Praktik Elementary First Aid (EFA) dan PSSR Penanganan Medis Darurat di Kapal

Nisa

Praktik Elementary First Aid (EFA) dan PSSR Penanganan Medis Darurat di Kapal
Direktur Utama Jangkar Groups

Keselamatan pelayaran tidak hanya bergantung pada kondisi kapal, kelengkapan peralatan navigasi, dan kemampuan awak dalam mengoperasikan mesin. Praktik Elementary First Aid Selain itu, setiap awak kapal juga perlu memahami cara menghadapi keadaan darurat, terutama ketika seseorang mengalami kecelakaan atau gangguan kesehatan selama perjalanan laut. Salah satu kemampuan penting yang harus dimiliki pelaut adalah pertolongan pertama melalui pelatihan Elementary First Aid (EFA) dan Personal Safety and Social Responsibilities (PSSR).

Praktik Elementary First Aid (EFA) dan PSSR penanganan medis darurat di kapal menjadi bagian penting dalam membangun kesiapan awak menghadapi berbagai risiko selama bekerja di laut. Sebab, lokasi kapal yang jauh dari fasilitas kesehatan dapat menyulitkan proses mendapatkan bantuan medis profesional. Oleh karena itu, setiap pelaut perlu menguasai keterampilan dasar pertolongan pertama, memahami prosedur keselamatan, serta mampu bekerja sama dengan kru lainnya.

Melalui pelatihan tersebut, pelaut dapat mengenali kondisi darurat, mengambil tindakan awal, dan menjaga keselamatan diri maupun orang lain. Dengan demikian, pemahaman EFA dan PSSR tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan kompetensi pelaut, tetapi juga mendukung terciptanya lingkungan kerja kapal yang lebih aman.

Baca Juga : Pelatihan Basic Safety Training (BST) Syarat, Materi, Biaya

Apa Itu Elementary First Aid (EFA)?

Elementary First Aid (EFA) merupakan pelatihan pertolongan pertama tingkat dasar yang memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada pelaut untuk menghadapi kondisi medis darurat di kapal.

Dalam pelatihan ini, peserta mempelajari cara mengenali gangguan kesehatan, menilai kondisi korban, memberikan pertolongan awal, dan meminta bantuan medis sesuai prosedur. Selain itu, peserta juga memahami pentingnya menjaga keselamatan diri ketika memberikan pertolongan kepada orang lain.

EFA memiliki peran penting karena kapal sering berlayar jauh dari rumah sakit atau fasilitas kesehatan darat. Akibatnya, awak kapal perlu mengambil tindakan awal secara cepat dan tepat sambil menunggu bantuan medis lanjutan.

Tujuan Pelatihan Elementary First Aid

Pelatihan EFA memiliki beberapa tujuan utama, antara lain:

  1. Membekali pelaut dengan keterampilan dasar pertolongan pertama.
  2. Mengajarkan cara mengenali tanda-tanda kondisi medis darurat.
  3. Melatih kemampuan menilai kondisi korban sebelum memberikan pertolongan.
  4. Meningkatkan pemahaman tentang penanganan luka dan cedera.
  5. Mengajarkan prosedur meminta bantuan medis di kapal.
  6. Meningkatkan kesiapan awak menghadapi kecelakaan kerja.
  7. Membantu pelaut memahami penggunaan perlengkapan pertolongan pertama.

Selain itu, pelatihan ini juga membangun rasa tanggung jawab dan kepedulian antarawak kapal. Dengan keterampilan tersebut, setiap kru dapat memberikan bantuan awal sesuai kemampuan dan batas kewenangannya.

Baca Juga : Syarat dan Prosedur Pendaftaran Pelatihan BST Resmi Dephub

Apa Itu Personal Safety and Social Responsibilities (PSSR)?

Personal Safety and Social Responsibilities (PSSR) merupakan pelatihan keselamatan pribadi dan tanggung jawab sosial bagi pelaut. Pelatihan ini membahas berbagai aspek keselamatan kerja, pencegahan kecelakaan, perlindungan lingkungan laut, serta hubungan sosial selama bekerja di kapal.

Berbeda dengan EFA yang berfokus pada pertolongan pertama, PSSR memberikan pemahaman lebih luas mengenai keselamatan dan tanggung jawab setiap awak kapal.

