Perbedaan Sertifikat BST AFF MFA dan Sertifikat Pelaut Lainnya perlu dipahami oleh setiap calon pelaut maupun awak kapal yang ingin membangun karier di industri pelayaran. Setiap sertifikat memiliki fungsi, materi pelatihan, kompetensi, dan persyaratan yang berbeda. BST berhubungan dengan keselamatan dasar, AFF berfokus pada penanganan kebakaran tingkat lanjut, sedangkan MFA berkaitan dengan pertolongan medis bagi korban yang mengalami gangguan kesehatan di kapal. Selain ketiga sertifikat tersebut, terdapat berbagai dokumen kompetensi lain yang mendukung tugas dan tanggung jawab pelaut selama bekerja.
Pemahaman mengenai perbedaan sertifikat BST AFF MFA dan sertifikat pelaut lainnya membantu pelaut menentukan pelatihan sesuai kebutuhan pekerjaan. Sebab, perusahaan pelayaran tidak selalu meminta sertifikat yang sama untuk setiap posisi. Jabatan, jenis kapal, wilayah operasi, serta tanggung jawab awak kapal dapat memengaruhi persyaratan kompetensi yang harus dipenuhi.
Oleh karena itu, pelaut perlu mengenali fungsi setiap sertifikat sebelum mengikuti pelatihan. Dengan persiapan yang tepat, pelaut dapat menghindari kesalahan memilih program, mengatur biaya pendidikan, dan melengkapi dokumen kepelautan sesuai ketentuan yang berlaku.
BACA JUGA: Sertifikat BST: Fungsi, Syarat, Biaya, dan Cara Mendapatkannya
Mengenal Jenis Sertifikat Kompetensi Pelaut
Sertifikat kompetensi pelaut merupakan dokumen yang menunjukkan bahwa seseorang telah memenuhi persyaratan pengetahuan, keterampilan, atau pelatihan tertentu untuk menjalankan tugas di kapal. Dalam industri pelayaran, standar pendidikan dan pelatihan internasional mengacu pada ketentuan International Convention on Standards of Training, Certification and Watchkeeping for Seafarers atau STCW.
STCW mengatur standar minimum pelatihan, sertifikasi, dan dinas jaga bagi pelaut. Ketentuan tersebut membantu memastikan awak kapal memiliki kemampuan yang sesuai dengan tanggung jawabnya.
Namun, setiap sertifikat memiliki cakupan berbeda. Ada pelatihan yang memberikan kemampuan keselamatan dasar, ada yang meningkatkan keterampilan penanganan keadaan darurat, dan ada pula yang berkaitan dengan pelayanan medis serta keamanan kapal.
Karena itu, pelaut perlu memahami bahwa satu sertifikat tidak otomatis menggantikan sertifikat lainnya. Kepemilikan BST, misalnya, tidak berarti seseorang sudah memenuhi seluruh kompetensi untuk menangani kebakaran tingkat lanjut atau memberikan pertolongan medis profesional di kapal.
BACA JUGA: Apa Itu Sertifikat BST Pelaut dan Mengapa Wajib Dimiliki?
Perbedaan Sertifikat, BST, AFF, MFA dan Sertifikat Pelaut Lainnya
Perbedaan Sertifikat BST AFF MFA dan Sertifikat Pelaut Lainnya terutama terletak pada tujuan pelatihan, tingkat kompetensi, materi pembelajaran, serta tanggung jawab yang harus dijalankan oleh pemegangnya.
1. Sertifikat BST untuk Keselamatan Dasar Pelaut
Basic Safety Training atau BST merupakan pelatihan keselamatan dasar yang menjadi bagian penting dalam persiapan bekerja di kapal. Pelatihan ini memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada pelaut untuk menghadapi risiko umum selama pelayaran.
Materi BST mengacu pada kompetensi keselamatan dasar dalam STCW Regulation VI/1 dan Section A-VI/1. Pelatihan ini mencakup empat kelompok kompetensi utama.
- Personal Survival Techniques: Mengajarkan teknik bertahan hidup di laut ketika terjadi keadaan darurat dan pelaut harus meninggalkan kapal.
- Fire Prevention and Fire Fighting: Memberikan pengetahuan dasar mengenai pencegahan dan penanganan kebakaran di kapal.
- Elementary First Aid: Membekali peserta dengan keterampilan pertolongan pertama untuk menangani kondisi darurat kesehatan.
- Personal Safety and Social Responsibilities: Mengajarkan keselamatan pribadi, tanggung jawab sosial, komunikasi, dan kerja sama selama berada di kapal.
