Contoh Bill of Material Produk Manufaktur & Cara Menghitungnya

Mega

Contoh Bill of Material Produk Manufaktur & Cara Menghitungnya
Direktur Utama Jangkar Groups

Contoh Bill of Material Produk Manufaktur & Cara Menghitungnya merupakan informasi penting bagi perusahaan yang ingin merencanakan kebutuhan bahan baku secara akurat. Dalam industri manufaktur, perusahaan perlu mengetahui jenis material, jumlah komponen, spesifikasi bahan, dan biaya yang di butuhkan untuk menghasilkan suatu produk. Oleh karena itu, perusahaan memerlukan Bill of Material (BOM) sebagai acuan dalam menghubungkan perencanaan produksi dengan pengadaan dan pengendalian persediaan.

Selain membantu menghitung kebutuhan material, BOM memudahkan tim produksi, gudang, dan pengadaan dalam menggunakan data yang konsisten. Dengan demikian, perusahaan dapat mengurangi risiko kekurangan bahan, mencegah pembelian berlebihan, serta mengendalikan biaya produksi. Namun, perusahaan perlu menyusun BOM berdasarkan spesifikasi produk dan kebutuhan operasional yang sebenarnya. Lalu, seperti apa contoh Bill of Material untuk produk manufaktur dan bagaimana cara menghitungnya? Simak pembahasan berikut.

Baca Juga : Daftar Bahan Baku / Bill of Material: Pengertian dan Cara Membuat

Apa Itu Bill of Material dalam Industri Manufaktur?

Apa Itu Bill of Material dalam Industri Manufaktur?

Bill of Material (BOM) adalah dokumen terstruktur yang merinci seluruh bahan baku, komponen, subrakitan, dan material lain yang di butuhkan untuk membuat suatu produk. Dokumen ini biasanya mencantumkan kode material, nama bahan, spesifikasi, jumlah kebutuhan, serta satuan pengukuran.

Baca Juga : Apa Itu Bill of Material (BOM)? Pengertian dan Contohnya

Dalam industri manufaktur, BOM menjadi penghubung antara desain produk dan pelaksanaan produksi. Melalui dokumen ini, tim produksi dapat mengetahui komponen yang harus mereka siapkan, sedangkan tim pengadaan dapat merencanakan pembelian material sesuai target produksi.

Sebagai contoh, perusahaan yang memproduksi meja membutuhkan papan kayu, kaki meja, sekrup, lem, dan pelapis permukaan. BOM mencatat seluruh material tersebut beserta jumlah yang di butuhkan untuk menghasilkan satu meja.

Baca Juga : Cara Membuat Daftar Bahan Baku untuk Produksi yang Benar

Selanjutnya, perusahaan dapat menggunakan informasi itu untuk menghitung kebutuhan material bagi 100 atau 1.000 unit. Dengan cara tersebut, perusahaan memiliki dasar perencanaan yang lebih terukur daripada sekadar memperkirakan kebutuhan bahan.

Meskipun daftar bahan baku sederhana dapat mencantumkan nama dan jumlah material, BOM juga dapat menampilkan struktur komponen secara bertingkat. Oleh sebab itu, dokumen ini sangat berguna bagi perusahaan yang menghasilkan produk dengan banyak bagian atau tahapan perakitan.

Baca Juga : Format Bill of Material (BOM) dan Contoh Tabelnya

Mengapa Bill of Material Penting bagi Perusahaan Manufaktur?

BOM memiliki peran penting karena setiap keputusan produksi bergantung pada ketersediaan material yang tepat. Selain itu, informasi dalam BOM membantu perusahaan mengoordinasikan pekerjaan antarbagian.

Baca Juga : Bill of Material Manufaktur: Jenis, Komponen, dan Manfaatnya

Pertama, BOM membantu perusahaan menghitung kebutuhan bahan berdasarkan target produksi. Dengan begitu, tim pengadaan dapat menyiapkan material sebelum jadwal produksi di mulai.

Kedua, BOM mendukung pengendalian persediaan. Tim gudang dapat membandingkan kebutuhan produksi dengan stok aktual sehingga perusahaan dapat menentukan jumlah pembelian berdasarkan kekurangan material.