Melalui PSSR, pelaut mempelajari cara mengenali bahaya, mengikuti prosedur keselamatan, memahami sistem komunikasi darurat, dan menjaga hubungan kerja yang baik dengan seluruh kru.

Tujuan Pelatihan PSSR

Pelatihan PSSR bertujuan untuk:

  1. Meningkatkan kesadaran pelaut terhadap keselamatan kerja.
  2. Mengajarkan cara mengenali dan menghindari potensi bahaya di kapal.
  3. Memahami prosedur keadaan darurat.
  4. Meningkatkan kemampuan komunikasi dan kerja sama antarkru.
  5. Menanamkan tanggung jawab terhadap perlindungan lingkungan laut.
  6. Mengurangi risiko kecelakaan selama aktivitas pelayaran.
  7. Membentuk sikap disiplin dalam menjalankan tugas di kapal.

Oleh sebab itu, PSSR menjadi salah satu kompetensi dasar yang penting bagi pelaut sebelum menjalankan pekerjaan di lingkungan kapal.

Baca Juga : Rincian Biaya Pelatihan BST di Lembaga Diklat Maritim (Negeri vs Swasta)

Praktik Elementary First Aid (EFA) dan PSSR dalam Penanganan Medis Darurat di Kapal

Praktik EFA dan PSSR memiliki hubungan erat dalam menghadapi keadaan darurat di kapal. EFA memberikan keterampilan pertolongan medis dasar, sedangkan PSSR membantu awak kapal memahami prosedur keselamatan dan tanggung jawab selama menangani situasi tersebut.

Berikut beberapa praktik penting yang perlu dipahami oleh setiap pelaut.

1. Pemeriksaan Kondisi Korban

Pertama, awak kapal perlu memastikan bahwa lokasi kejadian aman sebelum mendekati korban. Langkah ini penting karena penolong juga dapat mengalami cedera apabila mengabaikan potensi bahaya di sekitarnya.

Selanjutnya, periksa respons korban dengan memanggil namanya atau memberikan rangsangan verbal. Jika korban tidak merespons, segera minta bantuan awak kapal lain dan ikuti prosedur keadaan darurat.

Selain itu, penolong perlu memeriksa pernapasan korban serta mengenali tanda-tanda kondisi yang mengancam nyawa. Apabila korban tidak bernapas normal, segera lakukan tindakan sesuai pelatihan dan instruksi medis yang berlaku.

2. Praktik Cardiopulmonary Resuscitation (CPR)

Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) atau resusitasi jantung paru merupakan tindakan pertolongan darurat untuk membantu mempertahankan sirkulasi darah dan oksigen ketika seseorang mengalami henti jantung.

Dalam praktik EFA, peserta mempelajari teknik CPR sesuai standar pelatihan yang berlaku. Peserta juga memahami pentingnya meminta bantuan, mengaktifkan prosedur darurat, dan menggunakan Automated External Defibrillator (AED) apabila tersedia serta sesuai kompetensi.

Namun, pelaut harus memperhatikan kondisi korban dan mengikuti instruksi pelatih atau petugas medis. Selain itu, penolong perlu memastikan keselamatan lingkungan sebelum melakukan tindakan.

3. Penanganan Luka dan Perdarahan

Kecelakaan kerja di kapal dapat menyebabkan luka ringan hingga perdarahan serius. Misalnya, awak kapal dapat mengalami luka akibat benda tajam, peralatan kerja, atau benturan ketika kapal menghadapi gelombang besar.

Oleh karena itu, pelaut perlu memahami cara menangani luka sesuai tingkat keparahannya.

Beberapa langkah dasar yang perlu dipelajari meliputi:

  • Menggunakan sarung tangan pelindung jika tersedia.
  • Memastikan lokasi pertolongan aman.
  • Mengendalikan perdarahan dengan tekanan langsung menggunakan bahan pembalut yang sesuai.
  • Menjaga kebersihan area luka.
  • Memantau kondisi korban.
  • Meminta bantuan medis apabila perdarahan berat atau kondisi korban memburuk.

Selanjutnya, awak kapal perlu mencatat kejadian dan melaporkannya kepada perwira yang bertanggung jawab sesuai prosedur kapal.

Baca Juga : Cara Memilih Lembaga Pelatihan BST Resmi yang Diakui Ditjen Hubla

4. Penanganan Luka Bakar

Luka bakar dapat terjadi akibat kebakaran, uap panas, cairan panas, atau kontak dengan permukaan mesin bersuhu tinggi.

