Basic Safety Training atau BST menjadi salah satu pelatihan penting bagi seseorang yang ingin membangun karier sebagai pelaut. Pelatihan ini membekali calon pelaut maupun awak kapal dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang berkaitan langsung dengan keselamatan selama menjalankan tugas di kapal.
Selain itu, BST tidak hanya berisi materi teori. Peserta juga memperoleh latihan dan simulasi yang membantu mereka menghadapi keadaan darurat secara cepat, tepat, dan terkoordinasi. Karena itu, pemahaman terhadap materi Basic Safety Training perlu menjadi perhatian bagi setiap pelaut.
Secara internasional, ketentuan basic safety training mengacu pada STCW. Regulation VI/1 dalam STCW menetapkan standar minimum untuk familiarisasi keselamatan dan basic safety training bagi pelaut. Materinya mencakup Personal Survival Techniques, Fire Prevention and Fire Fighting, Elementary First Aid, serta Personal Safety and Social Responsibilities.
Menariknya, perkembangan standar keselamatan maritim juga terus berjalan. Mulai 1 Januari 2026, pembaruan kompetensi pada Personal Safety and Social Responsibilities turut memperhatikan pencegahan dan respons terhadap kekerasan, pelecehan, bullying, serta sexual assault sesuai perkembangan STCW.
Lalu, apa saja materi Basic Safety Training yang dipelajari pelaut? Berikut pembahasan lengkapnya.
Baca juga : Sertifikat Basic Safety Training (BST) Panduan Lengkap
Apa Itu Pengertian Basic Safety Training atau BST?
Basic Safety Training merupakan pelatihan keselamatan dasar yang membentuk kemampuan seorang pelaut untuk menghadapi situasi normal maupun keadaan darurat di kapal.
Dengan mengikuti BST, pelaut tidak hanya memahami teori keselamatan. Sebaliknya, peserta juga belajar mengambil tindakan ketika menghadapi kebakaran, kecelakaan, orang jatuh ke laut, keadaan abandon ship, cedera, hingga kondisi darurat lainnya.
International Maritime Organization atau IMO menempatkan Personal Survival Techniques sebagai salah satu kompetensi utama basic training. Model Course 1.19 dari IMO menjelaskan bahwa pelatihan tersebut bertujuan memenuhi standar minimum kompetensi keselamatan dan personal survival sesuai Table A-VI/1-1 STCW Code.
Karena itu, BST memiliki peran penting dalam membentuk kesiapan seorang pelaut sebelum menjalankan tugas di atas kapal.
Baca juga : Apa Itu Basic Safety Training (BST) untuk Pelaut?
1. Personal Survival Techniques
Materi pertama dalam BST berkaitan dengan Personal Survival Techniques atau teknik penyelamatan diri.
Materi ini mengajarkan cara seorang pelaut mempertahankan keselamatan ketika kapal mengalami keadaan darurat. Sebagai contoh, kapal dapat menghadapi kebakaran besar, tabrakan, kebocoran, kandas, cuaca ekstrem, atau kondisi lain yang mengharuskan kru meninggalkan kapal.
Dalam materi ini, peserta biasanya mempelajari berbagai hal seperti:
- Prosedur keadaan darurat di kapal.
- Penggunaan life jacket.
- Penggunaan immersion suit sesuai kebutuhan.
- Cara menaiki survival craft.
- Teknik bertahan hidup di laut.
- Penggunaan perlengkapan keselamatan.
- Tindakan ketika menerima perintah abandon ship.
- Cara menjaga keselamatan kelompok selama keadaan darurat.
- Pengetahuan dasar tentang survival craft dan perlengkapan pendukungnya.
Selain itu, peserta juga belajar bahwa keputusan dalam keadaan darurat harus mengikuti prosedur dan instruksi muster list. Oleh sebab itu, kemampuan membaca tanda alarm, mengetahui muster station, serta memahami tugas masing-masing menjadi bagian penting dalam keselamatan.
IMO juga menempatkan Personal Survival Techniques sebagai kompetensi utama dalam basic training bagi calon pelaut.
Baca juga : Syarat Membuat Sertifikat BST Pelaut
2. Fire Prevention and Fire Fighting
Selanjutnya, materi BST membahas pencegahan dan pemadaman kebakaran.
