Dalam dunia industri, kegiatan impor sering menjadi bagian penting untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, mesin produksi, dan komponen pendukung. Fungsi API-P dalam Proses TKDN Namun, perusahaan juga perlu memperhatikan kebijakan pemerintah yang mendorong penggunaan produk dalam negeri. Salah satu kebijakan tersebut adalah Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), yang berperan dalam meningkatkan daya saing industri nasional.
Di sisi lain, perusahaan yang mengimpor barang untuk mendukung kegiatan produksinya perlu memahami perizinan impor yang sesuai. Salah satu istilah yang berkaitan dengan kegiatan tersebut adalah Angka Pengenal Importir Produsen (API-P). Dokumen atau status perizinan ini berkaitan dengan kegiatan impor barang untuk kebutuhan sendiri dan proses produksi perusahaan. Namun, API-P dan TKDN memiliki fungsi yang berbeda, sehingga perusahaan perlu memahami hubungan keduanya secara tepat.
Oleh karena itu, artikel ini membahas fungsi API-P dalam proses TKDN, perbedaan keduanya, serta hal-hal yang perlu perusahaan perhatikan ketika menjalankan kegiatan produksi dan impor.
Baca Juga : API-P untuk TKDN: Pengertian, Fungsi, Syarat, Cara Urus, Biaya
Apa Itu API-P?
API-P merupakan singkatan dari Angka Pengenal Importir Produsen. Dalam ketentuan perdagangan, API-P berkaitan dengan identitas atau status perizinan importir yang mendatangkan barang untuk digunakan sendiri sebagai barang modal, bahan baku, bahan penolong, dan bahan pendukung proses produksi.
Saat ini, pelaku usaha perlu memperhatikan ketentuan perizinan impor yang berlaku melalui sistem perizinan berusaha. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 16 Tahun 2025 menjelaskan bahwa Nomor Induk Berusaha (NIB) dapat berlaku sebagai API-P bagi badan usaha yang mengimpor barang untuk kebutuhan produksinya sendiri.
Dengan demikian, perusahaan perlu menyesuaikan kegiatan impor dengan bidang usaha, jenis barang, serta ketentuan perizinan yang berlaku. Fungsi API-P dalam Proses TKDN Selain itu, perusahaan harus memastikan bahwa penggunaan barang impor sesuai dengan tujuan yang tercantum dalam ketentuan tersebut.
Baca Juga : Apa Itu API-P untuk TKDN?
Apa Itu TKDN?
TKDN merupakan singkatan dari Tingkat Komponen Dalam Negeri. Istilah ini menunjukkan besarnya komponen dalam negeri yang terdapat dalam suatu produk, barang, jasa, atau gabungan barang dan jasa sesuai dengan metode penghitungan yang berlaku.
Dalam praktiknya, penghitungan TKDN dapat mempertimbangkan berbagai unsur, seperti bahan baku lokal, tenaga kerja dalam negeri, proses produksi, serta komponen biaya tertentu sesuai dengan kategori produk dan ketentuan sektoral.
Pemerintah mendorong penerapan TKDN untuk meningkatkan pemanfaatan sumber daya domestik. Selain itu, kebijakan ini bertujuan memperkuat industri nasional, membuka peluang bagi pemasok lokal, dan meningkatkan nilai tambah ekonomi di Indonesia.
Meskipun demikian, perusahaan tidak dapat menentukan nilai TKDN hanya berdasarkan kepemilikan API-P. Sebaliknya, perusahaan perlu menilai komposisi produk dan memenuhi ketentuan penghitungan serta verifikasi TKDN yang sesuai.
Baca Juga : Syarat Mengurus API-P untuk TKDN
Fungsi API-P dalam Proses TKDN
API-P tidak berfungsi sebagai sertifikat TKDN. Akan tetapi, status perizinan impor ini dapat mendukung kegiatan operasional perusahaan yang juga menjalankan program peningkatan penggunaan produk dalam negeri.
Berikut beberapa fungsi API-P yang berkaitan secara tidak langsung dengan pengelolaan TKDN.
1. Mendukung Kebutuhan Impor Bahan Baku Produksi
Pertama, API-P mendukung kegiatan impor barang yang perusahaan gunakan sendiri untuk kebutuhan produksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Barang tersebut dapat berupa bahan baku, bahan penolong, mesin, atau komponen tertentu.
Sebagai contoh, perusahaan manufaktur membutuhkan bahan baku khusus yang belum tersedia dalam jumlah atau spesifikasi memadai di pasar domestik. Perusahaan dapat merencanakan impor sesuai dengan perizinan dan persyaratan yang berlaku.
Selanjutnya, perusahaan dapat mengombinasikan bahan impor tersebut dengan bahan baku lokal dalam proses produksi. Dengan perencanaan yang tepat, perusahaan dapat menjaga kelancaran produksi sekaligus mengevaluasi peluang peningkatan penggunaan komponen dalam negeri.