Melalui pelatihan tersebut, pelaut memahami tindakan awal ketika menghadapi keadaan darurat. Selain itu, peserta belajar mengenali risiko dan menjaga keselamatan diri maupun orang lain.
BST memiliki cakupan keselamatan dasar sehingga berbeda dari AFF dan MFA yang membahas kompetensi lebih khusus. Oleh sebab itu, pelaut perlu memenuhi persyaratan BST sesuai jabatan dan ketentuan yang berlaku sebelum menjalankan tugas di kapal.
2. Sertifikat AFF untuk Penanganan Kebakaran Tingkat Lanjut
Advanced Fire Fighting atau AFF merupakan pelatihan yang berfokus pada kemampuan mengendalikan kebakaran di kapal pada tingkat lanjut. Kompetensi ini mengacu pada STCW Regulation VI/3 dan Section A-VI/3.
Berbeda dengan materi pencegahan kebakaran dasar dalam BST, AFF membekali peserta dengan kemampuan memimpin dan mengoordinasikan penanganan kebakaran. Pelatihan ini juga memberikan pemahaman mengenai penggunaan peralatan pemadam serta strategi menghadapi situasi kebakaran yang lebih kompleks.
Materi AFF meliputi:
- Pengorganisasian operasi pemadaman kebakaran di kapal.
- Penggunaan berbagai peralatan pemadam kebakaran.
- Pengendalian sistem ventilasi dan bahan bakar saat terjadi kebakaran.
- Penilaian risiko dan pengambilan keputusan dalam keadaan darurat.
- Koordinasi tim pemadam kebakaran.
- Pemeriksaan dan pemeliharaan peralatan keselamatan kebakaran.
- Pengendalian asap dan penanganan area yang terdampak kebakaran.
AFF memiliki peran penting bagi pelaut yang memperoleh tanggung jawab khusus dalam pengendalian kebakaran. Selain itu, kompetensi ini membantu perwira dan personel terkait mengoordinasikan tindakan ketika kebakaran mengancam keselamatan kapal.
Dengan demikian, AFF bukan pengganti BST. Keduanya memiliki tujuan berbeda dan mendukung kemampuan keselamatan pelaut dari tingkat dasar hingga tingkat lanjut.
3. Sertifikat MFA untuk Pertolongan Medis di Kapal
Medical First Aid atau MFA merupakan pelatihan pertolongan medis yang mengacu pada STCW Regulation VI/4 dan Section A-VI/4-1. Pelatihan ini membekali pelaut dengan kemampuan memberikan pertolongan medis kepada orang yang mengalami cedera atau gangguan kesehatan selama pelayaran.
Kapal sering beroperasi jauh dari fasilitas kesehatan darat. Oleh karena itu, awak kapal perlu memahami tindakan awal ketika seseorang mengalami kecelakaan, kehilangan kesadaran, pendarahan, atau kondisi darurat lainnya.
Materi MFA mencakup beberapa kemampuan, antara lain:
- Pemeriksaan kondisi korban.
- Penilaian tingkat kegawatan pasien.
- Penanganan luka dan pendarahan.
- Pertolongan pada korban yang mengalami syok.
- Penanganan patah tulang dan cedera.
- Pemberian pertolongan awal pada kondisi medis darurat.
- Penggunaan perlengkapan pertolongan medis di kapal.
- Komunikasi dengan tenaga medis melalui fasilitas konsultasi jarak jauh apabila tersedia.
Pelatihan MFA berbeda dari Elementary First Aid dalam BST. Elementary First Aid memberikan keterampilan pertolongan pertama dasar, sedangkan MFA membahas penanganan medis dengan cakupan kompetensi yang lebih luas.
Namun, MFA juga berbeda dari Medical Care atau perawatan medis tingkat lanjut. Medical Care mengacu pada STCW Regulation VI/4 dan Section A-VI/4-2 yang menyiapkan pelaut tertentu untuk memberikan perawatan medis sesuai tanggung jawabnya.
