Bagi pemohon dari Indonesia, menentukan negara Schengen yang bisa diajukan visa merupakan langkah penting sebelum membuat janji temu. Visa Schengen tidak selalu di ajukan ke negara pertama yang di kunjungi. Penentuan negara tempat mengajukan visa bergantung terutama pada tujuan utama perjalanan dan lama tinggal di masing-masing negara.
Kesalahan memilih negara pengajuan dapat menimbulkan masalah administratif. Oleh karena itu, pemohon perlu memahami aturan Schengen sebelum menentukan konsulat atau pusat aplikasi visa yang akan di gunakan.
Artikel ini membahas cara memilih negara pengajuan Visa Schengen, aturan apabila mengunjungi beberapa negara, serta contoh kasus agar lebih mudah di pahami.
Baca Juga : Biro Jasa Visa Schengen Indonesia
Apa Itu Negara Pengajuan Visa Schengen?
Negara pengajuan Visa Schengen adalah negara anggota Schengen yang memiliki kewenangan untuk memproses aplikasi berdasarkan rencana perjalanan pemohon.
Ketika seseorang mengunjungi beberapa negara Schengen dalam satu perjalanan, pemohon tidak dapat memilih negara pengajuan hanya berdasarkan negara yang di anggap lebih mudah atau lebih cepat.
Aturan umumnya mengacu pada negara tujuan utama, yaitu negara tempat pemohon akan menghabiskan waktu paling lama atau negara yang menjadi tujuan utama perjalanan berdasarkan keadaan perjalanan.
Sebagai contoh, seseorang dari Indonesia berencana melakukan perjalanan:
- Prancis: 7 hari
- Italia: 4 hari
- Swiss: 3 hari
Dalam kondisi tersebut, Prancis menjadi negara tujuan utama karena merupakan negara tempat pemohon menghabiskan waktu paling lama. Maka, aplikasi umumnya di ajukan melalui Prancis.
Baca Juga : Jasa Visa Schengen Akses ke 29 Negara Eropa Tanpa Ribet
Negara Schengen Mana yang Bisa Mengeluarkan Visa?
Visa Schengen dapat di proses oleh negara anggota Schengen yang menjadi tujuan utama perjalanan pemohon.
Wilayah Schengen mencakup sejumlah negara Eropa yang menerapkan aturan perjalanan tanpa pemeriksaan perbatasan internal secara umum.
Beberapa negara Schengen yang sering menjadi tujuan wisata maupun bisnis warga Indonesia antara lain:
- Prancis
- Italia
- Jerman
- Belanda
- Spanyol
- Swiss
- Austria
- Belgia
- Yunani
- Portugal
- Hungaria
- Ceko
- Polandia
- Swedia
- Denmark
- Finlandia
- Norwegia
- Islandia
- Luksemburg
- Malta
- Slovenia
- Slovakia
- Estonia
- Latvia
- Lithuania
- Kroasia
- Liechtenstein
Daftar dan status negara dalam wilayah Schengen dapat berubah seiring perkembangan kebijakan Uni Eropa. Karena itu, pemohon sebaiknya memeriksa informasi resmi sebelum mengajukan aplikasi.
Baca Juga : Syarat Visa Schengen untuk Warga Indonesia: Dokumen yang Harus Disiapkan
Bagaimana Menentukan Negara Pengajuan Visa Schengen?
Ada beberapa kondisi yang perlu di perhatikan.
1. Hanya Mengunjungi Satu Negara
Jika perjalanan hanya dilakukan ke satu negara Schengen, penentuannya relatif sederhana.
Misalnya:
Indonesia → Prancis → Indonesia
Jika seluruh perjalanan dilakukan di Prancis, maka aplikasi di ajukan untuk Prancis.
Contoh lainnya:
Indonesia → Italia → Indonesia
Maka Italia menjadi negara tujuan pengajuan visa.
Baca Juga : Cara Mengurus Visa Schengen dari Indonesia: Panduan Lengkap
2. Mengunjungi Beberapa Negara dengan Durasi Berbeda
Jika pemohon mengunjungi beberapa negara Schengen, aplikasi umumnya di ajukan ke negara tempat pemohon akan menghabiskan waktu paling lama.
Misalnya:
| Negara | Lama Tinggal |
|---|---|
| Prancis | 6 hari |
| Italia | 4 hari |
| Swiss | 2 hari |
Dalam contoh tersebut, Prancis merupakan tujuan utama berdasarkan durasi tinggal.
Maka, pengajuan visa dilakukan melalui Prancis.
Baca Juga : Biaya Visa Schengen dan Biaya Jasa Pengurusan Visa
3. Durasi Tinggal Sama di Beberapa Negara
Situasinya menjadi sedikit berbeda apabila pemohon menghabiskan waktu yang sama di beberapa negara.
Contohnya:
- Prancis: 4 hari
- Italia: 4 hari
- Swiss: 4 hari
Jika durasi tinggal sama, pengajuan umumnya di lakukan kepada negara yang menjadi negara pertama yang akan di kunjungi.
Jadi, jika perjalanan di mulai dari Prancis, Prancis menjadi negara pengajuan.
