Alat pemadam kebakaran di kapal merupakan perlengkapan keselamatan yang berperan penting dalam mencegah kebakaran berkembang menjadi keadaan darurat yang mengancam jiwa. Aktivitas pelayaran menghadirkan berbagai risiko, mulai dari gangguan instalasi listrik, kebocoran bahan bakar, panas mesin, hingga kesalahan penanganan bahan mudah terbakar. Oleh karena itu, setiap kapal membutuhkan sistem pemadam kebakaran yang sesuai dengan karakteristik operasional, ukuran kapal, dan potensi bahaya di setiap ruang.
Selain menyediakan alat pemadam yang tepat, perusahaan pelayaran perlu memastikan awak kapal memahami cara penggunaannya. Sebab, pemilihan media pemadam yang salah justru dapat memperbesar bahaya, terutama ketika kebakaran melibatkan peralatan listrik atau bahan bakar. Dengan demikian, pengetahuan mengenai jenis, fungsi, penempatan, pemeriksaan, dan prosedur penggunaan alat pemadam kebakaran menjadi bagian penting dalam penerapan keselamatan maritim.
Artikel ini membahas berbagai jenis alat pemadam kebakaran di kapal, sistem pendukungnya, persyaratan keselamatan, serta langkah perawatan yang membantu menjaga kesiapan kapal selama beroperasi.
Baca Juga : Peralatan Keselamatan Kapal: Jenis, Fungsi, dan Persyaratan
1. Pengertian Alat Pemadam Kebakaran di Kapal
Alat pemadam kebakaran di kapal mencakup perangkat portabel, sistem pemadam tetap, dan perlengkapan pendukung yang membantu awak kapal mengendalikan api. Perangkat tersebut bekerja dengan memutus salah satu unsur yang mendukung pembakaran, seperti panas, oksigen, atau reaksi kimia berantai.
Namun, kebutuhan pemadaman pada kapal berbeda dari bangunan di darat. Ruang mesin yang sempit, getaran, pergerakan kapal, akses evakuasi terbatas, serta keberadaan bahan bakar menciptakan tantangan tersendiri. Karena itu, pengelola kapal perlu memilih perangkat berdasarkan jenis risiko dan mengikuti ketentuan keselamatan yang berlaku.
Secara umum, sistem pemadam kebakaran kapal terdiri atas dua kelompok utama. Pertama, alat pemadam portabel yang dapat dibawa petugas menuju sumber api. Kedua, sistem pemadam tetap yang melindungi area tertentu melalui jaringan pipa, nosel, tabung gas, atau perangkat otomatis.
Kedua kelompok tersebut saling melengkapi. Alat portabel membantu menangani kebakaran kecil pada tahap awal, sedangkan sistem tetap dapat melindungi ruang berisiko tinggi atau area yang sulit dijangkau secara langsung.
Baca Juga : Konsultasi Peralatan dan Dokumen Keselamatan Kapal
2. Jenis-Jenis Alat Pemadam Kebakaran di Kapal
Setiap alat pemadam memiliki karakteristik dan batas penggunaan. Oleh sebab itu, awak kapal perlu memahami jenis media pemadam sebelum mengambil tindakan.
A. Alat Pemadam Api Ringan (APAR)
APAR atau portable fire extinguisher merupakan perangkat portabel yang dirancang untuk menangani kebakaran pada tahap awal. Kapal dapat menyediakan beberapa jenis APAR sesuai risiko kebakaran di ruang akomodasi, anjungan, ruang mesin, dan area kerja.
APAR menawarkan kemudahan penggunaan karena petugas dapat membawanya langsung ke lokasi kebakaran. Meskipun demikian, kapasitas setiap tabung terbatas. Karena itu, awak kapal harus menilai kondisi api dan jalur penyelamatan sebelum mencoba memadamkannya.
Selain itu, petugas perlu memeriksa label, petunjuk pengoperasian, segel, tekanan jika relevan, serta kondisi fisik tabung. Pemeriksaan tersebut membantu memastikan APAR siap digunakan ketika keadaan darurat muncul.