Dalam kondisi tersebut, pelaut perlu menghentikan sumber panas terlebih dahulu apabila situasi memungkinkan. Kemudian, dinginkan area luka menggunakan air bersih yang mengalir selama kurang lebih 20 menit.

Namun, jangan menggunakan es, pasta gigi, minyak, atau bahan lain yang dapat memperburuk kondisi luka. Selain itu, jangan memecahkan lepuhan yang muncul pada kulit.

Apabila luka bakar tergolong berat, mengenai wajah, saluran pernapasan, atau area tubuh yang luas, segera minta bantuan medis profesional.

5. Penanganan Patah Tulang dan Cedera

Kapal yang bergerak akibat gelombang dapat meningkatkan risiko awak mengalami terpeleset, terjatuh, atau terbentur. Akibatnya, korban mungkin mengalami keseleo, dislokasi, atau patah tulang.

Dalam praktik EFA, peserta mempelajari cara mengenali tanda cedera dan memberikan pertolongan awal. Misalnya, penolong perlu membatasi pergerakan bagian tubuh yang mengalami cedera serta menggunakan penyangga apabila memiliki keterampilan yang sesuai.

Selain itu, jangan memaksa korban menggerakkan anggota tubuh yang mengalami cedera. Jika terdapat dugaan cedera tulang belakang, hindari memindahkan korban kecuali terdapat bahaya langsung yang mengancam keselamatannya.

6. Penanganan Korban Pingsan

Pingsan dapat terjadi akibat kelelahan, dehidrasi, perubahan tekanan darah, atau gangguan kesehatan lainnya.

Ketika menemukan korban pingsan, awak kapal perlu memastikan kondisi lingkungan aman. Selanjutnya, periksa respons dan pernapasan korban.

Jika korban bernapas normal tetapi tidak sadar, posisikan tubuhnya sesuai kondisi dan panduan pertolongan pertama. Apabila tidak ada dugaan cedera tulang belakang, penolong dapat menggunakan posisi pemulihan untuk membantu menjaga jalan napas.

Sebaliknya, jika korban tidak bernapas normal, segera jalankan prosedur CPR dan minta bantuan medis darurat.

Baca Juga : Mengenal 4 Modul Pelatihan BST Berdasarkan Standar STCW

7. Komunikasi dan Pelaporan Keadaan Darurat

Selain kemampuan medis, komunikasi menjadi bagian penting dalam praktik PSSR. Awak kapal harus mampu menyampaikan informasi keadaan darurat secara jelas kepada nakhoda, perwira, atau petugas yang bertanggung jawab.

Informasi yang perlu disampaikan meliputi:

  • Nama dan identitas korban.
  • Lokasi kejadian di kapal.
  • Jenis kecelakaan atau gangguan kesehatan.
  • Kondisi kesadaran korban.
  • Tindakan pertolongan yang sudah dilakukan.
  • Bantuan medis yang dibutuhkan.

Dengan komunikasi yang baik, awak kapal dapat mengoordinasikan penanganan secara lebih efektif. Selain itu, informasi yang akurat membantu petugas medis memberikan arahan lanjutan.

Perbedaan Elementary First Aid (EFA) dan PSSR

Meskipun keduanya termasuk pelatihan keselamatan dasar pelaut, EFA dan PSSR memiliki fokus pembelajaran yang berbeda.

AspekElementary First Aid (EFA)Personal Safety and Social Responsibilities (PSSR)
Fokus utamaPertolongan pertamaKeselamatan pribadi dan tanggung jawab sosial
MateriPenanganan cedera dan kondisi medis daruratKeselamatan kerja dan pencegahan bahaya
TujuanMemberikan bantuan awal kepada korbanMeningkatkan kesadaran keselamatan
KeterampilanPemeriksaan korban dan pertolongan pertamaKomunikasi, disiplin, dan kerja sama
PenerapanSaat terjadi kecelakaan atau gangguan kesehatanDalam aktivitas kerja sehari-hari dan keadaan darurat

Dengan demikian, EFA dan PSSR saling melengkapi. EFA membantu pelaut memberikan pertolongan medis awal, sedangkan PSSR membangun kebiasaan kerja yang aman dan bertanggung jawab.

