Masalah Umum dalam Pengurusan API-P untuk TKDN

Nisa

Masalah Umum dalam Pengurusan API-P untuk TKDN
Direktur Utama Jangkar Groups

Pengurusan Angka Pengenal Importir Produsen (API-P) menjadi salah satu hal penting bagi perusahaan industri yang membutuhkan barang impor untuk mendukung kegiatan produksi. Masalah Umum dalam Pengurusan API-P Namun, dalam praktiknya, perusahaan sering menghadapi berbagai kendala, mulai dari ketidaksesuaian dokumen perizinan hingga kesulitan memenuhi persyaratan teknis yang berkaitan dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Oleh karena itu, perusahaan perlu memahami setiap tahapan pengurusan API-P agar proses impor berjalan lebih lancar. Selain menyiapkan dokumen, pelaku usaha juga perlu memastikan kesesuaian data perusahaan, bidang usaha, jenis barang impor, serta kebutuhan produksi yang sebenarnya.

Di sisi lain, ketentuan impor dapat berubah mengikuti kebijakan pemerintah. Dengan demikian, perusahaan sebaiknya memeriksa regulasi terbaru sebelum mengajukan perizinan. Langkah ini membantu perusahaan mengurangi risiko kesalahan administrasi, keterlambatan pengadaan bahan baku, maupun hambatan dalam kegiatan produksi.

Baca Juga : API-P untuk TKDN: Pengertian, Fungsi, Syarat, Cara Urus, Biaya

Apa Itu API-P dan Hubungannya dengan TKDN?

API-P merupakan singkatan dari Angka Pengenal Importir Produsen. Dalam ketentuan impor Indonesia, API-P berkaitan dengan Nomor Induk Berusaha (NIB) yang berlaku sebagai Angka Pengenal Importir bagi badan usaha yang mengimpor barang untuk kebutuhan sendiri, seperti barang modal, bahan baku, bahan penolong, atau barang pendukung proses produksi.

Sementara itu, TKDN atau Tingkat Komponen Dalam Negeri menunjukkan besarnya kandungan komponen dalam negeri pada barang, jasa, atau gabungan barang dan jasa sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Meskipun keduanya berkaitan dengan kegiatan industri, API-P dan TKDN memiliki fungsi yang berbeda. API-P mendukung legalitas kegiatan impor, sedangkan TKDN berkaitan dengan pengukuran kandungan dalam negeri.

Oleh sebab itu, perusahaan tidak boleh menganggap bahwa kepemilikan API-P secara otomatis membuktikan pemenuhan TKDN. Sebaliknya, perusahaan perlu memeriksa persyaratan masing-masing sesuai dengan jenis produk, sektor industri, dan tujuan pengadaan.

Baca Juga : Apa Itu API-P untuk TKDN?

1. Ketidaksesuaian Data Perusahaan dalam Dokumen Perizinan

Salah satu masalah umum dalam pengurusan API-P adalah ketidaksesuaian data perusahaan. Kondisi ini dapat terjadi ketika informasi dalam NIB, Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), akta perusahaan, atau dokumen pendukung lainnya tidak menunjukkan data yang sama.

Sebagai contoh, perusahaan mungkin telah mengubah alamat kantor atau bidang usaha, tetapi belum memperbarui seluruh dokumen terkait. Akibatnya, petugas atau sistem perizinan dapat meminta klarifikasi sebelum melanjutkan proses.

Selain itu, ketidaksesuaian bidang usaha juga dapat menimbulkan kendala. Perusahaan yang ingin mengimpor mesin produksi, misalnya, perlu memastikan bahwa kegiatan usaha dan tujuan impornya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Cara Mengatasi Ketidaksesuaian Data

Untuk mengurangi risiko tersebut, perusahaan sebaiknya melakukan langkah berikut:

  • Periksa kembali NIB dan data perusahaan pada sistem OSS.
  • Cocokkan nama perusahaan, alamat, NPWP, dan informasi legal lainnya.
  • Pastikan bidang usaha sesuai dengan kegiatan industri yang sebenarnya.
  • Perbarui data yang berubah sebelum mengajukan permohonan.
  • Simpan dokumen pendukung dalam format yang jelas dan mudah diperiksa.

Dengan melakukan pemeriksaan sejak awal, perusahaan dapat mengurangi risiko pengajuan ulang akibat kesalahan administrasi.

