Apa Itu Pengecualian SNI? Pengertian dan Ketentuan

Isma

Updated on:

SNI
Apa Itu Pengecualian SNI Pengertian dan Ketentuan yang Perlu Diketahui
Direktur Utama Jangkar Groups

Pengecualian SNI menjadi salah satu hal yang perlu di pahami oleh importir, produsen, distributor, maupun perusahaan yang memasukkan produk tertentu ke Indonesia. Pasalnya, tidak semua barang yang berkaitan dengan standar wajib harus di perlakukan dengan cara yang sama. Dalam kondisi tertentu, sebuah produk dapat memperoleh pengecualian dari kewajiban pemenuhan SNI sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Pemahaman mengenai pengecualian SNI penting terutama bagi perusahaan yang melakukan kegiatan impor. Sebelum barang di kirim dari negara asal, importir perlu mengetahui apakah produk yang akan di masukkan ke Indonesia termasuk barang yang wajib memenuhi SNI, tidak termasuk SNI wajib, atau dapat memperoleh pengecualian berdasarkan tujuan penggunaan tertentu.

Kesalahan dalam menentukan status produk dapat menyebabkan proses impor mengalami hambatan. Oleh karena itu, pengecekan regulasi sebaiknya dilakukan sebelum proses pengiriman barang di mulai.

Artikel ini membahas apa itu pengecualian SNI, alasan adanya pengecualian, siapa yang dapat mengajukan, jenis kondisi yang dapat memperoleh perlakuan khusus, dokumen yang biasanya di perlukan, hingga hal-hal yang perlu di perhatikan oleh importir.

Baca Juga : Perkecualian SNI Pengertian, Dasar Hukum dan Syarat

Apa Itu Pengecualian SNI?

Pengecualian SNI adalah kondisi ketika suatu produk yang berada dalam ruang lingkup penerapan standar tertentu dapat memperoleh pengecualian atau perlakuan khusus dari kewajiban pemenuhan SNI berdasarkan ketentuan peraturan yang berlaku.

SNI atau Standar Nasional Indonesia merupakan standar yang di tetapkan oleh Badan Standardisasi Nasional. Penerapan SNI dapat bersifat sukarela maupun wajib.

Apabila sebuah produk termasuk dalam kategori SNI wajib, pelaku usaha harus memenuhi persyaratan yang telah di tetapkan. Namun, regulasi tertentu dapat memberikan pengecualian untuk kondisi khusus.

Dengan demikian, pengecualian SNI bukan berarti produk tersebut secara otomatis bebas dari seluruh persyaratan. Pengecualian hanya dapat di berikan apabila kondisi barang dan tujuan penggunaannya sesuai dengan ketentuan yang menjadi dasar pengecualian.

Baca Juga : Produk Apa Saja yang Dapat Dikecualikan dari SNI?

Apa yang Dimaksud dengan Pengecualian SNI

Mengapa Ada Pengecualian SNI?

Pemberlakuan SNI bertujuan untuk memastikan produk yang beredar memenuhi persyaratan tertentu terkait mutu, keamanan, keselamatan, kesehatan, dan perlindungan lingkungan sesuai ruang lingkup regulasinya.

Akan tetapi, terdapat barang yang tidak di tujukan untuk konsumsi atau perdagangan umum.

Sebagai contoh, suatu perusahaan dapat memasukkan barang untuk kebutuhan penelitian, pengujian, pengembangan produk, atau keperluan khusus lainnya. Dalam kondisi tersebut, barang tersebut memiliki tujuan yang berbeda dengan produk yang di produksi atau di impor untuk di jual kepada masyarakat.

Oleh karena itu, beberapa regulasi menyediakan mekanisme pengecualian atau perlakuan khusus.

Pengecualian tersebut bukan di maksudkan untuk menghilangkan pengawasan terhadap barang. Sebaliknya, mekanisme ini memungkinkan pemerintah menerapkan persyaratan secara proporsional sesuai dengan tujuan pemasukan dan penggunaan produk.

Baca Juga : Syarat Pengecualian SNI: Dokumen dan Ketentuan Pengajuannya

Apakah Semua Barang Bisa Mendapat Pengecualian SNI?

Tidak semua barang dapat memperoleh pengecualian.

Hal ini merupakan salah satu prinsip penting yang perlu di pahami oleh importir. Produk yang termasuk SNI wajib tetap harus memenuhi ketentuan yang berlaku, kecuali terdapat dasar regulasi yang secara khusus memungkinkan pengecualian.