Perbandingan Fungsi Sertifikat BST, AFF, dan MFA
Untuk memahami perbedaan setiap sertifikat, pelaut perlu memperhatikan tujuan utama dan kompetensi yang menjadi fokus pelatihan.
| Aspek | BST | AFF | MFA |
|---|---|---|---|
| Kepanjangan | Basic Safety Training | Advanced Fire Fighting | Medical First Aid |
| Fokus utama | Keselamatan dasar | Pemadaman kebakaran tingkat lanjut | Pertolongan medis |
| Materi | Keselamatan dan keadaan darurat | Pengendalian kebakaran | Penanganan kondisi medis |
| Kompetensi | Dasar | Khusus dan lebih lanjut | Pertolongan medis |
| Acuan STCW | VI/1 | VI/3 | VI/4-1 |
| Kebutuhan | Awak kapal sesuai persyaratan | Personel dengan tanggung jawab pemadaman kebakaran | Personel yang bertugas memberikan pertolongan medis |
Berdasarkan perbandingan tersebut, ketiga sertifikat memiliki fungsi yang saling melengkapi. BST memberikan dasar keselamatan, AFF meningkatkan kemampuan menghadapi kebakaran, sedangkan MFA memperkuat keterampilan pertolongan medis.
BACA JUGA: Cara Mengurus Sertifikat BST Pelaut Sesuai Prosedur Resmi
Jenis Sertifikat Pelaut Lainnya Selain BST, AFF, dan MFA
Selain ketiga sertifikat tersebut, industri pelayaran memiliki berbagai pelatihan keselamatan dan kompetensi khusus. Pelaut perlu mengenali jenisnya agar dapat menyesuaikan dokumen dengan pekerjaan yang ingin dijalankan.
1. Sertifikat SCRB atau Proficiency in Survival Craft and Rescue Boats
Proficiency in Survival Craft and Rescue Boats atau PSCRB merupakan pelatihan yang berkaitan dengan penggunaan sekoci penyelamat dan perahu penolong selain rescue boat cepat.
Kompetensi ini mengacu pada STCW Regulation VI/2 dan Section A-VI/2-1. Peserta mempelajari cara menyiapkan, meluncurkan, mengoperasikan, serta mengendalikan survival craft dan rescue boats sesuai materi pelatihan.
Beberapa materi penting meliputi:
- Pengoperasian sekoci penyelamat.
- Penggunaan peralatan keselamatan.
- Teknik evakuasi awak kapal.
- Pengendalian sekoci dalam keadaan darurat.
- Penanganan korban di laut.
- Koordinasi proses penyelamatan.
Sertifikat ini berbeda dari BST karena memberikan keterampilan khusus dalam pengoperasian sarana penyelamatan. Oleh sebab itu, pelaut perlu mengikuti persyaratan kompetensi sesuai tanggung jawab dan ketentuan jabatan.
2. Sertifikat FRB atau Fast Rescue Boats
Fast Rescue Boats merupakan kompetensi yang berkaitan dengan pengoperasian perahu penyelamat cepat. Pelatihan ini mengacu pada STCW Regulation VI/2 dan Section A-VI/2-2.
Materinya berfokus pada pengoperasian perahu cepat untuk membantu proses penyelamatan di laut. Peserta mempelajari teknik peluncuran, pengendalian, manuver, serta tindakan keselamatan ketika menjalankan operasi penyelamatan.
FRB memiliki cakupan berbeda dari PSCRB. PSCRB mencakup survival craft dan rescue boats, sedangkan FRB secara khusus membahas pengoperasian fast rescue boats.
3. Sertifikat Security Awareness
Security Awareness merupakan pelatihan kesadaran keamanan kapal yang membantu pelaut mengenali ancaman terhadap keamanan maritim.
Pelatihan ini mengacu pada STCW Regulation VI/6 dan Section A-VI/6-1. Materinya mencakup pengenalan ancaman keamanan, prosedur pelaporan, pengawasan lingkungan kapal, serta tindakan dasar untuk mengurangi risiko keamanan.
Sertifikat ini penting karena keselamatan kapal tidak hanya berkaitan dengan kecelakaan dan keadaan darurat. Ancaman keamanan juga dapat muncul akibat tindakan ilegal, gangguan pihak luar, atau aktivitas yang membahayakan operasional kapal.
4. Sertifikat Designated Security Duties
Designated Security Duties merupakan pelatihan bagi pelaut yang memperoleh tugas dan tanggung jawab keamanan khusus di kapal.
Berbeda dari Security Awareness yang memberikan pemahaman dasar mengenai ancaman keamanan, pelatihan ini membahas tindakan operasional yang harus dilakukan oleh personel dengan tugas keamanan tertentu.
Materinya meliputi penerapan rencana keamanan kapal, pengawasan akses, pemeriksaan keamanan, serta koordinasi ketika menghadapi ancaman.
Pelaut perlu memahami perbedaan kedua sertifikat tersebut agar tidak salah memilih pelatihan. Persyaratan mengikuti Designated Security Duties bergantung pada tugas yang diberikan oleh perusahaan dan ketentuan yang berlaku.