Baca Juga : Fungsi API-P dalam Proses TKDN

2. Kesalahan Memilih Jenis Perizinan Impor

Masalah berikutnya muncul ketika perusahaan belum memahami perbedaan API-P dan API-U. Padahal, pemilihan jenis perizinan harus mengikuti tujuan impor dan karakteristik kegiatan usaha.

API-P ditujukan bagi badan usaha yang mengimpor barang untuk digunakan sendiri sebagai barang modal, bahan baku, bahan penolong, atau pendukung proses produksi. Sebaliknya, API-U berkaitan dengan kegiatan impor barang untuk tujuan diperdagangkan atau dipindahtangankan sesuai ketentuan yang berlaku.

Jika perusahaan memilih jenis perizinan yang tidak sesuai dengan aktivitasnya, proses pengurusan dapat mengalami hambatan. Selain itu, ketidaktepatan tersebut berpotensi menimbulkan masalah saat perusahaan merealisasikan impor.

Langkah Menghindari Kesalahan Pemilihan API

Pertama, identifikasi tujuan impor secara jelas. Kedua, buat daftar barang yang akan masuk ke Indonesia beserta fungsi setiap barang dalam kegiatan usaha. Selanjutnya, cocokkan kebutuhan tersebut dengan ketentuan impor yang berlaku.

Apabila perusahaan menjalankan beberapa jenis kegiatan usaha sekaligus, perusahaan perlu memeriksa ketentuan yang relevan sebelum menentukan jenis API. Dengan begitu, keputusan yang diambil memiliki dasar administrasi dan operasional yang lebih kuat.

3. Dokumen Persyaratan Belum Lengkap

Kelengkapan dokumen merupakan faktor penting dalam pengurusan API-P. Namun, sebagian perusahaan baru memeriksa dokumen ketika hendak mengajukan permohonan. Akibatnya, proses dapat tertunda karena ada informasi yang belum tersedia atau dokumen yang perlu diperbaiki.

Dokumen yang perlu diperiksa dapat mencakup NIB, data legalitas perusahaan, informasi kegiatan usaha, serta dokumen teknis yang diwajibkan untuk barang atau sektor terkait. Persyaratan spesifik bergantung pada jenis barang yang diimpor dan ketentuan perizinan yang berlaku.

Selain itu, perusahaan perlu membedakan dokumen untuk memperoleh atau memperbarui data perizinan dengan dokumen tambahan untuk memperoleh persetujuan impor komoditas tertentu.

Baca Juga : Syarat Mengurus API-P untuk TKDN

Tips Menyiapkan Dokumen

Agar proses lebih teratur, perusahaan dapat membuat daftar periksa dokumen sebelum mengajukan permohonan. Kemudian, tim administrasi perlu memeriksa masa berlaku, keterbacaan, serta kesesuaian setiap dokumen.

Selanjutnya, kelompokkan dokumen berdasarkan fungsi, misalnya dokumen legalitas, dokumen kegiatan industri, dan dokumen teknis barang impor. Cara ini membantu perusahaan menemukan kekurangan lebih cepat.

4. Ketidaksesuaian Barang Impor dengan Kebutuhan Produksi

API-P berkaitan erat dengan penggunaan barang impor untuk kebutuhan perusahaan sendiri. Oleh karena itu, perusahaan perlu memastikan bahwa barang yang akan diimpor benar-benar sesuai dengan tujuan penggunaan yang diperbolehkan.

Masalah dapat muncul ketika perusahaan tidak memiliki penjelasan yang memadai mengenai fungsi barang, kebutuhan bahan baku, kapasitas produksi, atau hubungan antara barang impor dan proses manufaktur.

Sebagai contoh, perusahaan manufaktur ingin mengimpor mesin tertentu. Namun, dokumen internal tidak menjelaskan bagaimana mesin tersebut mendukung proses produksi. Kondisi ini dapat menyulitkan perusahaan ketika harus memberikan penjelasan atau memenuhi pemeriksaan tambahan.

Cara Memastikan Kesesuaian Barang

Perusahaan sebaiknya menyusun daftar barang impor yang memuat nama barang, spesifikasi, jumlah, fungsi, dan tujuan penggunaan. Selain itu, perusahaan perlu menyiapkan penjelasan singkat tentang hubungan barang tersebut dengan kegiatan produksi.

Dengan demikian, perusahaan memiliki dasar yang lebih jelas untuk menjelaskan kebutuhan impornya. Langkah ini juga membantu tim pengadaan, produksi, dan administrasi bekerja menggunakan informasi yang konsisten.