Oleh sebab itu, pengajuan tidak cukup hanya dengan menyatakan bahwa barang merupakan sampel atau di gunakan untuk kepentingan perusahaan.

Pemohon perlu membuktikan bahwa barang tersebut memenuhi kriteria pengecualian berdasarkan regulasi yang relevan.

Beberapa faktor yang dapat menjadi perhatian antara lain:

  1. jenis produk;
  2. spesifikasi barang;
  3. HS Code;
  4. jumlah barang;
  5. negara asal;
  6. produsen;
  7. importir;
  8. tujuan penggunaan;
  9. apakah barang akan dijual;
  10. dan ketentuan teknis yang mengatur produk tersebut.

Baca Juga : Cara Mengurus Pengecualian SNI: Prosedur Pengajuan dari Awal sampai Selesai

Pengecualian SNI dan SNI Wajib

Pengecualian SNI paling sering menjadi perhatian ketika suatu produk berada dalam ruang lingkup SNI wajib.

SNI wajib berarti penerapan standar tersebut di tetapkan melalui peraturan yang mengikat. Produk yang masuk dalam kategori tersebut harus memenuhi persyaratan sebelum dapat di produksi, di impor, atau di edarkan sesuai ketentuan.

Sementara itu, jika suatu produk tidak termasuk SNI wajib, belum tentu di perlukan proses pengecualian.

Dengan kata lain, terdapat perbedaan antara:

  1. produk yang tidak termasuk SNI wajib;
  2. produk yang termasuk SNI wajib dan harus memenuhi persyaratan;
  3. produk yang termasuk ruang lingkup SNI wajib tetapi memenuhi kriteria pengecualian; dan
  4. produk yang memperoleh perlakuan khusus berdasarkan regulasi tertentu.

Karena itu, pemeriksaan status SNI harus dilakukan terlebih dahulu sebelum menyimpulkan bahwa suatu barang memerlukan pengecualian.

Baca Juga : Pengecualian SNI untuk Barang Impor: Syarat, Prosedur, dan Dokumen

Dasar Hukum Pengecualian SNI

Penyelenggaraan standardisasi nasional di Indonesia memiliki dasar hukum utama, salah satunya adalah Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2014 tentang Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian.

Namun, ketentuan mengenai pengecualian tidak selalu hanya mengacu pada satu peraturan.

Untuk produk tertentu, terdapat peraturan teknis yang di terbitkan oleh kementerian atau lembaga terkait. Regulasi tersebut dapat menentukan:

  1. jenis produk yang wajib memenuhi SNI;
  2. kode HS;
  3. persyaratan sertifikasi;
  4. tata cara pemasukan;
  5. kewajiban pelaku usaha;
  6. serta kondisi tertentu yang mendapatkan pengecualian.

Oleh karena itu, dasar hukum perlu di periksa berdasarkan jenis barang dan regulasi yang sedang berlaku.

Peraturan dapat mengalami perubahan, sehingga ketentuan yang pernah berlaku pada suatu periode belum tentu sama dengan ketentuan yang di gunakan untuk pengajuan berikutnya.

Baca Juga : Pengecualian SNI untuk Penelitian dan Pengembangan: Ketentuan dan Cara Pengajuan

Siapa yang Membutuhkan Pengecualian SNI?

Pengecualian SNI dapat relevan bagi berbagai pihak, terutama pihak yang melakukan pemasukan atau penggunaan barang tertentu.

Beberapa di antaranya adalah:

Importir

Importir perlu mengetahui status SNI barang yang akan di masukkan ke Indonesia. Jika terdapat dasar pengecualian, dokumen tersebut perlu di proses sesuai ketentuan sebelum barang masuk.

Baca Juga : Pengecualian SNI untuk Sampel Produk: Ketentuan dan Dokumen yang Dibutuhkan

Perusahaan Manufaktur

Perusahaan manufaktur dapat membutuhkan bahan, komponen, mesin, atau produk tertentu untuk kegiatan produksi dan pengembangan.

Lembaga Penelitian

Institusi penelitian dapat memasukkan produk atau peralatan tertentu untuk kegiatan penelitian maupun pengujian.

Perusahaan Pengujian

Laboratorium atau perusahaan pengujian dapat memerlukan barang yang di gunakan sebagai bagian dari kegiatan pengujian.

Penyelenggara Pameran

Produk yang di bawa ke Indonesia untuk kegiatan pameran dapat memiliki perlakuan tertentu sesuai regulasi yang berlaku.