2. Membantu Perusahaan Mengelola Dokumen Impor
Kedua, API-P berkaitan dengan administrasi kegiatan impor. Perusahaan perlu mengelola dokumen usaha, data barang, serta dokumen kepabeanan secara tertib sesuai dengan kewajiban yang berlaku.
Sementara itu, proses TKDN membutuhkan data yang relevan untuk menunjukkan asal komponen dan proses produksi. Oleh sebab itu, pencatatan pembelian bahan baku, asal barang, dan penggunaan material dapat membantu perusahaan menyiapkan informasi pendukung ketika melakukan penghitungan atau verifikasi TKDN.
Namun, dokumen API-P saja tidak cukup untuk membuktikan besarnya komponen dalam negeri. Perusahaan tetap perlu menyiapkan bukti yang sesuai dengan metode penghitungan TKDN untuk produknya.
3. Membantu Perencanaan Penggunaan Komponen Lokal dan Impor
Selanjutnya, perusahaan dapat memanfaatkan data impor untuk mengevaluasi kebutuhan bahan produksi. Data tersebut dapat membantu tim pengadaan membandingkan ketersediaan, kualitas, harga, dan spesifikasi bahan lokal dengan bahan impor.
Sebagai contoh, sebuah perusahaan peralatan elektronik mengimpor komponen tertentu, tetapi menggunakan bahan kemasan, kabel, atau bagian lain dari pemasok domestik. Perusahaan dapat mengevaluasi peluang menambah komponen lokal tanpa mengurangi mutu dan keamanan produk.
Dengan demikian, API-P mendukung pengelolaan kegiatan impor, sedangkan strategi pemilihan bahan lokal membantu perusahaan mengembangkan kandungan dalam negeri. Keduanya dapat berjalan beriringan sesuai dengan kebutuhan dan ketentuan masing-masing.
Baca Juga : Cara Mengurus API-P untuk TKDN
4. Mendukung Pengendalian Rantai Pasok
Selain membantu perencanaan bahan baku, pengelolaan impor yang tertib juga mendukung pengendalian rantai pasok. Perusahaan dapat memetakan bahan yang berasal dari luar negeri dan bahan yang diperoleh dari pemasok dalam negeri.
Berikutnya, tim pengadaan dapat menggunakan informasi tersebut untuk mengidentifikasi bahan yang berpotensi perusahaan alihkan ke pemasok lokal. Perusahaan juga dapat menilai kemampuan pemasok domestik dalam memenuhi standar mutu, volume, dan waktu pengiriman.
Oleh karena itu, pencatatan asal bahan dan evaluasi pemasok menjadi bagian penting dalam strategi peningkatan TKDN. Meski demikian, perusahaan perlu memeriksa kembali persyaratan teknis dan metode penghitungan yang berlaku sebelum menentukan kontribusi setiap komponen.
5. Membantu Menjaga Kepatuhan Kegiatan Usaha
Di samping aspek produksi, perusahaan perlu memastikan kesesuaian kegiatan impor dengan perizinan yang dimiliki. Perusahaan pemegang NIB yang berlaku sebagai API-P harus memperhatikan ketentuan penggunaan barang impor untuk kebutuhan sendiri dan larangan perdagangan atau pemindahtanganan, beserta pengecualian yang secara khusus diatur dalam peraturan.
Sementara itu, perusahaan yang mengikuti program atau pengadaan dengan persyaratan TKDN perlu memenuhi ketentuan yang berlaku untuk program tersebut. Kedua aspek kepatuhan ini membutuhkan pemeriksaan yang berbeda.
Dengan demikian, perusahaan sebaiknya memisahkan pemeriksaan perizinan impor dari pemeriksaan persyaratan TKDN. Langkah ini membantu perusahaan menghindari kesalahan administrasi dan memastikan setiap kewajiban memperoleh perhatian yang tepat.
Baca Juga : Dokumen yang Dibutuhkan untuk API-P TKDN
Hubungan API-P dengan TKDN
API-P dan TKDN memiliki hubungan dalam aktivitas industri, tetapi keduanya tidak saling menggantikan. API-P berkaitan dengan kegiatan impor untuk kebutuhan sendiri, sedangkan TKDN mengukur kandungan dalam negeri berdasarkan metode yang berlaku.