5. Sertifikat Crowd Management
Crowd Management merupakan pelatihan pengelolaan penumpang dalam situasi normal maupun keadaan darurat. Kompetensi ini terutama relevan bagi pelaut yang bekerja di kapal penumpang.
Materi pelatihan mencakup pengendalian pergerakan penumpang, komunikasi, pengaturan evakuasi, dan tindakan ketika terjadi keadaan darurat.
Pelatihan ini membantu awak kapal mengelola penumpang secara teratur. Selain itu, peserta mempelajari cara memberikan instruksi yang jelas agar penumpang memahami prosedur keselamatan.
6. Sertifikat Medical Care
Medical Care merupakan kompetensi perawatan medis yang mengacu pada STCW Regulation VI/4 dan Section A-VI/4-2.
Pelatihan ini memiliki cakupan lebih luas dibandingkan Medical First Aid. Peserta mempelajari kemampuan memberikan perawatan medis sesuai tanggung jawabnya, termasuk penanganan kondisi pasien, penggunaan perlengkapan medis, dan konsultasi dengan tenaga kesehatan.
Medical Care umumnya berkaitan dengan tanggung jawab personel yang memperoleh tugas perawatan medis di kapal. Karena itu, pelaut perlu memahami perbedaan kompetensinya dengan MFA sebelum mengikuti pelatihan.
BACA JUGA: Persyaratan Membuat Sertifikat BST untuk Calon Pelaut
Perbedaan Sertifikat Pelatihan dengan Sertifikat Kompetensi Jabatan
Selain memahami jenis pelatihan, pelaut perlu membedakan sertifikat pelatihan keselamatan dengan sertifikat kompetensi jabatan.
Sertifikat pelatihan menunjukkan bahwa seseorang telah memenuhi kompetensi tertentu melalui program pendidikan atau pelatihan. Contohnya adalah BST, AFF, MFA, dan PSCRB.
Sementara itu, Certificate of Competency atau CoC merupakan sertifikat kompetensi yang berkaitan dengan kualifikasi jabatan pelaut sesuai ketentuan. CoC berhubungan dengan kewenangan menjalankan tugas tertentu, misalnya sebagai nakhoda atau perwira kapal sesuai tingkat dan jenis sertifikasinya.
Selain CoC, terdapat Certificate of Proficiency atau CoP yang menunjukkan pemenuhan kompetensi khusus sesuai ketentuan terkait.
Perbedaan tersebut penting karena pelaut tidak boleh menganggap sertifikat pelatihan keselamatan sebagai pengganti sertifikat kompetensi jabatan. Setiap dokumen memiliki fungsi dan dasar penerbitan masing-masing.
BACA JUGA: Cara Cek dan Verifikasi Keaslian Sertifikat BST Pelaut

Cara Menentukan Sertifikat yang Di perlukan untuk Bekerja di Kapal
Pelaut perlu memilih pelatihan berdasarkan posisi pekerjaan, jenis kapal, serta persyaratan perusahaan. Dengan demikian, pelaut tidak perlu mengikuti program yang tidak sesuai dengan kebutuhan kompetensinya.
Periksa Posisi dan Tanggung Jawab Pekerjaan
Langkah pertama adalah mengetahui posisi yang ingin di tempati. Awak kapal bagian dek, mesin, dan pelayanan penumpang dapat memiliki persyaratan pelatihan yang berbeda.
Selain itu, jabatan tertentu membutuhkan kompetensi khusus sesuai tanggung jawab keselamatan dan operasional kapal.
Periksa Jenis Kapal
Jenis kapal dapat memengaruhi kebutuhan pelatihan. Kapal penumpang, kapal tanker, kapal kargo, dan kapal khusus memiliki karakteristik operasional serta risiko yang berbeda.
Oleh sebab itu, pelaut perlu memeriksa persyaratan tambahan berdasarkan jenis kapal dan tugas yang akan dijalankan.
Periksa Ketentuan STCW
STCW menjadi salah satu acuan penting dalam menentukan kompetensi pelaut. Periksa regulasi dan bagian yang berkaitan dengan sertifikat yang dibutuhkan.
Selain itu, pastikan lembaga pelatihan memiliki kewenangan sesuai ketentuan yang berlaku.
Periksa Persyaratan Perusahaan Pelayaran
Setiap perusahaan dapat memiliki persyaratan administrasi dan kompetensi sesuai kebutuhan operasional. Karena itu, pelaut sebaiknya meminta daftar dokumen sebelum mengikuti pelatihan.
Langkah ini membantu pelaut menyusun rencana pendidikan dan menghindari pengeluaran yang tidak diperlukan.