Baca Juga : Praktik Sea Survival (PST) dalam Pelatihan BST di Kolam dan Laut

Peralatan Medis Darurat yang Perlu Diketahui Awak Kapal

Peralatan Medis Darurat yang Perlu Diketahui Awak Kapal

Selain memahami prosedur pertolongan pertama, pelaut perlu mengenali perlengkapan medis yang tersedia di kapal.

Beberapa perlengkapan yang umum digunakan dalam penanganan medis darurat meliputi:

1. Kotak P3K

Kotak P3K berisi perlengkapan pertolongan pertama, seperti kasa steril, perban, plester, sarung tangan medis, dan perlengkapan dasar lainnya.

2. Alat Pelindung Diri

Sarung tangan dan perlengkapan pelindung lainnya membantu mengurangi risiko kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh korban.

3. AED

AED merupakan perangkat yang dapat membantu penanganan henti jantung tertentu melalui analisis irama jantung dan pemberian kejutan listrik apabila perangkat menginstruksikannya.

4. Tandu Evakuasi

Tandu membantu awak kapal memindahkan korban dengan lebih aman ketika kondisi memungkinkan dan prosedur evakuasi mengharuskannya.

5. Peralatan Oksigen Medis

Peralatan oksigen dapat mendukung penanganan pasien tertentu sesuai instruksi tenaga medis dan prosedur keselamatan kapal.

Selain itu, awak kapal perlu mengetahui lokasi penyimpanan setiap perlengkapan, cara penggunaannya, serta prosedur pemeriksaan dan pemeliharaan.

Baca Juga : Praktik Fire Fighting (FPFF) dalam Pelatihan BST, Simulasi Pemadaman Api

Standar Pelatihan EFA dan PSSR Berdasarkan STCW

Pelatihan keselamatan pelaut mengacu pada ketentuan International Convention on Standards of Training, Certification and Watchkeeping for Seafarers (STCW) yang ditetapkan oleh International Maritime Organization (IMO).

Dalam kerangka STCW, PSSR dan Elementary First Aid termasuk kompetensi keselamatan dasar yang berkaitan dengan pelatihan Basic Safety Training (BST).

STCW Code mengatur kompetensi tersebut melalui beberapa ketentuan, antara lain:

  • STCW Regulation VI/1: Mengatur persyaratan pelatihan keselamatan dasar bagi pelaut.
  • STCW Code Section A-VI/1: Menjelaskan standar kompetensi untuk pelatihan keselamatan dasar.
  • STCW Code Table A-VI/1-1: Mengatur kompetensi personal survival techniques.
  • STCW Code Table A-VI/1-2: Mengatur fire prevention and fire fighting.
  • STCW Code Table A-VI/1-3: Mengatur elementary first aid.
  • STCW Code Table A-VI/1-4: Mengatur personal safety and social responsibilities.

Oleh karena itu, calon pelaut perlu memastikan bahwa pelatihan yang diikuti sesuai dengan ketentuan STCW dan diselenggarakan oleh lembaga pelatihan yang memiliki persetujuan atau pengakuan dari otoritas berwenang.

Siapa yang Perlu Mengikuti Pelatihan EFA dan PSSR?

Pelatihan EFA dan PSSR ditujukan kepada pelaut yang membutuhkan kompetensi keselamatan dasar sesuai ketentuan pekerjaan dan sertifikasi yang berlaku.

Beberapa kelompok yang membutuhkan pelatihan tersebut meliputi:

  1. Calon pelaut yang akan bekerja di kapal.
  2. Awak kapal bagian dek.
  3. Awak kapal bagian mesin.
  4. Pelaut yang sedang mempersiapkan dokumen kompetensi.
  5. Pelaut yang membutuhkan pemenuhan persyaratan Basic Safety Training.
  6. Awak kapal yang perlu memperbarui atau memenuhi kompetensi sesuai ketentuan yang berlaku.

Namun, persyaratan pelatihan dapat berbeda berdasarkan jabatan, jenis kapal, dan ketentuan sertifikasi. Oleh sebab itu, calon peserta perlu memastikan kebutuhan sertifikasinya sebelum mendaftar.

Baca Juga : Tips Menghadapi Ujian Teori dan Praktik Pelatihan BST agar Lulus 100%

Manfaat Praktik EFA dan PSSR bagi Pelaut

Penguasaan EFA dan PSSR memberikan banyak manfaat dalam aktivitas pelayaran. Berikut beberapa manfaat yang dapat diperoleh.

