Pelatihan Basic Safety Training (BST) merupakan salah satu tahapan penting bagi calon pelaut yang ingin bekerja di kapal. Praktik Fire Fighting Dalam pelatihan tersebut, peserta tidak hanya mempelajari teori keselamatan, tetapi juga mengikuti berbagai praktik untuk menghadapi keadaan darurat di laut. Salah satu materi penting yang wajib dipahami adalah Fire Prevention and Fire Fighting (FPFF) atau pencegahan dan pemadaman kebakaran.
Praktik Fire Fighting (FPFF) dalam pelatihan BST memberikan pengalaman langsung kepada peserta untuk menghadapi kebakaran di lingkungan kapal. Melalui simulasi pemadaman api, peserta belajar mengenali sumber kebakaran, menggunakan alat pemadam, menentukan tindakan yang tepat, serta menjaga keselamatan diri dan orang lain.
Selain itu, latihan ini membantu calon pelaut memahami bahwa kebakaran di kapal dapat berkembang dengan cepat. Ruang kapal yang terbatas, keberadaan bahan mudah terbakar, serta kondisi darurat di tengah laut membuat setiap awak kapal harus memiliki keterampilan pemadaman api.
Oleh karena itu, materi FPFF menjadi bagian penting dalam membentuk kemampuan keselamatan kerja seorang pelaut. Dengan mengikuti praktik secara langsung, peserta dapat meningkatkan kesiapan ketika menghadapi situasi kebakaran selama bertugas di kapal.
Baca Juga : Pelatihan Basic Safety Training (BST) Syarat, Materi, Biaya
Apa Itu Fire Fighting (FPFF) dalam Pelatihan BST?
Fire Prevention and Fire Fighting (FPFF) merupakan materi pelatihan keselamatan dasar yang membahas cara mencegah dan menangani kebakaran di kapal. Materi ini mengacu pada standar pelatihan keselamatan pelaut dalam STCW (Standards of Training, Certification and Watchkeeping for Seafarers), khususnya ketentuan Basic Training pada STCW Code Section A-VI/1.
Dalam pelatihan tersebut, instruktur memberikan pemahaman mengenai penyebab kebakaran, jenis bahan pemicu api, penggunaan peralatan pemadam, serta prosedur penanganan keadaan darurat.
Selanjutnya, peserta mengikuti simulasi untuk menerapkan pengetahuan yang telah mereka pelajari. Dengan demikian, mereka tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengambil tindakan ketika menghadapi kebakaran.
Materi FPFF juga mengajarkan pentingnya koordinasi antarawak kapal. Sebab, penanganan kebakaran membutuhkan komunikasi, kedisiplinan, dan kerja sama yang baik.
Tujuan Praktik Fire Fighting dalam Pelatihan BST
Praktik Fire Fighting memiliki beberapa tujuan utama yang berkaitan langsung dengan keselamatan pelayaran. Berikut penjelasannya.
1. Memahami Penyebab Terjadinya Kebakaran
Pertama, peserta mempelajari berbagai penyebab kebakaran yang dapat terjadi di kapal. Contohnya meliputi hubungan arus pendek listrik, kebocoran bahan bakar, percikan api saat pekerjaan panas, serta kelalaian dalam menggunakan peralatan.
Melalui materi tersebut, peserta dapat mengenali potensi bahaya sejak awal. Selain itu, mereka belajar mengambil langkah pencegahan sebelum api berkembang menjadi kebakaran besar.
2. Mengenali Jenis-Jenis Kebakaran
Selanjutnya, peserta mempelajari klasifikasi kebakaran berdasarkan bahan yang terbakar. Pengetahuan ini sangat penting karena setiap jenis kebakaran membutuhkan metode pemadaman yang sesuai.
Misalnya, kebakaran akibat bahan padat memiliki karakteristik berbeda dari kebakaran akibat cairan mudah terbakar. Oleh sebab itu, peserta harus memahami jenis api sebelum memilih alat pemadam.
