Bekerja di luar negeri menjadi pilihan bagi banyak Pekerja Migran Indonesia (PMI) untuk meningkatkan penghasilan dan membantu perekonomian keluarga. Namun, selama bekerja di negara tujuan, sebagian pekerja menghadapi masalah penggajian. Masalah tersebut dapat berupa gaji terlambat, gaji tidak dibayarkan, potongan yang tidak jelas, hingga nominal gaji yang berbeda dari perjanjian kerja.
Masalah gaji saat bekerja di luar negeri tidak boleh dianggap sepele. Keterlambatan pembayaran dapat mengganggu kebutuhan sehari-hari, pembayaran utang, dan pengiriman uang kepada keluarga di Indonesia. Selain itu, ketidakjelasan penghasilan juga dapat membuat pekerja kesulitan merencanakan masa depan.
Oleh karena itu, PMI perlu memahami hak terkait upah, mengenali bentuk pelanggaran, dan mengetahui langkah yang dapat diambil ketika menghadapi persoalan penggajian. Dengan persiapan yang tepat, pekerja dapat mengumpulkan bukti dan mencari bantuan melalui jalur yang sesuai.
Jenis Masalah Gaji Saat Bekerja di Luar Negeri
Masalah penggajian dapat muncul dalam berbagai bentuk. Setiap kondisi memerlukan penanganan yang berbeda sesuai kontrak kerja, aturan negara tujuan, dan bukti yang tersedia.
1. Gaji Terlambat Dibayarkan
Gaji terlambat terjadi ketika pemberi kerja tidak membayar upah sesuai jadwal yang telah disepakati. Misalnya, kontrak menyebutkan bahwa gaji dibayarkan setiap akhir bulan, tetapi pekerja baru menerima pembayaran beberapa minggu kemudian.
Keterlambatan sesekali belum tentu menunjukkan pelanggaran yang sama dalam setiap negara. Namun, pekerja perlu meminta penjelasan apabila keterlambatan terjadi berulang kali atau tidak disertai kepastian tanggal pembayaran.
Beberapa penyebab yang mungkin terjadi meliputi:
- Masalah administrasi penggajian perusahaan.
- Kesalahan pencatatan jam kerja atau kehadiran.
- Perselisihan antara pekerja dan pemberi kerja.
- Kesulitan keuangan perusahaan.
- Penundaan pembayaran tanpa penjelasan yang memadai.
Apa pun penyebabnya, pekerja sebaiknya menyimpan catatan tanggal pembayaran dan komunikasi dengan pemberi kerja.
2. Gaji Tidak Dibayar Sama Sekali
Gaji tidak dibayar merupakan persoalan yang lebih serius karena pekerja telah menjalankan kewajibannya, tetapi tidak menerima upah sebagaimana mestinya.
Situasi ini dapat terjadi ketika pemberi kerja menunda pembayaran berulang kali, menolak membayar upah, atau menghentikan pembayaran tanpa dasar yang jelas.
Jika menghadapi kondisi tersebut, pekerja perlu mencatat periode kerja yang belum dibayar, jumlah upah yang seharusnya diterima, dan bukti bahwa pekerjaan telah dilakukan. Bukti tersebut akan membantu ketika pekerja mengajukan pengaduan kepada pihak terkait.
Jangan hanya mengandalkan janji lisan. Sebisa mungkin, mintalah penjelasan dan kepastian pembayaran secara tertulis.
3. Gaji Tidak Sesuai Kontrak Kerja
Masalah berikutnya adalah nominal gaji yang diterima lebih rendah daripada ketentuan dalam kontrak kerja. Perbedaan ini dapat terjadi karena pengurangan yang tidak dijelaskan, perhitungan jam kerja yang keliru, atau perubahan ketentuan kerja tanpa kesepakatan yang jelas.
Sebagai contoh, kontrak mencantumkan upah bulanan tertentu, tetapi pekerja menerima jumlah yang lebih kecil tanpa rincian potongan.
Untuk memeriksa persoalan tersebut, bandingkan beberapa dokumen berikut:
- Kontrak kerja yang telah disepakati.
- Slip gaji atau rincian pembayaran.
- Catatan jam kerja dan lembur.
- Bukti transfer atau pembayaran tunai.
- Ketentuan potongan gaji yang berlaku.