Baca Juga : Cara Mengurus API-P untuk TKDN

5. Kesalahpahaman Mengenai Persyaratan TKDN

Persoalan lain yang sering muncul adalah anggapan bahwa pengurusan API-P dan pemenuhan TKDN merupakan satu proses perizinan yang sama. Padahal, keduanya mempunyai tujuan dan mekanisme yang berbeda.

API-P berkaitan dengan identitas importir untuk kegiatan impor tertentu. Sementara itu, TKDN berkaitan dengan kandungan dalam negeri yang dihitung atau diverifikasi berdasarkan ketentuan untuk produk maupun pengadaan tertentu.

Oleh sebab itu, perusahaan perlu mengidentifikasi kebutuhan TKDN berdasarkan jenis proyek, produk, sektor industri, atau persyaratan pengadaan yang diikuti. Tidak semua proses pengurusan API-P secara otomatis memerlukan sertifikat TKDN.

Langkah Menyelaraskan API-P dan TKDN

Pertama, periksa apakah produk atau proyek perusahaan memiliki persyaratan TKDN khusus. Kemudian, identifikasi dokumen yang diperlukan untuk membuktikan kandungan lokal, seperti data bahan baku dalam negeri, komponen lokal, proses produksi, atau informasi biaya yang relevan.

Selanjutnya, pastikan data teknis produk konsisten dengan dokumen perusahaan. Jika perusahaan membutuhkan sertifikasi TKDN, ikuti prosedur penilaian dan verifikasi yang berlaku untuk kategori produk tersebut.

Dengan pendekatan ini, perusahaan dapat memisahkan kewajiban impor dari kewajiban pembuktian kandungan dalam negeri tanpa mengabaikan keterkaitan keduanya.

Baca Juga : Dokumen yang Dibutuhkan untuk API-P TKDN

6. Kesulitan Menentukan Klasifikasi Barang Impor

Klasifikasi barang merupakan aspek penting dalam kegiatan impor. Setiap barang memiliki karakteristik dan kode klasifikasi yang dapat memengaruhi ketentuan kepabeanan maupun persyaratan teknis yang berlaku.

Kesalahan dalam menentukan klasifikasi dapat menimbulkan ketidaksesuaian dokumen, kebutuhan klarifikasi, atau kendala dalam proses impor. Selain itu, perusahaan mungkin belum memahami apakah barang tertentu termasuk kategori yang memerlukan persetujuan impor atau dokumen tambahan.

Cara Mengurangi Risiko Kesalahan Klasifikasi

Untuk mengatasinya, perusahaan perlu mengumpulkan informasi mengenai nama teknis barang, fungsi, bahan penyusun, spesifikasi, dan negara asal. Selanjutnya, cocokkan informasi tersebut dengan klasifikasi HS atau pos tarif yang relevan.

Apabila karakteristik barang cukup kompleks, perusahaan dapat meminta bantuan tenaga ahli kepabeanan atau berkonsultasi dengan pihak berwenang. Dengan begitu, perusahaan dapat mengurangi risiko penggunaan kode yang tidak sesuai.

7. Kendala dalam Penggunaan Sistem OSS

Sistem Online Single Submission (OSS) memegang peranan penting dalam layanan perizinan berusaha. Meskipun sistem elektronik mempermudah proses administrasi, perusahaan tetap dapat menghadapi kendala teknis maupun kesalahan pengisian data.

Contohnya meliputi kesulitan mengakses akun, data usaha yang belum diperbarui, informasi yang tidak sesuai dengan dokumen pendukung, atau ketidakpahaman terhadap tahapan pengajuan.

Selain itu, perusahaan terkadang menganggap bahwa seluruh perizinan impor selesai setelah NIB tersedia. Padahal, untuk komoditas tertentu, perusahaan masih perlu memenuhi persyaratan atau memperoleh persetujuan tambahan sesuai ketentuan yang berlaku.

Baca Juga : Berapa Lama Proses Pengurusan API-P untuk TKDN?

Solusi Mengatasi Kendala OSS

Perusahaan sebaiknya menggunakan akun resmi yang memiliki akses sesuai kewenangan. Kemudian, periksa informasi usaha sebelum mengisi permohonan dan simpan bukti pengajuan untuk keperluan tindak lanjut.

Jika kendala tetap muncul, dokumentasikan pesan kesalahan dan hubungi layanan bantuan OSS melalui kanal resmi. Dengan demikian, perusahaan dapat menjelaskan masalah secara terarah dan memperoleh panduan yang sesuai.