Baca Juga : Syarat dan Prosedur Pendaftaran Pelatihan BST Resmi Dephub
3. Menguasai Penggunaan Alat Pemadam Api
Selain mengenali sumber kebakaran, peserta juga berlatih menggunakan alat pemadam api. Instruktur memperkenalkan berbagai jenis APAR serta cara mengoperasikannya secara aman.
Dengan latihan tersebut, peserta dapat menggunakan peralatan pemadam secara tepat ketika menghadapi kebakaran tahap awal.
4. Melatih Kesiapan Menghadapi Keadaan Darurat
Berikutnya, simulasi membantu peserta membangun kesiapan mental dan fisik. Dalam keadaan darurat, awak kapal harus bertindak cepat tanpa mengabaikan prosedur keselamatan.
Oleh karena itu, latihan berulang dapat membantu peserta meningkatkan ketenangan, kedisiplinan, dan kemampuan mengambil keputusan.
5. Meningkatkan Kerja Sama Tim
Penanganan kebakaran di kapal tidak dapat mengandalkan satu orang saja. Sebaliknya, setiap awak kapal harus memahami tugas dan tanggung jawab masing-masing.
Melalui simulasi, peserta belajar berkomunikasi, mengikuti instruksi, dan bekerja sama dalam menghadapi keadaan darurat.
Baca Juga : Rincian Biaya Pelatihan BST di Lembaga Diklat Maritim (Negeri vs Swasta)
Tahapan Praktik Fire Fighting (FPFF) dalam Pelatihan BST
Dalam pelatihan BST, instruktur biasanya menyusun praktik Fire Fighting secara bertahap. Setiap tahapan memiliki tujuan agar peserta dapat memahami prosedur pencegahan dan pemadaman kebakaran.
1. Pengenalan Peralatan Pemadam Kebakaran
Pada tahap awal, instruktur memperkenalkan berbagai peralatan pemadam yang tersedia di kapal. Peserta mempelajari fungsi dan cara penggunaan setiap peralatan.
Beberapa peralatan yang biasanya diperkenalkan meliputi:
- APAR atau Alat Pemadam Api Ringan.
- Selang pemadam kebakaran.
- Nozzle pemadam.
- Hydrant kapal.
- Fire blanket atau selimut api.
- Peralatan pelindung diri.
- Peralatan bantu pernapasan untuk petugas terlatih.
Selain itu, instruktur menjelaskan cara memeriksa kondisi peralatan sebelum digunakan. Dengan demikian, peserta memahami pentingnya kesiapan perlengkapan dalam menghadapi keadaan darurat.
2. Mengenali Jenis dan Sumber Api
Selanjutnya, peserta mempelajari karakteristik api dan bahan yang dapat memicu kebakaran. Instruktur menjelaskan bahwa kebakaran dapat terjadi akibat kombinasi bahan bakar, oksigen, dan panas.
Ketiga unsur tersebut dikenal sebagai segitiga api. Apabila salah satu unsur berhasil dihilangkan atau dikendalikan, proses pembakaran dapat dihentikan.
Sebagai contoh, peserta mempelajari penggunaan media pemadam yang sesuai untuk mengurangi panas, membatasi oksigen, atau menghentikan reaksi pembakaran.
3. Latihan Menggunakan APAR
Berikutnya, peserta mengikuti praktik penggunaan APAR. Instruktur memperlihatkan cara memeriksa alat, melepaskan pengaman, mengarahkan nozzle, dan mengoperasikan pemadam.
Salah satu metode yang sering diperkenalkan adalah teknik PASS, yaitu:
- Pull: Tarik pin atau pengaman APAR.
- Aim: Arahkan nozzle ke bagian dasar api.
- Squeeze: Tekan tuas untuk mengeluarkan media pemadam.
- Sweep: Sapukan semprotan secara terkontrol pada area api.