Perlu diingat bahwa nominal yang diterima dapat berbeda dari gaji bruto karena pajak, iuran wajib, atau potongan lain yang sah. Karena itu, pekerja harus meminta rincian penghitungan sebelum menyimpulkan bahwa pemberi kerja telah melanggar kontrak.
4. Potongan Gaji Tidak Jelas
Potongan gaji yang tidak transparan juga dapat merugikan pekerja migran. Misalnya, pemberi kerja memotong upah untuk biaya tempat tinggal, transportasi, makanan, seragam, atau alasan lain tanpa memberikan rincian yang memadai.
Tidak semua potongan otomatis melanggar hukum. Ketentuan mengenai potongan yang diperbolehkan berbeda-beda menurut negara tujuan, jenis pekerjaan, dan perjanjian kerja.
Oleh sebab itu, pekerja perlu meminta penjelasan tertulis mengenai setiap potongan. Periksa pula apakah potongan tersebut tercantum dalam kontrak dan sesuai dengan aturan setempat.
5. Upah Lembur Tidak Dibayarkan
Pekerja dapat mengalami masalah ketika jam kerja melebihi ketentuan, tetapi upah lembur tidak dihitung atau tidak dibayarkan sesuai aturan yang berlaku.
Untuk menghindari kesalahpahaman, catat waktu mulai dan selesai bekerja, hari kerja, hari libur, serta instruksi lembur dari atasan. Catatan tersebut akan membantu membandingkan jam kerja aktual dengan slip gaji dan kontrak.
Ketentuan lembur, termasuk kelayakan dan besaran pembayaran, perlu diperiksa berdasarkan hukum negara tujuan serta kategori pekerjaan yang bersangkutan.
Penyebab Masalah Gaji bagi Pekerja Migran Indonesia

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan persoalan penggajian saat bekerja di luar negeri.
Perjanjian Kerja Tidak Dipahami dengan Baik
Sebagian pekerja hanya berfokus pada nominal gaji yang ditawarkan tanpa memeriksa jadwal pembayaran, potongan, jam kerja, atau ketentuan lembur. Akibatnya, pekerja kesulitan membedakan kesalahan pembayaran dan ketentuan yang memang telah disepakati.
Sebelum berangkat, baca kontrak dengan teliti. Jika terdapat istilah yang tidak dipahami, mintalah penjelasan kepada pihak yang kompeten sebelum menandatangani dokumen.
Perubahan Ketentuan Kerja
Masalah dapat muncul ketika pemberi kerja mengubah tugas, jam kerja, atau sistem penggajian setelah pekerja tiba di negara tujuan. Perubahan tersebut perlu diperiksa berdasarkan kontrak dan hukum setempat.
Jangan langsung menyetujui perubahan yang berdampak pada upah tanpa memahami konsekuensinya. Simpan salinan komunikasi dan dokumen perubahan yang diberikan.
Administrasi Penggajian yang Tidak Transparan
Pekerja mungkin tidak menerima slip gaji atau rincian pembayaran. Kondisi ini menyulitkan pekerja untuk mengetahui jumlah upah bruto, potongan, lembur, dan nominal bersih yang seharusnya diterima.
Mintalah rincian pembayaran secara berkala. Jika pemberi kerja tidak memberikannya, catat permintaan tersebut dan simpan bukti komunikasi.
Kurangnya Informasi tentang Hak Pekerja
Pekerja yang belum memahami aturan ketenagakerjaan di negara tujuan mungkin tidak mengetahui saluran pengaduan yang tersedia. Akibatnya, masalah penggajian dapat berlangsung lama tanpa penyelesaian.
Sebelum bekerja, cari informasi dari sumber resmi mengenai upah, pembayaran lembur, mekanisme pengaduan, dan perlindungan pekerja migran.
Cara Mengatasi Gaji Terlambat atau Tidak Dibayar di Luar Negeri
Jika menghadapi masalah gaji, lakukan langkah secara teratur dan utamakan keselamatan diri.
1. Periksa Kontrak Kerja
Baca kembali kontrak untuk memastikan nominal upah, jadwal pembayaran, jam kerja, ketentuan lembur, dan potongan yang diperbolehkan.
Tandai bagian yang berkaitan langsung dengan persoalan yang terjadi. Dengan demikian, pekerja memiliki dasar yang lebih jelas ketika meminta penjelasan kepada pemberi kerja.
