeri harus memiliki sistem manajemen keamanan dan higiene pangan yang efektif, melakukan produksi dan ekspor secara legal, serta memastikan makanan yang di ekspor ke China memenuhi ketentuan hukum dan standar keamanan pangan China yang relevan.

Oleh karena itu, perubahan kondisi pabrik, kegagalan sistem keamanan pangan, masalah produk, ketidaksesuaian dokumen, atau hasil pengawasan yang menunjukkan ketidakpatuhan dapat menjadi dasar tindakan regulator.

Baca Juga : Syarat GACC untuk Perusahaan Palm Oil Indonesia

Mengapa Registrasi GACC Palm Oil Bisa Ditangguhkan

Penyebab Registrasi GACC Palm Oil Ditangguhkan

Ada beberapa kelompok penyebab yang perlu di perhatikan perusahaan Palm Oil Indonesia. Penyebabnya tidak selalu berupa satu pelanggaran besar. Sebaliknya, penangguhan dapat berkaitan dengan ketidakmampuan perusahaan mempertahankan persyaratan registrasi secara konsisten.

Baca Juga : GACC Registration Number untuk Palm Oil: Fungsi dan Cara Cek

1. Sistem Keamanan Pangan Tidak Lagi Efektif

Pertama, perusahaan dapat menghadapi masalah apabila sistem keamanan pangan yang sebelumnya menjadi dasar registrasi ternyata tidak berjalan secara efektif.

Sebagai contoh, perusahaan mungkin memiliki dokumen HACCP, SOP sanitasi, prosedur pengendalian mutu, atau prosedur traceability. Namun, apabila penerapannya tidak konsisten di lapangan, maka keberadaan dokumen tersebut saja tidak cukup.

Baca Juga : Cara Cek Perusahaan Palm Oil yang Sudah Terdaftar GACC

Karena itu, perusahaan perlu memastikan bahwa sistem yang tertulis benar-benar di terapkan.

Misalnya, apabila SOP menyatakan bahwa pemeriksaan suhu dilakukan setiap hari, maka perusahaan harus mempunyai catatan pemeriksaan yang menunjukkan bahwa aktivitas tersebut benar-benar dilakukan.

Dengan demikian, terdapat hubungan antara dokumen, pelaksanaan, bukti pencatatan, dan tindakan koreksi.

Baca Juga : Masa Berlaku Registrasi GACC Palm Oil dan Cara Perpanjangannya

2. Masalah Serius pada Food Safety Management System

Selain penerapan yang tidak konsisten, masalah yang lebih serius pada sistem manajemen keamanan pangan juga dapat menjadi perhatian GACC.

Sistem keamanan pangan harus mampu mengidentifikasi bahaya, menentukan titik pengendalian, menetapkan batas yang relevan, melakukan monitoring, serta menyediakan tindakan koreksi.

Untuk perusahaan Palm Oil, sistem tersebut perlu di sesuaikan dengan karakteristik bahan baku, proses refining atau processing, penyimpanan, pengemasan, dan distribusi.

Oleh karena itu, perusahaan sebaiknya tidak menggunakan sistem yang terlalu umum tanpa menyesuaikannya dengan proses aktual di fasilitas.

3. Hazard Analysis Tidak Dilakukan Secara Memadai

Selanjutnya, analisis bahaya yang tidak memadai juga dapat menjadi sumber masalah.

Palm Oil melalui berbagai tahapan produksi dan pengolahan. Karena itu, perusahaan harus mampu mengidentifikasi potensi bahaya yang relevan pada setiap tahapan proses.

Bahaya dapat d ikelompokkan menjadi bahaya biologis, kimia, maupun fisik sesuai karakteristik proses dan produk.

Namun, analisis bahaya tidak seharusnya hanya berupa tabel formal. Sebaliknya, perusahaan perlu menunjukkan bahwa analisis tersebut memang di gunakan sebagai dasar pengendalian proses.

Apabila terdapat perubahan bahan baku, proses produksi, mesin, parameter proses, atau produk, analisis bahaya juga perlu di tinjau kembali.

4. HACCP Hanya Ada di Dokumen

Masalah berikutnya adalah HACCP yang hanya bersifat administratif.

Perusahaan mungkin memiliki manual HACCP untuk kebutuhan audit. Akan tetapi, jika operator tidak memahami prosedurnya atau catatan monitoring tidak tersedia, sistem tersebut dapat di anggap tidak efektif.

