Empat Materi Utama Basic Safety Training Berdasarkan STCW

Siti Aidah

Empat Materi Utama Basic Safety Training Berdasarkan STCW
Direktur Utama Jangkar Groups

Basic Safety Training (BST) merupakan pelatihan keselamatan dasar yang wajib diikuti oleh pelaut sebelum bekerja di kapal. Pelatihan ini memberikan pengetahuan dan keterampilan penting agar awak kapal mampu menghadapi keadaan darurat, mencegah kecelakaan, serta melindungi diri sendiri dan orang lain selama menjalankan tugas. Berdasarkan standar Standards of Training, Certification and Watchkeeping for Seafarers (STCW), Basic Safety Training mencakup empat materi utama yang saling berkaitan.

Keempat materi tersebut meliputi teknik bertahan hidup di laut, pencegahan dan pemadaman kebakaran, pertolongan pertama dasar, serta keselamatan diri dan tanggung jawab sosial. Setiap materi memiliki tujuan pembelajaran yang berbeda. Namun, seluruhnya membentuk kemampuan dasar yang perlu dimiliki pelaut ketika menghadapi risiko pekerjaan di lingkungan kapal.

Selain itu, pelatihan BST tidak hanya membahas teori keselamatan. Peserta juga mengikuti latihan praktik agar mampu menerapkan prosedur dengan tepat. Oleh karena itu, pemahaman terhadap empat materi utama Basic Safety Training berdasarkan STCW menjadi bekal penting bagi calon pelaut maupun awak kapal yang ingin meningkatkan kompetensi keselamatannya.

Mengenal Basic Safety Training Berdasarkan STCW

Basic Safety Training merupakan pelatihan keselamatan dasar bagi pelaut yang bekerja atau akan bekerja di kapal. Program ini mengacu pada ketentuan STCW yang mengatur standar pelatihan, sertifikasi, dan tugas jaga pelaut. Melalui pelatihan tersebut, peserta mempelajari cara mengenali bahaya, mengambil tindakan awal, dan mengikuti prosedur keselamatan ketika menghadapi situasi darurat.

STCW menetapkan standar kompetensi keselamatan dasar melalui ketentuan yang berkaitan dengan pelatihan keselamatan bagi seluruh pelaut. Salah satu bagian pentingnya terdapat pada STCW Code Section A-VI/1 yang mengatur kompetensi keselamatan dasar. Ketentuan tersebut menjadi acuan penyelenggaraan pelatihan BST sesuai persyaratan yang berlaku.

Dalam pelaksanaannya, peserta tidak hanya menghafal prosedur. Mereka juga perlu memahami alasan di balik setiap tindakan keselamatan. Misalnya, pelaut perlu mengetahui cara menggunakan alat pemadam api karena kesalahan penggunaan dapat memperbesar risiko kebakaran. Demikian pula, pengetahuan tentang alat keselamatan jiwa membantu awak kapal mengambil keputusan ketika harus meninggalkan kapal.

Dengan demikian, Basic Safety Training membangun kesiapan pelaut dalam menghadapi berbagai keadaan yang berpotensi mengancam keselamatan jiwa, kapal, dan lingkungan laut.

BACA JUGA: Basic Safety Training (BST): Syarat, Materi, dan Sertifikasi Pelaut

Rincian Empat Materi Utama Basic Safety Training Berdasarkan STCW

STCW mengatur empat kelompok kompetensi keselamatan dasar yang menjadi inti pelatihan BST. Setiap kelompok membahas keterampilan khusus yang dapat membantu pelaut menghadapi kondisi darurat di kapal. Berikut penjelasan setiap materi beserta tujuan dan penerapannya.

1. Teknik Bertahan Hidup di Laut atau Personal Survival Techniques

Materi pertama adalah Personal Survival Techniques (PST) atau teknik bertahan hidup di laut. Materi ini membekali peserta dengan kemampuan untuk melindungi diri ketika terjadi keadaan darurat yang mengharuskan awak kapal meninggalkan kapal.

Kondisi darurat dapat muncul akibat kebakaran besar, kebocoran, tabrakan, kandas, atau kejadian lain yang membahayakan kapal. Dalam situasi tersebut, pelaut perlu mengetahui prosedur evakuasi dan cara menggunakan perlengkapan keselamatan jiwa. Karena itu, materi PST menekankan kesiapan fisik, ketenangan, dan pemahaman terhadap instruksi keselamatan.