2. Hitung Jumlah Gaji yang Belum Dibayar
Buat perhitungan berdasarkan periode kerja dan pembayaran yang telah diterima. Catat jumlah gaji yang seharusnya dibayar, nominal yang masuk, potongan yang tercantum, dan selisihnya.
Gunakan tabel sederhana berikut untuk membantu pencatatan.
| Periode | Gaji yang seharusnya | Gaji diterima | Selisih |
|---|---|---|---|
| Bulan pertama | Sesuai kontrak | Sesuai bukti pembayaran | Hitung selisih |
| Bulan kedua | Sesuai kontrak | Sesuai bukti pembayaran | Hitung selisih |
| Bulan ketiga | Sesuai kontrak | Sesuai bukti pembayaran | Hitung selisih |
Sesuaikan tabel dengan mata uang, periode penggajian, dan kondisi kerja yang sebenarnya. Hindari memasukkan perkiraan sebagai angka pasti apabila bukti pembayaran belum tersedia.
3. Kumpulkan Bukti Pembayaran dan Pekerjaan
Bukti yang relevan dapat membantu memperjelas persoalan. Simpan salinan dokumen di tempat yang aman dan, jika memungkinkan, di lokasi terpisah dari tempat kerja.
Dokumen yang perlu disiapkan antara lain:
- Kontrak kerja dan dokumen perubahan kontrak.
- Slip gaji atau catatan pembayaran.
- Mutasi rekening atau bukti transfer.
- Catatan jam kerja dan lembur.
- Pesan atau surat mengenai penggajian.
- Catatan tanggal gaji seharusnya dibayarkan.
- Bukti pekerjaan telah dilakukan, sepanjang diperoleh secara sah dan aman.
Jangan mengambil dokumen milik pihak lain secara tidak sah. Utamakan bukti yang memang menjadi hak pekerja atau yang dapat disimpan secara legal.
4. Sampaikan Keluhan kepada Pemberi Kerja
Jika aman untuk dilakukan, hubungi bagian penggajian, atasan, atau pemberi kerja. Jelaskan masalah secara faktual, sertakan periode yang dipersoalkan, dan mintalah rincian perhitungan serta tanggal pembayaran.
Gunakan komunikasi tertulis apabila memungkinkan. Cara ini membantu pekerja menyimpan rekam jejak permintaan penyelesaian.
Namun, jika pekerja mengalami ancaman, kekerasan, penahanan dokumen, atau pembatasan kebebasan, utamakan keselamatan dan cari bantuan dari pihak yang berwenang. Jangan memaksakan konfrontasi langsung apabila dapat membahayakan diri.
5. Hubungi Agen Penempatan atau Pihak yang Bertanggung Jawab
Jika pekerja berangkat melalui jalur penempatan resmi, hubungi pihak penempatan yang tercantum dalam dokumen dan sampaikan persoalan secara tertulis. Mintalah bantuan untuk menindaklanjuti pengaduan sesuai tanggung jawab dan prosedur yang berlaku.
Simpan bukti bahwa pengaduan telah disampaikan, termasuk tanggal, nama pihak yang dihubungi, dan jawaban yang diterima.
6. Cari Bantuan dari Perwakilan Indonesia
Apabila masalah tidak terselesaikan, pekerja dapat menghubungi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) atau Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di negara tempat bekerja. Perwakilan Indonesia dapat memberikan informasi mengenai bantuan yang tersedia dan saluran pengaduan yang sesuai.
Pekerja juga dapat mencari bantuan dari otoritas ketenagakerjaan atau lembaga penyelesaian perselisihan di negara tujuan. Prosedur dan kewenangan setiap lembaga berbeda, sehingga gunakan informasi kontak resmi yang berlaku.
Jika terjadi ancaman keselamatan, kekerasan, atau penahanan dokumen secara paksa, sampaikan kondisi tersebut secara jelas ketika meminta bantuan.
Hak Pekerja Migran Terkait Pembayaran Gaji
PMI perlu memahami bahwa hak atas upah dan mekanisme penegakannya bergantung pada hukum yang berlaku, jenis pekerjaan, status kerja, serta ketentuan kontrak yang sah.
Secara umum, pekerja perlu memeriksa beberapa hal berikut:
- Pembayaran upah: apakah upah dibayarkan sesuai jadwal dan ketentuan yang berlaku.
- Kejelasan penghitungan: apakah nominal gaji dan potongan dapat dijelaskan.
- Pembayaran lembur: apakah pekerjaan tambahan memenuhi ketentuan pembayaran lembur yang berlaku.
