Perkecualian SNI Pengertian, Dasar Hukum dan Syarat

Isma

Updated on:

SNI
Perkecualian SNI Pengertian, Dasar Hukum dan Syarat
Direktur Utama Jangkar Groups

Perkecualian SNI merupakan salah satu aspek penting yang perlu di pahami oleh pelaku usaha, importir, produsen, maupun pihak yang melakukan pemasukan barang ke Indonesia. Dalam praktiknya, tidak semua produk yang masuk atau beredar di Indonesia dapat di perlakukan dengan ketentuan yang sama. Pada kondisi tertentu, suatu barang dapat memperoleh pengecualian dari kewajiban pemenuhan SNI, sepanjang memenuhi persyaratan dan ketentuan yang di tetapkan oleh pemerintah.

Bagi perusahaan yang mengimpor barang, memahami ketentuan perkecualian SNI sejak awal sangat penting. Sebab, kesalahan dalam menentukan apakah suatu produk wajib SNI atau dapat memperoleh pengecualian dapat menyebabkan proses impor terhambat. Selain itu, dokumen yang tidak sesuai juga dapat menimbulkan kendala dalam proses kepabeanan maupun perizinan.

Artikel ini membahas perkecualian SNI secara lengkap, mulai dari pengertian, dasar hukum, jenis barang yang berpotensi mendapatkan pengecualian, syarat dokumen, prosedur pengajuan, hingga hal-hal yang perlu di perhatikan sebelum mengajukan permohonan.

Baca Juga : Apa Itu Pengecualian SNI? Pengertian dan Ketentuan

Apa Itu Perkecualian SNI?

Perkecualian SNI adalah kondisi ketika suatu barang yang pada dasarnya termasuk dalam ruang lingkup pemberlakuan Standar Nasional Indonesia tertentu dapat memperoleh pengecualian atau perlakuan khusus dari kewajiban pemenuhan SNI, berdasarkan alasan dan persyaratan yang di atur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan.

SNI sendiri merupakan standar yang di tetapkan oleh Badan Standardisasi Nasional atau BSN. Penerapan SNI dapat bersifat sukarela maupun wajib. Apabila SNI suatu produk di berlakukan secara wajib, pelaku usaha harus memenuhi persyaratan yang di tentukan sebelum produk tersebut di produksi, di impor, atau di edarkan sesuai ketentuan yang berlaku.

Namun demikian, terdapat keadaan tertentu ketika barang tidak harus memenuhi persyaratan SNI sebagaimana barang komersial pada umumnya. Misalnya, barang tertentu dapat di gunakan untuk penelitian, pengujian, pengembangan produk, sampel, atau kebutuhan khusus lainnya sesuai ketentuan.

Karena itu, perkecualian SNI tidak berarti bahwa semua barang dapat secara otomatis di bebaskan dari kewajiban SNI. Pengecualian harus di dasarkan pada kategori barang, tujuan penggunaan, status pemohon, serta ketentuan teknis yang berlaku.

Baca Juga : Produk Apa Saja yang Dapat Dikecualikan dari SNI?

Mengapa Perkecualian SNI Dibutuhkan

Mengapa Perkecualian SNI Dibutuhkan?

Pemberlakuan SNI wajib bertujuan memberikan perlindungan terhadap konsumen, keselamatan, kesehatan, keamanan, lingkungan, serta menciptakan tata niaga yang sesuai dengan standar nasional.

Akan tetapi, terdapat barang yang tidak di maksudkan untuk di pasarkan kepada konsumen umum. Barang tersebut mungkin hanya di gunakan untuk kebutuhan internal perusahaan, penelitian, pengujian, pengembangan, pameran, atau keperluan tertentu lainnya.

Dalam kondisi seperti itu, penerapan persyaratan SNI secara penuh dapat memiliki mekanisme yang berbeda. Oleh karena itu, pemerintah menyediakan mekanisme tertentu untuk memberikan pengecualian atau fasilitas sesuai dengan kategori yang di tetapkan.

Dengan demikian, fungsi perkecualian SNI bukan untuk menghilangkan standar keselamatan dan mutu. Sebaliknya, mekanisme tersebut di gunakan agar penerapan regulasi dapat di sesuaikan dengan tujuan dan karakteristik penggunaan barang.

Baca Juga : Syarat Pengecualian SNI: Dokumen dan Ketentuan Pengajuannya

Apakah Semua Produk Bisa Mendapat Perkecualian SNI?