Karena itu, perusahaan Palm Oil perlu memastikan adanya hubungan antara:

HACCP → SOP → pelaksanaan → monitoring → pencatatan → corrective action.

Selain itu, personel yang bertanggung jawab juga harus memahami tugasnya.

Dengan demikian, perusahaan tidak hanya mempunyai dokumen HACCP, tetapi juga mampu menunjukkan bukti penerapannya.

5. GMP Tidak Diterapkan Secara Konsisten

Good Manufacturing Practices atau GMP juga menjadi bagian penting dari pengendalian keamanan pangan.

Jika kondisi fasilitas produksi tidak sesuai dengan prinsip higiene, maka perusahaan dapat menghadapi masalah kepatuhan.

Contohnya mencakup kebersihan area produksi yang buruk, pengendalian kontaminasi yang tidak memadai, sanitasi peralatan yang tidak konsisten, atau pemisahan area yang tidak sesuai kebutuhan proses.

Terlebih lagi, masalah yang terlihat berulang menunjukkan bahwa corrective action sebelumnya tidak efektif.

Oleh sebab itu, perusahaan sebaiknya melakukan inspeksi internal secara berkala, bukan hanya menjelang audit.

6. Kebersihan Fasilitas Produksi Bermasalah

Kondisi fisik fasilitas juga perlu di perhatikan.

Misalnya, area produksi memiliki kebocoran, drainase tidak baik, permukaan yang sulit di bersihkan, atau terdapat potensi kontaminasi dari lingkungan sekitar.

Selain itu, kondisi tangki, pipa, filter, pompa, conveyor, dan peralatan lain yang bersentuhan dengan produk harus di kendalikan sesuai kebutuhan proses.

Apabila masalah fasilitas di biarkan dalam jangka panjang, maka sistem keamanan pangan secara keseluruhan dapat di pertanyakan.

Karena itu, preventive maintenance dan sanitation inspection sebaiknya menjadi aktivitas rutin.

7. Pengendalian Hama Tidak Efektif

Pengendalian hama juga merupakan bagian dari higiene fasilitas.

Perusahaan perlu memiliki program pest control yang terdokumentasi. Selanjutnya, perusahaan harus menyimpan bukti monitoring dan tindakan apabila di temukan indikasi hama.

Tidak cukup hanya memasang perangkap. Sebaliknya, perusahaan perlu mengetahui lokasi titik kontrol, frekuensi pemeriksaan, hasil inspeksi, serta tindakan korektif.

Dengan demikian, program pengendalian hama dapat di buktikan secara objektif.

8. Traceability Tidak Berjalan

Traceability merupakan aspek penting lainnya.

Perusahaan Palm Oil harus mampu menelusuri produk berdasarkan batch atau sistem identifikasi yang di gunakan perusahaan.

Sebagai contoh, ketika suatu shipment di kirim ke China, perusahaan seharusnya dapat menghubungkan produk tersebut dengan:

  • batch produksi;
  • tanggal produksi;
  • bahan baku;
  • pemasok;
  • fasilitas produksi;
  • hasil QC;
  • COA;
  • penyimpanan;
  • dokumen pengiriman.

Selain itu, perusahaan sebaiknya mampu melakukan penelusuran dua arah.

Artinya, dari produk akhir dapat di telusuri kembali ke bahan baku. Sebaliknya, dari suatu bahan baku juga dapat di ketahui produk mana yang menggunakan bahan tersebut.

Apabila sistem traceability tidak berjalan, perusahaan akan kesulitan memberikan respons apabila terjadi masalah keamanan pangan.

9. Tidak Memiliki Bukti Traceability yang Memadai

Selain sistemnya, bukti traceability juga penting.

Perusahaan mungkin menyatakan memiliki sistem traceability. Namun, jika ketika di minta contoh batch tertentu perusahaan tidak dapat menunjukkan rekam jejak produk secara lengkap, sistem tersebut menjadi kurang meyakinkan.

Karena itu, perusahaan dapat melakukan simulasi traceability secara berkala.

Misalnya, pilih satu nomor batch secara acak. Kemudian, coba telusuri dari finished product menuju bahan baku dan supplier.

Selanjutnya, lakukan pengujian sebaliknya dari supplier menuju produk yang di hasilkan.