Baca Juga : Berapa Lama Proses Visa Schengen? Ini Estimasi Waktu Pengurusannya
Apakah Visa Harus Di ajukan ke Negara Pertama yang Di datangi?
Tidak selalu.
Ini merupakan salah satu kesalahpahaman yang cukup umum dalam pengajuan Visa Schengen.
Negara pertama yang di masuki tidak otomatis menjadi negara tempat pengajuan visa. Yang lebih penting adalah negara tujuan utama.
Misalnya, seseorang memiliki itinerary:
Indonesia → Belanda → Prancis → Italia → Indonesia
Dengan rincian:
- Belanda: 2 hari
- Prancis: 7 hari
- Italia: 4 hari
Meskipun Belanda menjadi negara pertama yang di masuki, Prancis merupakan negara tujuan utama karena pemohon tinggal paling lama di sana.
Dalam situasi tersebut, aplikasi umumnya di ajukan melalui Prancis.
Baca Juga : Visa Schengen untuk Wisata: Syarat dan Prosedur Pengajuan
Bagaimana Jika Negara Pertama Berbeda dengan Negara Pengajuan?
Hal ini dapat terjadi dan tidak otomatis menjadi masalah.
Contohnya, pemohon mendapatkan Visa Schengen dari Prancis, tetapi penerbangan pertama masuk melalui Belanda.
Hal yang penting adalah perjalanan tersebut harus sesuai dengan tujuan dan itinerary yang sebenarnya.
Visa Schengen pada dasarnya memberikan hak untuk melakukan perjalanan sesuai ketentuan visa, tetapi pemegang visa tetap dapat di periksa oleh petugas perbatasan ketika memasuki wilayah Schengen.
Karena itu, pemohon sebaiknya membawa dokumen pendukung perjalanan seperti:
- tiket penerbangan;
- reservasi hotel;
- itinerary;
- bukti keuangan;
- asuransi perjalanan;
- bukti tujuan perjalanan;
- dokumen lain yang relevan.
Baca Juga : Visa Schengen untuk Kunjungan Keluarga: Syarat dan Dokumen
Apa yang Dimaksud Negara Tujuan Utama?
Negara tujuan utama adalah negara yang menjadi fokus utama perjalanan.
Dalam banyak kasus, penentuannya dapat di lihat dari lama tinggal. Namun, durasi saja tidak selalu menjadi satu-satunya pertimbangan apabila tujuan perjalanan memiliki karakter khusus.
Misalnya, seseorang melakukan perjalanan untuk menghadiri konferensi selama beberapa hari di Jerman, kemudian berwisata di Prancis dalam durasi yang lebih panjang.
Dalam kondisi seperti ini, pemohon perlu memperhatikan tujuan perjalanan dan ketentuan konsulat yang berwenang. Jangan menentukan negara pengajuan hanya berdasarkan perhitungan hari tanpa melihat tujuan utama perjalanan.
Oleh karena itu, itinerary harus menggambarkan perjalanan secara realistis dan konsisten.
Baca Juga : Visa Schengen untuk Bisnis: Persyaratan dan Cara Pengajuan
Contoh Menentukan Negara Pengajuan Visa Schengen
Contoh 1: Wisata ke Prancis Saja
Rencana perjalanan:
Jakarta → Paris → Jakarta
Durasi: 10 hari.
Karena seluruh perjalanan dilakukan di Prancis, maka pengajuan dilakukan melalui Prancis.
Contoh 2: Prancis dan Italia
Rencana perjalanan:
- Prancis: 7 hari
- Italia: 5 hari
Prancis menjadi negara dengan durasi tinggal paling lama.
Maka, aplikasi umumnya di ajukan melalui Prancis.
Baca Juga : Alasan Visa Schengen Ditolak dan Cara Menghindari Kesalahan Pengajuan
Contoh 3: Italia dan Swiss
Rencana perjalanan:
- Italia: 6 hari
- Swiss: 3 hari
Italia menjadi tujuan utama berdasarkan lama tinggal.
Maka, Italia menjadi negara pengajuan.
Contoh 4: Durasi Sama
Rencana perjalanan:
- Jerman: 5 hari
- Austria: 5 hari
- Ceko: 5 hari
Karena durasinya sama, negara pertama yang akan di kunjungi menjadi faktor penentu.
Jika perjalanan di mulai dari Jerman, maka aplikasi umumnya di ajukan melalui Jerman.
Contoh 5: Masuk Melalui Negara yang Berbeda
Rencana perjalanan:
- Belanda: 2 hari
- Belgia: 3 hari
- Prancis: 8 hari
Penerbangan masuk melalui Belanda.
Meskipun begitu, Prancis menjadi tujuan utama berdasarkan lama tinggal. Jadi, pemohon umumnya mengajukan visa melalui Prancis.
Apakah Bisa Memilih Negara yang Proses Visanya Dianggap Lebih Mudah?
Pemohon sebaiknya tidak memilih negara pengajuan hanya karena mendengar bahwa prosesnya lebih mudah, appointment lebih cepat, atau tingkat persetujuannya di anggap lebih tinggi.
