Apa Itu Barang Modal Dalam Keadaan Tidak Baru (BMTB)?

Mega

Apa Itu Barang Modal Dalam Keadaan Tidak Baru (BMTB)?
Direktur Utama Jangkar Groups

Apa Itu Barang Modal Dalam Keadaan Tidak Baru (BMTB)? Barang Modal Dalam Keadaan Tidak Baru atau BMTB merupakan barang yang berfungsi sebagai modal usaha atau sarana untuk menghasilkan sesuatu, yang masih layak pakai, dapat menjalani proses rekondisi atau remanufaktur, maupun dapat di gunakan kembali, serta bukan skrap. Dalam kegiatan perdagangan internasional, BMTB menjadi salah satu pilihan bagi perusahaan yang membutuhkan mesin dan peralatan untuk menunjang kegiatan operasional. Namun, perusahaan perlu memahami bahwa pemerintah Indonesia mengatur impor BMTB melalui persyaratan khusus. Oleh karena itu, pemahaman mengenai pengertian, jenis barang, ketentuan impor, dan prosedur perizinan sangat penting sebelum perusahaan mendatangkan barang dari luar negeri.

Baca Juga : Impor BMTB (Barang Modal Dalam Keadaan Tidak Baru)

Pengertian Barang Modal Dalam Keadaan Tidak Baru (BMTB)

Pengertian Barang Modal Dalam Keadaan Tidak Baru (BMTB)

Barang Modal Dalam Keadaan Tidak Baru (BMTB) merupakan istilah yang mengacu pada barang modal dalam kondisi tidak baru yang memenuhi kriteria sesuai ketentuan pemerintah. Barang tersebut dapat mendukung kegiatan produksi, pengolahan, manufaktur, atau kebutuhan operasional perusahaan lainnya.

Baca Juga : Regulasi Impor BMTB di Indonesia: Syarat, Ketentuan & Prosedur

Berbeda dengan barang baru, BMTB telah mengalami penggunaan sebelumnya atau memerlukan proses tertentu untuk mengembalikan fungsi dan kinerjanya. Meskipun demikian, kondisi tidak baru tidak selalu berarti barang tersebut sudah tidak layak di gunakan. Sebaliknya, mesin bekas yang masih memiliki nilai guna dapat membantu perusahaan memenuhi kebutuhan operasionalnya.

Baca Juga : Siapa yang Boleh Mengimpor BMTB ke Indonesia?

Sebagai contoh, perusahaan manufaktur mungkin membutuhkan mesin produksi untuk meningkatkan kapasitas pabrik. Dalam situasi tersebut, perusahaan dapat mempertimbangkan mesin bekas dari luar negeri selama jenis barang dan kegiatan impornya memenuhi ketentuan yang berlaku.

Selain itu, perusahaan perlu membedakan BMTB dari skrap atau barang yang hanya memiliki nilai sebagai sisa material. BMTB berorientasi pada fungsi barang sebagai modal usaha, sedangkan kelayakan setiap barang tetap memerlukan pemeriksaan sesuai karakteristik dan ketentuan impor.

Baca Juga : Syarat Impor BMTB ke Indonesia: Checklist Lengkap

Apa Tujuan Impor BMTB bagi Perusahaan?

Impor BMTB dapat membantu perusahaan memenuhi kebutuhan peralatan tanpa selalu bergantung pada mesin baru. Namun, manfaatnya bergantung pada kondisi barang, harga, kebutuhan operasional, dan persyaratan pemerintah.

Baca Juga : Dokumen Impor BMTB yang Harus Disiapkan Sebelum Pengiriman

Berikut beberapa tujuan perusahaan mempertimbangkan impor BMTB.

1. Mengoptimalkan anggaran investasi

Harga mesin bekas terkadang lebih rendah daripada mesin baru dengan spesifikasi sejenis. Dengan demikian, perusahaan dapat membandingkan berbagai pilihan pengadaan sebelum menentukan investasi yang sesuai dengan anggaran.