Dengan cara tersebut, kelemahan sistem dapat di ketahui sebelum menjadi masalah regulator.

10. Catatan Produksi Tidak Lengkap

Dokumen produksi merupakan bukti bahwa proses berlangsung sesuai prosedur.

Jika perusahaan tidak memiliki production record yang memadai, maka sulit untuk membuktikan kondisi produksi suatu batch tertentu.

Catatan dapat mencakup tanggal produksi, nomor batch, bahan baku, parameter proses, hasil pemeriksaan, operator, dan informasi terkait lainnya sesuai sistem perusahaan.

Oleh karena itu, pencatatan sebaiknya dilakukan secara konsisten sejak awal proses.

11. Masalah pada Pengujian Laboratorium

Kualitas Palm Oil juga harus di dukung dengan pengujian yang relevan.

Apabila perusahaan memiliki COA, tetapi hasil pengujian tidak dapat di telusuri ke batch yang sebenarnya, maka dokumen tersebut dapat menjadi masalah.

Demikian pula, penggunaan metode pengujian yang tidak sesuai atau ketidakmampuan menunjukkan rekaman laboratorium dapat melemahkan sistem pengendalian mutu.

Karena itu, perusahaan perlu mengendalikan proses sampling, pengujian, review hasil, penyimpanan data, dan penerbitan COA.

12. COA Tidak Konsisten dengan Produk

Certificate of Analysis harus menggambarkan produk atau batch yang benar.

Sebagai contoh, nomor batch pada COA harus dapat di kaitkan dengan produk yang di kirim.

Kemudian, parameter yang di uji juga harus sesuai dengan spesifikasi produk.

Untuk Palm Oil atau turunannya, parameter dapat berbeda tergantung jenis produk dan spesifikasi kontrak. Karena itu, perusahaan tidak sebaiknya membuat COA hanya sebagai dokumen ekspor tanpa basis pengujian yang dapat di telusuri.

Selain itu, informasi dalam COA harus konsisten dengan dokumen lain jika informasi tersebut memang di cantumkan.

13. Pengendalian Supplier Lemah

Masalah tidak selalu berasal dari pabrik sendiri.

Bahan baku dan material pendukung juga dapat memengaruhi keamanan produk. Karena itu, supplier perlu dikendalikan melalui prosedur yang jelas.

Perusahaan sebaiknya memiliki daftar supplier yang di setujui, kriteria penerimaan, proses evaluasi, spesifikasi bahan, dan mekanisme tindakan apabila supplier tidak memenuhi persyaratan.

Dengan demikian, perusahaan dapat menunjukkan bahwa pengendalian keamanan pangan di mulai sebelum bahan masuk ke fasilitas produksi.

14. Perubahan Bahan Baku Tidak Dikendalikan

Perubahan supplier atau sumber bahan baku juga perlu di kendalikan.

Misalnya, perusahaan mengganti supplier karena pertimbangan harga atau kapasitas. Namun, perubahan tersebut tidak melalui evaluasi risiko.

Dalam kondisi seperti ini, perubahan dapat memengaruhi spesifikasi bahan, risiko kontaminasi, karakteristik produk, atau proses produksi.

Oleh karena itu, setiap perubahan penting sebaiknya melalui change control.

15. Produk Tidak Lagi Sesuai dengan Informasi Registrasi

Informasi registrasi harus mencerminkan kondisi perusahaan.

Jika perusahaan terdaftar untuk fasilitas dan kategori produk tertentu, tetapi kemudian melakukan perubahan besar tanpa memperbarui informasi yang relevan, maka dapat timbul ketidaksesuaian.

Contohnya dapat mencakup perubahan fasilitas produksi, alamat, kategori produk, struktur perusahaan, atau informasi penting lainnya.

Karena itu, perubahan perusahaan perlu di evaluasi dari perspektif registrasi GACC sebelum di gunakan untuk ekspor.

16. Perubahan Alamat Fasilitas Tidak Di kelola

Alamat fasilitas merupakan bagian penting dalam identifikasi perusahaan.

Jika perusahaan pindah fasilitas tetapi masih menggunakan informasi fasilitas lama, maka terdapat potensi ketidaksesuaian.

Terlebih lagi, registrasi GACC berkaitan dengan fasilitas produksi makanan, bukan hanya nama badan usaha.

Dengan demikian, perubahan lokasi produksi perlu mendapatkan perhatian khusus.