Negara pengajuan harus sesuai dengan aturan berdasarkan perjalanan yang sebenarnya.
Mengajukan visa ke negara yang tidak sesuai dengan tujuan utama dapat menimbulkan pertanyaan mengenai itinerary dan tujuan perjalanan.
Selain itu, memberikan informasi yang tidak sesuai kondisi sebenarnya dapat merugikan pemohon dalam proses pemeriksaan aplikasi.
Bagaimana Jika Itinerary Berubah Setelah Visa Terbit?
Perubahan perjalanan dapat terjadi karena berbagai alasan. Namun, pemohon harus berhati-hati apabila perubahan tersebut membuat tujuan utama perjalanan berubah secara signifikan.
Misalnya, pada saat pengajuan pemohon menyatakan akan tinggal paling lama di Prancis. Setelah visa di terbitkan, seluruh rencana perjalanan kemudian di pindahkan ke Italia.
Kondisi seperti ini dapat menimbulkan pertanyaan ketika pemohon memasuki wilayah Schengen.
Karena itu, sebaiknya buat itinerary yang realistis sejak awal dan lakukan perubahan hanya apabila memang diperlukan.
Apakah Bisa Mengajukan Visa Schengen dari Negara Lain?
Tempat tinggal pemohon juga perlu di perhatikan.
Warga Indonesia yang secara normal tinggal di Indonesia mengajukan visa berdasarkan prosedur yang tersedia di Indonesia untuk negara tujuan yang berwenang.
Sementara itu, seseorang yang secara sah tinggal di negara lain dapat memiliki prosedur pengajuan berbeda sesuai tempat tinggalnya.
Dengan demikian, negara tujuan perjalanan dan negara tempat mengajukan aplikasi secara fisik merupakan dua hal yang perlu di bedakan.
Tips Memilih Negara Pengajuan Visa Schengen
Agar tidak salah menentukan konsulat, lakukan beberapa langkah berikut:
1. Buat Itinerary Terlebih Dahulu
Tuliskan semua negara yang akan di kunjungi beserta jumlah hari di setiap negara.
2. Hitung Durasi Tinggal
Bandingkan jumlah hari di setiap negara Schengen.
Negara dengan durasi paling lama biasanya menjadi negara tujuan utama.
3. Periksa Tujuan Perjalanan
Jika perjalanan memiliki tujuan khusus seperti meeting, konferensi, pameran, atau kunjungan bisnis, perhatikan lokasi kegiatan tersebut.
4. Tentukan Negara Pengajuan
Setelah mengetahui negara tujuan utama, periksa prosedur aplikasi negara tersebut di Indonesia.
5. Cocokkan Semua Dokumen
Pastikan itinerary, tiket, hotel, surat undangan, surat kerja, asuransi, dan dokumen keuangan memiliki informasi yang konsisten.
6. Periksa Sumber Resmi
Persyaratan dan mekanisme pengajuan dapat berbeda berdasarkan negara. Oleh sebab itu, gunakan informasi dari kedutaan, konsulat, atau penyedia layanan aplikasi visa yang di tunjuk sebagai acuan.
Kesalahan dalam Menentukan Negara Pengajuan
Beberapa kesalahan yang perlu di hindari antara lain:
- Mengajukan visa ke negara pertama tanpa menghitung negara tujuan utama.
- Memilih negara hanya karena appointment di anggap lebih cepat.
- Membuat itinerary yang tidak sesuai rencana sebenarnya.
- Tidak menghitung lama tinggal setiap negara.
- Mengabaikan tujuan utama perjalanan.
- Menggunakan dokumen yang memiliki tanggal berbeda.
- Mengubah itinerary secara signifikan setelah visa di terbitkan.
- Tidak memeriksa prosedur negara tujuan utama.
Kesalahan tersebut dapat membuat proses pengajuan menjadi lebih rumit. Oleh karena itu, perencanaan itinerary sebaiknya dilakukan sebelum menentukan tempat pengajuan visa.
Menentukan negara Schengen yang bisa diajukan visa tidak cukup hanya dengan melihat negara pertama yang akan di masuki. Pemohon perlu menentukan negara tujuan utama, yang dalam banyak perjalanan di tentukan berdasarkan negara tempat tinggal paling lama.
Jika durasi tinggal di beberapa negara sama, negara pertama yang akan di kunjungi umumnya menjadi dasar penentuan tempat pengajuan.
Contohnya, jika seseorang mengunjungi Prancis selama 7 hari, Italia 4 hari, dan Swiss 3 hari, maka Prancis menjadi negara tujuan utama dan pengajuan visa umumnya di lakukan melalui Prancis.
Namun, setiap perjalanan perlu di lihat berdasarkan kondisi sebenarnya. Tujuan perjalanan, lokasi kegiatan, durasi tinggal, itinerary, serta ketentuan konsulat tetap harus di perhatikan.
Dengan menentukan negara pengajuan secara tepat sejak awal, pemohon dapat mempersiapkan dokumen dengan lebih terarah dan mengurangi risiko kesalahan administratif dalam proses pengajuan Visa Schengen.
Konsultasikan Visa Schengen Anda Sekarang