Tidak.

Ini merupakan salah satu hal yang paling penting untuk di pahami oleh importir. Produk yang termasuk dalam SNI wajib tidak otomatis dapat di kecualikan hanya karena importir mengajukan permohonan.

Pihak yang mengajukan harus memiliki alasan yang sesuai dengan ketentuan. Selain itu, barang harus memenuhi kriteria dan dokumen yang di persyaratkan.

Sebagai contoh, barang yang di impor untuk kebutuhan penelitian mungkin memiliki perlakuan berbeda di bandingkan barang yang di impor untuk di jual secara bebas di pasar Indonesia.

Begitu pula barang yang di gunakan sebagai contoh atau sampel dapat memiliki mekanisme berbeda dengan barang yang di impor dalam jumlah besar untuk kegiatan perdagangan.

Karena itu, sebelum mengajukan perkecualian SNI, penting untuk melakukan identifikasi terhadap:

  1. jenis produk
  2. HS Code
  3. spesifikasi barang
  4. negara asal
  5. produsen
  6. jumlah barang
  7. tujuan penggunaan
  8. status barang
  9. apakah barang akan di edarkan atau tidak
  10. regulasi teknis yang berlaku
  11. SNI yang di berlakukan secara wajib

Baca Juga : Cara Mengurus Pengecualian SNI: Prosedur Pengajuan dari Awal sampai Selesai

Dasar Hukum SNI di Indonesia

Ketentuan mengenai standardisasi nasional di Indonesia memiliki dasar utama dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2014 tentang Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian.

Regulasi tersebut menjadi salah satu landasan penyelenggaraan standardisasi dan penilaian kesesuaian di Indonesia.

Selain undang-undang tersebut, pelaksanaan standardisasi juga di dukung oleh berbagai peraturan pemerintah, peraturan menteri, peraturan BSN, serta regulasi teknis kementerian/lembaga yang mengatur produk tertentu.

Hal yang perlu di perhatikan adalah dasar hukum perkecualian SNI dapat berbeda berdasarkan jenis produk. Artinya, tidak cukup hanya melihat aturan umum mengenai SNI.

Importir juga perlu memeriksa regulasi teknis yang secara khusus mengatur produk yang akan di masukkan ke Indonesia.

Misalnya, suatu produk dapat berada dalam ruang lingkup SNI wajib berdasarkan peraturan menteri tertentu. Dalam regulasi tersebut biasanya terdapat ketentuan mengenai ruang lingkup produk, HS Code, kewajiban sertifikasi, serta kondisi tertentu yang mendapatkan perlakuan khusus.

Oleh sebab itu, pemeriksaan dasar hukum harus dilakukan berdasarkan produk dan regulasi yang berlaku pada saat pengajuan.

Baca Juga : Pengecualian SNI untuk Barang Impor: Syarat, Prosedur, dan Dokumen

Perbedaan SNI Wajib dan SNI Sukarela

Sebelum membahas perkecualian SNI lebih jauh, penting memahami perbedaan antara SNI wajib dan SNI sukarela.

SNI Wajib

SNI wajib merupakan standar yang penerapannya di wajibkan berdasarkan peraturan perundang-undangan.

Apabila suatu produk termasuk dalam kategori SNI wajib, pelaku usaha harus memenuhi persyaratan yang di tetapkan sebelum produk tersebut dapat di produksi, di impor, atau di edarkan sesuai ketentuan.

SNI Sukarela

Sementara itu, SNI sukarela merupakan standar yang penerapannya tidak di wajibkan oleh regulasi teknis tertentu.

Produsen atau pelaku usaha dapat menggunakan SNI sebagai acuan untuk meningkatkan mutu, konsistensi, keamanan, maupun kepercayaan pasar.

Dengan demikian, istilah perkecualian SNI umumnya menjadi relevan ketika barang berada dalam ruang lingkup ketentuan wajib, tetapi terdapat kondisi tertentu yang memungkinkan di berikannya pengecualian atau fasilitas sesuai aturan.

Baca Juga : Pengecualian SNI untuk Penelitian dan Pengembangan: Ketentuan dan Cara Pengajuan

Contoh Kondisi yang Dapat Memerlukan Perkecualian SNI

Jenis pengecualian sangat bergantung pada regulasi masing-masing produk. Namun, dalam praktik regulasi perdagangan dan impor, terdapat beberapa kondisi yang perlu di periksa.

