Dalam menjalankan kegiatan industri dan perdagangan, perusahaan perlu memahami persyaratan administrasi yang berkaitan dengan kegiatan impor serta penggunaan produk dalam negeri. Oleh karena itu, dokumen API-P dan TKDN menjadi dua hal penting yang perlu dipahami oleh pelaku usaha sesuai dengan kebutuhan bisnisnya.
Selain membantu perusahaan memenuhi ketentuan administrasi, kelengkapan dokumen juga mendukung kelancaran proses perizinan. Dengan demikian, perusahaan dapat mempersiapkan kegiatan usahanya secara lebih terencana dan mengurangi risiko kesalahan saat mengajukan permohonan.
Namun, perlu di pahami bahwa API-P dan TKDN memiliki fungsi yang berbeda. API-P berkaitan dengan identitas importir produsen, sedangkan TKDN berkaitan dengan persentase komponen dalam negeri pada suatu barang atau jasa. Karena itu, perusahaan perlu menentukan terlebih dahulu jenis perizinan dan sertifikasi yang sesuai dengan tujuan pengajuannya.
Baca Juga : API-P untuk TKDN: Pengertian, Fungsi, Syarat, Cara Urus, Biaya
Apa Itu API-P dan TKDN?
Sebelum membahas dokumen persyaratannya, perusahaan perlu memahami pengertian kedua istilah tersebut agar tidak keliru dalam menyiapkan berkas.
Pengertian API-P
API-P merupakan singkatan dari Angka Pengenal Importir Produsen. Dalam sistem perizinan berusaha saat ini, fungsi identitas importir berkaitan dengan Nomor Induk Berusaha (NIB) yang mencakup ketentuan sebagai Angka Pengenal Importir Produsen sesuai dengan kegiatan usaha dan ketentuan yang berlaku.
Pada dasarnya, API-P berkaitan dengan kegiatan impor barang yang di gunakan untuk mendukung kegiatan produksi perusahaan. Oleh sebab itu, perusahaan perlu memastikan kesesuaian data perizinan, bidang usaha, dan barang yang akan di impor sebelum menjalankan kegiatan impor.
Pengertian TKDN
Sementara itu, TKDN adalah Tingkat Komponen Dalam Negeri, yaitu besaran kandungan komponen dalam negeri pada barang, jasa, atau gabungan barang dan jasa sesuai dengan metode penghitungan yang berlaku.
TKDN memiliki peran penting dalam mendukung penggunaan produk dalam negeri, terutama dalam pengadaan barang dan jasa. Selain itu, sertifikasi TKDN dapat membantu perusahaan menunjukkan tingkat kandungan lokal pada produk yang di hasilkan.
Untuk memahami ketentuan sertifikasi lebih lanjut, perusahaan dapat merujuk pada Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 35 Tahun 2025 tentang Ketentuan dan Tata Cara Sertifikasi TKDN dan BMP.
Baca Juga : Apa Itu API-P untuk TKDN?
Dokumen yang Di butuhkan untuk API-P TKDN
Secara umum, dokumen yang perlu di siapkan bergantung pada jenis permohonan yang perusahaan ajukan. Oleh karena itu, daftar berikut menjadi panduan awal untuk mengidentifikasi dokumen administrasi perusahaan dan dokumen teknis yang mungkin di perlukan.
1. Nomor Induk Berusaha (NIB)
Pertama, perusahaan perlu menyiapkan NIB sebagai identitas utama dalam sistem perizinan berusaha. Dokumen ini memuat identitas pelaku usaha dan menjadi salah satu dasar pemeriksaan legalitas perusahaan.
Selain itu, perusahaan perlu memastikan bahwa data NIB masih sesuai dengan kondisi usaha terkini. Periksa nama perusahaan, alamat, bidang usaha, serta ketentuan perizinan impor yang relevan dengan kegiatan perusahaan.
2. Akta Pendirian dan Perubahan Perusahaan
Selanjutnya, siapkan akta pendirian perusahaan beserta akta perubahan terakhir apabila perusahaan pernah mengubah anggaran dasar atau data perseroan.
Dokumen ini membantu menjelaskan identitas badan usaha dan kewenangan pengurusnya. Dengan demikian, perusahaan dapat mencocokkan informasi dalam akta dengan data pada NIB dan dokumen pendukung lainnya.
3. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)
Berikutnya, perusahaan perlu menyiapkan NPWP sesuai dengan identitas wajib pajak yang berlaku. Data perpajakan harus selaras dengan identitas badan usaha dalam dokumen legalitas.
Oleh sebab itu, periksa kembali nama, alamat, dan informasi perpajakan sebelum mengajukan permohonan. Langkah ini membantu mengurangi kemungkinan munculnya kendala administrasi akibat perbedaan data.
Baca Juga : Fungsi API-P dalam Proses TKDN
4. Perizinan Berusaha dan Dokumen Kegiatan Industri
Selain dokumen identitas, perusahaan perlu menyiapkan perizinan berusaha yang sesuai dengan kegiatan industri dan jenis barang yang di tangani.
Sebagai contoh, perusahaan dapat memerlukan dokumen pendukung yang menunjukkan kegiatan produksi, lokasi fasilitas industri, atau legalitas kegiatan usaha tertentu. Namun, kebutuhan dokumen tersebut bergantung pada bidang usaha dan ketentuan sektoral yang berlaku.
Karena itu, perusahaan sebaiknya memeriksa persyaratan pada sistem perizinan resmi sebelum menentukan dokumen tambahan yang perlu di siapkan.
5. Surat Permohonan
Untuk layanan yang mensyaratkan pengajuan tertulis, siapkan surat permohonan sesuai dengan format instansi terkait.
Surat tersebut umumnya memuat identitas perusahaan, tujuan pengajuan, jenis layanan yang di minta, serta identitas penanggung jawab. Selain itu, gunakan informasi yang konsisten dengan dokumen legalitas agar petugas dapat memeriksa permohonan secara lebih mudah.
Perlu di perhatikan bahwa format dan kebutuhan surat permohonan dapat berbeda antara pengajuan perizinan impor dan pengajuan sertifikasi TKDN.
6. Data Produk atau Barang
Jika perusahaan mengajukan sertifikasi TKDN, data produk menjadi bagian penting dalam proses penilaian. Perusahaan perlu mengidentifikasi produk secara jelas agar proses penghitungan nilai TKDN sesuai dengan barang yang di ajukan.
Data produk yang dapat di persiapkan antara lain:
- Nama dan jenis produk.
- Merek dan tipe produk.
- Spesifikasi teknis.
- Kode atau identitas produk jika relevan.
- Lokasi produksi.
- Informasi komponen dan material yang di gunakan.
Selain itu, perusahaan perlu memastikan bahwa seluruh data produk sesuai dengan kondisi produksi yang sebenarnya. Dengan demikian, dokumen teknis dapat mendukung proses penghitungan dan verifikasi secara tepat.
Baca Juga : Syarat Mengurus API-P untuk TKDN
7. Daftar Bahan Baku dan Komponen Produksi
Berikutnya, perusahaan perlu mengidentifikasi bahan baku, komponen, dan material yang di gunakan dalam proses produksi apabila pengajuan TKDN memerlukannya.
Informasi tersebut dapat mencakup nama komponen, asal bahan, pemasok, serta biaya yang berkaitan dengan penggunaannya. Selanjutnya, perusahaan perlu menyiapkan bukti pendukung yang relevan agar data yang di gunakan dalam penghitungan dapat di pertanggungjawabkan.
Misalnya, perusahaan manufaktur yang menggunakan komponen lokal dan impor perlu memisahkan informasi kedua kelompok tersebut secara jelas. Dengan cara ini, proses penghitungan kandungan dalam negeri dapat berjalan lebih terstruktur.
8. Data Tenaga Kerja dan Biaya Produksi
Selain material, penghitungan TKDN barang dapat melibatkan komponen tenaga kerja langsung dan biaya tidak langsung pabrik sesuai dengan metode penghitungan yang berlaku.
Oleh karena itu, perusahaan perlu menyiapkan data tenaga kerja yang relevan, informasi biaya produksi, serta bukti pendukung yang dipersyaratkan untuk jenis sertifikasi yang diajukan.