Baca Juga : Jaket Penolong Kapal: Fungsi, Jenis, dan Pemeriksaan
B. APAR Serbuk Kimia Kering
APAR serbuk kimia kering atau dry chemical powder extinguisher menggunakan serbuk khusus untuk menghambat reaksi pembakaran. Jenis tertentu dapat menangani kebakaran bahan padat, cairan mudah terbakar, atau gas, sesuai klasifikasi dan label produknya.
Alat ini sering berguna di area yang memiliki risiko kebakaran bahan bakar dan sejumlah bahan mudah terbakar lainnya. Namun, serbuk dapat mengurangi jarak pandang serta meninggalkan residu yang mengganggu peralatan sensitif.
Oleh karena itu, petugas harus memilih jenis serbuk berdasarkan klasifikasi kebakaran dan petunjuk produsen. Mereka juga perlu mempertimbangkan dampak residu terhadap mesin, panel kontrol, dan perangkat elektronik di sekitar lokasi.
Baca Juga : Sekoci dan Rakit Penolong Kapal
C. APAR Karbon Dioksida (COâ‚‚)
APAR karbon dioksida menggunakan gas COâ‚‚ untuk membantu memadamkan api tanpa meninggalkan residu serbuk. Jenis ini dapat digunakan pada kebakaran tertentu yang melibatkan peralatan listrik bertegangan dan cairan mudah terbakar, sesuai klasifikasi produk.
Karena tidak meninggalkan residu, APAR COâ‚‚ dapat berguna di sekitar panel listrik atau perangkat elektronik. Akan tetapi, gas ini dapat mengurangi kadar oksigen di ruang tertutup dan menimbulkan risiko sesak napas.
Dengan demikian, awak kapal perlu memperhatikan ventilasi, ukuran ruangan, dan keselamatan orang di sekitarnya. Petugas juga harus menghindari kontak langsung dengan bagian tabung atau nosel yang sangat dingin selama pengoperasian.
Baca Juga : Alat Isyarat dan Komunikasi Darurat Kapal
D. APAR Busa
APAR busa atau foam extinguisher menghasilkan busa yang membantu menutupi permukaan bahan bakar cair dan membatasi kontak dengan oksigen. Media ini dapat berguna untuk kebakaran cairan mudah terbakar tertentu serta bahan padat, bergantung pada formulasi dan klasifikasi alat.
Namun, awak kapal tidak boleh menggunakan sembarang busa pada instalasi listrik yang masih bertegangan. Selain itu, tidak semua formulasi busa cocok untuk semua jenis bahan bakar atau kondisi lingkungan.
Karena itu, petugas perlu membaca label dan memastikan media tersebut sesuai dengan jenis kebakaran yang dihadapi.
Baca Juga : Peralatan Navigasi Kapal dan Fungsinya
E. APAR Air
APAR air memanfaatkan air untuk menyerap panas dan membantu mendinginkan material yang terbakar. Media ini sesuai untuk kebakaran bahan padat tertentu, seperti kayu, kertas, atau kain.
Meskipun demikian, air dapat menghantarkan listrik dan menyebarkan sejumlah cairan mudah terbakar. Oleh sebab itu, petugas tidak boleh menggunakannya secara sembarangan pada kebakaran listrik atau kebakaran cairan yang dapat menyebar melalui air.
Di kapal, pemilihan APAR air harus mempertimbangkan lokasi, material di sekitarnya, serta risiko yang mungkin muncul selama pemadaman.
Baca Juga : Kotak P3K dan Peralatan Medis di Kapal
3. Sistem Pemadam Kebakaran Tetap di Kapal
Selain APAR, kapal membutuhkan sistem pemadam tetap sesuai persyaratan yang berlaku dan profil risikonya. Sistem ini melindungi ruang tertentu serta membantu awak kapal menangani kebakaran yang berpotensi membesar.