1. Barang untuk Penelitian

Barang yang di gunakan untuk kegiatan penelitian atau pengembangan tertentu dapat memperoleh perlakuan khusus apabila memenuhi persyaratan yang ditentukan.

Tujuan penggunaan harus dapat di buktikan melalui dokumen pendukung. Selain itu, barang tersebut umumnya tidak di maksudkan untuk di perdagangkan secara bebas.

Baca Juga : Pengecualian SNI untuk Sampel Produk: Ketentuan dan Dokumen yang Dibutuhkan

2. Barang untuk Pengujian

Produk tertentu yang di gunakan untuk kegiatan pengujian juga dapat memiliki mekanisme khusus.

Pengujian dapat di lakukan oleh laboratorium, institusi penelitian, perusahaan, atau lembaga tertentu sesuai kebutuhan.

Dalam kondisi tersebut, dokumen yang menjelaskan tujuan pengujian dapat menjadi bagian penting dari pengajuan.

3. Sampel atau Contoh Produk

Barang yang di impor sebagai sampel untuk kepentingan tertentu dapat memperoleh perlakuan berbeda dengan barang yang akan dijual.

Namun, status sebagai sampel harus dapat di buktikan dan jumlah barang juga dapat menjadi salah satu pertimbangan berdasarkan regulasi yang berlaku.

Baca Juga : Perbedaan Pengecualian SNI dan Sertifikasi SNI

4. Barang untuk Pameran

Produk yang dimasukkan ke Indonesia untuk keperluan pameran dapat memiliki ketentuan khusus.

Salah satu hal yang perlu di perhatikan adalah tujuan pemasukan barang tersebut. Apabila barang hanya di gunakan selama kegiatan pameran dan kemudian di kirim kembali atau di perlakukan sesuai ketentuan kepabeanan, mekanismenya dapat berbeda dengan barang untuk perdagangan.

5. Kebutuhan Khusus Tertentu

Beberapa regulasi produk dapat menyediakan pengecualian untuk kebutuhan khusus tertentu.

Namun, kategori ini tidak dapat di generalisasi untuk seluruh jenis barang. Setiap produk harus di periksa berdasarkan regulasi teknis yang berlaku.

Baca Juga : Berapa Lama Proses Pengecualian SNI?

Syarat Perkecualian SNI

Persyaratan perkecualian SNI tidak selalu sama untuk setiap produk. Oleh karena itu, dokumen yang di perlukan harus di sesuaikan dengan dasar hukum dan tujuan pengajuan.

Secara umum, dokumen yang mungkin di perlukan antara lain:

  1. identitas perusahaan;
  2. Nomor Induk Berusaha atau NIB;
  3. data importir;
  4. invoice;
  5. packing list;
  6. Bill of Lading atau Air Waybill;
  7. spesifikasi teknis produk;
  8. katalog atau brosur produk;
  9. HS Code;
  10. surat pernyataan tujuan penggunaan;
  11. surat permohonan;
  12. dokumen penelitian atau pengujian jika relevan;
  13. dokumen pameran jika barang di gunakan untuk pameran;
  14. dokumen dari instansi terkait apabila di persyaratkan; dan
  15. dokumen pendukung lainnya sesuai regulasi produk.

Dokumen tersebut tidak selalu seluruhnya wajib. Sebaliknya, masing-masing pengajuan perlu di periksa berdasarkan ketentuan yang berlaku.

Baca Juga : Jasa Pengurusan Pengecualian SNI untuk Barang Impor dan Kebutuhan Khusus

Surat Pernyataan Tujuan Penggunaan Barang

Salah satu dokumen yang sering menjadi bagian penting dalam pengajuan fasilitas atau pengecualian adalah penjelasan mengenai tujuan penggunaan barang.

Dokumen tersebut harus menjelaskan secara jelas:

  1. barang apa yang akan di impor;
  2. jumlah barang;
  3. siapa pengguna barang;
  4. untuk apa barang di gunakan;
  5. lokasi penggunaan;
  6. apakah barang akan di jual;
  7. apakah barang akan di pindahtangankan;
  8. serta bagaimana barang akan di perlakukan setelah tujuan penggunaan selesai.

Semakin jelas informasi yang di berikan, semakin mudah pihak berwenang melakukan pemeriksaan terhadap kesesuaian permohonan.

Dokumen Spesifikasi Produk

Spesifikasi produk juga penting karena membantu memastikan apakah barang benar-benar termasuk dalam ruang lingkup regulasi SNI wajib.