Beberapa pokok pembelajaran dalam materi PST meliputi:

  • Mengenali jenis dan fungsi alat keselamatan jiwa di kapal.
  • Memahami prosedur berkumpul atau muster station.
  • Mengikuti instruksi ketika terjadi keadaan darurat.
  • Menggunakan jaket penolong atau lifejacket dengan benar.
  • Menggunakan pakaian pelindung untuk bertahan hidup di air atau immersion suit.
  • Memahami cara menaiki sekoci penolong atau rakit penolong.
  • Mengetahui tindakan dasar setelah meninggalkan kapal.
  • Memahami cara menjaga kondisi tubuh selama menunggu pertolongan.

Dalam latihan praktik, peserta dapat mempelajari cara mengenakan jaket penolong, menggunakan perlengkapan bertahan hidup, dan melakukan teknik dasar penyelamatan diri di air. Selain itu, peserta perlu memahami cara mengurangi kehilangan panas tubuh ketika berada di laut.

Kemampuan mengendalikan kepanikan juga menjadi bagian penting. Sebab, tindakan yang terburu-buru dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Oleh karena itu, pelaut perlu mengikuti instruksi dan menjaga koordinasi selama proses evakuasi.

Melalui materi PST, peserta diharapkan mampu mengambil tindakan yang tepat ketika harus meninggalkan kapal dan bertahan hidup sampai bantuan datang.

BACA JUGA: Personal Survival Techniques (PST): Teknik Bertahan Hidup di Laut

2. Pencegahan dan Pemadaman Kebakaran atau Fire Prevention and Fire Fighting

Materi kedua adalah Fire Prevention and Fire Fighting (FPFF), yaitu pencegahan dan pemadaman kebakaran. Materi ini mengajarkan cara mengenali sumber bahaya kebakaran, mengurangi risiko munculnya api, serta menggunakan peralatan pemadam sesuai jenis kebakaran.

Kebakaran menjadi salah satu keadaan darurat yang berbahaya di kapal. Ruang mesin, ruang penyimpanan bahan bakar, dapur, dan area kelistrikan memiliki potensi bahaya yang perlu mendapatkan perhatian. Selain itu, ruang kapal yang terbatas dapat mempercepat penyebaran asap dan menyulitkan proses evakuasi.

Oleh sebab itu, pelaut perlu memahami penyebab kebakaran dan langkah pencegahannya. Materi FPFF mencakup beberapa pokok pembelajaran berikut:

  • Mengenali unsur pembentuk api.
  • Memahami klasifikasi kebakaran.
  • Mengidentifikasi sumber risiko kebakaran di kapal.
  • Menerapkan tindakan pencegahan kebakaran.
  • Mengenali alarm dan prosedur pelaporan kebakaran.
  • Memahami fungsi alat pemadam api ringan atau APAR.
  • Menggunakan selang pemadam dan perlengkapan pemadam sesuai prosedur.
  • Memahami penggunaan alat pelindung diri ketika menghadapi kebakaran.
  • Mengetahui tindakan awal ketika menemukan api atau asap.

Peserta juga mempelajari prinsip dasar segitiga api yang terdiri dari bahan bakar, panas, dan oksigen. Ketiga unsur tersebut saling mendukung proses pembakaran. Dengan memahami prinsip ini, pelaut dapat mengenali cara mengendalikan kebakaran melalui pengurangan salah satu unsur pembentuk api sesuai kondisi dan prosedur keselamatan.

Selanjutnya, peserta mengenal berbagai jenis alat pemadam. Setiap alat memiliki fungsi dan batas penggunaan yang berbeda. Misalnya, penggunaan air tidak selalu tepat untuk kebakaran yang melibatkan peralatan listrik atau bahan tertentu. Karena itu, pelaut harus memilih media pemadam berdasarkan jenis kebakaran dan mengikuti prosedur yang berlaku.

Latihan praktik membantu peserta memahami cara menggunakan alat pemadam secara aman. Namun, pelaut juga perlu mengetahui kapan harus melakukan pemadaman awal dan kapan perlu mengutamakan evakuasi serta melaporkan keadaan kepada petugas yang bertanggung jawab.

Dengan menguasai materi FPFF, awak kapal dapat membantu mencegah kebakaran dan memberikan respons awal secara lebih terarah.

BACA JUGA: Fire Prevention and Fire Fighting (FPFF) untuk Pelaut

3. Pertolongan Pertama Dasar atau Elementary First Aid

Materi ketiga adalah Elementary First Aid (EFA) atau pertolongan pertama dasar. Materi ini memberikan kemampuan awal kepada pelaut untuk membantu seseorang yang mengalami cedera atau gangguan kesehatan sebelum mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.