Melalui metode tersebut, peserta dapat memahami urutan penggunaan APAR dengan lebih mudah. Namun, mereka tetap harus memperhatikan jenis APAR, karakteristik kebakaran, arah angin, jalur evakuasi, dan petunjuk keselamatan dari instruktur.
Baca Juga : Cara Memilih Lembaga Pelatihan BST Resmi yang Diakui Ditjen Hubla
4. Simulasi Pemadaman Api
Setelah memahami penggunaan APAR, peserta mengikuti simulasi pemadaman api. Instruktur menyiapkan skenario kebakaran yang sesuai dengan fasilitas dan prosedur pelatihan.
Dalam praktik ini, peserta harus mengenali kondisi kebakaran, memilih alat pemadam, serta melakukan tindakan sesuai arahan instruktur.
Selain itu, peserta belajar menjaga jarak aman dan menentukan posisi yang tepat ketika melakukan pemadaman. Dengan latihan tersebut, mereka dapat memahami tantangan yang mungkin muncul ketika menghadapi kebakaran di kapal.
5. Praktik Menggunakan Selang Pemadam
Selain APAR, peserta juga dapat mempelajari penggunaan selang pemadam kebakaran. Peralatan ini memiliki peran penting dalam menangani kebakaran yang membutuhkan suplai air atau media pemadam dari sistem pemadam kapal.
Peserta belajar mengenali sambungan selang, nozzle, dan sistem hydrant. Selanjutnya, instruktur memberikan arahan mengenai cara memegang serta mengendalikan selang dengan aman.
Melalui praktik ini, peserta memahami pentingnya koordinasi karena tekanan air dapat menghasilkan gaya dorong yang cukup besar.
6. Latihan Menggunakan Alat Pelindung Diri
Dalam kegiatan pemadaman kebakaran, keselamatan petugas menjadi prioritas utama. Oleh karena itu, peserta juga mempelajari penggunaan alat pelindung diri atau APD.
Perlengkapan tersebut dapat mencakup pakaian tahan panas, helm pelindung, sarung tangan, sepatu keselamatan, serta perlengkapan bantu pernapasan sesuai kebutuhan latihan.
Selain itu, peserta memahami bahwa mereka tidak boleh memasuki area berasap atau ruang berbahaya tanpa perlindungan dan pelatihan yang sesuai.
7. Evaluasi Hasil Praktik
Pada tahap akhir, instruktur mengevaluasi kemampuan peserta selama mengikuti simulasi. Penilaian dapat mencakup pemahaman prosedur, pemilihan alat pemadam, penggunaan APD, komunikasi, serta kedisiplinan dalam mengikuti instruksi.
Dengan evaluasi tersebut, instruktur dapat mengetahui kemampuan yang sudah dikuasai peserta dan bagian yang masih membutuhkan latihan tambahan.
Baca Juga : Mengenal 4 Modul Pelatihan BST Berdasarkan Standar STCW

Jenis-Jenis Kebakaran yang Dipelajari dalam Praktik FPFF
Peserta pelatihan BST juga perlu memahami klasifikasi kebakaran. Sebab, kesalahan dalam memilih media pemadam dapat memperburuk keadaan.
Berikut beberapa jenis kebakaran yang umum dipelajari.
1. Kebakaran Kelas A
Kebakaran kelas A melibatkan bahan padat yang mudah terbakar, seperti kayu, kertas, kain, dan beberapa jenis plastik.
Untuk menangani kebakaran ini, petugas dapat menggunakan media pemadam yang sesuai, seperti air atau busa, dengan memperhatikan kondisi lingkungan dan sumber bahaya lainnya.
2. Kebakaran Kelas B
Kebakaran kelas B melibatkan cairan mudah terbakar, seperti bensin, solar, minyak, dan pelarut tertentu.
Dalam kondisi tersebut, petugas dapat menggunakan media pemadam seperti busa, serbuk kimia kering, atau karbon dioksida sesuai karakteristik bahan dan prosedur keselamatan.