2. Memenuhi kebutuhan produksi

Perusahaan dapat mencari mesin dengan kapasitas atau spesifikasi tertentu yang sulit di temukan di pasar domestik. Selanjutnya, perusahaan perlu memastikan bahwa mesin tersebut sesuai dengan kebutuhan proses produksi.

Baca Juga : Dokumen Teknis Mesin & Barang Modal Bekas untuk Impor BMTB

3. Mendukung pengembangan industri

Ketika permintaan pasar meningkat, perusahaan mungkin membutuhkan tambahan mesin untuk meningkatkan kapasitas produksi. Dalam kondisi tertentu, BMTB dapat menjadi salah satu alternatif pengadaan yang layak di pertimbangkan.

4. Memanfaatkan peralatan yang masih memiliki nilai guna

Mesin yang telah di gunakan sebelumnya belum tentu kehilangan seluruh nilai ekonominya. Jika kondisi teknis, biaya perawatan, dan ketersediaan suku cadangnya mendukung, perusahaan dapat mengevaluasi mesin tersebut sebagai investasi jangka panjang.

Meskipun demikian, perusahaan tidak sebaiknya hanya mempertimbangkan harga pembelian. Sebaliknya, perusahaan perlu menghitung total biaya hingga mesin siap beroperasi agar keputusan pengadaan benar-benar memberikan manfaat.

Baca Juga : Cara Menentukan HS Code untuk Impor BMTB

Contoh Barang yang Termasuk BMTB

BMTB dapat berkaitan dengan berbagai kebutuhan industri. Akan tetapi, tidak semua barang bekas otomatis memenuhi kriteria impor BMTB. Perusahaan perlu memeriksa kode HS, uraian barang, kondisi, usia jika berlaku, serta persyaratan dalam regulasi terkait.

Baca Juga : Cara Cek Lartas Impor BMTB Berdasarkan HS Code

Berikut beberapa contoh kelompok barang yang dapat menjadi objek pemeriksaan.

  1. Mesin produksi: mesin pengolahan, mesin pembentuk, dan peralatan manufaktur.
  2. Mesin pengelasan: peralatan untuk proses pengelasan atau penyambungan material sesuai klasifikasi barang.
  3. Mesin pengolahan logam: peralatan yang mendukung pemotongan, pembentukan, atau pengerjaan logam.
  4. Mesin pertanian: peralatan tertentu untuk mendukung kegiatan pertanian dan pengolahan hasil pertanian.
  5. Peralatan industri khusus: mesin yang perusahaan gunakan untuk menunjang proses produksi atau kegiatan usaha lainnya.

Daftar tersebut hanya memberikan gambaran umum, bukan jaminan bahwa setiap jenis mesin dapat di impor dalam keadaan tidak baru. Oleh sebab itu, importir perlu memeriksa lampiran peraturan yang berlaku sebelum membeli barang.

Selain jenisnya, usia barang juga dapat menentukan kelayakan impor. Beberapa kelompok BMTB memiliki batas usia tertentu, sedangkan kelompok lainnya mengikuti persyaratan berbeda. Karena itu, informasi mengenai tahun pembuatan, model, nomor seri, dan kondisi teknis perlu perusahaan kumpulkan sejak awal.

Baca Juga : Prosedur Impor BMTB dari Luar Negeri ke Indonesia

Ketentuan Hukum Impor BMTB di Indonesia

Pemerintah mengatur impor BMTB untuk memastikan pemasukan barang dalam keadaan tidak baru berjalan sesuai kebijakan perdagangan nasional. Salah satu regulasi utama yang menjadi acuan adalah Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 24 Tahun 2025 tentang Kebijakan dan Pengaturan Impor Barang dalam Keadaan Tidak Baru dan Limbah Non Bahan Berbahaya dan Beracun.