Namun, tidak semua dokumen biaya berlaku untuk setiap jenis permohonan. Perusahaan perlu mengikuti formulir dan petunjuk teknis yang sesuai dengan kategori produk serta ketentuan sertifikasi terkini.
9. Dokumen Fasilitas Produksi
Selanjutnya, perusahaan dapat menyiapkan bukti kepemilikan atau penggunaan fasilitas produksi apabila dokumen tersebut diperlukan dalam proses sertifikasi.
Contohnya meliputi dokumen kepemilikan tempat produksi, bukti penggunaan mesin, atau perjanjian kerja sama dengan perusahaan industri lain. Kebutuhan dokumen ini bergantung pada kondisi produksi dan ketentuan yang berlaku.
Dengan menyiapkan bukti yang sesuai, perusahaan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kegiatan produksi dan fasilitas yang mendukung pembuatan produk.
Baca Juga : Cara Mengurus API-P untuk TKDN
10. Surat Pernyataan dan Dokumen Pendukung Lainnya
Terakhir, periksa apakah permohonan memerlukan surat pernyataan kebenaran data, surat kuasa, atau dokumen pendukung lainnya.
Apabila perusahaan menggunakan kuasa untuk mengurus administrasi, pastikan surat kuasa memuat identitas pihak pemberi dan penerima kuasa serta ruang lingkup kewenangannya. Selain itu, periksa format, tanda tangan, dan ketentuan dokumen sesuai petunjuk instansi yang menangani permohonan.
Perlu diingat bahwa surat pernyataan dan dokumen tambahan tidak selalu sama untuk seluruh jenis layanan. Karena itu, gunakan daftar persyaratan resmi sebagai acuan akhir.
Perbedaan Dokumen API-P dan Dokumen TKDN
Meskipun sering dibahas bersamaan, dokumen API-P dan TKDN memiliki tujuan administrasi yang berbeda. Oleh sebab itu, perusahaan perlu memisahkan berkas berdasarkan jenis pengajuan.
| Aspek | API-P | TKDN |
|---|---|---|
| Tujuan | Mendukung pemenuhan ketentuan identitas dan perizinan importir produsen | Menilai kandungan komponen dalam negeri |
| Dokumen utama | NIB dan dokumen perizinan sesuai kegiatan impor | Data perusahaan, data produk, serta dokumen teknis produksi |
| Fokus pemeriksaan | Identitas perusahaan dan kesesuaian kegiatan impor | Komponen produk dan dasar penghitungan nilai TKDN |
| Acuan persyaratan | Ketentuan perizinan impor yang berlaku untuk komoditas terkait | Ketentuan sertifikasi TKDN sesuai kategori barang atau jasa |
Dengan memahami perbedaan tersebut, perusahaan dapat menghindari kesalahan dalam menggabungkan persyaratan dua layanan yang berbeda. Selain itu, penyiapan dokumen menjadi lebih efisien karena setiap berkas memiliki tujuan yang jelas.
Baca Juga : Berapa Lama Proses Pengurusan API-P untuk TKDN?
Cara Menyiapkan Dokumen API-P TKDN agar Lebih Lengkap
Setelah mengetahui jenis dokumen yang mungkin diperlukan, perusahaan dapat melakukan beberapa langkah berikut untuk mempersiapkan permohonan.
1. Tentukan Jenis Pengajuan
Pertama, pastikan apakah kebutuhan perusahaan berkaitan dengan perizinan impor menggunakan API-P, sertifikasi TKDN, atau keduanya. Langkah ini penting karena setiap layanan memiliki prosedur dan dokumen yang berbeda.
2. Periksa Persyaratan Resmi
Selanjutnya, periksa persyaratan terbaru melalui sistem atau instansi pemerintah yang berwenang. Untuk sertifikasi TKDN, perusahaan dapat mempelajari informasi pada Kementerian Perindustrian.
Sementara itu, untuk kebutuhan perizinan impor, periksa ketentuan yang berlaku bagi komoditas terkait melalui sistem perizinan resmi dan instansi perdagangan yang berwenang.
3. Cocokkan Seluruh Data
Berikutnya, cocokkan informasi pada NIB, akta perusahaan, NPWP, surat permohonan, dan dokumen teknis. Pastikan nama perusahaan, alamat, serta identitas penanggung jawab tidak berbeda tanpa penjelasan yang sah.