Dokumen dapat berupa:

  1. technical data sheet;
  2. katalog;
  3. brosur;
  4. spesifikasi dari produsen;
  5. foto produk;
  6. label produk;
  7. product description; atau
  8. dokumen teknis lain yang relevan.

Importir sebaiknya memastikan bahwa informasi pada dokumen konsisten dengan barang yang sebenarnya.

Perbedaan antara nama barang, spesifikasi, model, merek, jumlah, atau HS Code dapat menyebabkan proses verifikasi menjadi lebih kompleks.

Cara Mengurus Perkecualian SNI

Secara umum, proses pengurusan dapat dilakukan melalui beberapa tahapan.

Tahap 1: Identifikasi Produk

Langkah pertama adalah menentukan produk yang akan di impor secara tepat.

Identifikasi meliputi nama barang, merek, model, spesifikasi, negara asal, produsen, jumlah, dan tujuan penggunaan.

Tahap ini penting karena kesalahan identifikasi dapat menyebabkan kesimpulan mengenai kewajiban SNI menjadi tidak tepat.

Tahap 2: Cek HS Code

Selanjutnya, importir perlu memastikan HS Code barang.

HS Code merupakan salah satu informasi penting dalam proses impor karena dapat di gunakan untuk menentukan ketentuan perdagangan dan persyaratan teknis yang berlaku.

Karena itu, jangan hanya menggunakan nama produk dalam melakukan pengecekan. Spesifikasi teknis dan klasifikasi barang juga perlu di perhatikan.

Tahap 3: Cek Apakah SNI Berlaku Wajib

Setelah HS Code dan karakteristik produk di ketahui, lakukan pengecekan terhadap regulasi yang berlaku.

Pertanyaan yang perlu di jawab antara lain:

  • Apakah produk termasuk SNI wajib?
  • Apakah seluruh jenis produk tersebut wajib SNI?
  • Apakah ada pengecualian?
  • Apa tujuan penggunaan yang di perbolehkan?
  • Instansi mana yang berwenang?
  • Dokumen apa saja yang di perlukan?

Tahap ini menjadi dasar untuk menentukan apakah pengajuan perkecualian memang relevan.

Tahap 4: Menyiapkan Dokumen

Setelah kategori pengecualian di ketahui, siapkan dokumen pendukung.

Pastikan seluruh informasi konsisten antara satu dokumen dengan dokumen lainnya.

Sebagai contoh, nama produk pada invoice sebaiknya dapat di cocokkan dengan spesifikasi teknis dan dokumen permohonan.

Tahap 5: Mengajukan Permohonan

Permohonan kemudian di ajukan melalui mekanisme yang di tentukan oleh kementerian atau lembaga yang berwenang.

Mekanisme pengajuan dapat berbeda berdasarkan jenis produk dan regulasi teknis.

Karena itu, importir sebaiknya tidak menggunakan satu prosedur untuk semua produk.

Tahap 6: Verifikasi Dokumen

Setelah permohonan di sampaikan, dokumen dapat di periksa oleh instansi terkait.

Pada tahap ini, pihak berwenang dapat menilai:

  • kesesuaian produk;
  • tujuan penggunaan;
  • jumlah barang;
  • identitas importir;
  • spesifikasi;
  • dokumen pendukung; dan
  • dasar pemberian pengecualian.

Apabila terdapat kekurangan, pemohon dapat di minta memberikan klarifikasi atau melengkapi dokumen.

Tahap 7: Penerbitan Persetujuan atau Dokumen Terkait

Jika persyaratan terpenuhi dan permohonan di setujui, pemohon akan memperoleh dokumen atau persetujuan sesuai mekanisme yang berlaku.

Dokumen tersebut kemudian perlu di gunakan sesuai tujuan dan ketentuan yang di berikan.

Berapa Lama Proses Perkecualian SNI?

Lama proses pengurusan perkecualian SNI tidak dapat di samaratakan untuk semua produk.

Waktu proses dapat di pengaruhi oleh:

  1. jenis barang;
  2. instansi yang berwenang;
  3. kelengkapan dokumen;
  4. kompleksitas produk;
  5. kebutuhan verifikasi;
  6. klarifikasi tambahan;
  7. sistem pengajuan; dan
  8. ketentuan teknis yang berlaku.

Karena itu, estimasi waktu sebaiknya di berikan setelah jenis barang dan dasar hukum pengajuan di ketahui.