3. Kebakaran Kelas C
Dalam klasifikasi yang umum digunakan di Indonesia, kebakaran kelas C berkaitan dengan instalasi atau peralatan listrik bertegangan.
Oleh karena itu, petugas harus memperhatikan sumber listrik sebelum melakukan pemadaman. Penggunaan media pemadam juga harus sesuai dengan ketentuan keselamatan listrik.
4. Kebakaran Kelas D
Kebakaran kelas D melibatkan logam yang mudah terbakar, seperti magnesium, titanium, atau natrium.
Jenis kebakaran ini membutuhkan media pemadam khusus. Sebaliknya, penggunaan air tanpa pemahaman yang tepat dapat menimbulkan reaksi berbahaya pada beberapa jenis logam.
5. Kebakaran Kelas K
Kebakaran kelas K melibatkan minyak atau lemak yang digunakan dalam kegiatan memasak, terutama pada peralatan dapur komersial.
Untuk mengatasinya, petugas menggunakan media pemadam khusus yang sesuai dengan karakteristik kebakaran tersebut.
Perlu diperhatikan bahwa klasifikasi kebakaran dapat berbeda antarstandar. Karena itu, peserta harus mengikuti sistem klasifikasi dan prosedur yang digunakan dalam pelatihan.
Baca Juga : Praktik Sea Survival (PST) dalam Pelatihan BST di Kolam dan Laut
Peralatan yang Digunakan dalam Simulasi Pemadaman Api
Agar praktik Fire Fighting berjalan dengan baik, peserta perlu mengenal berbagai perlengkapan keselamatan dan pemadam kebakaran.
Berikut beberapa peralatan yang umum digunakan dalam latihan FPFF:
- APAR: Digunakan untuk menangani kebakaran tahap awal sesuai jenis medianya.
- Fire hose: Selang yang mengalirkan media pemadam dari sistem pemadam kebakaran.
- Nozzle: Perangkat untuk mengatur arah dan pola semprotan media pemadam.
- Hydrant: Titik sambungan untuk memperoleh suplai air pemadam.
- Fire blanket: Selimut khusus yang dapat digunakan untuk menangani kebakaran kecil tertentu.
- Fire suit: Pakaian pelindung yang membantu melindungi tubuh dari panas.
- Breathing apparatus: Peralatan bantu pernapasan untuk petugas yang telah mendapatkan pelatihan khusus.
Selain mengenal fungsi peralatan, peserta harus memahami cara pemeriksaan dan perawatannya. Dengan demikian, mereka dapat menggunakan perlengkapan secara aman ketika menghadapi keadaan darurat.
Baca Juga : Praktik Elementary First Aid (EFA) dan PSSR Penanganan Medis Darurat di Kapal
Mengapa Praktik Fire Fighting Penting bagi Calon Pelaut?
Kebakaran termasuk salah satu keadaan darurat yang dapat mengancam keselamatan kapal dan seluruh awaknya. Oleh sebab itu, setiap pelaut perlu memahami prosedur pencegahan serta penanganan kebakaran.
Ada beberapa alasan mengapa praktik FPFF sangat penting bagi calon pelaut.
1. Menghadapi Risiko Kebakaran di Kapal
Kapal memiliki berbagai sumber potensi kebakaran, mulai dari instalasi listrik, mesin, bahan bakar, hingga kegiatan memasak.
Dengan mengikuti praktik FPFF, calon pelaut dapat mengenali potensi bahaya dan memahami langkah pencegahannya.
2. Meningkatkan Kemampuan Mengambil Keputusan
Dalam keadaan darurat, pelaut harus menentukan tindakan yang tepat berdasarkan kondisi di lapangan.
Melalui simulasi, peserta belajar menilai situasi, memilih peralatan, dan mengikuti prosedur penanganan kebakaran.
3. Melindungi Diri dan Awak Kapal Lainnya
Selain memadamkan api, keselamatan seluruh awak kapal tetap menjadi prioritas. Oleh karena itu, peserta juga belajar mengenali jalur evakuasi, mengikuti alarm darurat, dan berkomunikasi dengan tim.