- Dokumen penggajian: apakah pekerja memperoleh bukti atau rincian pembayaran sesuai ketentuan setempat.
- Akses pengaduan: apakah tersedia mekanisme untuk menyampaikan keluhan dan menuntut penyelesaian.
Jangan berasumsi bahwa semua negara menerapkan aturan upah yang sama. Periksa peraturan resmi di negara tujuan dan mintalah bantuan yang kompeten jika terdapat perbedaan antara kontrak dan pembayaran aktual.
Kesalahan yang Perlu Dihindari Ketika Menghadapi Masalah Gaji
Dalam situasi yang menekan, pekerja dapat mengambil langkah yang justru mempersulit penyelesaian. Karena itu, hindari beberapa kesalahan berikut.
Tidak Menyimpan Bukti
Keluhan akan lebih sulit ditindaklanjuti jika pekerja tidak memiliki catatan pembayaran, kontrak, atau komunikasi. Mulailah menyimpan bukti sejak masalah pertama kali muncul.
Hanya Mengandalkan Janji Lisan
Janji bahwa gaji akan dibayar minggu depan belum tentu memberikan kepastian. Mintalah tanggal pembayaran dan penjelasan tertulis jika memungkinkan.
Menandatangani Dokumen Tanpa Memahaminya
Jangan terburu-buru menandatangani pernyataan bahwa gaji telah diterima atau seluruh persoalan telah selesai apabila faktanya belum demikian. Minta waktu untuk membaca dan memahami dokumen, serta cari bantuan penerjemah atau pendamping yang tepercaya jika diperlukan.
Mengundurkan Diri atau Meninggalkan Tempat Kerja Tanpa Memahami Konsekuensinya
Keputusan meninggalkan pekerjaan dapat memengaruhi status kerja, izin tinggal, tempat tinggal, atau proses klaim upah, bergantung pada negara tujuan. Jika situasi memungkinkan, mintalah nasihat dari pihak berwenang atau pendamping yang kompeten sebelum mengambil keputusan.
Akan tetapi, jika keselamatan terancam, segera cari tempat aman dan bantuan darurat yang sesuai. Keselamatan pribadi harus menjadi prioritas.
Menunda Pengaduan Terlalu Lama
Sebagian mekanisme pengaduan memiliki batas waktu. Karena itu, cari informasi sedini mungkin agar pekerja tidak kehilangan kesempatan untuk menggunakan jalur penyelesaian yang tersedia.
Cara Mencegah Masalah Gaji Sebelum Berangkat ke Luar Negeri
Pencegahan sebaiknya dimulai sebelum pekerja menandatangani kontrak dan berangkat ke negara tujuan.
Periksa Rincian Gaji dalam Kontrak
Pastikan kontrak menjelaskan nominal upah, mata uang, jadwal pembayaran, jam kerja, ketentuan lembur, serta potongan yang mungkin berlaku. Jika terdapat ketidaksesuaian dengan penawaran awal, minta klarifikasi sebelum menyetujui kontrak.
Pastikan Identitas Pemberi Kerja dan Jalur Penempatan
Periksa identitas pemberi kerja, pihak penempatan, dan dokumen yang relevan melalui saluran resmi. Jangan hanya mengandalkan janji lisan atau informasi dari pihak yang tidak dapat diverifikasi.
Simpan Salinan Dokumen
Simpan kontrak, paspor, dokumen kerja, bukti pelatihan, dan informasi kontak penting dalam bentuk fisik maupun digital yang aman. Berikan salinan kepada anggota keluarga atau orang tepercaya jika sesuai dan aman dilakukan.
Pelajari Aturan Ketenagakerjaan Negara Tujuan
Cari tahu bagaimana sistem pembayaran gaji bekerja, apakah slip gaji wajib diberikan, bagaimana aturan lembur diterapkan, dan ke mana pekerja dapat mengadu.
Dengan memahami aturan sejak awal, pekerja akan lebih siap mengenali ketidaksesuaian dan mengambil langkah yang tepat.
Checklist Saat Mengalami Masalah Gaji di Luar Negeri
Gunakan daftar berikut untuk memastikan langkah penanganan berjalan lebih terarah.
- Memeriksa kontrak kerja dan ketentuan pembayaran.
- Mencatat periode serta jumlah gaji yang belum dibayar.
- Membandingkan kontrak, slip gaji, dan bukti transfer.