Kebakaran menjadi salah satu risiko serius di kapal karena ruang kapal memiliki banyak sumber bahan bakar, instalasi listrik, mesin, bahan mudah terbakar, serta ruang dengan akses terbatas. Oleh karena itu, pelaut harus memahami cara mencegah kebakaran sekaligus mengetahui tindakan awal ketika api muncul.
Dalam materi ini, peserta mempelajari:
- Dasar-dasar terjadinya kebakaran.
- Unsur pembentuk api.
- Klasifikasi kebakaran.
- Pencegahan kebakaran.
- Jenis alat pemadam api.
- Cara memilih alat pemadam yang sesuai.
- Teknik penggunaan alat pemadam.
- Prosedur alarm kebakaran.
- Evakuasi ketika terjadi kebakaran.
- Kerja sama tim saat menghadapi kebakaran.
Kemudian, latihan praktik menjadi bagian penting. Peserta tidak cukup hanya memahami teori. Mereka perlu mengenali perlengkapan pemadam dan memahami langkah penggunaannya secara benar.
IMO juga menyediakan Model Course khusus Fire Prevention and Fire Fighting sebagai bagian dari materi keselamatan maritim.
Dengan demikian, pelaut dapat merespons kebakaran secara lebih tenang dan terarah.
Baca juga : Cara Mengurus Sertifikat Basic Safety Training
3. Elementary First Aid
Materi berikutnya adalah Elementary First Aid atau pertolongan pertama dasar.
Kondisi darurat di kapal tidak selalu berkaitan dengan kebakaran atau kecelakaan besar. Cedera ringan maupun berat juga dapat terjadi ketika kru bekerja menggunakan mesin, peralatan, tangga, alat berat, atau perlengkapan kapal.
Karena itu, pelaut perlu memahami tindakan pertolongan pertama sebelum tenaga medis memperoleh kesempatan untuk memberikan penanganan lebih lanjut.
Materi Elementary First Aid antara lain mencakup:
- Prinsip dasar pertolongan pertama.
- Pemeriksaan kondisi korban.
- Penanganan luka.
- Penanganan perdarahan.
- Penanganan luka bakar.
- Penanganan patah tulang.
- Penanganan kondisi syok.
- Bantuan terhadap korban yang mengalami gangguan pernapasan.
- Penanganan korban kecelakaan.
- Teknik dasar pemindahan korban.
Selain itu, peserta belajar menjaga keselamatan dirinya sendiri ketika memberikan pertolongan. Prinsip tersebut penting karena penolong juga harus menghindari risiko tambahan.
IMO mencantumkan Elementary First Aid sebagai salah satu komponen utama basic training dalam kerangka STCW.
Dengan keterampilan tersebut, pelaut memiliki bekal awal untuk membantu rekan kerja ketika kecelakaan terjadi.
Baca juga : Berapa Lama Pelatihan Basic Safety Training (BST)?
4. Personal Safety and Social Responsibilities
Materi keempat membahas Personal Safety and Social Responsibilities atau keselamatan pribadi dan tanggung jawab sosial.
Materi ini tidak hanya membicarakan alat keselamatan. Sebaliknya, pembahasannya juga mencakup perilaku kerja, komunikasi, kerja sama, kedisiplinan, serta cara seorang pelaut menjaga keselamatan lingkungan kerja.
Peserta biasanya mempelajari:
- Prosedur keadaan darurat.
- Sinyal alarm kapal.
- Muster station.
- Jalur evakuasi.
- Penggunaan perlengkapan keselamatan.
- Komunikasi dalam keadaan darurat.
- Pencegahan kecelakaan kerja.
- Pencegahan pencemaran laut.
- Kerja sama antarkru.
- Disiplin kerja di kapal.
- Tanggung jawab setiap anggota kru.
Selain itu, pembaruan standar STCW membawa perhatian lebih besar terhadap pencegahan dan respons terhadap kekerasan serta pelecehan di lingkungan kerja. IMO mencantumkan kompetensi baru terkait violence and harassment, termasuk sexual harassment, bullying, dan sexual assault, dalam materi Personal Safety and Social Responsibilities.
Artinya, keselamatan pelaut tidak hanya berkaitan dengan alat pemadam, life jacket, atau sekoci. Lingkungan kerja yang aman juga membutuhkan perilaku profesional, komunikasi yang baik, serta rasa saling menghormati.