A. Sistem Pemadam COâ‚‚ Tetap
Sistem COâ‚‚ tetap umumnya melindungi ruang mesin atau ruang tertentu yang memiliki rancangan khusus untuk menggunakan media gas. Ketika sistem bekerja, COâ‚‚ mengurangi kemampuan atmosfer mendukung pembakaran.
Namun, pelepasan COâ‚‚ dapat mematikan bagi manusia di dalam ruang tersebut. Karena itu, awak kapal harus mengikuti prosedur ketat, memastikan personel meninggalkan area, memberikan peringatan yang sesuai, serta melakukan pengamanan sebelum pelepasan media.
Petugas tidak boleh mengaktifkan sistem hanya berdasarkan perkiraan tanpa mengikuti prosedur darurat dan kewenangan yang berlaku.
Baca Juga : Daftar Peralatan Keselamatan Kapal Nelayan
B. Sistem Pemadam Busa Tetap
Sistem busa tetap dapat melindungi area tertentu yang memiliki risiko kebakaran cairan mudah terbakar. Juga, sistem ini menggunakan jaringan distribusi untuk mengalirkan busa menuju area sasaran.
Pada kapal tertentu, sistem busa berperan dalam perlindungan area geladak atau ruang yang berkaitan dengan penanganan bahan bakar. Namun, desain dan media yang digunakan harus sesuai dengan jenis bahaya serta standar keselamatan yang berlaku.
C. Sistem Penyemprot Air dan Sprinkler
Sistem penyemprot air atau sprinkler membantu mengendalikan kebakaran melalui distribusi air pada area yang dirancang untuk perlindungan tersebut. Pada beberapa kapal, sistem sprinkler atau sistem penyemprotan air otomatis melindungi ruang akomodasi dan area tertentu.
Selain membantu mendinginkan material, sistem ini dapat memperlambat penyebaran api. Meski begitu, awak kapal harus memastikan tekanan, katup, pompa, dan jaringan pipa berada dalam kondisi siap operasi.
Baca Juga : Cara Memeriksa dan Merawat Peralatan Keselamatan Kapal
D. Sistem Kabut Air
Sistem kabut air atau water mist menghasilkan butiran air berukuran kecil yang membantu menyerap panas dan mengendalikan api. Desain tertentu dapat mengurangi kebutuhan air dibandingkan sistem penyemprotan konvensional.
Sistem ini dapat melindungi area tertentu, termasuk ruang mesin atau kompartemen teknis, apabila desain kapal dan persetujuan teknis mendukung penggunaannya. Namun, awak kapal harus memahami batas kemampuan sistem karena efektivitasnya bergantung pada rancangan, jenis kebakaran, dan kondisi ruang.
4. Klasifikasi Kebakaran dan Pemilihan Media Pemadam
Sebelum memilih alat pemadam, awak kapal harus mengenali bahan yang terbakar. Klasifikasi kebakaran membantu petugas menentukan media yang tepat, tetapi istilah dan pembagian kelas dapat berbeda menurut standar yang digunakan.
Secara umum, kebakaran dapat melibatkan bahan padat, cairan mudah terbakar, gas, logam tertentu, atau peralatan listrik yang masih bertegangan. Setiap kondisi membutuhkan pendekatan berbeda.
- Bahan padat, seperti kayu, kertas, dan kain, umumnya memerlukan media yang mampu mendinginkan material atau sesuai dengan klasifikasi kebakarannya.
- Cairan mudah terbakar, seperti minyak dan bahan bakar tertentu, memerlukan media yang dapat menekan pembakaran tanpa menyebarkan cairan.
- Gas mudah terbakar memerlukan penilaian khusus. Jika aman dan memungkinkan, petugas perlu mengendalikan sumber gas karena api dapat menyala kembali ketika kebocoran tetap berlangsung.
- Peralatan listrik bertegangan membutuhkan media yang sesuai untuk mengurangi risiko sengatan listrik.
- Logam reaktif tertentu memerlukan media khusus yang dirancang untuk jenis logam tersebut.
