Cara Memeriksa dan Merawat Peralatan Keselamatan Kapal

Isma

Cara Memeriksa dan Merawat Peralatan Keselamatan Kapal
Direktur Utama Jangkar Groups

Cara memeriksa dan merawat peralatan keselamatan kapal merupakan bagian penting dari upaya menjaga keselamatan awak kapal, penumpang, dan seluruh kegiatan pelayaran. Setiap kapal menghadapi risiko, mulai dari kebakaran, kerusakan mesin, cuaca buruk, hingga keadaan darurat yang mengharuskan awak kapal meninggalkan kapal. Oleh karena itu, setiap perlengkapan keselamatan harus berada dalam kondisi baik dan siap digunakan kapan saja.

Namun, menyediakan peralatan saja tidak cukup. Pemilik kapal, nakhoda, dan petugas keselamatan perlu menjalankan pemeriksaan secara teratur, mengikuti petunjuk produsen, serta mencatat setiap kegiatan perawatan. Selain itu, awak kapal harus memahami cara menggunakan perlengkapan tersebut dengan benar. Melalui pemeriksaan yang sistematis, kapal dapat mengurangi risiko kegagalan alat dan meningkatkan kesiapan menghadapi keadaan darurat.

Mengapa Pemeriksaan dan Perawatan Peralatan Keselamatan Kapal Penting?

Peralatan keselamatan kapal membantu awak kapal menghadapi berbagai situasi berbahaya. Misalnya, jaket penolong membantu seseorang tetap mengapung ketika jatuh ke laut, sedangkan alat pemadam kebakaran membantu menangani api pada tahap awal apabila situasi memungkinkan.

Akan tetapi, kerusakan kecil dapat mengurangi fungsi perlengkapan tersebut. Tali jaket penolong yang robek, tabung pemadam yang kehilangan tekanan, atau radio komunikasi yang mengalami gangguan dapat menghambat respons darurat. Karena itu, pemeriksaan rutin menjadi langkah pencegahan yang tidak boleh diabaikan.

Selain meningkatkan keandalan alat, perawatan juga membantu perusahaan mengendalikan biaya operasional. Petugas dapat menemukan kerusakan sejak dini sehingga perusahaan memiliki waktu untuk memperbaiki atau mengganti perlengkapan sebelum kapal berangkat.

Di samping itu, pemeriksaan membantu pengelola kapal memenuhi ketentuan keselamatan yang berlaku. Dengan demikian, kegiatan perawatan bukan sekadar pekerjaan teknis, melainkan bagian dari sistem manajemen keselamatan kapal.

1. Menyusun Jadwal Pemeriksaan Peralatan Keselamatan

Langkah pertama ialah membuat jadwal pemeriksaan yang jelas. Tanpa jadwal, petugas berisiko melewatkan perlengkapan tertentu atau baru mengetahui kerusakan ketika keadaan darurat terjadi.

Nakhoda bersama petugas yang bertanggung jawab perlu menyusun jadwal berdasarkan jenis peralatan, intensitas penggunaan, petunjuk produsen, dan ketentuan yang berlaku. Sebagai contoh, awak kapal perlu memeriksa kondisi perlengkapan penting sebelum keberangkatan, sedangkan perangkat tertentu membutuhkan pemeriksaan berkala oleh teknisi atau penyedia jasa yang kompeten.

Jadwal pemeriksaan dapat mencakup beberapa kegiatan berikut:

  • Pemeriksaan visual sebelum kapal berangkat.
  • Pemeriksaan berkala sesuai prosedur operasional.
  • Pengujian fungsi untuk perangkat yang memerlukannya.
  • Pemeriksaan profesional sesuai interval yang ditentukan.
  • Evaluasi setelah penggunaan dalam keadaan darurat.
  • Penggantian perlengkapan yang rusak atau kedaluwarsa.

Selanjutnya, petugas perlu mencatat waktu pemeriksaan, nama pemeriksa, hasil temuan, dan tindakan perbaikan. Dengan pencatatan tersebut, pengelola dapat mengetahui riwayat kondisi setiap alat dan menentukan jadwal tindak lanjut secara lebih akurat.

2. Memeriksa Jaket Penolong dan Pelampung Penolong

Jaket penolong dan pelampung penolong merupakan perlengkapan penting untuk menghadapi keadaan darurat di laut. Oleh sebab itu, petugas harus memastikan keduanya berada dalam kondisi layak dan mudah dijangkau.