Lingkungan kapal memiliki risiko kecelakaan kerja yang beragam. Awak kapal dapat mengalami luka, luka bakar, pendarahan, patah tulang, gangguan pernapasan, atau kondisi darurat lainnya. Selain itu, jarak kapal dari fasilitas kesehatan di darat dapat membuat pertolongan awal menjadi sangat penting.

Karena itu, setiap pelaut perlu memahami tindakan dasar yang aman ketika menemukan korban. Materi EFA biasanya mencakup beberapa kemampuan berikut:

  • Mengenali kondisi korban dan potensi bahaya di sekitar lokasi.
  • Memastikan keselamatan diri sebelum memberikan bantuan.
  • Memeriksa respons dan kondisi dasar korban.
  • Memahami tindakan awal pada korban yang tidak sadarkan diri.
  • Mengetahui prinsip bantuan pernapasan dan resusitasi jantung paru sesuai kompetensi pelatihan.
  • Mengendalikan pendarahan dengan metode yang tepat.
  • Memberikan pertolongan awal pada luka dan luka bakar.
  • Memahami penanganan awal cedera tulang dan sendi.
  • Mengetahui cara meminta bantuan dan melaporkan kondisi korban.

Salah satu prinsip utama dalam pertolongan pertama adalah memastikan lokasi aman sebelum mendekati korban. Misalnya, jika kecelakaan terjadi di ruang dengan potensi gas berbahaya, penolong tidak boleh langsung masuk tanpa perlindungan dan prosedur yang sesuai. Tindakan tersebut justru dapat menambah jumlah korban.

Setelah memastikan keamanan, pelaut dapat melakukan pemeriksaan awal sesuai materi pelatihan. Selanjutnya, penolong perlu memberikan bantuan berdasarkan kemampuan dan batas kompetensinya. Jika kondisi korban membutuhkan penanganan lebih lanjut, awak kapal harus segera menghubungi petugas medis atau pihak yang bertanggung jawab di kapal.

BACA JUGA: Elementary First Aid (EFA): Pertolongan Pertama di Kapal

4. Keselamatan Diri dan Tanggung Jawab Sosial atau Personal Safety and Social Responsibilities

Materi keempat adalah Personal Safety and Social Responsibilities (PSSR), yaitu keselamatan diri dan tanggung jawab sosial. Materi ini membahas perilaku kerja aman, komunikasi, kerja sama, serta tanggung jawab setiap awak kapal dalam menjaga keselamatan selama berada di lingkungan kerja.

Kapal merupakan tempat kerja dengan aktivitas yang melibatkan banyak orang dan berbagai jenis pekerjaan. Setiap awak kapal memiliki tugas yang saling berhubungan. Oleh sebab itu, kelalaian satu orang dapat menimbulkan risiko bagi anggota kru lainnya.

Materi PSSR membantu peserta memahami pentingnya disiplin, kepatuhan terhadap prosedur, dan kesadaran terhadap lingkungan kerja. Pokok pembelajarannya mencakup:

  • Memahami prosedur keselamatan kerja di kapal.
  • Mengenali potensi bahaya di lingkungan kerja.
  • Menggunakan alat pelindung diri sesuai kebutuhan.
  • Menjaga kebersihan dan kesehatan di kapal.
  • Memahami komunikasi dan koordinasi antarawak kapal.
  • Mengetahui peran setiap kru dalam keadaan darurat.
  • Memahami pencegahan pencemaran laut.
  • Mengetahui tindakan dasar untuk mengurangi risiko kecelakaan.
  • Menjaga hubungan kerja dan menghormati sesama awak kapal.

Salah satu hal yang ditekankan dalam PSSR adalah budaya keselamatan. Budaya tersebut mendorong setiap awak kapal untuk melaporkan kondisi berbahaya, mengikuti instruksi kerja, dan tidak mengabaikan prosedur. Dengan demikian, keselamatan tidak hanya menjadi tanggung jawab nakhoda atau perwira tertentu, tetapi juga menjadi tanggung jawab seluruh kru.

Selain itu, materi ini membahas pentingnya komunikasi yang jelas. Ketika awak kapal menerima instruksi, mereka perlu memastikan bahwa informasi tersebut dipahami dengan benar. Jika terdapat hal yang belum jelas, kru perlu meminta penjelasan sebelum melakukan pekerjaan yang berisiko.