Baca juga : Biaya Basic Safety Training (BST) Pelaut
5. Prosedur Keadaan Darurat
Selain empat kelompok materi utama tersebut, peserta BST perlu memahami bagaimana prosedur keadaan darurat berjalan di atas kapal.
Setiap kapal memiliki prosedur dan pembagian tugas yang harus kru pahami. Karena itu, pelaut perlu mengetahui arti alarm, lokasi muster station, jalur evakuasi, serta tugasnya ketika kondisi darurat muncul.
Contohnya, ketika alarm kebakaran berbunyi, seorang kru tidak boleh bertindak secara sembarangan. Ia perlu mengikuti tugas yang tercantum dalam muster list dan berkoordinasi dengan anggota tim lainnya.
Table A-VI/1-4 STCW juga mencakup pengetahuan mengenai contingency plans, emergency signals, muster stations, personal safety equipment, escape routes, serta tindakan ketika menghadapi berbagai keadaan darurat.
Oleh sebab itu, latihan dan drill memiliki peran penting dalam pembentukan respons yang cepat.
Baca juga : Masa Berlaku Sertifikat BST dan Cara Memperpanjangnya
6. Penggunaan Peralatan Keselamatan
BST juga memperkenalkan berbagai perlengkapan keselamatan yang dapat membantu pelaut menghadapi keadaan darurat.
Peserta perlu mengenali fungsi peralatan, cara penggunaannya, serta kondisi yang membutuhkan peralatan tersebut.
Beberapa perlengkapan yang umum berkaitan dengan materi BST antara lain:
- Life jacket.
- Immersion suit.
- Lifebuoy.
- Portable fire extinguisher.
- Fire hose.
- Breathing apparatus sesuai konteks latihan.
- Survival craft.
- Emergency equipment.
- Perlengkapan pertolongan pertama.
Namun, pemahaman terhadap alat saja belum cukup. Pelaut juga perlu mengetahui kapan dan bagaimana menggunakan perlengkapan tersebut berdasarkan situasi.
Karena itu, praktik menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran BST.
Baca juga : Cara Cek Sertifikat BST Pelaut Secara Online
7. Latihan Praktik dan Simulasi
Salah satu hal yang membuat BST berbeda dari pembelajaran teori biasa adalah adanya latihan praktik.
Pelaut perlu membangun muscle memory agar tindakan keselamatan dapat berlangsung secara lebih cepat ketika keadaan darurat benar-benar terjadi.
Dalam latihan, peserta dapat menghadapi simulasi seperti penggunaan perlengkapan keselamatan, latihan pemadaman api, prosedur survival, serta penanganan korban.
Kemudian, instruktur dapat mengevaluasi kemampuan peserta berdasarkan prosedur dan standar kompetensi yang berlaku.
Dengan latihan berulang, peserta akan lebih memahami bagaimana menerapkan teori dalam situasi nyata.
Baca juga : Perbedaan BST dengan Sertifikat Pelaut Lainnya
8. Pencegahan Kecelakaan Kerja
Keselamatan tidak hanya berbicara tentang tindakan setelah kecelakaan terjadi. Pencegahan juga menjadi bagian penting dalam pembentukan kompetensi pelaut.
Karena itu, peserta BST perlu memahami sumber bahaya yang dapat muncul selama bekerja di kapal.
Sebagai contoh, pelaut harus memperhatikan penggunaan alat kerja, kondisi lantai, tangga, ruang kerja, instalasi listrik, mesin, serta prosedur kerja.
Selain itu, komunikasi antarkru juga berperan besar. Instruksi yang jelas dapat membantu mengurangi kesalahan dan mencegah kecelakaan.
Dengan demikian, budaya keselamatan perlu menjadi kebiasaan, bukan sekadar materi ujian.
9. Keselamatan Lingkungan Laut
Materi BST juga berkaitan dengan kesadaran terhadap perlindungan lingkungan laut.
Pelaut perlu memahami bahwa aktivitas kapal dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan apabila kru tidak mengikuti prosedur keselamatan dan pencegahan pencemaran.
Karena itu, setiap pelaut perlu memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan kapal, mengikuti prosedur pengelolaan limbah, serta mencegah tindakan yang dapat mencemari laut.
Dengan pendekatan tersebut, keselamatan pelayaran tidak hanya melindungi manusia dan kapal, tetapi juga lingkungan laut.