4. Memenuhi Kompetensi Keselamatan Dasar Pelaut
Pelatihan FPFF merupakan bagian dari Basic Training yang diatur dalam standar STCW. Dengan mengikuti pelatihan sesuai ketentuan, calon pelaut dapat memenuhi salah satu kompetensi keselamatan dasar yang dibutuhkan dalam pekerjaan di kapal.
Baca Juga : Tips Menghadapi Ujian Teori dan Praktik Pelatihan BST agar Lulus 100%
Apa Perbedaan Materi Teori dan Praktik Fire Fighting?
Materi teori dan praktik Fire Fighting memiliki hubungan yang saling melengkapi. Namun, keduanya memiliki fokus pembelajaran yang berbeda.
| Materi Teori | Materi Praktik |
|---|---|
| Mempelajari penyebab kebakaran | Melakukan pengenalan sumber api |
| Mengenali klasifikasi kebakaran | Memilih media pemadam |
| Memahami fungsi APAR | Mengoperasikan APAR |
| Mempelajari prosedur darurat | Mengikuti simulasi pemadaman |
| Memahami penggunaan APD | Mempraktikkan penggunaan APD |
| Mempelajari koordinasi tim | Melaksanakan latihan kerja sama |
Dengan demikian, materi teori memberikan dasar pengetahuan, sedangkan praktik membantu peserta menerapkan pengetahuan tersebut dalam situasi simulasi.
Baca Juga : Syarat Dokumen dan Prosedur Pendaftaran Pelatihan BST Resmi Dephub
Tips Mengikuti Praktik Fire Fighting agar Lebih Maksimal
Agar memperoleh hasil pembelajaran yang baik, peserta perlu mempersiapkan diri sebelum mengikuti praktik. Berikut beberapa tips yang dapat diterapkan.
- Pelajari materi dasar kebakaran. Pahami segitiga api, klasifikasi kebakaran, dan fungsi alat pemadam.
- Perhatikan instruksi instruktur. Ikuti seluruh arahan sebelum menggunakan peralatan.
- Gunakan APD dengan benar. Pastikan perlengkapan pelindung sesuai dengan kegiatan latihan.
- Jaga konsentrasi. Hindari tindakan terburu-buru selama simulasi.
- Bangun komunikasi dengan tim. Koordinasikan setiap tindakan sesuai skenario latihan.
- Pahami jalur evakuasi. Kenali lokasi pintu keluar dan titik berkumpul.
- Ikuti evaluasi. Gunakan masukan instruktur untuk memperbaiki kemampuan.
Selain itu, peserta sebaiknya aktif bertanya apabila belum memahami fungsi atau cara penggunaan peralatan. Dengan begitu, mereka dapat mengikuti setiap kegiatan dengan lebih percaya diri.
Praktik Fire Fighting (FPFF) dalam pelatihan BST merupakan kegiatan penting untuk membekali calon pelaut dengan kemampuan mencegah dan menangani kebakaran di kapal. Melalui simulasi pemadaman api, peserta mempelajari penggunaan APAR, selang pemadam, alat pelindung diri, serta prosedur keselamatan dalam menghadapi keadaan darurat.
Baca Juga : Prospek Kerja Setelah Pelatihan BST di Kapal Niaga, Kapal Pesiar
Selain meningkatkan keterampilan teknis, pelatihan ini juga membangun kedisiplinan, kesiapan mental, dan kemampuan bekerja sama. Oleh karena itu, setiap peserta perlu mengikuti seluruh materi teori dan praktik dengan serius. Pada akhirnya, kemampuan Fire Prevention and Fire Fighting tidak hanya membantu pelaut memenuhi kompetensi keselamatan dasar sesuai standar STCW, tetapi juga mendukung terciptanya lingkungan kerja yang lebih aman selama pelayaran.
Konsultasi Pelatihan BST Sekarang!