Baca Juga : Perbedaan Bill of Material dan Daftar Bahan Baku Produksi

Selanjutnya, BOM membantu perusahaan memperkirakan biaya bahan baku. Tim terkait dapat mengalikan jumlah kebutuhan setiap material dengan harga per satuan untuk menghitung total biaya material.

Selain itu, BOM membantu menjaga konsistensi produk. Dengan menggunakan komposisi dan spesifikasi yang sama, tim produksi dapat mengurangi kesalahan pemilihan bahan dan menjaga hasil produksi sesuai standar perusahaan.

Pada akhirnya, BOM memberikan dasar informasi yang lebih jelas untuk perencanaan, pengadaan, pengendalian persediaan, dan evaluasi biaya produksi.

Baca Juga : Menghitung Kebutuhan Bahan Baku Berdasarkan Bill of Material

Komponen Utama dalam Bill of Material Produk Manufaktur

Agar dapat di gunakan secara efektif, BOM perlu memuat informasi yang jelas dan sesuai kebutuhan produksi. Berikut komponen utama yang umumnya terdapat dalam dokumen tersebut.

1. Kode dan nama produk

Informasi ini menunjukkan produk yang menjadi acuan BOM. Melalui kode produk, perusahaan dapat membedakan produk yang memiliki ukuran, model, atau spesifikasi berbeda.

2. Kode dan nama material

Setiap bahan baku atau komponen sebaiknya memiliki kode unik. Selain mempermudah pencatatan, kode tersebut membantu tim gudang mengenali material dengan lebih akurat.

Baca Juga : Jenis-Jenis Bill of Material: EBOM, MBOM, dan BOM Produksi

3. Spesifikasi bahan

Spesifikasi menjelaskan karakteristik material, seperti ukuran, ketebalan, warna, grade, atau jenis bahan. Dengan demikian, tim pengadaan dapat memilih material yang sesuai dengan kebutuhan teknis produk.

4. Kuantitas dan satuan

Kolom ini menunjukkan jumlah material yang di perlukan untuk menghasilkan satu unit produk. Gunakan satuan yang konsisten, seperti kilogram, gram, liter, meter, atau unit, agar tim tidak salah menghitung kebutuhan.

Baca Juga : Bill of Material untuk Pengendalian Persediaan dan Produksi

5. Harga material

Perusahaan dapat menambahkan harga per satuan untuk menghitung estimasi biaya bahan. Namun, pastikan harga mengacu pada data yang relevan dengan periode pembelian atau perencanaan.

6. Nomor revisi dan tanggal berlaku

Informasi ini membantu perusahaan mengelola perubahan BOM ketika desain, spesifikasi, atau komposisi produk mengalami perubahan. Dengan demikian, setiap bagian dapat menggunakan versi dokumen yang sesuai.

Baca Juga : Kesalahan dalam Membuat Bill of Material dan Cara Mengatasinya

Contoh Bill of Material Produk Manufaktur

Untuk memahami penerapannya, berikut contoh BOM sederhana untuk produk manufaktur berupa meja kerja. Angka pada tabel ini hanya ilustrasi dan perlu di sesuaikan dengan desain produk, spesifikasi material, serta proses produksi perusahaan.

Nama produk: Meja kerja
Kode produk: MJ001
Dasar perhitungan: Kebutuhan material untuk satu unit meja

No.Kode MaterialNama MaterialSpesifikasiJumlah per UnitSatuan
1MT001Papan mejaSesuai ukuran desain1Lembar
2MT002Kaki mejaSesuai tinggi desain4Buah
3MT003SekrupSesuai kebutuhan sambungan16Buah
4MT004Lem kayuSesuai standar pemakaian0,1Liter
5MT005Pelapis permukaanSesuai spesifikasi produk0,2Liter

Tabel tersebut menunjukkan jumlah material yang perusahaan perlukan untuk memproduksi satu meja. Selanjutnya, perusahaan dapat mengalikan kebutuhan per unit dengan target produksi untuk menghitung total kebutuhan bahan.

Sebagai contoh, jika perusahaan ingin memproduksi 50 meja, perusahaan memerlukan 50 lembar papan meja, 200 kaki meja, 800 sekrup, 5 liter lem kayu, dan 10 liter pelapis permukaan.