Saat memeriksa jaket penolong, perhatikan bahan luar, jahitan, tali pengikat, gesper, serta komponen tambahan sesuai desainnya. Pastikan tidak ada bagian yang robek, rapuh, atau mengalami kerusakan akibat paparan sinar matahari dan air laut.

Selain itu, periksa jumlah jaket penolong agar sesuai dengan kebutuhan dan ketentuan kapal. Tempat penyimpanan juga harus memungkinkan awak kapal mengambil jaket dengan cepat tanpa memindahkan banyak barang.

Untuk pelampung penolong, periksa kondisi badan pelampung, tali, lampu, atau perangkat tambahan apabila perlengkapan tersebut menggunakannya. Pastikan tidak ada kerusakan yang mengurangi fungsi alat.

Namun, jangan mencoba memperbaiki komponen keselamatan dengan cara yang tidak sesuai petunjuk produsen. Jika petugas menemukan kerusakan serius, mereka perlu memisahkan alat dari perlengkapan siap pakai dan mengatur perbaikan atau penggantian.

3. Memeriksa Sekoci dan Rakit Penolong

Sekoci dan rakit penolong membantu proses evakuasi ketika awak kapal harus meninggalkan kapal. Karena fungsinya sangat penting, pemeriksaannya memerlukan perhatian khusus serta kepatuhan terhadap prosedur yang berlaku.

Pertama, periksa kondisi fisik sekoci, bagian pengaman, akses masuk, serta perlengkapan pendukungnya. Selanjutnya, pastikan area penyimpanan tidak terhalang benda lain dan kru dapat menjangkaunya melalui jalur yang aman.

Untuk rakit penolong, perhatikan identitas unit, kapasitas, kondisi wadah, segel, serta tanggal atau jadwal servis yang tercantum pada dokumentasinya. Petugas juga perlu memeriksa sistem peluncuran apabila kapal menggunakan perangkat tersebut.

Akan tetapi, awak kapal tidak boleh membuka kemasan rakit penolong yang tersegel atau melakukan pengujian yang dapat merusak perlengkapan tanpa kewenangan dan prosedur yang tepat. Pemeriksaan tertentu harus melibatkan penyedia servis yang kompeten.

Selain itu, kru perlu memahami prosedur peluncuran dan penggunaan sarana penyelamatan. Latihan berkala membantu mereka mengenali tanggung jawab masing-masing ketika menghadapi keadaan darurat.

4. Merawat Alat Pemadam Kebakaran

Alat pemadam kebakaran membutuhkan pemeriksaan teratur karena kebakaran dapat berkembang dengan cepat di kapal. Sumber api dapat berasal dari ruang mesin, instalasi listrik, dapur, atau bahan mudah terbakar.

Petugas perlu memeriksa kondisi tabung, segel, pin pengaman, selang, label petunjuk, dan indikator tekanan jika alat memilikinya. Pastikan pula alat pemadam berada di lokasi yang mudah dijangkau dan sesuai dengan jenis potensi kebakaran di area tersebut.

Berikutnya, periksa jadwal inspeksi dan servis berdasarkan ketentuan serta petunjuk produsen. Jangan hanya mengandalkan penampilan luar karena beberapa gangguan tidak terlihat melalui pemeriksaan visual.

Jika indikator menunjukkan kondisi yang tidak sesuai, tabung mengalami korosi, atau segel rusak, petugas harus menindaklanjutinya sesuai prosedur. Selain itu, mereka perlu memastikan jenis media pemadam cocok untuk risiko di sekitar lokasi pemasangan.

Awak kapal juga harus memahami cara menggunakan alat pemadam. Namun, mereka tidak boleh mencoba memadamkan api yang sudah membesar atau menghalangi jalur evakuasi. Dalam kondisi seperti itu, keselamatan jiwa dan pelaksanaan prosedur darurat harus menjadi prioritas.

5. Memeriksa Kotak P3K dan Peralatan Medis

Kotak pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) mendukung penanganan awal ketika awak kapal atau penumpang mengalami cedera. Oleh karena itu, petugas perlu memeriksa kelengkapan dan kondisi seluruh bahan medis secara berkala.

Mulailah dengan mencocokkan isi kotak terhadap daftar inventaris. Kemudian, periksa tanggal kedaluwarsa, kondisi kemasan, kebersihan, dan kelayakan alat seperti gunting medis atau termometer.