Baca Juga : Proses Customs Clearance untuk Impor BMTB

Selanjutnya, pemerintah menerbitkan Permendag Nomor 23 Tahun 2026 sebagai perubahan atas Permendag Nomor 24 Tahun 2025. Perubahan tersebut berlaku mulai 9 Oktober 2026. Oleh karena itu, importir perlu menggunakan ketentuan terbaru ketika menyiapkan transaksi.

Regulasi ini mengatur berbagai aspek, mulai dari jenis barang yang dapat di impor, persyaratan perizinan, kewajiban importir, hingga ketentuan pemasukan barang. Dengan demikian, perusahaan perlu memeriksa aturan yang sesuai dengan kategori barang dan skema impornya.

Untuk memperoleh informasi yang akurat, importir dapat mengunjungi JDIH Kementerian Perdagangan dan memeriksa dokumen peraturan beserta lampirannya. Selain itu, importir dapat berkonsultasi dengan pihak yang memahami prosedur perdagangan dan kepabeanan.

Persyaratan Impor Barang Modal Dalam Keadaan Tidak Baru

Sebelum memulai transaksi, perusahaan perlu memastikan kesiapan administrasi dan kelayakan barang. Persyaratan dapat berbeda menurut kategori BMTB, usia barang, tujuan impor, dan status perusahaan.

Beberapa aspek penting yang perlu di periksa meliputi:

1. Legalitas perusahaan

Perusahaan perlu memastikan bahwa NIB dan perizinan usahanya sesuai dengan kegiatan impor. Selain itu, periksa persyaratan identitas importir berdasarkan kategori barang yang akan di datangkan.

2. Klasifikasi kode HS

Kode HS membantu menentukan klasifikasi barang dan persyaratan impornya. Karena itu, importir perlu mencocokkan kode tersebut dengan fungsi, karakteristik, dan spesifikasi teknis barang.

3. Persetujuan Impor

Kategori BMTB tertentu mensyaratkan Persetujuan Impor (PI). Oleh sebab itu, perusahaan perlu memeriksa kewajiban tersebut sebelum mengirimkan barang dari negara asal.

4. Laporan Surveyor

Beberapa kategori barang juga mensyaratkan Laporan Surveyor (LS). Jika kewajiban ini berlaku, importir perlu mengikuti ketentuan verifikasi dan pemeriksaan yang relevan.

5. Dokumen perdagangan

Perusahaan perlu menyiapkan invoice, packing list, dokumen pengangkutan, serta informasi teknis barang. Selanjutnya, pastikan seluruh data sesuai dengan barang yang sebenarnya.

Dengan persiapan tersebut, perusahaan dapat mengenali kekurangan dokumen sejak awal. Langkah ini juga membantu mengurangi risiko kendala ketika barang memasuki proses kepabeanan.

Bagaimana Proses Impor BMTB Berlangsung?

Proses impor BMTB memerlukan koordinasi antara perusahaan, pemasok, penyedia jasa pengiriman, dan pihak yang menangani kepabeanan. Agar lebih mudah di pahami, berikut tahapan umum yang dapat perusahaan gunakan sebagai panduan.

Pertama, tentukan kebutuhan barang. Perusahaan perlu menentukan jenis mesin, kapasitas, fungsi, dan tujuan penggunaannya. Setelah itu, kumpulkan informasi teknis dari pemasok.

Kedua, periksa kelayakan impor. Selanjutnya, tentukan kode HS dan periksa ketentuan terbaru yang mengatur barang tersebut. Pastikan kategori dan usia barang memenuhi persyaratan yang berlaku.

Ketiga, siapkan perizinan. Perusahaan perlu memastikan legalitas importir dan mengurus dokumen yang di wajibkan, termasuk PI atau LS apabila ketentuan mensyaratkannya.

Keempat, lakukan transaksi dengan pemasok. Setelah persyaratan awal jelas, perusahaan dapat menyepakati harga, kondisi barang, metode pembayaran, dan ketentuan pengiriman.