17. Produksi Di pindahkan ke Fasilitas Lain

Perusahaan juga perlu berhati-hati apabila proses produksi dilakukan oleh pihak lain.

Misalnya, perusahaan terdaftar menggunakan fasilitas A, tetapi kemudian sebagian produksi dilakukan di fasilitas B.

Jika fasilitas B tidak tercakup dalam status registrasi yang relevan, maka penggunaan fasilitas tersebut dapat menimbulkan masalah.

Karena itu, perusahaan perlu membedakan dengan jelas antara pemilik merek, trader, exporter, manufacturer, processor, dan fasilitas produksi.

18. Penyimpanan Produk Tidak Terkendali

Selain produksi, penyimpanan juga perlu di perhatikan.

Kondisi penyimpanan dapat memengaruhi kualitas dan keamanan produk. Oleh sebab itu, perusahaan perlu memiliki prosedur untuk pengelolaan warehouse, identifikasi batch, kebersihan, pest control, serta pengendalian kondisi penyimpanan sesuai karakteristik produk.

Jika penyimpanan dilakukan oleh pihak ketiga, perusahaan juga perlu memastikan tanggung jawab dan pengendalian terhadap fasilitas tersebut jelas.

19. Food Defense Tidak Memadai

Sistem perlindungan pangan juga menjadi bagian dari manajemen risiko.

Perusahaan perlu mempertimbangkan potensi akses tidak sah, manipulasi, atau tindakan yang dapat menyebabkan kontaminasi produk.

Karena itu, kontrol akses, pengawasan area tertentu, pengelolaan personel, dan pengamanan proses perlu di pertimbangkan sesuai tingkat risikonya.

Masalah food defense yang serius dapat menunjukkan bahwa perusahaan belum memiliki sistem perlindungan yang memadai.

20. Pelatihan Karyawan Tidak Berjalan

Sistem yang baik tetap bergantung pada orang yang menjalankannya.

Jika operator tidak memahami prosedur sanitasi, pengendalian proses, traceability, atau tindakan koreksi, maka kemungkinan kesalahan akan meningkat.

Karena itu, perusahaan sebaiknya mempunyai program training yang terdokumentasi.

Selain itu, efektivitas training juga perlu di evaluasi. Dengan demikian, perusahaan dapat menunjukkan bahwa karyawan tidak hanya menghadiri pelatihan, tetapi benar-benar memahami tugasnya.

21. Corrective Action Tidak Efektif

Apabila di temukan masalah, perusahaan perlu melakukan corrective action.

Namun, tindakan korektif tidak cukup hanya berupa “memberikan pelatihan ulang” atau “membersihkan area”.

Perusahaan perlu mencari akar masalah.

Misalnya, apabila catatan sanitasi sering tidak lengkap, perusahaan harus mengetahui mengapa pencatatan gagal. Apakah formulir terlalu rumit? Juga, apakah operator tidak memahami prosedur? Apakah supervisor tidak melakukan verifikasi?

Selanjutnya, corrective action perlu di verifikasi untuk memastikan masalah tidak berulang.

22. Masalah Keamanan Pangan pada Produk yang Diekspor

Salah satu risiko paling serius adalah di temukannya masalah keamanan pangan pada produk yang masuk ke China.

Order No. 280 memberikan dasar bagi GACC untuk melakukan tindakan terhadap perusahaan yang tidak lagi memenuhi persyaratan. Selain itu, masalah keamanan pangan yang serius pada produk impor dapat menjadi dasar pencabutan registrasi dalam kondisi tertentu.

Karena itu, perusahaan tidak boleh menganggap pemeriksaan hanya sebagai formalitas administrasi.

Sebaliknya, kualitas produk yang benar-benar di kirim harus menjadi prioritas utama.

23. Ketidaksesuaian Berulang pada Customs China

Masalah yang muncul berulang kali pada proses impor juga perlu menjadi perhatian.

Misalnya, suatu perusahaan berulang kali menghadapi temuan terkait dokumen, spesifikasi, label, atau persyaratan keamanan pangan.

Walaupun satu kejadian belum tentu langsung menyebabkan pencabutan, pola ketidaksesuaian dapat menunjukkan kelemahan sistem pengendalian.

Oleh karena itu, perusahaan perlu melakukan investigasi terhadap setiap masalah impor dan menyimpan bukti corrective action.

