Kode HS Baut dan Sekrup untuk Keperluan Impor merupakan informasi penting bagi perusahaan manufaktur, distributor, importir, dan pelaku usaha yang mendatangkan komponen pengikat dari luar negeri. Kode HS membantu perusahaan mengidentifikasi klasifikasi barang, memperkirakan bea masuk, memeriksa ketentuan impor, serta menyiapkan dokumen kepabeanan secara tepat. Oleh karena itu, importir perlu menentukan kode HS berdasarkan karakteristik produk, bukan sekadar nama barang yang tercantum dalam penawaran pemasok.
Dalam praktiknya, baut dan sekrup tersedia dalam berbagai bahan, ukuran, bentuk, dan fungsi. Perbedaan tersebut dapat memengaruhi klasifikasi barang. Selain itu, kode HS yang kurang tepat dapat menimbulkan perbedaan perhitungan pungutan atau kendala ketika perusahaan memenuhi persyaratan impor. Dengan memahami dasar klasifikasi sejak awal, perusahaan dapat merencanakan proses impor secara lebih terarah dan mengurangi risiko administratif.
Baca Juga : Persetujuan Impor Baut dan Sekrup: Syarat, Prosedur & Dokumen
Apa Itu Kode HS dalam Kegiatan Impor?

HS merupakan singkatan dari Harmonized System, yaitu sistem klasifikasi barang internasional yang di kembangkan oleh World Customs Organization (WCO). Sistem ini membantu negara-negara mengelompokkan barang berdasarkan karakteristik dan jenisnya untuk kepentingan perdagangan, tarif, statistik, serta pengawasan ekspor dan impor.
Baca Juga : Apa Itu Persetujuan Impor Baut dan Sekrup? Panduan Lengkap
Di Indonesia, pemerintah menggunakan Buku Tarif Kepabeanan Indonesia (BTKI) sebagai acuan klasifikasi barang. BTKI memuat struktur kode, uraian barang, serta ketentuan yang membantu proses penentuan tarif dan pemenuhan kewajiban kepabeanan. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menyediakan informasi mengenai BTKI dan tarif melalui situs resminya.
Baca Juga : Syarat Persetujuan Impor Baut dan Sekrup di Indonesia
Secara umum, HS internasional menggunakan enam digit awal. Selanjutnya, sistem klasifikasi regional dan nasional menambahkan digit untuk memberikan rincian yang lebih spesifik. Karena itu, importir yang melakukan transaksi di Indonesia perlu memeriksa kode lengkap sesuai BTKI yang berlaku, bukan hanya mengandalkan enam digit dari pemasok luar negeri.
Selain itu, kode HS tidak hanya berkaitan dengan tarif bea masuk. Kode tersebut juga membantu perusahaan memeriksa ketentuan larangan dan pembatasan atau lartas, pajak dalam rangka impor, serta persyaratan perizinan lain yang mungkin berlaku.
Baca Juga : Dokumen yang Dibutuhkan untuk Persetujuan Impor Baut/Sekrup
Kode HS Baut dan Sekrup yang Perlu Di ketahui
Salah satu kelompok klasifikasi yang relevan untuk baut dan sekrup berbahan besi atau baja adalah pos HS 7318. Pos ini mencakup berbagai barang, seperti sekrup, baut, mur, sekrup kayu, kait sekrup, paku keling, pasak, cincin pipih, dan barang sejenis dari besi atau baja.
Baca Juga : Cara Mengurus Persetujuan Impor Baut dan Sekrup Secara Online
Meskipun demikian, angka 7318 merupakan pos klasifikasi, bukan kode lengkap yang otomatis cocok untuk semua baut dan sekrup. Subpos yang lebih terperinci dapat membedakan produk berdasarkan jenis dan karakteristiknya. Oleh sebab itu, importir tetap perlu menelusuri kode yang paling sesuai dengan barang yang akan masuk ke Indonesia.
Beberapa contoh kelompok produk yang perlu di periksa antara lain:
- Baut dan sekrup dari besi atau baja: periksa pos 7318 dan subpos yang sesuai dengan bentuk serta fungsi produk.
- Sekrup kayu: periksa subpos yang secara khusus menjelaskan jenis sekrup tersebut.
- Sekrup sadap sendiri atau self-tapping screws: telusuri klasifikasi yang membedakan produk berdasarkan karakteristiknya.
- Baut dan sekrup lainnya: periksa uraian subpos yang sesuai dengan spesifikasi barang.
- Baut atau sekrup dari bahan selain besi atau baja: jangan langsung menggunakan pos 7318 karena klasifikasinya dapat berbeda sesuai bahan dan ketentuan BTKI.