Namun, kategori tersebut tidak otomatis mendapatkan pengecualian. Setiap kasus tetap harus di periksa berdasarkan ketentuan yang mengatur produk tersebut.

Baca Juga : Perbedaan Pengecualian SNI dan Sertifikasi SNI

Kondisi Barang yang Dapat Memerlukan Pengecualian

Tidak ada satu daftar universal yang berlaku untuk semua produk. Namun, beberapa tujuan penggunaan barang dapat menjadi dasar perlakuan khusus apabila memang di sebutkan dalam regulasi.

Barang untuk Penelitian

Barang yang di gunakan dalam kegiatan penelitian dapat memiliki mekanisme khusus.

Pemohon biasanya perlu menjelaskan jenis penelitian, tujuan penggunaan barang, serta pihak yang menggunakan produk tersebut.

Barang untuk Pengujian

Produk tertentu dapat di gunakan untuk pengujian kualitas, fungsi, performa, atau karakteristik teknis.

Dokumen yang menjelaskan tujuan pengujian dapat menjadi bagian dari dokumen pendukung.

Baca Juga : Berapa Lama Proses Pengecualian SNI?

Barang untuk Pengembangan Produk

Perusahaan yang sedang melakukan pengembangan produk dapat membutuhkan barang atau komponen tertentu yang belum di tujukan untuk di pasarkan.

Jika regulasi memberikan fasilitas untuk kondisi tersebut, pemohon harus memenuhi persyaratan yang di tentukan.

Sampel Produk

Sampel merupakan salah satu kondisi yang perlu di periksa secara khusus.

Status sampel tidak otomatis membuat produk bebas dari kewajiban SNI. Jumlah, tujuan pemasukan, jenis barang, serta ketentuan produk harus diperiksa terlebih dahulu.

Barang untuk Pameran

Produk yang di masukkan sementara untuk kegiatan pameran dapat memiliki ketentuan berbeda dengan barang yang di masukkan untuk tujuan perdagangan.

Dokumen mengenai kegiatan pameran dapat menjadi salah satu dokumen pendukung apabila di persyaratkan.

Baca Juga : Jasa Pengurusan Pengecualian SNI untuk Barang Impor dan Kebutuhan Khusus

Apa Saja Syarat Pengecualian SNI?

Persyaratan dapat berbeda berdasarkan jenis produk dan dasar hukum yang di gunakan.

Namun, secara umum, beberapa dokumen yang mungkin di perlukan meliputi:

  1. NIB;
  2. identitas perusahaan;
  3. data importir;
  4. invoice;
  5. packing list;
  6. dokumen pengangkutan;
  7. HS Code;
  8. spesifikasi produk;
  9. katalog atau brosur;
  10. foto barang;
  11. surat permohonan;
  12. surat pernyataan tujuan penggunaan;
  13. dokumen penelitian atau pengujian;
  14. dokumen pameran jika relevan; dan
  15. dokumen pendukung lain sesuai regulasi.

Tidak semua dokumen tersebut otomatis di wajibkan dalam setiap pengajuan.

Karena itu, pemohon perlu membuat daftar persyaratan berdasarkan regulasi produk yang akan di urus.

Pentingnya Menentukan HS Code

HS Code merupakan salah satu informasi yang penting dalam proses pengecekan persyaratan impor.

Kesalahan dalam menentukan HS Code dapat menyebabkan kesalahan dalam mengidentifikasi ketentuan yang berlaku.

Oleh karena itu, importir sebaiknya tidak hanya menggunakan nama barang sebagai dasar pengecekan.

Produk dengan nama yang hampir sama dapat mempunyai klasifikasi berbeda berdasarkan fungsi, material, spesifikasi, dan karakteristik teknisnya.

Selain itu, HS Code juga perlu di cocokkan dengan deskripsi barang yang tercantum dalam invoice, packing list, katalog, dan dokumen lainnya.

Tujuan Penggunaan Barang Harus Jelas

Salah satu aspek penting dalam pengecualian SNI adalah tujuan penggunaan.

Pemohon perlu dapat menjelaskan mengapa barang tersebut di masukkan ke Indonesia dan bagaimana barang tersebut akan di gunakan.

Contohnya, terdapat perbedaan antara barang yang di gunakan untuk:

  • penelitian;
  • pengujian;
  • pengembangan;
  • produksi internal;
  • pameran;
  • sampel;
  • atau perdagangan.

Perbedaan tujuan tersebut dapat memengaruhi ketentuan yang berlaku.

Karena itu, surat permohonan dan dokumen pendukung sebaiknya memberikan penjelasan yang jelas dan konsisten.