Tanggung jawab sosial juga berkaitan dengan sikap saling menghormati, kerja sama, dan kepedulian terhadap kondisi rekan kerja. Lingkungan kapal yang baik membutuhkan komunikasi profesional dan perilaku yang mendukung keselamatan bersama.

Melalui materi PSSR, peserta diharapkan mampu menerapkan kebiasaan kerja aman dan menjalankan tanggung jawabnya sebagai bagian dari tim kapal.

BACA JUGA: Personal Safety and Social Responsibilities (PSSR) dalam BST

Tujuan Pembelajaran dari Empat Materi Basic Safety Training

Keempat materi BST memiliki tujuan pembelajaran yang saling melengkapi. Pelaut tidak cukup hanya memahami satu keterampilan keselamatan karena keadaan darurat di kapal dapat melibatkan beberapa risiko sekaligus.

Pertama, materi PST bertujuan membangun kemampuan bertahan hidup ketika awak kapal harus meninggalkan kapal. Peserta perlu memahami penggunaan alat keselamatan jiwa, prosedur evakuasi, dan tindakan dasar selama berada di laut.

Kedua, materi FPFF bertujuan meningkatkan kemampuan pencegahan dan penanganan awal kebakaran. Dengan demikian, pelaut dapat mengenali potensi bahaya dan memahami penggunaan peralatan pemadam sesuai prosedur.

Ketiga, materi EFA bertujuan membekali peserta dengan keterampilan pertolongan pertama. Kemampuan ini membantu awak kapal memberikan bantuan awal kepada korban sebelum penanganan medis lanjutan tersedia.

Keempat, materi PSSR bertujuan membangun perilaku kerja aman dan tanggung jawab sosial. Peserta perlu memahami pentingnya komunikasi, disiplin, kebersihan, dan kerja sama selama bekerja di kapal.

Secara keseluruhan, tujuan BST adalah membangun kesadaran keselamatan sekaligus meningkatkan kesiapan pelaut dalam menghadapi keadaan darurat. Oleh karena itu, peserta perlu mengikuti setiap bagian pelatihan secara serius dan menerapkan pengetahuan tersebut dalam aktivitas kerja sehari-hari.

BACA JUGA: Apa Itu Basic Safety Training (BST) dan Mengapa Penting?

Perbedaan Fokus dari Keempat Materi BST

Walaupun keempat materi membahas keselamatan, setiap materi memiliki fokus yang berbeda. Memahami perbedaannya membantu peserta mengetahui keterampilan yang perlu dikuasai.

Materi BSTFokus utamaKemampuan yang dikembangkan
Personal Survival TechniquesBertahan hidup di lautEvakuasi dan penggunaan alat keselamatan jiwa
Fire Prevention and Fire FightingPencegahan dan pemadaman kebakaranMengenali bahaya api dan menggunakan alat pemadam
Elementary First AidPertolongan pertamaMemberikan bantuan awal kepada korban
Personal Safety and Social ResponsibilitiesKeselamatan diri dan tanggung jawab sosialMenerapkan prosedur aman dan bekerja sama

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa BST memiliki cakupan yang luas. PST berfokus pada keselamatan ketika meninggalkan kapal, sedangkan FPFF menekankan pengendalian risiko kebakaran. Sementara itu, EFA membahas bantuan awal kepada korban dan PSSR membangun kebiasaan kerja aman.

Meskipun demikian, seluruh kompetensi dapat saling mendukung dalam satu kejadian. Contohnya, ketika kebakaran terjadi di kapal, kru perlu mengenali alarm, mengikuti prosedur keselamatan, membantu rekan kerja, dan melakukan evakuasi jika kondisi mengharuskan. Situasi tersebut dapat melibatkan pengetahuan dari keempat materi BST sekaligus.

BACA JUGA: Perbedaan Basic Safety Training, AFF, MFA, dan Sertifikat Pelaut

Pentingnya Latihan Praktik dalam Pelatihan BST

Pemahaman teori menjadi dasar pembelajaran, tetapi pelaut juga membutuhkan pengalaman praktik. Latihan membantu peserta memahami cara menggunakan perlengkapan keselamatan dan mengikuti prosedur dalam kondisi yang menyerupai keadaan darurat.

Dalam materi PST, peserta dapat mempraktikkan penggunaan jaket penolong dan mengenali perlengkapan keselamatan jiwa. Selanjutnya, pada materi FPFF, peserta mempelajari teknik penggunaan alat pemadam dan tindakan awal ketika menghadapi kebakaran.