Karena itu, awak kapal tidak boleh menganggap satu jenis APAR cocok untuk semua kebakaran. Jika sumber api tidak jelas atau kondisi memburuk, petugas harus mengutamakan alarm, pelaporan, evakuasi, dan prosedur darurat kapal.
Baca Juga : Persyaratan Peralatan Keselamatan Kapal Berdasarkan Jenis Kapal

5. Persyaratan Alat Pemadam Kebakaran di Kapal
Persyaratan alat pemadam kebakaran bergantung pada jenis kapal, ukuran, fungsi, jumlah orang, wilayah pelayaran, dan regulasi yang berlaku. Untuk kapal yang termasuk dalam cakupan internasional, Konvensi SOLAS dan International Fire Safety Systems Code (FSS Code) menjadi rujukan penting bagi sistem keselamatan kebakaran.
Namun, penerapan ketentuan tidak selalu sama untuk setiap kapal. Kapal domestik dan kapal internasional dapat mengikuti aturan berbeda berdasarkan klasifikasi serta regulasi nasional.
Ketersediaan dan Kapasitas
Pengelola kapal harus menyediakan jumlah dan jenis alat pemadam sesuai ketentuan yang berlaku. Penentuan kebutuhan perlu mempertimbangkan ruang mesin, area akomodasi, dapur, anjungan, ruang penyimpanan, serta lokasi berisiko tinggi lainnya.
Selain itu, kapasitas dan kemampuan pemadaman harus sesuai dengan jenis bahaya. Pengelola tidak boleh memilih perangkat hanya berdasarkan harga atau ukuran fisik.
Penempatan yang Tepat
APAR harus berada pada lokasi yang mudah terlihat dan dijangkau. Petugas perlu memastikan barang, peralatan kerja, atau pintu tidak menghalangi akses menuju alat pemadam.
Selanjutnya, tanda keselamatan dan petunjuk penggunaan perlu membantu awak kapal menemukan perangkat dalam kondisi darurat. Penempatan juga harus mendukung akses yang aman tanpa memaksa petugas melewati sumber api.
Label dan Kondisi Teknis
Setiap perangkat harus memiliki identitas serta petunjuk yang sesuai dengan ketentuan dan spesifikasi produsennya. Awak kapal perlu memeriksa kondisi tabung, selang, nosel, segel, indikator tekanan jika tersedia, serta tanda korosi atau kerusakan.
Untuk sistem tetap, pemeriksaan juga perlu mencakup katup, jaringan pipa, pompa, perangkat alarm, dan komponen kendali yang relevan.
6. Pemeriksaan dan Perawatan Alat Pemadam Kebakaran
Pemeriksaan rutin membantu pengelola mengetahui apakah alat pemadam siap digunakan. Oleh karena itu, perusahaan pelayaran perlu menetapkan jadwal, penanggung jawab, dan mekanisme pencatatan yang jelas.
Pemeriksaan Visual
Awak kapal dapat melakukan pemeriksaan visual sesuai prosedur untuk memastikan alat berada di lokasi yang benar, mudah dijangkau, dan tidak menunjukkan kerusakan yang terlihat. Mereka juga perlu memeriksa label serta kondisi segel.
Selain itu, petugas harus memastikan APAR tidak mengalami korosi berat, kebocoran, atau kerusakan pada selang dan nosel. Jika indikator tekanan berada di luar rentang yang ditentukan produsen, petugas perlu menindaklanjutinya.
Servis Berkala
Servis berkala harus mengikuti ketentuan yang berlaku, rekomendasi produsen, serta persyaratan survei kapal. Pemeriksaan tertentu memerlukan teknisi kompeten atau fasilitas servis yang memenuhi persyaratan.
Sementara itu, sistem pemadam tetap memerlukan pengujian sesuai desain dan prosedur teknisnya. Petugas tidak boleh melakukan pengujian yang berisiko melepaskan media pemadam secara tidak terkendali.
Dokumentasi
Setiap kegiatan pemeriksaan, pengujian, pengisian ulang, dan perbaikan perlu masuk ke dalam catatan perawatan. Catatan sebaiknya memuat tanggal, identitas perangkat, hasil pemeriksaan, tindakan koreksi, serta nama petugas yang bertanggung jawab.