Apakah Barang yang Di kecualikan Boleh Dijual?

Hal ini bergantung pada dasar pengecualian dan ketentuan yang di berikan.

Jika suatu pengecualian di berikan karena barang hanya di gunakan untuk penelitian atau pengujian, maka barang tersebut tidak dapat serta-merta di anggap boleh di edarkan secara komersial.

Begitu pula barang yang di masukkan sebagai sampel atau untuk pameran harus mengikuti ketentuan penggunaan yang menjadi dasar perlakuan khusus tersebut.

Dengan demikian, pengecualian harus di pahami sebagai perlakuan berdasarkan kondisi tertentu, bukan sebagai izin umum untuk memperdagangkan produk tanpa memenuhi ketentuan.

Perbedaan Pengecualian SNI dan Sertifikasi SNI

Pengecualian SNI dan sertifikasi SNI merupakan dua hal yang berbeda.

Sertifikasi SNI pada dasarnya berkaitan dengan proses pembuktian bahwa produk memenuhi persyaratan standar yang di berlakukan.

Sementara itu, pengecualian SNI berkaitan dengan kondisi tertentu yang membuat suatu barang dapat memperoleh pengecualian dari kewajiban pemenuhan standar tersebut berdasarkan regulasi.

Oleh sebab itu, perusahaan perlu menentukan terlebih dahulu jalur yang tepat.

Jika barang di tujukan untuk perdagangan umum dan termasuk produk SNI wajib, proses sertifikasi dapat menjadi bagian dari kewajiban.

Sebaliknya, apabila barang memenuhi kriteria tertentu yang secara khusus di kecualikan oleh regulasi, mekanisme pengecualian dapat menjadi pilihan yang relevan.

Bagaimana Cara Mengurus Pengecualian SNI?

Secara umum, proses pengurusan dapat di mulai dengan beberapa langkah.

1. Identifikasi Barang

Catat nama produk, merek, model, spesifikasi, jumlah, produsen, negara asal, dan tujuan penggunaan.

2. Tentukan HS Code

Pastikan klasifikasi barang telah di periksa dengan benar.

3. Cek SNI Wajib

Periksa apakah produk termasuk dalam daftar atau ruang lingkup pemberlakuan SNI wajib.

4. Periksa Dasar Pengecualian

Jika produk termasuk SNI wajib, periksa apakah regulasi menyediakan kondisi pengecualian yang sesuai dengan tujuan penggunaan barang.

5. Siapkan Dokumen

Kumpulkan dokumen perusahaan, dokumen impor, spesifikasi barang, serta dokumen yang membuktikan tujuan penggunaan.

6. Ajukan Permohonan

Permohonan di sampaikan melalui mekanisme yang di tentukan oleh instansi berwenang.

7. Tunggu Proses Verifikasi

Dokumen dapat di periksa untuk memastikan kesesuaiannya dengan persyaratan.

Apabila terdapat kekurangan atau informasi yang belum jelas, pemohon dapat di minta memberikan klarifikasi.

8. Gunakan Persetujuan Sesuai Ketentuan

Jika permohonan di setujui, dokumen atau persetujuan yang di terbitkan harus di gunakan sesuai tujuan dan batasan yang di tentukan.

Berapa Lama Pengurusan Pengecualian SNI?

Waktu pengurusan tidak selalu sama.

Lama proses dapat di pengaruhi oleh jenis produk, instansi yang menangani, kelengkapan dokumen, sistem pengajuan, serta kebutuhan verifikasi tambahan.

Oleh karena itu, tidak tepat menetapkan satu estimasi waktu yang berlaku untuk seluruh jenis produk.

Importir sebaiknya melakukan pengecekan jauh sebelum jadwal pengiriman barang.

Langkah ini penting karena apabila dokumen belum lengkap ketika barang tiba, proses pengeluaran barang dapat mengalami kendala.

Apakah Pengecualian SNI Berlaku untuk Semua Impor?

Belum tentu.

Pengecualian dapat di berikan berdasarkan kondisi tertentu, sehingga importir perlu memeriksa apakah persetujuan tersebut berlaku untuk transaksi, produk, jumlah, atau tujuan penggunaan tertentu.

Jangan menganggap bahwa persetujuan untuk satu jenis barang otomatis dapat di gunakan untuk pengiriman berikutnya.

Setiap pengiriman tetap perlu di periksa berdasarkan regulasi yang berlaku pada saat kegiatan impor dilakukan.