Pengurusan API-P tidak hanya melibatkan bagian administrasi. Sebaliknya, proses ini juga membutuhkan informasi dari bagian produksi, pengadaan, keuangan, dan legal perusahaan.

Bagian produksi memahami kebutuhan bahan baku serta mesin. Sementara itu, bagian pengadaan mengelola spesifikasi dan pemasok. Adapun bagian legal dan administrasi bertanggung jawab memastikan kesesuaian dokumen dengan ketentuan yang berlaku.

Jika setiap bagian menyimpan informasi yang berbeda, perusahaan dapat mengalami keterlambatan. Misalnya, bagian pengadaan mengajukan barang dengan spesifikasi tertentu, tetapi bagian produksi menggunakan data kebutuhan yang berbeda.

Baca Juga : Biaya Pengurusan API-P untuk TKDN

Strategi Memperbaiki Koordinasi Internal

Perusahaan dapat menunjuk satu koordinator perizinan untuk mengumpulkan data dari setiap bagian. Selanjutnya, buat daftar kebutuhan impor yang memuat spesifikasi, jumlah, fungsi barang, dokumen pendukung, dan status pemenuhannya.

Selain itu, lakukan pemeriksaan bersama sebelum perusahaan mengajukan permohonan. Dengan cara tersebut, setiap bagian memahami tanggung jawabnya dan perusahaan dapat mengurangi kesalahan akibat komunikasi yang tidak efektif.

9. Kurangnya Pemahaman terhadap Perubahan Regulasi

Ketentuan impor dapat berubah mengikuti kebijakan pemerintah. Oleh sebab itu, perusahaan perlu memeriksa peraturan terbaru sebelum mengajukan API-P atau melakukan impor.

Sebagai contoh, Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 16 Tahun 2025 mengatur kebijakan dan pengaturan impor, termasuk penggunaan NIB yang berlaku sebagai API. Peraturan tersebut mulai berlaku pada 29 Agustus 2025 dan menggantikan Permendag Nomor 36 Tahun 2023 beserta perubahannya. Perusahaan dapat memeriksa ketentuan tersebut melalui JDIH BPK.

Namun, perusahaan tidak cukup hanya membaca ketentuan umum. Persyaratan tambahan dapat berbeda menurut komoditas, sehingga pemeriksaan terhadap aturan sektoral juga penting.

Cara Memantau Perubahan Regulasi

Pertama, periksa situs resmi kementerian atau lembaga yang menangani perdagangan, perindustrian, dan perizinan usaha. Kemudian, tinjau persyaratan yang berhubungan langsung dengan barang impor perusahaan.

Selanjutnya, catat perubahan yang memengaruhi dokumen, prosedur, atau jadwal pengadaan. Dengan demikian, perusahaan dapat menyesuaikan proses internal sebelum perubahan tersebut menimbulkan hambatan operasional.

Baca Juga : Perbedaan API-P dan API-U dalam Kaitannya dengan TKDN

10. Keterlambatan Proses Pengurusan dan Pengadaan Barang

Keterlambatan pengurusan API-P atau persyaratan impor tambahan dapat memengaruhi jadwal pengiriman barang. Akibatnya, perusahaan berisiko mengalami kekurangan bahan baku, tertundanya pemasangan mesin, atau terganggunya jadwal produksi.

Keterlambatan tersebut tidak selalu berasal dari sistem perizinan. Sebaliknya, penyebabnya dapat berupa dokumen yang belum lengkap, spesifikasi barang yang berubah, koordinasi yang kurang baik, atau kebutuhan persetujuan tambahan.

Cara Mengantisipasi Keterlambatan

Perusahaan sebaiknya menyusun jadwal pengadaan dengan mempertimbangkan waktu persiapan dokumen, pengajuan perizinan, pengiriman, dan pemeriksaan kepabeanan. Selain itu, perusahaan perlu mengidentifikasi barang yang memiliki pengaruh besar terhadap kelangsungan produksi.

Dengan perencanaan yang lebih awal, perusahaan dapat mengurangi risiko penghentian produksi akibat keterlambatan barang impor. Namun, perusahaan tetap perlu menyesuaikan jadwal dengan prosedur resmi dan tidak menganggap bahwa setiap permohonan akan selesai dalam waktu yang sama.