Agar lebih jelas, berikut perbedaan keduanya.
| Aspek | API-P | TKDN |
|---|---|---|
| Pengertian | Status atau identitas perizinan importir produsen | Tingkat kandungan dalam negeri pada produk atau kegiatan tertentu |
| Tujuan | Mendukung impor barang untuk kebutuhan sendiri dan proses produksi | Mendorong serta mengukur penggunaan komponen dalam negeri |
| Fokus utama | Legalitas dan kesesuaian kegiatan impor | Komposisi dan kontribusi komponen dalam negeri |
| Data pendukung | Data usaha, perizinan, dan dokumen impor sesuai ketentuan | Data bahan, tenaga kerja, proses produksi, serta dokumen pendukung sesuai metode penghitungan |
| Hasil | Pemenuhan persyaratan administratif impor yang relevan | Nilai TKDN sesuai penghitungan atau verifikasi yang berlaku |
Berdasarkan perbedaan tersebut, kepemilikan API-P tidak otomatis membuat suatu produk memperoleh nilai TKDN tertentu. Sebaliknya, perusahaan perlu menyiapkan bukti yang relevan untuk mendukung penghitungan TKDN.

Bagaimana API-P Mendukung Proses Penghitungan TKDN?
Pada dasarnya, perusahaan perlu memahami terlebih dahulu jenis produk dan skema TKDN yang berlaku. Setelah itu, perusahaan dapat menyiapkan data produksi dan pengadaan secara sistematis.
Berikut langkah-langkah yang dapat perusahaan lakukan.
1. Memeriksa Kesesuaian Perizinan Impor
Pertama, perusahaan perlu memeriksa NIB dan status perizinan impornya. Pastikan jenis barang yang perusahaan impor sesuai dengan tujuan penggunaan dan ketentuan yang berlaku.
Selain itu, perusahaan perlu memeriksa apakah barang tertentu membutuhkan persetujuan impor atau dokumen tambahan. Sebab, NIB yang berlaku sebagai API-P tidak otomatis menggantikan seluruh persyaratan impor untuk setiap jenis barang.
2. Mengidentifikasi Komponen Produk
Berikutnya, perusahaan perlu menyusun daftar komponen yang membentuk produk. Daftar tersebut dapat mencakup bahan baku, komponen impor, komponen lokal, tenaga kerja, dan unsur lain yang relevan dengan metode penghitungan TKDN.
Dengan daftar yang terstruktur, perusahaan lebih mudah menelusuri asal setiap komponen. Selain itu, perusahaan dapat mengidentifikasi bagian yang berpotensi menggunakan produk dalam negeri.
3. Mengumpulkan Bukti Pendukung
Selanjutnya, perusahaan perlu mengumpulkan faktur pembelian, dokumen asal bahan, catatan produksi, data pemasok, dan dokumen lain sesuai kebutuhan verifikasi. Untuk komponen impor, perusahaan dapat menyiapkan dokumen yang menunjukkan transaksi dan penggunaan barang tersebut.
Namun, perusahaan harus menyesuaikan bukti yang dikumpulkan dengan ketentuan sektor dan jenis produk. Tidak semua dokumen impor otomatis menjadi bukti yang cukup untuk menetapkan nilai TKDN.
Baca Juga : Berapa Lama Proses Pengurusan API-P untuk TKDN?
4. Menghitung Kandungan Dalam Negeri
Setelah mengumpulkan data, perusahaan dapat melakukan penghitungan sesuai metode yang berlaku untuk produk atau jasa terkait. Perusahaan perlu memastikan bahwa data biaya, komponen, tenaga kerja, dan unsur lain sesuai dengan ketentuan yang digunakan.
Kemudian, perusahaan dapat melakukan pemeriksaan internal untuk menemukan ketidaksesuaian data. Jika skema yang berlaku mensyaratkan verifikasi oleh pihak berwenang atau lembaga yang ditunjuk, perusahaan perlu mengikuti prosedur tersebut.
5. Mengevaluasi Peluang Peningkatan TKDN
Terakhir, perusahaan dapat mengevaluasi hasil penghitungan untuk menentukan peluang peningkatan kandungan lokal. Misalnya, perusahaan dapat mengembangkan kerja sama dengan pemasok domestik, meningkatkan kemampuan produksi internal, atau mencari alternatif bahan lokal yang memenuhi standar teknis.
Dengan evaluasi berkala, perusahaan dapat menyusun strategi pengadaan yang lebih efisien. Selain itu, perusahaan dapat mengembangkan rantai pasok lokal tanpa mengabaikan mutu, biaya, keamanan, dan kepatuhan terhadap peraturan.
Contoh Penerapan API-P dan TKDN di Perusahaan Manufaktur
Untuk memahami hubungan keduanya, perhatikan contoh perusahaan yang memproduksi mesin industri.
Perusahaan tersebut mengimpor motor penggerak dan sensor khusus untuk memenuhi kebutuhan teknis produknya. Pada saat yang sama, perusahaan membeli rangka logam, bahan kemasan, dan sejumlah komponen pendukung dari pemasok dalam negeri.