Risiko Jika Salah Memahami Pengecualian SNI

Kesalahan dalam memahami ketentuan dapat menyebabkan berbagai kendala.

Barang Mengalami Hambatan

Jika dokumen SNI atau dokumen pengecualian yang di perlukan belum tersedia, barang dapat mengalami hambatan dalam proses impor.

Biaya Logistik Bertambah

Keterlambatan dapat menyebabkan biaya tambahan yang berkaitan dengan penyimpanan, handling, atau proses logistik lainnya.

Dokumen Harus Di perbaiki

Jika terdapat ketidaksesuaian data, pemohon dapat di minta melakukan perbaikan atau memberikan penjelasan tambahan.

Risiko Ketidakpatuhan

Jika barang seharusnya memenuhi SNI wajib tetapi tidak memenuhi persyaratan tersebut tanpa dasar pengecualian yang sah, perusahaan dapat menghadapi masalah kepatuhan.

Kesalahan yang Sering Dilakukan Importir

Beberapa kesalahan yang perlu di hindari antara lain:

Pertama, menganggap semua sampel bebas SNI. Status sampel tidak otomatis berarti barang terbebas dari seluruh persyaratan.

Kedua, menggunakan HS Code yang tidak sesuai. Kesalahan klasifikasi dapat memengaruhi pemeriksaan ketentuan impor.

Ketiga, tidak memeriksa regulasi terbaru. Ketentuan teknis dapat berubah sehingga informasi lama tidak selalu dapat di gunakan.

Keempat, dokumen tidak konsisten. Nama dan spesifikasi barang sebaiknya sesuai antara invoice, packing list, katalog, dan dokumen pengajuan.

Kelima, tujuan penggunaan tidak jelas. Pemohon perlu menjelaskan alasan barang di masukkan dan bagaimana barang tersebut akan di gunakan.

Tips Sebelum Mengajukan Pengecualian SNI

Agar proses persiapan lebih terarah, lakukan beberapa langkah berikut:

  1. Identifikasi produk secara lengkap.
  2. Periksa HS Code.
  3. Cari regulasi SNI wajib yang relevan.
  4. Pastikan apakah terdapat ketentuan pengecualian.
  5. Tentukan tujuan penggunaan barang.
  6. Siapkan dokumen pendukung.
  7. Pastikan informasi antar dokumen konsisten.
  8. Periksa apakah ada persyaratan dari instansi teknis lainnya.
  9. Ajukan permohonan sebelum barang di kirim jika memungkinkan.
  10. Simpan seluruh dokumen dan persetujuan sebagai arsip perusahaan.

Apakah Bisa Menggunakan Jasa Pengurusan?

Bagi perusahaan yang belum terbiasa menangani regulasi SNI, penggunaan jasa pengurusan dapat membantu dalam persiapan administrasi.

Penyedia jasa dapat membantu melakukan pemeriksaan dokumen, mengidentifikasi kebutuhan perizinan, mempersiapkan dokumen pengajuan, serta membantu memantau proses administratif.

Namun, penting untuk memilih penyedia jasa yang memahami regulasi produk secara spesifik.

Selain itu, hindari penyedia jasa yang memberikan janji bahwa semua produk pasti mendapatkan pengecualian. Keputusan akhir tetap bergantung pada regulasi dan hasil pemeriksaan instansi yang berwenang.

Pengecualian SNI adalah perlakuan khusus terhadap produk tertentu yang dapat di berikan berdasarkan kondisi dan ketentuan yang ditetapkan dalam regulasi. Mekanisme ini terutama penting untuk barang yang berada dalam ruang lingkup SNI wajib tetapi memiliki tujuan penggunaan tertentu, seperti penelitian, pengujian, pengembangan, sampel, atau keperluan khusus lainnya apabila memang diatur.

Pengecualian SNI tidak berarti semua produk otomatis bebas dari kewajiban standar. Importir tetap perlu memastikan status barang, HS Code, spesifikasi, tujuan penggunaan, serta dasar hukum yang berlaku.

Sebelum melakukan pengajuan, sebaiknya periksa terlebih dahulu apakah produk memang termasuk SNI wajib dan apakah terdapat dasar pengecualian yang sesuai. Setelah itu, siapkan dokumen secara lengkap dan konsisten.

Dengan memahami ketentuan tersebut sejak awal, perusahaan dapat mempersiapkan proses impor dengan lebih baik serta mengurangi risiko hambatan administratif akibat ketidaksesuaian persyaratan SNI.

Konsultasikan SNI Sekarang

Isma