11. Kesalahan Memilih Jasa Pengurusan API-P

Sebagian perusahaan memilih menggunakan jasa pengurusan untuk membantu menyiapkan dokumen dan memahami prosedur. Namun, pemilihan penyedia jasa yang kurang tepat dapat menimbulkan risiko baru, terutama jika penyedia jasa memberikan informasi yang tidak jelas atau menjanjikan hasil tanpa dasar.

Oleh karena itu, perusahaan perlu menilai pengalaman, transparansi biaya, kejelasan ruang lingkup layanan, dan kemampuan penyedia jasa dalam menjelaskan prosedur resmi.

Tips Memilih Jasa Pengurusan yang Tepat

Sebelum menggunakan jasa, perusahaan sebaiknya melakukan beberapa pemeriksaan berikut:

  • Periksa identitas dan legalitas penyedia jasa.
  • Minta penjelasan tertulis mengenai ruang lingkup pekerjaan.
  • Pastikan rincian biaya dan kemungkinan biaya tambahan tersedia sejak awal.
  • Hindari penyedia jasa yang menjanjikan penerbitan izin tanpa memenuhi persyaratan.
  • Pastikan perusahaan tetap memiliki akses terhadap akun dan dokumen resminya.
  • Mintalah bukti pengajuan serta laporan perkembangan pekerjaan.

Dengan memilih penyedia jasa secara cermat, perusahaan dapat memperoleh bantuan administratif tanpa mengabaikan tanggung jawab hukumnya sendiri.

Tips agar Pengurusan API-P untuk TKDN Berjalan Lebih Lancar

Tips agar Pengurusan API-P untuk TKDN Berjalan Lebih Lancar

Setelah memahami berbagai kendala di atas, perusahaan dapat menerapkan langkah pencegahan yang lebih terstruktur. Tujuannya bukan sekadar mempercepat administrasi, melainkan juga memastikan kegiatan impor sesuai dengan kebutuhan produksi dan peraturan yang berlaku.

Berikut beberapa langkah yang dapat diterapkan:

  1. Periksa legalitas perusahaan. Pastikan NIB, data usaha, dan dokumen pendukung sesuai dengan kondisi perusahaan saat ini.
  2. Identifikasi kebutuhan impor. Buat daftar barang, spesifikasi, fungsi, jumlah, dan tujuan penggunaan setiap barang.
  3. Verifikasi ketentuan komoditas. Periksa apakah barang memerlukan persetujuan impor, rekomendasi teknis, atau dokumen tambahan.
  4. Pisahkan kebutuhan API-P dan TKDN. Tentukan apakah perusahaan hanya membutuhkan pemenuhan administrasi impor atau juga perlu memenuhi persyaratan TKDN untuk produk maupun proyek tertentu.
  5. Bangun koordinasi internal. Libatkan bagian produksi, pengadaan, legal, dan administrasi sejak awal.
  6. Pantau regulasi terbaru. Gunakan sumber resmi agar perusahaan tidak mengandalkan informasi yang sudah tidak berlaku.
  7. Simpan arsip pengajuan. Dokumentasikan formulir, bukti pengajuan, korespondensi, dan dokumen persetujuan untuk mempermudah pemeriksaan berikutnya.

Selain langkah tersebut, perusahaan perlu melakukan evaluasi secara berkala. Dengan begitu, kendala yang pernah terjadi dapat menjadi bahan perbaikan untuk proses pengurusan berikutnya.

Baca Juga : Hubungan API-P, Importir, dan Sertifikasi TKDN

Namun, perusahaan dapat mengurangi risiko tersebut melalui persiapan dokumen yang matang, koordinasi antarbagian, pemeriksaan ketentuan impor, dan pemahaman yang tepat mengenai perbedaan API-P dengan TKDN.

Pada akhirnya, pengurusan API-P bukan hanya persoalan administrasi. Perusahaan juga perlu memastikan bahwa setiap barang impor sesuai dengan tujuan penggunaan, kebutuhan produksi, dan ketentuan yang berlaku. Dengan persiapan yang terarah, perusahaan dapat menjaga kelancaran pengadaan sekaligus mendukung kegiatan industri secara berkelanjutan. Jika perusahaan membutuhkan bantuan, pilihlah konsultan atau penyedia jasa yang transparan, memahami regulasi, dan bekerja sesuai prosedur resmi. Dengan demikian, proses pengurusan dapat berjalan lebih terstruktur tanpa mengabaikan kepatuhan terhadap peraturan Indonesia.

Konsultasi Perizinan Impor Sekarang!

Avatar photo
Nisa