Kelima, koordinasikan pengiriman. Importir perlu memastikan dokumen komersial dan pengangkutan sesuai dengan informasi barang yang sebenarnya. Selain itu, perusahaan dapat mempertimbangkan inspeksi teknis sebelum pengiriman.

Keenam, selesaikan kepabeanan. Ketika barang tiba, importir menyelesaikan pemberitahuan pabean, memenuhi kewajiban pembayaran, dan mengikuti pemeriksaan jika di perlukan.

Terakhir, keluarkan barang dan lakukan instalasi. Setelah seluruh persyaratan terpenuhi, perusahaan dapat mengatur pengiriman ke lokasi usaha dan memeriksa fungsi mesin sebelum menggunakannya.

Perlu di perhatikan bahwa tahapan tersebut bersifat umum. Prosedur sebenarnya dapat berbeda sesuai jenis barang, fasilitas kepabeanan, dan ketentuan impor yang berlaku.

Biaya yang Perlu Di perhitungkan dalam Impor BMTB

Selain harga pembelian, perusahaan perlu memperhitungkan seluruh biaya yang muncul selama proses impor. Perhitungan yang menyeluruh membantu perusahaan menilai apakah BMTB benar-benar menjadi pilihan yang ekonomis.

Komponen biaya tersebut dapat mencakup ongkos pengiriman internasional, asuransi, bea masuk, pajak dalam rangka impor, biaya pelabuhan, penanganan kargo, serta pengurusan dokumen. Selanjutnya, perusahaan mungkin perlu menganggarkan biaya pemeriksaan atau verifikasi teknis jika aturan mewajibkannya.

Selain itu, perusahaan perlu memperhitungkan biaya pengiriman domestik, instalasi, pengujian, perawatan, dan penggantian suku cadang. Dengan cara tersebut, perusahaan dapat membandingkan total biaya BMTB dengan biaya pengadaan mesin baru secara lebih objektif.

Risiko Impor BMTB dan Cara Mengantisipasinya

Impor BMTB memiliki sejumlah risiko yang perlu perusahaan antisipasi. Pertama, perusahaan dapat menghadapi kendala jika barang tidak memenuhi ketentuan impor. Untuk mengurangi risiko tersebut, periksa klasifikasi, persyaratan usia, dan perizinan sebelum melakukan transaksi.

Kedua, kondisi mesin mungkin tidak sesuai dengan penjelasan pemasok. Oleh karena itu, mintalah dokumentasi teknis dan pertimbangkan inspeksi sebelum pengiriman.

Ketiga, ketidaksesuaian dokumen dapat menimbulkan keterlambatan. Karena itu, cocokkan informasi dalam invoice, packing list, dan dokumen pendukung lainnya.

Terakhir, perusahaan perlu mengantisipasi biaya perbaikan dan pengeluaran tambahan. Melalui perencanaan anggaran, pemeriksaan teknis, dan pemahaman regulasi, importir dapat mengelola risiko dengan lebih baik.

Barang Modal Dalam Keadaan Tidak Baru (BMTB) merupakan barang modal dalam kondisi tidak baru yang memenuhi kriteria tertentu dan dapat mendukung kebutuhan usaha. Bagi perusahaan, BMTB dapat menjadi alternatif pengadaan mesin dan peralatan industri, terutama ketika perusahaan ingin mengevaluasi efisiensi investasi.

Namun, perusahaan perlu memahami bahwa tidak semua barang bekas memenuhi persyaratan impor. Oleh sebab itu, importir perlu memeriksa klasifikasi HS, kondisi barang, batas usia jika berlaku, legalitas perusahaan, perizinan, serta kewajiban kepabeanan.

Dengan persiapan yang tepat, perusahaan dapat menyusun rencana impor secara lebih terarah. Jika Anda ingin mengetahui kelayakan barang dan persyaratan impor BMTB untuk kebutuhan usaha, konsultasi sejak awal dapat membantu Anda memahami tahapan yang perlu di persiapkan.

Konsultasi Pengurusan Dokumen Anda Sekarang

Mega