Pada materi EFA, peserta berlatih melakukan pertolongan pertama sesuai kompetensi yang diajarkan. Sementara itu, materi PSSR membantu peserta membangun kebiasaan komunikasi, koordinasi, dan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan.

Latihan praktik juga membantu instruktur melihat pemahaman peserta secara langsung. Jika peserta melakukan kesalahan, instruktur dapat memberikan arahan agar mereka memahami tindakan yang benar. Dengan demikian, proses pelatihan tidak hanya mengukur pengetahuan, tetapi juga kemampuan menerapkan keterampilan.

Selain itu, peserta perlu menjaga kedisiplinan selama latihan. Mereka harus mengikuti instruksi, menggunakan perlengkapan sesuai ketentuan, dan memperhatikan keselamatan orang lain. Kebiasaan tersebut penting karena aktivitas di kapal membutuhkan kerja sama dan ketelitian.

BACA JUGA: Persyaratan Mengikuti Basic Safety Training bagi Calon Pelaut

Hubungan Materi BST dengan Keselamatan Kerja Pelaut

Empat materi Basic Safety Training memiliki hubungan langsung dengan kegiatan kerja pelaut. Setiap awak kapal menghadapi lingkungan kerja yang memiliki risiko berbeda, mulai dari ruang mesin, geladak, dapur, hingga ruang akomodasi.

Sebagai contoh, pelaut yang bekerja di ruang mesin perlu memahami risiko kebakaran dan prosedur penggunaan alat pemadam. Namun, mereka juga harus mengetahui cara melaporkan keadaan darurat serta mengikuti instruksi evakuasi.

Di sisi lain, awak kapal yang menemukan rekan kerja terluka perlu memahami prinsip pertolongan pertama. Mereka harus memastikan lokasi aman, memeriksa kondisi korban, dan meminta bantuan sesuai prosedur. Oleh karena itu, pengetahuan EFA dapat mendukung keselamatan seluruh kru.

Sementara itu, PSSR membantu setiap pelaut menjaga perilaku kerja aman. Misalnya, kru perlu menggunakan alat pelindung diri, menjaga area kerja tetap rapi, serta menghindari tindakan yang dapat membahayakan orang lain.

Jika terjadi keadaan yang mengharuskan awak kapal meninggalkan kapal, pengetahuan PST menjadi sangat penting. Pelaut perlu mengetahui lokasi alat keselamatan, titik berkumpul, dan prosedur evakuasi.

Dengan demikian, empat materi BST bukan sekadar persyaratan pelatihan. Seluruhnya menjadi dasar perilaku dan keterampilan keselamatan yang perlu diterapkan selama pelaut menjalankan tugas.

Ketentuan STCW yang Menjadi Acuan Materi BST

Ketentuan STCW yang Menjadi Acuan Materi BST

STCW merupakan konvensi internasional yang menetapkan standar minimum mengenai pelatihan, sertifikasi, dan tugas jaga pelaut. Konvensi ini bertujuan mendukung keselamatan pelayaran melalui kompetensi awak kapal yang memenuhi persyaratan.

Untuk keselamatan dasar, salah satu ketentuan penting terdapat pada STCW Regulation VI/1 dan STCW Code Section A-VI/1. Bagian tersebut mengatur persyaratan kompetensi keselamatan dasar bagi pelaut sesuai cakupan tugas dan ketentuan yang berlaku.

Empat kompetensi yang menjadi bagian utama pelatihan keselamatan dasar meliputi:

  1. Personal Survival Techniques atau teknik bertahan hidup di laut.
  2. Fire Prevention and Fire Fighting atau pencegahan dan pemadaman kebakaran.
  3. Elementary First Aid atau pertolongan pertama dasar.
  4. Personal Safety and Social Responsibilities atau keselamatan diri dan tanggung jawab sosial.

Selain memahami nama materi, peserta perlu mengetahui bahwa penyelenggaraan pelatihan harus mengikuti standar dan ketentuan yang berlaku. Lembaga pelatihan, metode pembelajaran, evaluasi, serta penerbitan bukti pelatihan perlu mengacu pada persyaratan otoritas maritim yang berwenang.

Ketentuan nasional dan persyaratan administrasi dapat mengalami penyesuaian. Karena itu, calon peserta sebaiknya memeriksa informasi terbaru dari lembaga pelatihan resmi atau instansi yang menangani pendidikan dan sertifikasi pelaut.