Dokumen yang lengkap dan informasi produk yang konsisten dapat membantu mengurangi potensi permintaan perbaikan administrasi.

Apakah Perkecualian SNI Sama dengan Bebas SNI?

Tidak selalu.

Istilah “bebas SNI” sering di gunakan secara umum, tetapi secara administratif perlu di bedakan antara:

  1. produk yang memang tidak termasuk SNI wajib;
  2. produk yang memperoleh pengecualian;
  3. produk yang mendapatkan fasilitas tertentu;
  4. produk yang hanya di gunakan untuk tujuan tertentu; dan
  5. produk yang tetap memiliki kewajiban lain berdasarkan regulasi.

Karena itu, mendapatkan pengecualian dari kewajiban SNI tidak berarti barang tersebut bebas dari seluruh persyaratan impor.

Produk tetap dapat tunduk pada ketentuan lain seperti kepabeanan, larangan dan pembatasan, keamanan, kesehatan, lingkungan, karantina, atau regulasi teknis lainnya.

Perkecualian SNI untuk Barang Impor

Dalam kegiatan impor, pemeriksaan SNI menjadi salah satu bagian yang perlu di perhatikan sejak tahap perencanaan.

Importir sebaiknya tidak menunggu barang tiba di pelabuhan baru memeriksa persyaratan SNI.

Idealnya, pemeriksaan dilakukan sebelum transaksi dengan supplier di selesaikan.

Dengan demikian, importir dapat mengetahui apakah produk:

  1. tidak wajib SNI;
  2. wajib SNI;
  3. dapat memperoleh pengecualian;
  4. memerlukan sertifikasi tertentu; atau
  5. membutuhkan dokumen dari instansi teknis lainnya.

Pendekatan tersebut membantu mengurangi risiko barang tertahan karena dokumen belum sesuai.

Risiko Jika Salah Menentukan Perkecualian SNI

Kesalahan dalam menentukan status SNI dapat menimbulkan beberapa masalah.

Barang Tertahan

Apabila dokumen yang di perlukan belum tersedia, proses pemasukan barang dapat mengalami hambatan.

Biaya Tambahan

Keterlambatan dapat menyebabkan timbulnya biaya tambahan, misalnya biaya penyimpanan atau biaya logistik lainnya.

Permintaan Klarifikasi

Importir mungkin harus memberikan penjelasan tambahan mengenai produk dan tujuan penggunaannya.

Risiko Ketidaksesuaian Regulasi

Jika barang seharusnya memenuhi SNI wajib tetapi di perlakukan sebagai barang yang di kecualikan tanpa dasar yang tepat, importir dapat menghadapi masalah kepatuhan.

Oleh karena itu, penentuan pengecualian sebaiknya dilakukan berdasarkan regulasi yang berlaku, bukan hanya berdasarkan pengalaman pengurusan produk lain.

Kesalahan yang Sering Terjadi

Ada beberapa kesalahan yang perlu di hindari ketika mengurus perkecualian SNI.

Menganggap Semua Sampel Bebas SNI

Status sampel tidak otomatis membuat barang terbebas dari seluruh ketentuan. Kategori sampel harus di periksa berdasarkan regulasi yang berlaku.

Menggunakan HS Code yang Tidak Tepat

HS Code yang tidak sesuai dapat memengaruhi hasil pemeriksaan regulasi.

Dokumen Tidak Konsisten

Nama barang pada invoice, packing list, katalog, dan dokumen lainnya sebaiknya konsisten.

Tidak Menjelaskan Tujuan Penggunaan

Permohonan dengan tujuan penggunaan yang tidak jelas dapat menyulitkan proses verifikasi.

Menganggap Pengecualian Berlaku Selamanya

Pengecualian tertentu dapat berkaitan dengan transaksi, jumlah, tujuan, atau kondisi tertentu. Karena itu, jangan menganggap persetujuan sebelumnya otomatis berlaku untuk impor berikutnya.

Tips Agar Pengurusan Perkecualian SNI Lebih Lancar

Beberapa langkah berikut dapat membantu mempersiapkan pengajuan:

Pertama, identifikasi produk secara detail sebelum melakukan impor.

Kedua, pastikan HS Code dan spesifikasi barang sudah sesuai.

Ketiga, cek regulasi SNI wajib yang berlaku pada produk tersebut.

Keempat, cari tahu apakah regulasi menyediakan mekanisme pengecualian.

Kelima, siapkan dokumen pendukung sejak awal.

Keenam, jelaskan tujuan penggunaan barang secara spesifik.