24. Tidak Kooperatif Saat Pemeriksaan

GACC memiliki kewenangan untuk melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap perusahaan terdaftar.

Jika perusahaan di minta memberikan informasi, melakukan perbaikan, atau mengikuti proses pemeriksaan, maka perusahaan perlu memberikan kerja sama yang memadai.

Ketidakkooperatifan juga dapat menjadi masalah serius. Bahkan, Order No. 280 mencantumkan penolakan untuk bekerja sama dalam pemeriksaan ulang dan investigasi kecelakaan sebagai salah satu dasar pencabutan registrasi.

Karena itu, perusahaan sebaiknya menunjuk PIC yang memahami registrasi GACC dan mampu berkoordinasi dengan pihak terkait.

25. Memberikan Informasi yang Tidak Benar

Keakuratan informasi merupakan aspek fundamental dalam registrasi GACC.

Perusahaan tidak boleh memberikan informasi palsu atau menyembunyikan kondisi yang relevan.

Apabila perusahaan sengaja memberikan informasi palsu atau menyembunyikan fakta, konsekuensinya dapat lebih serius daripada sekadar penangguhan.

Order No. 280 secara tegas memasukkan pemberian bahan palsu dan penyembunyian informasi sebagai salah satu kondisi yang dapat menyebabkan pencabutan registrasi.

Karena itu, perusahaan sebaiknya memastikan seluruh informasi yang dikirimkan benar-benar dapat di buktikan.

26. Penyalahgunaan Nomor Registrasi GACC

Nomor registrasi GACC harus di gunakan sesuai ketentuan.

Perusahaan tidak boleh meminjamkan, menyewakan, menjual, memindahkan, atau menyalahgunakan nomor registrasi.

Selain itu, nomor registrasi tidak boleh di gunakan oleh fasilitas yang tidak tercakup dalam status perusahaan.

Order No. 280 secara eksplisit mencantumkan penyewaan, peminjaman, pemindahan, penjualan, maupun penyalahgunaan nomor registrasi sebagai dasar pencabutan dalam kondisi yang di tentukan regulasi.

Apakah Registrasi GACC yang Ditangguhkan Bisa Dipulihkan?

Ya, dalam mekanisme penangguhan karena perusahaan tidak lagi memenuhi persyaratan registrasi, terdapat mekanisme perbaikan.

Menurut Order No. 280, GACC dapat meminta perusahaan melakukan corrective action dalam jangka waktu tertentu. Selama perbaikan, impor produk perusahaan tersebut di tangguhkan.

Setelah perbaikan selesai, perusahaan perlu menyampaikan laporan pengawasan perbaikan dari otoritas kompeten negara asal serta pernyataan tertulis bahwa perusahaan telah kembali memenuhi persyaratan registrasi.

Selanjutnya, GACC melakukan pemeriksaan terhadap hasil perbaikan. Apabila perusahaan memenuhi persyaratan, impor dapat di pulihkan.

Karena itu, perusahaan perlu melihat penangguhan sebagai proses compliance remediation yang harus di tangani secara sistematis.

Langkah yang Harus Dilakukan Setelah Registrasi GACC Ditangguhkan

Ketika mendapatkan informasi mengenai penangguhan, perusahaan sebaiknya tidak langsung melakukan perubahan secara acak.

Sebaliknya, langkah pertama adalah mengidentifikasi dasar penangguhan.

1. Identifikasi temuan

Periksa pemberitahuan, hasil pemeriksaan, feedback regulator, atau informasi yang tersedia melalui sistem terkait.

2. Bentuk tim corrective action

Libatkan bagian QA/QC, produksi, regulatory, warehouse, purchasing, dan manajemen apabila masalahnya bersifat lintas departemen.

3. Cari akar masalah

Jangan hanya memperbaiki gejala. Gunakan pendekatan root cause analysis agar masalah tidak berulang.

4. Susun corrective action plan

Buat daftar tindakan, PIC, target waktu, bukti penyelesaian, dan metode verifikasi.

5. Perbaiki dokumen dan penerapan

Jika masalah berkaitan dengan SOP, lakukan revisi. Namun, revisi dokumen harus di ikuti penerapan di lapangan.

6. Lakukan internal verification

Setelah perbaikan selesai, lakukan audit internal untuk memastikan corrective action benar-benar efektif.