Dengan demikian, importir sebaiknya tidak menetapkan kode hanya berdasarkan istilah “baut”, “sekrup”, atau “fastener”. Sebaliknya, cocokkan nama produk dengan uraian resmi dan catatan klasifikasi yang relevan.
Baca Juga : Prosedur Impor Baut dan Sekrup dari Luar Negeri ke Indonesia
Faktor yang Menentukan Kode HS Baut dan Sekrup
Untuk menentukan kode HS secara tepat, perusahaan perlu memeriksa beberapa faktor utama. Setiap faktor memberikan informasi yang membantu mempersempit pilihan klasifikasi.
1. Bahan atau Material Produk
Pertama, identifikasi bahan utama produk. Baut dan sekrup dapat menggunakan baja karbon, baja tahan karat atau stainless steel, kuningan, aluminium, serta material lainnya. Informasi material membantu perusahaan menilai kelompok klasifikasi yang relevan.
Namun, jangan langsung menyimpulkan bahwa semua produk berbahan logam yang sama memiliki kode identik. Bentuk, fungsi, dan uraian dalam BTKI tetap perlu di periksa agar hasil klasifikasi sesuai dengan ketentuan.
Baca Juga : Ketentuan Impor Baut dan Sekrup Menurut Regulasi Indonesia
2. Jenis dan Fungsi Baut atau Sekrup
Berikutnya, periksa jenis produk. Baut untuk sambungan mesin, sekrup kayu, sekrup sadap sendiri, dan kait sekrup dapat memiliki uraian klasifikasi yang berbeda.
Oleh karena itu, perusahaan perlu meminta penjelasan teknis dari pemasok. Katalog, gambar produk, serta informasi penggunaan dapat membantu proses identifikasi. Jika pemasok menyediakan banyak varian, buat daftar terpisah agar tim impor tidak menyamakan produk yang memiliki karakteristik berbeda.
Baca Juga : Berapa Lama Proses Persetujuan Impor Baut dan Sekrup?
3. Ukuran dan Spesifikasi Teknis
Ukuran, di ameter, panjang, bentuk ulir, jenis kepala, serta karakteristik teknis lain juga perlu dicatat. Informasi tersebut membantu perusahaan mencocokkan barang dengan uraian klasifikasi yang lebih terperinci.
Selain itu, simpan spesifikasi dalam format yang mudah di periksa. Dengan begitu, bagian pembelian, logistik, dan kepabeanan dapat menggunakan informasi yang konsisten selama proses impor.
Baca Juga : Biaya Mengurus Persetujuan Impor Baut dan Sekrup
4. Uraian Barang dalam Dokumen Perdagangan
Faktor berikutnya adalah konsistensi uraian produk pada invoice, packing list, katalog, dan dokumen pendukung lainnya. Jika invoice hanya menyebut “metal parts”, petugas mungkin membutuhkan penjelasan tambahan untuk memahami barang yang sebenarnya.
Karena itu, gunakan deskripsi yang spesifik, seperti jenis fastener, material, ukuran, dan fungsi jika relevan. Uraian yang jelas membantu proses pemeriksaan sekaligus mengurangi risiko perbedaan penafsiran.
Baca Juga : Jasa Pengurusan Persetujuan Impor Baut dan Sekrup
Cara Menentukan Kode HS Baut dan Sekrup untuk Impor
Setelah memahami faktor klasifikasi, perusahaan dapat mengikuti tahapan berikut untuk menemukan kode HS yang sesuai.
1. Kumpulkan Data Produk dari Pemasok
Mulailah dengan meminta katalog, lembar spesifikasi teknis, gambar, material, ukuran, dan fungsi produk. Jika memungkinkan, mintalah konfirmasi tertulis dari pemasok mengenai karakteristik setiap varian.
Selanjutnya, cocokkan data tersebut dengan barang yang benar-benar akan di kirim. Jangan menggunakan spesifikasi produk lain sebagai acuan hanya karena nama dagangnya mirip.
2. Telusuri BTKI yang Berlaku
Berikutnya, buka sumber resmi klasifikasi barang Indonesia. Importir dapat menggunakan informasi BTKI dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai serta fasilitas pencarian tarif pada portal Indonesia National Single Window (INSW).
Cari uraian yang paling mendekati karakteristik produk, kemudian telusuri subpos yang lebih spesifik. Selain itu, perhatikan catatan bagian, catatan bab, dan ketentuan umum interpretasi HS yang relevan. Jangan berhenti pada hasil pencarian pertama tanpa memeriksa uraian lengkapnya.