- Menyimpan komunikasi dengan pemberi kerja.
- Meminta penjelasan dan kepastian pembayaran secara tertulis.
- Menghubungi agen penempatan atau pihak terkait jika diperlukan.
- Mencari bantuan dari KBRI/KJRI atau otoritas ketenagakerjaan negara tujuan.
- Memprioritaskan keselamatan jika terdapat ancaman atau kekerasan.
Tidak semua kasus membutuhkan langkah yang sama. Pilih jalur penyelesaian berdasarkan tingkat risiko, bukti yang tersedia, dan prosedur hukum yang berlaku.
Pertanyaan Umum tentang Masalah Gaji Saat Bekerja di Luar Negeri
Apa yang harus dilakukan jika gaji terlambat dibayar di luar negeri?
Periksa jadwal pembayaran dalam kontrak, catat keterlambatan, dan minta penjelasan tertulis dari pemberi kerja. Jika masalah berulang atau tidak terselesaikan, pertimbangkan untuk menghubungi pihak penempatan, perwakilan Indonesia, atau otoritas ketenagakerjaan negara tujuan.
Bagaimana jika pemberi kerja tidak membayar gaji sama sekali?
Kumpulkan kontrak, bukti pekerjaan, catatan pembayaran, dan komunikasi terkait. Hitung jumlah upah yang belum dibayar, lalu cari jalur pengaduan resmi di negara tujuan. Jika membutuhkan bantuan, hubungi KBRI/KJRI atau lembaga yang berwenang.
Apakah pekerja migran boleh menuntut gaji yang tidak sesuai kontrak?
Pekerja dapat mencari penyelesaian melalui mekanisme yang tersedia apabila terdapat dugaan ketidaksesuaian pembayaran. Hasil dan prosedurnya bergantung pada kontrak, bukti, hukum setempat, dan ketentuan yang berlaku.
Apakah gaji yang dipotong oleh pemberi kerja selalu melanggar hukum?
Tidak selalu. Beberapa potongan mungkin diperbolehkan, misalnya potongan wajib berdasarkan peraturan setempat. Namun, pekerja berhak mencari penjelasan mengenai dasar dan penghitungan potongan sesuai aturan yang berlaku.
Ke mana PMI harus mengadu jika gaji tidak dibayar?
PMI dapat memulai dengan menghubungi pemberi kerja atau pihak penempatan apabila aman. Jika persoalan tidak selesai, pekerja dapat mencari bantuan dari KBRI/KJRI dan otoritas ketenagakerjaan di negara tujuan. Gunakan saluran resmi yang sesuai dengan lokasi dan jenis pekerjaan.
Apakah pekerja harus langsung pulang ke Indonesia jika mengalami masalah gaji?
Tidak selalu. Kepulangan bukan satu-satunya pilihan dan dapat memengaruhi status kerja, izin tinggal, atau proses penyelesaian upah. Sebelum mengambil keputusan, cari informasi dari pihak berwenang atau pendamping yang kompeten. Jika berada dalam bahaya, utamakan keselamatan dan segera minta bantuan.
Kesimpulan
Masalah gaji saat bekerja di luar negeri dapat berupa keterlambatan pembayaran, gaji yang tidak dibayar, upah yang tidak sesuai kontrak, potongan tidak jelas, atau lembur yang belum dibayarkan. Persoalan tersebut perlu ditangani secara terstruktur agar pekerja memiliki dasar yang kuat untuk meminta penyelesaian.
Langkah penting yang perlu dilakukan adalah memeriksa kontrak, menghitung selisih upah, menyimpan bukti, dan menyampaikan keluhan melalui jalur yang aman. Jika masalah berlanjut, PMI dapat mencari bantuan dari pihak penempatan, KBRI/KJRI, atau otoritas ketenagakerjaan di negara tujuan.
Selain itu, persiapan sebelum keberangkatan tetap penting. Memahami kontrak dan aturan pengupahan dapat membantu pekerja mengenali potensi masalah lebih awal serta melindungi kepentingannya selama bekerja di luar negeri.
Butuh bantuan untuk memahami dokumen kerja atau persiapan bekerja di luar negeri? Kunjungi Jangkar Global Groups untuk memperoleh informasi dan konsultasi sesuai kebutuhan Anda. Untuk sengketa upah, tetap gunakan saluran pengaduan resmi dan bantuan hukum atau ketenagakerjaan yang sesuai dengan negara tujuan.