7. Koordinasikan dengan otoritas kompeten Indonesia

Untuk kategori yang membutuhkan rekomendasi resmi, koordinasi dengan otoritas kompeten menjadi bagian penting dalam proses pemulihan.

8. Siapkan bukti perbaikan

Bukti dapat mencakup revisi SOP, foto perbaikan, training record, hasil pengujian, production record, sanitation record, traceability test, dan dokumen lain sesuai temuan.

Checklist Pencegahan Penangguhan GACC Palm Oil

Perusahaan Palm Oil Indonesia dapat menggunakan checklist berikut:

AreaYang Perlu Di pastikan
LegalitasPerusahaan dan fasilitas legal
GACCData registrasi selalu di perbarui
ProduksiProses sesuai SOP
GMPDi terapkan secara konsisten
HACCPAnalisis bahaya relevan dan di perbarui
QCPengujian terdokumentasi
COASesuai batch dan hasil aktual
TraceabilityProduk dapat di telusuri
SupplierSupplier di kendalikan
WarehouseKondisi penyimpanan terkendali
Pest ControlMonitoring dan corrective action tersedia
TrainingPelatihan karyawan terdokumentasi
Food DefenseSistem perlindungan di terapkan
Corrective ActionMasalah di tangani sampai akar penyebab
Dokumen eksporInvoice, packing list, B/L, COA, COO konsisten
ProdukSesuai informasi registrasi
Nomor GACCTidak di gunakan oleh fasilitas lain

Registrasi GACC Bukan Berarti Customs China Pasti Lolos

Hal yang juga perlu di pahami adalah bahwa registrasi GACC dan customs clearance merupakan dua tahap yang berbeda.

Registrasi GACC berkaitan dengan status fasilitas produksi makanan luar negeri. Sementara itu, customs clearance berkaitan dengan pemeriksaan dan penilaian kesesuaian barang impor pada saat masuk ke China.

Dengan demikian, perusahaan tetap harus memastikan dokumen dan barang pada setiap shipment sesuai.

Misalnya, perusahaan sudah memiliki nomor GACC yang valid. Namun, jika dokumen shipment tidak konsisten atau barang tidak memenuhi persyaratan impor yang berlaku, proses clearance tetap dapat mengalami masalah.

Karena itu, sistem compliance sebaiknya mencakup registrasi perusahaan sekaligus compliance setiap shipment.

Perubahan Regulasi GACC yang Berlaku Sejak 2026

Sejak 1 Juni 2026, Order No. 280 menggantikan Order No. 248 sebagai dasar baru pengelolaan registrasi perusahaan produksi makanan luar negeri.

Selain itu, Announcement No. 27 of 2026 menetapkan daftar pangan yang memerlukan rekomendasi otoritas kompeten. Dalam daftar tersebut terdapat edible fats and oils, sehingga kategori minyak dan lemak pangan menjadi bagian penting dalam sistem registrasi yang harus di perhatikan perusahaan Palm Oil.

Di sisi lain, sistem baru juga memberikan mekanisme yang lebih terstruktur untuk perusahaan terdaftar, termasuk mekanisme perpanjangan otomatis untuk kategori tertentu dan mekanisme perbaikan bagi perusahaan yang tidak lagi memenuhi persyaratan.

Karena itu, perusahaan sebaiknya tidak hanya menggunakan panduan lama yang masih mengacu pada Order No. 248. Sebaliknya, prosedur internal perlu di sesuaikan dengan ketentuan yang berlaku sejak 1 Juni 2026.

Cara Menjaga Status GACC Palm Oil Tetap Aktif

Menjaga registrasi GACC sebenarnya merupakan proses berkelanjutan.

Pertama, perusahaan perlu melakukan compliance review secara berkala.

Kemudian, lakukan internal audit terhadap sistem keamanan pangan. Setelah itu, evaluasi hasil QC dan keluhan pelanggan. Selanjutnya, periksa traceability dan lakukan simulasi penarikan produk jika di perlukan.

Selain itu, setiap perubahan penting harus melalui change control.

Perusahaan juga perlu memperhatikan status registrasi dan masa berlaku. Berdasarkan Order No. 280, registrasi pada prinsipnya memiliki masa berlaku lima tahun, dengan mekanisme perpanjangan yang berbeda sesuai kategori dan kondisi perusahaan.

Dengan demikian, perusahaan tidak sebaiknya menunggu sampai mendekati masa berlaku atau sampai terjadi masalah pada shipment.