BACA JUGA: Biaya Pelatihan BST dan Penerbitan Sertifikat di Indonesia
Faktor yang Memengaruhi Kebutuhan Sertifikat Pelaut
Kebutuhan sertifikat tidak selalu sama bagi seluruh awak kapal. Ada beberapa faktor yang memengaruhi jenis pelatihan dan dokumen yang harus dimiliki.
Pertama, jabatan menentukan tanggung jawab dan tingkat kompetensi yang diperlukan. Kedua, jenis kapal memengaruhi risiko operasional serta kebutuhan keselamatan. Ketiga, peraturan internasional dan nasional menetapkan standar minimum yang harus dipenuhi.
Selain itu, perusahaan dapat meminta pelatihan tambahan sesuai karakteristik pekerjaan. Misalnya, awak kapal penumpang mungkin membutuhkan kompetensi pengelolaan penumpang, sedangkan personel dengan tanggung jawab keamanan perlu mengikuti pelatihan keamanan yang sesuai.
Masa berlaku atau persyaratan penyegaran juga perlu mendapatkan perhatian. Tidak semua sertifikat memiliki ketentuan pembaruan yang sama. Oleh karena itu, pelaut perlu memeriksa ketentuan untuk setiap kompetensi secara terpisah.
BACA JUGA: Penyebab Sertifikat BST Tidak Valid dan Cara Memperbaikinya
Pentingnya Memeriksa Keaslian dan Kelengkapan Sertifikat Pelaut
Setelah mengikuti pelatihan, pelaut perlu memastikan bahwa seluruh dokumen memiliki informasi yang benar dan dapat diverifikasi.
Periksa nama pemilik, nomor sertifikat, tanggal penerbitan, nama lembaga, serta informasi pengesahan. Selain itu, cocokkan identitas dengan KTP dan buku pelaut agar tidak muncul perbedaan data.
Selanjutnya, pastikan lembaga penerbit memiliki kewenangan yang sesuai. Jika terdapat nomor sertifikat yang tidak dapat ditelusuri, segera hubungi lembaga penerbit untuk meminta klarifikasi.
Pelaut juga perlu menyimpan dokumen asli dan membuat salinan digital. Dengan cara tersebut, dokumen lebih mudah ditemukan ketika perusahaan membutuhkan pemeriksaan administrasi.
BACA JUGA: Masa Berlaku Sertifikat BST dan Ketentuan Penyegarannya
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Mengurus Sertifikat Pelaut
Beberapa kesalahan dapat menghambat proses pengurusan sertifikat. Salah satunya adalah memilih pelatihan hanya berdasarkan harga tanpa memeriksa status lembaga penyelenggara.
Selain itu, sebagian pelaut kurang teliti ketika mengisi identitas. Kesalahan nama atau nomor identitas dapat menyebabkan ketidaksesuaian dokumen ketika perusahaan melakukan pemeriksaan.
Kesalahan lainnya adalah menganggap semua sertifikat memiliki fungsi yang sama. Padahal, BST, AFF, MFA, dan sertifikat lainnya memiliki cakupan kompetensi berbeda.
Pelaut juga perlu menghindari penundaan pemeriksaan masa berlaku atau persyaratan penyegaran. Dengan memeriksa dokumen secara berkala, pelaut dapat mempersiapkan kebutuhan administrasi lebih awal.
BACA JUGA: Tempat Pelatihan BST Resmi dan Cara Memilih Lembaga Diklat
Jasa Pengurusan Dokumen Pelaut
Pengurusan sertifikat kepelautan membutuhkan ketelitian karena setiap dokumen memiliki fungsi, persyaratan, dan ketentuan yang berbeda. Pelaut perlu memastikan jenis sertifikat sesuai dengan posisi pekerjaan, kebutuhan perusahaan, serta standar kompetensi yang berlaku.
PT Jangkar Global Groups melalui Jangkar Groups menyediakan layanan pendampingan pengurusan dokumen sesuai kebutuhan pemohon. Pendampingan dapat membantu pelaut memahami persyaratan administrasi, memeriksa kelengkapan dokumen, dan memetakan tahapan pengurusan berdasarkan jenis sertifikat yang diperlukan.
Layanan pendampingan juga dapat membantu pemohon memahami perbedaan sertifikat BST, AFF, MFA, dan sertifikat pelaut lainnya sebelum mempersiapkan dokumen. Namun, penerbitan sertifikat dan penetapan kelulusan tetap mengikuti kewenangan lembaga pelatihan serta instansi terkait.
Konsultasi Dokumen Pelaut Sekarang