Ganti bahan yang sudah terpakai, rusak, atau melewati tanggal kedaluwarsa. Selain itu, simpan obat dan perlengkapan medis sesuai petunjuk penyimpanan masing-masing produk. Hindari tempat yang terlalu panas, lembap, atau berisiko terkena air laut.

Petugas juga perlu memastikan kotak P3K mudah ditemukan ketika keadaan darurat terjadi. Berikan penanda yang jelas dan informasikan lokasinya kepada awak kapal.

Sementara itu, alat medis elektronik membutuhkan pemeriksaan tambahan. Misalnya, petugas perlu memeriksa baterai, kondisi kabel, serta fungsi perangkat sesuai instruksi produsen. Jika alat menunjukkan gangguan, mintalah pemeriksaan teknis sebelum menggunakannya untuk menangani korban.

6. Menguji Radio Komunikasi dan Perangkat Navigasi

Radio komunikasi dan perangkat navigasi membantu kapal mempertahankan komunikasi serta menentukan posisi selama pelayaran. Karena itu, gangguan pada perangkat tersebut dapat mempersulit pengambilan keputusan saat situasi darurat.

Untuk radio komunikasi, periksa sumber daya, sambungan antena, mikrofon, pengeras suara, dan kondisi fisik perangkat. Selanjutnya, lakukan pengujian sesuai prosedur komunikasi yang berlaku agar petugas dapat memastikan alat berfungsi tanpa mengganggu kanal darurat.

Untuk perangkat navigasi, periksa kompas, GPS, lampu navigasi, serta perangkat elektronik lain yang tersedia di kapal. Pastikan tampilan informasi berfungsi, sambungan listrik stabil, dan baterai cadangan tersedia apabila diperlukan.

Selain itu, kru harus memastikan peta dan informasi navigasi yang digunakan sesuai dengan kebutuhan pelayaran. Perangkat elektronik memang membantu, tetapi awak kapal tetap perlu memahami prosedur cadangan apabila sistem utama mengalami gangguan.

Lakukan pemeriksaan tambahan setelah perbaikan instalasi listrik atau ketika kapal mengalami gangguan daya. Dengan demikian, petugas dapat menemukan masalah sebelum kapal kembali beroperasi.

7. Memeriksa Alat Isyarat Darurat

Alat isyarat darurat membantu kapal menunjukkan posisi atau meminta pertolongan. Jenis perlengkapannya dapat mencakup peluit, lampu isyarat, suar, dan perangkat elektronik tertentu sesuai kebutuhan serta ketentuan kapal.

Petugas perlu memeriksa kondisi fisik, kelengkapan, masa berlaku, dan cara penyimpanan setiap alat. Khusus perangkat piroteknik, kru harus mengikuti petunjuk penanganan karena alat tersebut memiliki risiko jika digunakan secara tidak tepat.

Simpan perlengkapan di tempat yang terlindung dari kelembapan dan mudah dijangkau ketika darurat. Selanjutnya, pastikan awak kapal mengetahui lokasi setiap alat serta memahami prosedur penggunaannya.

Jika alat telah melewati masa berlaku atau menunjukkan kerusakan, petugas perlu mengatur penggantian sesuai ketentuan. Jangan membuang atau menguji alat piroteknik secara sembarangan karena tindakan tersebut dapat membahayakan orang dan lingkungan.

8. Memeriksa Tali, APD, dan Perlengkapan Kerja

Tali penyelamat, tali pendukung, sepatu antiselip, sarung tangan, serta alat pelindung diri (APD) membantu mengurangi risiko kecelakaan selama kegiatan operasional kapal.

Untuk tali, periksa bagian yang mengalami gesekan, serat putus, perubahan bentuk, atau kerusakan akibat bahan kimia. Selanjutnya, pastikan petugas menyimpan tali dengan rapi dan tidak membiarkannya terkena kondisi yang dapat mempercepat penurunan kualitas.

Sementara itu, periksa sol sepatu, jahitan pakaian pelindung, kondisi sarung tangan, dan fungsi APD lain sesuai jenis pekerjaan. Ganti perlengkapan yang tidak lagi memberikan perlindungan memadai.

Namun, petugas tidak boleh menentukan kelayakan tali atau alat pengaman hanya berdasarkan penampilan. Beberapa komponen membutuhkan pemeriksaan berdasarkan standar teknis, batas masa pakai, dan riwayat penggunaan.