3. Cocokkan Kode dengan Seluruh Dokumen
Setelah menemukan kandidat kode HS, periksa kembali kesesuaiannya dengan katalog, invoice, dan spesifikasi teknis. Jika perusahaan mengimpor beberapa jenis baut dan sekrup, lakukan pemeriksaan untuk setiap produk yang memiliki karakteristik berbeda.
Kemudian, catat alasan pemilihan kode dan simpan dokumen pendukungnya. Dokumentasi tersebut dapat membantu perusahaan menjelaskan dasar klasifikasi ketika melakukan pemeriksaan internal atau berkoordinasi dengan pihak yang menangani kepabeanan.
4. Minta Klarifikasi Jika Masih Ragu
Jika terdapat beberapa pilihan kode yang tampak serupa, jangan langsung memilih salah satunya. Sebaliknya, mintalah bantuan tenaga ahli kepabeanan atau hubungi kanal resmi yang menangani klasifikasi barang.
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai juga menyediakan informasi mengenai bantuan teknis klasifikasi barang melalui kanal yang tercantum pada situs resminya. Dengan demikian, perusahaan memiliki dasar yang lebih kuat sebelum mencantumkan kode dalam dokumen impor.
Pengaruh Kode HS terhadap Biaya dan Perizinan Impor
Kode HS memiliki pengaruh penting terhadap perhitungan biaya impor. Pertama, kode tersebut membantu menentukan tarif bea masuk yang relevan. Selanjutnya, klasifikasi barang menjadi salah satu acuan untuk memeriksa pajak dalam rangka impor dan kemungkinan fasilitas tarif berdasarkan perjanjian perdagangan yang memenuhi persyaratan.
Selain itu, kode HS membantu importir memeriksa ketentuan lartas dan dokumen perizinan yang mungkin berlaku. Karena itu, kesalahan klasifikasi dapat memengaruhi perhitungan biaya maupun kesiapan dokumen.
Meski demikian, kode HS saja tidak selalu menentukan seluruh kewajiban impor. Importir juga perlu memperhatikan negara asal, skema tarif yang di gunakan, nilai pabean, tanggal impor, dan peraturan komoditas yang berlaku.
Penting pula untuk memahami bahwa tidak semua baut dan sekrup otomatis memerlukan Persetujuan Impor (PI). Perusahaan harus memeriksa ketentuan terbaru berdasarkan kode HS lengkap dan uraian produk melalui sumber resmi. Dengan cara ini, importir dapat menghindari pengajuan perizinan yang tidak sesuai maupun kelalaian memenuhi persyaratan yang sebenarnya berlaku.
Kesalahan yang Harus Di hindari Saat Memilih Kode HS
Ada beberapa kesalahan yang perlu perusahaan hindari. Pertama, menggunakan kode HS dari pemasok tanpa memeriksa kesesuaiannya dengan BTKI Indonesia. Kedua, menyamakan kode untuk semua baut dan sekrup meskipun bahan atau fungsinya berbeda. Ketiga, mengisi uraian barang terlalu umum sehingga tidak menggambarkan produk secara akurat.
Selain itu, perusahaan terkadang menggunakan referensi tarif lama tanpa memeriksa pembaruan peraturan. Padahal, perubahan struktur klasifikasi dapat memengaruhi kode dan ketentuan yang terkait. Oleh sebab itu, selalu gunakan referensi resmi yang berlaku pada saat transaksi.
Untuk mengurangi risiko tersebut, buat daftar klasifikasi produk, simpan spesifikasi teknis, dan periksa ulang dokumen sebelum pengiriman. Jika perusahaan mengimpor barang secara rutin, lakukan evaluasi berkala terhadap data produk dan ketentuan yang relevan.
Kode HS Baut dan Sekrup untuk Keperluan Impor membantu perusahaan mengidentifikasi barang, memperkirakan pungutan, serta memeriksa persyaratan perdagangan yang berlaku. Untuk baut dan sekrup dari besi atau baja, pos 7318 merupakan salah satu kelompok yang relevan. Namun, importir tetap harus menentukan subpos berdasarkan bahan, jenis, fungsi, dan spesifikasi produk.
Dengan memeriksa BTKI, menggunakan dokumen teknis yang lengkap, dan merujuk pada sumber resmi, perusahaan dapat mengurangi risiko kesalahan klasifikasi. Pada akhirnya, ketepatan kode HS menjadi bagian penting dari perencanaan impor yang tertib, efisien, dan sesuai ketentuan Indonesia.
Konsultasi Pengurusan Dokumen Anda Sekarang