BACA JUGA: Proses Pelatihan dan Penerbitan Sertifikat Basic Safety Training

Persiapan Sebelum Mengikuti Pelatihan Basic Safety Training

Persiapan yang baik membantu peserta mengikuti pelatihan secara lebih teratur. Sebelum mendaftar, calon peserta sebaiknya memahami tujuan BST dan memeriksa persyaratan administrasi dari lembaga penyelenggara.

Beberapa hal yang dapat peserta siapkan antara lain:

  • Memeriksa persyaratan pendaftaran dari lembaga pelatihan.
  • Menyiapkan identitas diri sesuai ketentuan.
  • Memastikan data pribadi sesuai dengan dokumen pendukung.
  • Memahami jadwal dan durasi pelatihan.
  • Menyiapkan perlengkapan yang diminta penyelenggara.
  • Menjaga kondisi fisik agar dapat mengikuti latihan praktik.
  • Memahami aturan keselamatan selama kegiatan pelatihan.

Selain itu, peserta perlu memperhatikan kesesuaian nama, tanggal lahir, dan informasi identitas pada dokumen pendaftaran. Ketidaksesuaian data dapat menimbulkan kendala administrasi ketika lembaga melakukan verifikasi.

Peserta juga sebaiknya mencari informasi mengenai materi dan metode pelatihan sebelum mengikuti kegiatan. Dengan begitu, mereka dapat memahami gambaran pembelajaran dan mempersiapkan diri untuk mengikuti teori maupun praktik.

BACA JUGA: Tujuan dan Manfaat Basic Safety Training bagi Awak Kapal

Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Mengikuti BST

Peserta perlu memperhatikan beberapa hal agar proses pelatihan berjalan lancar dan memberikan hasil yang optimal. Kesalahan kecil dalam memahami prosedur keselamatan dapat memengaruhi kemampuan peserta ketika menghadapi keadaan darurat.

Pertama, peserta sebaiknya tidak hanya menghafal teori tanpa memahami penerapannya. Setiap prosedur memiliki tujuan tertentu sehingga peserta perlu memahami alasan di balik tindakan keselamatan.

Kedua, peserta tidak boleh mengabaikan latihan praktik. Keterampilan menggunakan alat keselamatan membutuhkan pemahaman dan latihan yang cukup. Karena itu, peserta perlu mengikuti arahan instruktur dan memanfaatkan kesempatan praktik.

Ketiga, peserta harus menghindari sikap meremehkan risiko. Kebakaran, kecelakaan kerja, dan keadaan darurat di laut dapat menimbulkan dampak serius. Oleh sebab itu, peserta perlu mengikuti setiap instruksi dengan disiplin.

Keempat, peserta perlu memeriksa dokumen dan data administrasi sebelum mengikuti pelatihan. Kesalahan penulisan nama atau informasi identitas dapat menghambat proses administrasi.

Terakhir, peserta sebaiknya tidak menganggap BST hanya sebagai formalitas untuk memperoleh sertifikat. Pengetahuan dari pelatihan ini memiliki manfaat langsung bagi keselamatan diri dan seluruh awak kapal.

Jasa Pengurusan Dokumen Basic Safety Training

Pengurusan dokumen yang berkaitan dengan pelatihan Basic Safety Training memerlukan ketelitian. Peserta perlu memastikan persyaratan administrasi, kesesuaian identitas, dan kelengkapan dokumen sesuai ketentuan lembaga penyelenggara.

PT Jangkar Global Groups melalui Jangkar Groups menyediakan layanan pendampingan pengurusan dokumen sesuai kebutuhan pemohon. Pendampingan dapat membantu memetakan kebutuhan administrasi, memeriksa kelengkapan dokumen, dan memahami tahapan pengurusan yang relevan.

Selain itu, pemohon dapat berkonsultasi mengenai dokumen pendukung yang perlu disiapkan. Namun, peserta tetap perlu mengikuti pelatihan pada lembaga yang berwenang dan memenuhi seluruh persyaratan kompetensi sesuai ketentuan STCW.

Dengan persiapan administrasi yang baik, peserta dapat lebih fokus mengikuti empat materi utama Basic Safety Training, yaitu teknik bertahan hidup di laut, pencegahan dan pemadaman kebakaran, pertolongan pertama dasar, serta keselamatan diri dan tanggung jawab sosial.

Konsultasi Dokumen Pelaut Sekarang

Siti Aidah
Konsultasi Gratis Balas cepat via WhatsApp