9. Membersihkan dan Menyimpan Peralatan dengan Benar

Lingkungan laut mempercepat korosi pada komponen logam dan dapat merusak beberapa bahan akibat paparan garam, panas, serta kelembapan. Oleh sebab itu, pembersihan dan penyimpanan berperan penting dalam perawatan perlengkapan keselamatan.

Gunakan metode pembersihan yang direkomendasikan produsen. Setelah membersihkan perlengkapan, keringkan bagian yang memang boleh terkena proses pengeringan dan simpan alat pada lokasi yang sesuai.

Selain itu, hindari penggunaan bahan pembersih yang dapat merusak lapisan pelindung atau komponen tertentu. Untuk perangkat elektronik, pastikan petugas mengikuti prosedur yang aman dan tidak membasahi bagian yang sensitif terhadap air.

Pengelola kapal juga perlu menjaga tempat penyimpanan tetap rapi. Dengan begitu, awak kapal dapat menemukan alat yang dibutuhkan tanpa menghabiskan waktu mencari atau memindahkan barang lain.

10. Membuat Catatan Pemeriksaan dan Tindakan Perbaikan

Pencatatan membantu perusahaan memantau kondisi perlengkapan keselamatan dari waktu ke waktu. Tanpa dokumentasi yang baik, petugas dapat kesulitan mengetahui kapan alat terakhir diperiksa atau apakah kerusakan sebelumnya sudah ditangani.

Catatan pemeriksaan sebaiknya mencantumkan nama alat, nomor identifikasi jika tersedia, tanggal pemeriksaan, kondisi alat, temuan, nama petugas, dan tindakan tindak lanjut. Selanjutnya, pengelola perlu menyimpan bukti servis atau dokumen pendukung sesuai kebutuhan dan ketentuan.

Jika petugas menemukan kerusakan, mereka harus menentukan tingkat urgensi perbaikan. Perlengkapan yang tidak layak tidak boleh dianggap siap digunakan hanya karena masih berada di tempat penyimpanan.

Di samping itu, perusahaan perlu mengevaluasi temuan secara berkala. Jika kerusakan serupa terus muncul, pengelola dapat meninjau cara penyimpanan, frekuensi pemeriksaan, kualitas perlengkapan, atau kebutuhan pelatihan awak kapal.

Kesalahan yang Harus Dihindari dalam Perawatan

Beberapa kesalahan dapat menurunkan kesiapan peralatan keselamatan kapal. Pertama, mengabaikan pemeriksaan karena alat jarang digunakan. Padahal, perlengkapan yang lama tersimpan tetap dapat mengalami kerusakan.

Kedua, menunda perbaikan setelah petugas menemukan masalah. Tindakan ini dapat meningkatkan risiko kegagalan alat ketika awak kapal membutuhkannya.

Ketiga, menggunakan suku cadang yang tidak sesuai atau melakukan modifikasi tanpa persetujuan teknis. Cara tersebut berpotensi mengurangi fungsi keselamatan dan menimbulkan masalah saat pemeriksaan.

Terakhir, menganggap latihan tidak penting juga merupakan kekeliruan. Awak kapal harus memahami cara mengambil, menggunakan, dan mengembalikan perlengkapan sesuai prosedur.

Cara memeriksa dan merawat peralatan keselamatan kapal mencakup penyusunan jadwal, pemeriksaan fisik, pengujian fungsi, pembersihan, penyimpanan, pencatatan, serta perbaikan oleh pihak yang kompeten. Setiap jenis perlengkapan memiliki kebutuhan perawatan yang berbeda sehingga petugas harus mengikuti petunjuk produsen dan ketentuan yang berlaku.

Selain itu, pemilik kapal dan nakhoda perlu memastikan awak kapal memahami fungsi perlengkapan serta prosedur penggunaannya. Pemeriksaan yang teratur membantu menemukan kerusakan lebih awal, sedangkan dokumentasi yang tertib memudahkan pengawasan dan perencanaan perawatan.

Pada akhirnya, perawatan yang konsisten mendukung keselamatan awak kapal, penumpang, dan operasional pelayaran. Dengan perlengkapan yang layak serta kru yang terlatih, kapal dapat menghadapi keadaan darurat secara lebih siap dan terorganisasi.

Konsultasi Dokumen Pelaut Sekarang

Isma
Konsultasi Gratis Balas cepat via WhatsApp