Namun, angka tersebut belum memperhitungkan kemungkinan susut atau kerusakan material. Oleh karena itu, perusahaan perlu memeriksa data pemakaian aktual dan menambahkan kebutuhan cadangan apabila proses produksi memang memerlukannya.

Cara Menghitung Kebutuhan Bahan Baku dari BOM

Perhitungan kebutuhan bahan baku pada dasarnya menggunakan jumlah material per unit dan target produksi. Rumus sederhana yang dapat perusahaan gunakan adalah:

Total kebutuhan material = Kebutuhan material per unit × Target produksi

Sebagai contoh, satu unit produk membutuhkan empat kaki meja. Jika perusahaan ingin menghasilkan 50 meja, perhitungannya menjadi:

4 kaki × 50 meja = 200 kaki meja.

Dengan cara yang sama, perusahaan dapat menghitung kebutuhan seluruh material dalam BOM. Selanjutnya, tim pengadaan dapat membandingkan total kebutuhan tersebut dengan stok yang tersedia.

Berikut contoh perhitungan kebutuhan material untuk target 50 meja.

Nama MaterialKebutuhan per UnitTarget ProduksiTotal Kebutuhan
Papan meja1 lembar50 unit50 lembar
Kaki meja4 buah50 unit200 buah
Sekrup16 buah50 unit800 buah
Lem kayu0,1 liter50 unit5 liter
Pelapis permukaan0,2 liter50 unit10 liter

Melalui tabel tersebut, perusahaan dapat melihat total kebutuhan setiap material dengan lebih jelas. Selain itu, data tersebut memudahkan tim gudang dalam memeriksa kecukupan persediaan.

Cara Menghitung Jumlah Pembelian Material

Total kebutuhan produksi belum tentu sama dengan jumlah material yang harus perusahaan beli. Sebab, perusahaan mungkin masih memiliki stok yang dapat di gunakan.

Untuk memperkirakan jumlah pembelian, perusahaan dapat menggunakan rumus berikut:

Kebutuhan pembelian = Total kebutuhan produksi − Stok tersedia yang dapat di gunakan

Misalnya, total kebutuhan papan meja mencapai 50 lembar, sedangkan stok layak pakai di gudang berjumlah 15 lembar. Dengan demikian, kebutuhan pembelian awal mencapai:

50 lembar − 15 lembar = 35 lembar.

Namun, sebelum membuat pesanan pembelian, tim perlu memeriksa material yang sudah di pesan, stok yang dialokasikan untuk pekerjaan lain, dan kebutuhan stok pengaman. Dengan demikian, keputusan pembelian dapat mencerminkan kondisi persediaan yang sebenarnya.

Contoh Cara Menghitung Biaya Material dari BOM

Selain menghitung jumlah bahan, perusahaan dapat menggunakan BOM untuk memperkirakan biaya material. Caranya, kalikan jumlah kebutuhan setiap bahan dengan harga per satuan, lalu jumlahkan seluruh hasil perhitungan tersebut.

Rumus biaya material per komponen:

Biaya material = Jumlah kebutuhan × Harga per satuan

Berikut contoh perhitungan estimasi biaya material untuk satu meja.

Nama MaterialJumlah per UnitHarga per SatuanTotal Biaya
Papan meja1 lembarRp150.000Rp150.000
Kaki meja4 buahRp25.000Rp100.000
Sekrup16 buahRp500Rp8.000
Lem kayu0,1 literRp50.000/literRp5.000
Pelapis permukaan0,2 literRp75.000/literRp15.000
TotalRp278.000

Catatan: Harga dalam tabel hanya ilustrasi untuk menjelaskan metode perhitungan, bukan harga pasar yang berlaku.

Berdasarkan contoh tersebut, estimasi biaya material untuk satu meja mencapai Rp278.000. Selanjutnya, jika perusahaan memproduksi 50 meja dengan komposisi dan harga yang sama, estimasi biaya material menjadi:

Rp278.000 × 50 unit = Rp13.900.000.

Meskipun demikian, angka tersebut hanya mencakup material yang tercantum dalam tabel. Untuk memperoleh total biaya produksi, perusahaan perlu memperhitungkan biaya tenaga kerja, overhead pabrik, biaya operasional lain, serta faktor tambahan yang relevan.