Dengan demikian, pengelola dapat memantau kondisi alat secara teratur dan memastikan setiap temuan memperoleh tindak lanjut.
7. Prosedur Penggunaan Alat Pemadam Kebakaran di Kapal
Ketika menemukan api, awak kapal harus segera membunyikan alarm atau melaporkan kejadian melalui saluran komunikasi darurat. Selanjutnya, petugas perlu mengikuti rencana darurat kapal dan instruksi nakhoda atau personel yang berwenang.
Jika api masih kecil, petugas terlatih dapat menggunakan APAR yang sesuai selama jalur keluar tetap aman dan kondisi memungkinkan. Secara umum, pengguna perlu menarik pin pengaman, mengarahkan nosel ke pangkal api, menekan tuas, lalu menyapu media pemadam mengikuti petunjuk perangkat.
Namun, prosedur tersebut tidak berlaku untuk semua sistem pemadam. Sistem tetap, terutama sistem gas yang dapat membahayakan manusia, membutuhkan prosedur khusus dan pengamanan area sebelum aktivasi.
Petugas harus menghentikan upaya pemadaman langsung apabila api membesar, asap menghalangi pandangan, suhu meningkat tajam, atau jalur keluar terancam. Dalam kondisi tersebut, keselamatan jiwa menjadi prioritas. Awak kapal perlu menjalankan prosedur evakuasi, menutup akses jika aman, dan membantu tim tanggap darurat sesuai tugasnya.
Setelah api padam, petugas tidak boleh langsung menganggap bahaya berakhir. Material dapat menyala kembali, sementara asap dan gas hasil pembakaran masih mengancam keselamatan. Karena itu, awak kapal perlu mengikuti prosedur pemantauan, ventilasi, dan pemeriksaan ulang oleh personel berwenang.
8. Pelatihan Awak Kapal dalam Penanganan Kebakaran
Ketersediaan alat pemadam tidak menjamin keselamatan jika awak kapal tidak memahami cara penggunaannya. Oleh sebab itu, pelatihan dan latihan kebakaran perlu menjadi bagian dari program keselamatan kapal.
Pelatihan dapat mencakup pengenalan jenis APAR, klasifikasi kebakaran, penggunaan alat pelindung diri, komunikasi darurat, dan prosedur evakuasi. Selain itu, latihan membantu awak kapal memahami pembagian tugas serta lokasi perlengkapan.
Setelah latihan, penanggung jawab perlu mengevaluasi respons peserta. Mereka dapat mencatat keterlambatan, kesalahan pemilihan media, hambatan akses, atau kendala komunikasi. Selanjutnya, pengelola harus memperbaiki kekurangan tersebut agar latihan berikutnya menghasilkan kesiapan yang lebih baik.
Alat pemadam kebakaran di kapal mencakup APAR dengan berbagai media, sistem pemadam tetap, serta perlengkapan pendukung yang melindungi awak kapal dan penumpang. Setiap jenis memiliki fungsi dan batas penggunaan yang harus dipahami sebelum petugas mengambil tindakan.
Oleh karena itu, pengelola kapal perlu menyediakan alat sesuai risiko, menempatkannya pada lokasi strategis, melakukan pemeriksaan berkala, dan menyelenggarakan pelatihan yang konsisten. Selain itu, awak kapal harus mengenali jenis kebakaran serta mengikuti prosedur darurat tanpa mengabaikan keselamatan diri.
Pada akhirnya, sistem pemadam kebakaran yang efektif bergantung pada perpaduan antara perangkat yang layak, perawatan yang disiplin, kepatuhan terhadap standar, dan kompetensi awak kapal. Dengan pendekatan tersebut, kapal dapat meningkatkan kesiapan menghadapi kebakaran serta mengurangi risiko terhadap manusia, muatan, dan lingkungan laut.
Konsultasi Dokumen Pelaut Sekarang