FAQ Penyebab Registrasi GACC Palm Oil Ditangguhkan

Apakah GACC Palm Oil bisa ditangguhkan?

Bisa. Perusahaan yang sudah terdaftar tetapi tidak lagi memenuhi persyaratan registrasi dapat di perintahkan melakukan perbaikan dan selama periode tersebut impor produknya dapat di tangguhkan.

Apa perbedaan penangguhan dan penolakan GACC?

Penolakan biasanya terjadi pada proses pengajuan sebelum registrasi di berikan. Sementara itu, penangguhan berkaitan dengan perusahaan yang sudah terdaftar tetapi kemudian di temukan tidak memenuhi persyaratan.

Apakah penangguhan berarti nomor GACC langsung dicabut?

Tidak selalu. Penangguhan dan pencabutan merupakan tindakan yang berbeda. Untuk kasus ketidakpatuhan yang dapat di perbaiki, terdapat mekanisme corrective action dan pemulihan setelah persyaratan di penuhi.

Apakah masalah traceability bisa menyebabkan penangguhan?

Masalah traceability dapat menjadi bagian dari ketidakpatuhan apabila menyebabkan perusahaan tidak mampu membuktikan pengendalian dan penelusuran produk secara memadai. Tingkat tindakan regulator bergantung pada kondisi dan hasil evaluasi.

Apakah masalah COA dapat menyebabkan masalah GACC?

Bisa, terutama apabila COA tidak dapat di telusuri ke batch aktual, hasil pengujian tidak dapat di buktikan, atau terdapat ketidaksesuaian yang berkaitan dengan keamanan produk.

Apakah perusahaan harus menghentikan ekspor ketika statusnya ditangguhkan?

Perusahaan perlu mengikuti instruksi dan status yang di tetapkan GACC serta otoritas kompeten. Order No. 280 menyatakan bahwa selama periode perbaikan setelah GACC memerintahkan corrective action, impor makanan dari perusahaan terkait di tangguhkan.

Apakah setelah perbaikan impor bisa dilanjutkan?

Apabila hasil perbaikan di nilai memenuhi persyaratan, GACC dapat memulihkan impor terkait. Proses tersebut membutuhkan bukti perbaikan dan dokumen dari otoritas kompeten sesuai ketentuan.

Apakah trader Palm Oil sama dengan produsen dalam registrasi GACC?

Tidak selalu. Registrasi GACC berkaitan dengan fasilitas produksi, pengolahan, atau penyimpanan makanan luar negeri yang masuk dalam ruang lingkup regulasi. Karena itu, trader dan manufacturer perlu di bedakan berdasarkan peran sebenarnya dalam rantai pasok.

Penyebab registrasi GACC Palm Oil ditangguhkan pada dasarnya berkaitan dengan kondisi ketika perusahaan yang telah terdaftar tidak lagi memenuhi persyaratan registrasi yang berlaku.

Masalah tersebut dapat berkaitan dengan sistem keamanan pangan, GMP, HACCP, traceability, dokumentasi produksi, pengujian laboratorium, pengendalian supplier, higiene fasilitas, penyimpanan, food defense, hingga ketidaksesuaian informasi registrasi.

Selain itu, masalah pada produk yang masuk ke China juga perlu mendapatkan perhatian serius. Oleh karena itu, perusahaan Palm Oil Indonesia tidak cukup hanya memiliki nomor GACC. Perusahaan juga harus mempertahankan sistem compliance secara konsisten.

Terlebih lagi, sejak 1 Juni 2026, Order No. 280 menjadi dasar baru registrasi perusahaan makanan luar negeri dan edible fats and oils termasuk kategori yang memerlukan registrasi melalui rekomendasi otoritas kompeten.

Dengan demikian, strategi terbaik untuk mengurangi risiko penangguhan adalah membangun sistem yang terintegrasi mulai dari legalitas fasilitas, keamanan pangan, produksi, QC, traceability, dokumentasi, hingga pengendalian ekspor.

Pada akhirnya, GACC sebaiknya dipandang bukan sekadar nomor registrasi untuk memenuhi persyaratan ekspor. Sebaliknya, registrasi tersebut merupakan bagian dari sistem pengawasan keamanan pangan yang harus dipertahankan selama perusahaan terus memasok Palm Oil ke pasar China.

Konsultasikan Ekspor Palm Oil Sekarang

Isma