Selain itu, perusahaan perlu memperbarui harga material secara berkala karena perubahan harga pemasok dapat memengaruhi estimasi anggaran produksi.

Cara Membuat Bill of Material yang Akurat

Agar BOM memberikan hasil yang dapat di andalkan, perusahaan perlu menyusun dokumen berdasarkan data produksi yang benar. Berikut langkah-langkah yang dapat di terapkan.

1. Tentukan Produk dan Spesifikasinya

Pertama, catat nama produk, kode, varian, ukuran, dan spesifikasi teknis. Langkah ini membantu perusahaan memastikan bahwa BOM sesuai dengan produk yang akan mereka hasilkan.

2. Identifikasi Seluruh Material

Selanjutnya, susun daftar semua bahan baku dan komponen berdasarkan gambar desain, resep produksi, instruksi kerja, atau dokumen teknis. Selain bahan utama, periksa juga material pendukung dan kemasan jika proses produksi membutuhkannya.

3. Tetapkan Jumlah per Unit

Kemudian, tentukan kebutuhan setiap material untuk menghasilkan satu unit produk. Jika perusahaan memiliki catatan pemakaian bahan dari produksi sebelumnya, gunakan data tersebut untuk memeriksa kewajaran angka.

4. Hitung Kebutuhan Berdasarkan Target Produksi

Berikutnya, kalikan kebutuhan per unit dengan target produksi. Setelah itu, periksa stok tersedia agar tim dapat memperkirakan jumlah pembelian yang tepat.

5. Periksa dan Perbarui Dokumen

Terakhir, mintalah tim produksi, gudang, dan pengadaan memeriksa data BOM. Selain itu, perbarui dokumen saat terjadi perubahan desain, komposisi, atau spesifikasi material.

Dengan pengelolaan revisi yang baik, perusahaan dapat mengurangi risiko penggunaan dokumen lama dan menjaga konsistensi data antarbagian.

Kesalahan yang Perlu Di hindari Saat Menghitung BOM

Meskipun perhitungannya terlihat sederhana, beberapa kesalahan dapat meningkatkan biaya atau menghambat produksi. Oleh karena itu, perusahaan perlu memperhatikan beberapa hal.

Pertama, pastikan semua kuantitas menggunakan satuan yang konsisten. Kesalahan konversi antara gram dan kilogram, misalnya, dapat menghasilkan kebutuhan material yang keliru.

Kedua, hindari penggunaan data spesifikasi yang sudah tidak sesuai dengan desain produk. Selanjutnya, periksa kembali stok sebelum membuat pesanan pembelian agar perusahaan tidak membeli material yang sebenarnya masih mencukupi.

Ketiga, gunakan data susut berdasarkan kondisi produksi aktual. Jangan menambahkan persentase susut secara sembarangan karena asumsi yang tidak tepat dapat meningkatkan biaya material.

Terakhir, perbarui BOM ketika perusahaan mengubah desain atau komposisi produk. Dengan begitu, tim dapat bekerja menggunakan informasi yang sesuai dengan kebutuhan produksi terbaru.

Bill of Material membantu perusahaan manufaktur merinci bahan baku dan komponen yang di perlukan untuk menghasilkan suatu produk. Melalui contoh BOM dan perhitungan yang tepat, perusahaan dapat menentukan kebutuhan material per unit, menghitung total kebutuhan produksi, memperkirakan jumlah pembelian, serta mengestimasi biaya material.

Agar hasil perhitungan akurat, perusahaan perlu menggunakan spesifikasi produk yang benar, menetapkan satuan secara konsisten, memeriksa persediaan aktual, dan memperbarui data ketika terjadi perubahan. Selain itu, perusahaan perlu membedakan kebutuhan total produksi dari kebutuhan pembelian agar pengadaan material berjalan lebih efisien.

Dengan demikian, pengelolaan BOM yang terstruktur dapat membantu perusahaan meningkatkan ketepatan perencanaan material, mengendalikan biaya, dan mendukung kelancaran proses produksi.

Konsultasi Pengurusan Dokumen Anda Sekarang

Mega