Dalam kegiatan impor, perusahaan perlu memastikan bahwa status API-P dan dokumen impornya sesuai dengan ketentuan. Sementara itu, ketika menghitung TKDN, perusahaan perlu memeriksa komponen mana yang memenuhi kriteria kandungan dalam negeri dan mengikuti metode penghitungan yang berlaku.
Baca Juga : Biaya Pengurusan API-P untuk TKDN
Selanjutnya, perusahaan dapat mengevaluasi kemungkinan memperoleh rangka logam atau komponen pendukung lain dari pemasok lokal yang memenuhi standar. Jika perusahaan berhasil meningkatkan penggunaan komponen domestik yang memenuhi persyaratan, langkah tersebut dapat mendukung peningkatan TKDN sesuai hasil penghitungan yang berlaku.
Contoh ini menunjukkan bahwa API-P mendukung sisi administrasi impor, sedangkan pengelolaan bahan lokal berperan dalam strategi peningkatan TKDN. Perusahaan tetap perlu menghitung dan membuktikan nilai TKDN secara terpisah.
Kesalahan yang Perlu Dihindari Perusahaan
Dalam mengelola impor dan TKDN, perusahaan perlu menghindari beberapa kesalahan berikut.
1. Menganggap API-P sebagai Sertifikat TKDN
API-P bukan sertifikat TKDN. Oleh karena itu, perusahaan tidak boleh menggunakan status API-P sebagai satu-satunya bukti pemenuhan persyaratan TKDN.
2. Menganggap Semua Barang Impor Bebas dari Persyaratan Tambahan
Meskipun perusahaan memiliki NIB yang berlaku sebagai API-P, jenis barang tertentu dapat memerlukan persetujuan impor, laporan surveyor, atau persyaratan lainnya. Karena itu, perusahaan harus memeriksa ketentuan yang berlaku untuk setiap barang.
Baca Juga : Perbedaan API-P dan API-U dalam Kaitannya dengan TKDN
3. Tidak Mencatat Asal Komponen
Pencatatan asal bahan yang tidak lengkap dapat menyulitkan perusahaan ketika menyiapkan data penghitungan TKDN. Sebaliknya, pencatatan yang rapi membantu perusahaan menelusuri komponen dan menyiapkan bukti pendukung.
4. Tidak Memeriksa Ketentuan Terbaru
Ketentuan impor dan TKDN dapat berbeda menurut jenis barang, sektor industri, serta program pemerintah yang berlaku. Oleh sebab itu, perusahaan perlu memeriksa regulasi terbaru sebelum menjalankan kegiatan impor atau mengikuti proses verifikasi TKDN.
Manfaat Pengelolaan API-P dan TKDN Secara Terpadu
Pengelolaan API-P dan TKDN secara terpadu dapat membantu perusahaan menjalankan kegiatan produksi dengan lebih terencana. Melalui administrasi impor yang tertib, perusahaan dapat mengelola kebutuhan bahan produksi sesuai ketentuan.
Selain itu, pencatatan asal komponen membantu perusahaan mengevaluasi peluang penggunaan produk lokal. Perusahaan juga dapat memperbaiki perencanaan pengadaan, meningkatkan keterlacakan bahan, dan menyiapkan dokumen pendukung untuk proses evaluasi atau verifikasi.
Baca Juga : Hubungan API-P, Importir, dan Sertifikasi TKDN
Meskipun demikian, manfaat tersebut bergantung pada ketepatan penerapan peraturan dan metode penghitungan. Oleh karena itu, perusahaan perlu melibatkan bagian pengadaan, produksi, kepabeanan, dan kepatuhan agar setiap proses berjalan selaras.
Fungsi API-P dalam proses TKDN berkaitan terutama dengan dukungan terhadap administrasi impor barang untuk kebutuhan sendiri dan proses produksi. API-P membantu perusahaan mengelola kegiatan impor sesuai perizinan, sedangkan TKDN berfungsi mengukur kandungan dalam negeri berdasarkan metode yang berlaku.
Dengan demikian, perusahaan tidak dapat menganggap API-P sebagai bukti otomatis bahwa suatu produk memenuhi nilai TKDN tertentu. Sebaliknya, perusahaan perlu mengelola dokumen impor, mencatat asal komponen, menghitung kandungan dalam negeri, dan mengikuti proses verifikasi sesuai ketentuan. Pada akhirnya, pemahaman terhadap API-P dan TKDN membantu perusahaan menjaga kepatuhan sekaligus menyusun strategi penggunaan komponen lokal secara lebih efektif. Untuk memastikan kesesuaian, perusahaan sebaiknya memeriksa peraturan impor terbaru serta ketentuan TKDN yang berlaku pada sektor dan produk masing-masing.
Konsultasi Perizinan Impor Sekarang!Baca Juga : Masalah Umum dalam Pengurusan API-P untuk TKDN