Baca Juga : Biaya Pengurusan API-P untuk TKDN
4. Susun Dokumen secara Sistematis
Kemudian, kelompokkan dokumen berdasarkan kategori administrasi, legalitas, produk, dan teknis. Gunakan nama file yang mudah dikenali serta pastikan dokumen digital terbaca dengan jelas.
Dengan susunan yang rapi, perusahaan dapat mempermudah pemeriksaan internal dan mempercepat penemuan dokumen ketika petugas meminta perbaikan atau tambahan berkas.
5. Lakukan Pemeriksaan Akhir
Sebelum mengirimkan permohonan, periksa kembali kelengkapan dokumen dan masa berlaku setiap perizinan yang relevan. Selain itu, pastikan seluruh formulir mengikuti format terbaru serta memuat informasi yang benar.
Apabila perusahaan menemukan persyaratan yang belum jelas, sebaiknya mintalah penjelasan kepada instansi terkait sebelum mengajukan permohonan.
Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Mengurus API-P TKDN
Dalam proses administrasi, beberapa kesalahan dapat menimbulkan keterlambatan atau kebutuhan perbaikan dokumen. Oleh karena itu, perusahaan sebaiknya menghindari hal-hal berikut:
- Menggunakan data perusahaan yang tidak konsisten.
- Mengabaikan persyaratan khusus untuk komoditas tertentu.
- Mengajukan dokumen produk yang tidak sesuai dengan barang sebenarnya.
- Tidak menyiapkan bukti pendukung untuk data teknis yang diperlukan.
- Menggunakan formulir atau acuan persyaratan yang sudah tidak sesuai.
- Menganggap bahwa persyaratan API-P dan TKDN selalu sama.
Selain itu, perusahaan perlu memastikan bahwa setiap informasi yang disampaikan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, proses pemeriksaan memiliki dasar data yang jelas dan risiko perbaikan akibat ketidaksesuaian dapat dikurangi.
Baca Juga : Perbedaan API-P dan API-U dalam Kaitannya dengan TKDN

Mengapa Kelengkapan Dokumen API-P TKDN Penting?
Kelengkapan dokumen membantu perusahaan menjalankan proses administrasi secara lebih tertib. Selain itu, dokumen yang akurat memudahkan pemeriksaan identitas perusahaan, kesesuaian kegiatan usaha, dan informasi teknis produk.
Bagi perusahaan yang melakukan impor sekaligus memproduksi barang di Indonesia, pemahaman mengenai kedua layanan tersebut juga membantu perencanaan operasional. Namun, perusahaan tetap perlu memisahkan proses perizinan impor dari proses sertifikasi TKDN karena keduanya memiliki dasar penilaian yang berbeda.
Baca Juga : Hubungan API-P, Importir, dan Sertifikasi TKDN
Dengan persiapan yang tepat, perusahaan dapat mengurangi risiko kesalahan administrasi dan mengalokasikan waktu secara lebih efisien untuk memenuhi ketentuan yang berlaku.
Dokumen yang dibutuhkan untuk API-P TKDN bergantung pada jenis permohonan, kegiatan usaha, kategori barang, dan ketentuan yang berlaku. Secara umum, perusahaan perlu menyiapkan NIB, dokumen legalitas badan usaha, NPWP, perizinan yang relevan, serta dokumen teknis produk apabila mengajukan sertifikasi TKDN.
Selain itu, perusahaan perlu memahami bahwa API-P berkaitan dengan perizinan importir produsen, sedangkan TKDN berkaitan dengan penghitungan kandungan komponen dalam negeri. Oleh sebab itu, pemeriksaan persyaratan resmi menjadi langkah penting sebelum memulai proses pengajuan. Pada akhirnya, persiapan dokumen yang teliti membantu perusahaan mengelola kebutuhan administrasi secara lebih terarah. Dengan memeriksa persyaratan sesuai layanan yang dituju dan memastikan seluruh data konsisten, perusahaan dapat meminimalkan kendala selama proses pengurusan.
Konsultasi Perizinan Impor Sekarang!Baca Juga : Masalah Umum dalam Pengurusan API-P untuk TKDN