Ketujuh, pastikan data antara dokumen impor dan dokumen pengajuan konsisten.

Kedelapan, periksa apakah terdapat persyaratan dari kementerian atau lembaga teknis lain.

Dengan langkah tersebut, proses pengajuan dapat di persiapkan secara lebih sistematis.

Apakah Perkecualian SNI Bisa Di urus Menggunakan Jasa?

Bisa saja, terutama apabila importir belum terbiasa memahami regulasi teknis dan prosedur administrasi.

Jasa pengurusan dapat membantu dalam beberapa aktivitas, seperti:

  1. pemeriksaan awal dokumen;
  2. identifikasi kebutuhan perizinan;
  3. pengecekan regulasi;
  4. persiapan dokumen;
  5. penyusunan dokumen permohonan;
  6. pendampingan proses pengajuan;
  7. komunikasi administratif; dan
  8. pemantauan proses.

Namun, penggunaan jasa tidak berarti persetujuan pasti di berikan. Keputusan tetap bergantung pada ketentuan dan hasil pemeriksaan instansi yang berwenang.

Karena itu, sebelum menggunakan jasa, sebaiknya pastikan penyedia layanan dapat menjelaskan dasar hukum dan prosedur yang di gunakan.

Cara Memilih Jasa Pengurusan Perkecualian SNI

Jika membutuhkan bantuan profesional, terdapat beberapa hal yang dapat di periksa.

1. Memahami Regulasi Produk

Pilih penyedia jasa yang memahami bahwa persyaratan SNI berbeda berdasarkan produk dan regulasi teknis.

2. Transparan Mengenai Biaya

Biaya sebaiknya di jelaskan sejak awal, termasuk biaya jasa dan biaya resmi pemerintah apabila ada.

3. Tidak Menjanjikan Persetujuan Pasti

Penyedia jasa yang profesional seharusnya menjelaskan kemungkinan proses berdasarkan dokumen dan regulasi, bukan memberikan jaminan hasil yang tidak berada dalam kewenangannya.

4. Memiliki Proses Administrasi yang Jelas

Pastikan terdapat penjelasan mengenai dokumen, tahapan, estimasi proses, dan tindak lanjut apabila terdapat permintaan perbaikan.

Checklist Dokumen Perkecualian SNI

Sebelum memulai pengajuan, importir dapat menggunakan checklist berikut:

  1. NIB
  2. Data perusahaan
  3. Data importir
  4. Invoice
  5. Packing list
  6. Bill of Lading/Air Waybill
  7. HS Code
  8. Nama dan spesifikasi produk
  9. Katalog atau brosur
  10. Foto produk
  11. Surat permohonan
  12. Surat pernyataan tujuan penggunaan
  13. Dokumen penelitian/pengujian jika diperlukan
  14. Dokumen pameran jika relevan
  15. Dokumen pendukung dari instansi terkait
  16. Dokumen lain sesuai regulasi produk

Checklist tersebut bersifat umum. Dokumen final harus di sesuaikan dengan jenis produk dan ketentuan yang berlaku.

Perkecualian SNI merupakan mekanisme yang perlu di pahami oleh importir dan pelaku usaha ketika menghadapi produk yang termasuk dalam ruang lingkup SNI wajib tetapi memiliki kondisi atau tujuan penggunaan tertentu yang memungkinkan di berikan perlakuan khusus.

Namun, pengecualian tidak berlaku otomatis. Penentuan statusnya harus dilakukan dengan melihat jenis produk, HS Code, spesifikasi, tujuan penggunaan, regulasi teknis, serta dokumen pendukung.

Karena itu, langkah pertama yang sebaiknya dilakukan adalah memeriksa apakah produk benar-benar termasuk SNI wajib dan kemudian mengecek apakah regulasi terkait menyediakan mekanisme pengecualian.

Setelah dasar pengajuan di ketahui, dokumen dapat di siapkan dan permohonan di ajukan melalui mekanisme yang di tetapkan oleh instansi berwenang. Selain itu, penting untuk memahami bahwa pengecualian SNI tidak selalu berarti barang bebas dari seluruh kewajiban impor lainnya.

Dengan persiapan dokumen yang lengkap, informasi produk yang konsisten, serta pemahaman terhadap regulasi terbaru, proses pengurusan perkecualian SNI dapat dilakukan secara lebih terstruktur dan mengurangi risiko kendala administratif.

Konsultasikan SNI Sekarang

Isma