Baca juga : Legalisir dan Apostille Sertifikat BST untuk Keperluan Luar Negeri
10. Pembaruan Materi BST pada Tahun 2026
Bagi pelaut yang mengikuti BST pada 2026, penting untuk memperhatikan perkembangan regulasi terbaru.
Direktorat Jenderal Perhubungan Laut menerbitkan surat terkait pelaksanaan ketentuan BST berdasarkan amandemen STCW dan IMO Resolution MSC.560(108). Dokumen tersebut merujuk antara lain pada Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Laut Nomor KP-DJPL 393 Tahun 2025 sebagai pedoman penyelenggaraan diklat BST.
Pembaruan tersebut terutama berkaitan dengan kompetensi Personal Safety and Social Responsibilities. IMO menjelaskan bahwa standar baru turut memasukkan kompetensi untuk mencegah dan merespons kekerasan serta pelecehan, termasuk bullying dan sexual assault.
Karena itu, pelaut sebaiknya tidak hanya mencari informasi berdasarkan materi BST lama. Sebaliknya, calon peserta perlu memastikan lembaga pelatihan menggunakan standar dan ketentuan terbaru.
Mengapa Pelaut Perlu Menguasai Materi BST?
Penguasaan materi BST memiliki manfaat langsung bagi keselamatan kerja.
Pertama, pelaut dapat mengenali potensi bahaya lebih cepat. Kedua, pelaut dapat mengambil tindakan awal ketika keadaan darurat muncul. Ketiga, pelaut dapat bekerja sama dengan kru lain berdasarkan prosedur yang telah dipelajari.
Selain itu, kemampuan keselamatan juga mendukung profesionalitas seorang pelaut. Perusahaan pelayaran membutuhkan kru yang tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga memahami prosedur keselamatan.
Bahkan, standar STCW menetapkan basic safety training sebagai bagian penting dari kompetensi keselamatan pelaut.
Karena itu, BST sebaiknya tidak dianggap hanya sebagai persyaratan administrasi untuk melengkapi dokumen pelaut. Lebih jauh lagi, BST merupakan bekal penting untuk menghadapi risiko pekerjaan di laut.
Tips Memilih Pelatihan BST untuk Pelaut
Sebelum mendaftar, calon peserta sebaiknya memperhatikan beberapa hal.
Pertama, pastikan lembaga memiliki kewenangan atau pengakuan sesuai ketentuan yang berlaku. Kedua, tanyakan materi pelatihan yang akan peserta ikuti. Ketiga, pastikan terdapat kegiatan praktik yang relevan.
Selanjutnya, perhatikan pula ketentuan sertifikat, jadwal, persyaratan peserta, serta prosedur administrasi.
Kemudian, tanyakan apakah program sudah mengikuti pembaruan standar yang berlaku pada 2026. Langkah ini penting karena standar keselamatan maritim dapat mengalami perubahan.
Dengan memilih pelatihan secara tepat, pelaut dapat memperoleh pembelajaran yang lebih relevan dan mendukung kebutuhan kariernya.
Materi Basic Safety Training atau BST
Materi Basic Safety Training atau BST yang pelaut pelajari mencakup empat kelompok utama, yaitu Personal Survival Techniques, Fire Prevention and Fire Fighting, Elementary First Aid, serta Personal Safety and Social Responsibilities.
Selain itu, peserta juga perlu memahami prosedur keadaan darurat, penggunaan perlengkapan keselamatan, pencegahan kecelakaan kerja, kerja sama antarkru, serta kepedulian terhadap lingkungan laut.
Terlebih lagi, perkembangan standar STCW membuat pelaut perlu memperhatikan pembaruan materi BST. Pada 2026, aspek Personal Safety and Social Responsibilities turut mencakup kompetensi mengenai pencegahan dan respons terhadap kekerasan serta pelecehan di lingkungan kerja.
Jadi, jika Anda merupakan calon pelaut, awak kapal, atau pelaut yang ingin memahami lebih lanjut tentang materi Basic Safety Training, persyaratan, proses mengikuti pelatihan, maupun kebutuhan dokumen BST, konsultasikan kebutuhan Anda terlebih dahulu agar langkah yang Anda ambil sesuai dengan kondisi dan tujuan pelayaran.
Konsultasikan Pengurusan Sertifikat BST Anda Sekarang