1. Meningkatkan Kesiapan Menghadapi Kecelakaan

Pelaut dapat mengenali kondisi darurat dan mengambil tindakan awal sesuai kompetensi. Dengan demikian, awak kapal tidak hanya mengandalkan bantuan dari satu orang ketika kecelakaan terjadi.

2. Mengurangi Risiko Kesalahan Penanganan

Pengetahuan pertolongan pertama membantu pelaut memahami tindakan yang tepat dan tindakan yang perlu dihindari. Selain itu, pemahaman tersebut dapat mencegah penanganan yang berisiko memperburuk kondisi korban.

3. Meningkatkan Kerja Sama Awak Kapal

Penanganan keadaan darurat membutuhkan koordinasi seluruh kru. Oleh karena itu, komunikasi dan pembagian tugas menjadi bagian penting dalam praktik keselamatan.

4. Mendukung Pemenuhan Kompetensi Pelaut

Pelatihan EFA dan PSSR membantu pelaut memenuhi kompetensi keselamatan dasar sesuai persyaratan yang berlaku. Selain itu, sertifikat pelatihan dapat menjadi salah satu dokumen pendukung dalam proses administrasi kepelautan.

5. Membangun Budaya Keselamatan di Kapal

Ketika setiap awak memahami tanggung jawabnya, lingkungan kerja dapat menjadi lebih tertib dan aman. Dengan demikian, pelaut dapat menjalankan pekerjaan dengan lebih disiplin dan memperhatikan keselamatan bersama.

Baca Juga : Syarat Dokumen dan Prosedur Pendaftaran Pelatihan BST Resmi Dephub

Tips Mengikuti Praktik EFA dan PSSR agar Lebih Maksimal

Agar memperoleh hasil pembelajaran yang baik, peserta perlu mempersiapkan diri sebelum mengikuti pelatihan.

Berikut beberapa tips yang dapat diterapkan:

  1. Pelajari materi dasar keselamatan. Pahami pengenalan keadaan darurat dan prinsip pertolongan pertama sebelum mengikuti praktik.
  2. Ikuti instruksi instruktur. Perhatikan setiap tahapan demonstrasi agar dapat menerapkan teknik dengan benar.
  3. Aktif mengikuti simulasi. Praktik langsung membantu peserta memahami tindakan yang perlu dilakukan saat keadaan darurat.
  4. Kenali perlengkapan keselamatan. Pelajari fungsi dan cara menggunakan peralatan medis serta perlengkapan darurat.
  5. Latih komunikasi. Biasakan menyampaikan informasi dengan jelas dan terstruktur.
  6. Pahami prosedur kapal. Setiap kapal memiliki prosedur keselamatan yang perlu dipatuhi oleh seluruh awak.
  7. Pastikan sertifikat sesuai ketentuan. Periksa legalitas lembaga pelatihan dan persyaratan sertifikasi sebelum mengikuti program.

Selain itu, jangan hanya mengandalkan teori. Peserta perlu mempraktikkan keterampilan yang diperoleh agar dapat menggunakannya secara tepat ketika menghadapi kondisi darurat.

Praktik Elementary First Aid (EFA) dan PSSR penanganan medis darurat di kapal merupakan bagian penting dari kompetensi keselamatan dasar pelaut. EFA memberikan keterampilan pertolongan pertama untuk menghadapi kecelakaan dan gangguan kesehatan, sedangkan PSSR mengajarkan keselamatan pribadi, komunikasi, serta tanggung jawab sosial selama bekerja di kapal.

Baca Juga : Prospek Kerja Setelah Pelatihan BST di Kapal Niaga, Kapal Pesiar

Melalui kedua pelatihan tersebut, pelaut dapat memahami cara memeriksa kondisi korban, menangani luka, memberikan pertolongan awal, dan mengikuti prosedur keadaan darurat. Selain itu, kemampuan berkomunikasi dan bekerja sama membantu seluruh awak menghadapi situasi berbahaya dengan lebih terorganisasi. Oleh karena itu, calon pelaut maupun awak kapal perlu mengikuti pelatihan EFA dan PSSR sesuai standar STCW serta ketentuan otoritas maritim yang berlaku. Dengan kompetensi yang memadai, pelaut dapat mendukung keselamatan diri sendiri, rekan kerja, kapal, dan lingkungan laut.

Konsultasi Pelatihan BST Sekarang!

Avatar photo
Nisa
Konsultasi Gratis Balas cepat via WhatsApp