Penanganan Orang Jatuh ke Laut (Man Overboard)

Isma

Updated on:

Penanganan Orang Jatuh ke Laut (Man Overboard)
Direktur Utama Jangkar Groups

Penanganan orang jatuh ke laut (Man Overboard atau MOB) merupakan prosedur keselamatan penting dalam dunia pelayaran untuk menyelamatkan korban yang terjatuh dari kapal ke perairan. Insiden ini dapat terjadi akibat gelombang tinggi, dek licin, kecelakaan kerja, kehilangan keseimbangan, atau kelalaian saat beraktivitas di sekitar sisi kapal. Oleh karena itu, setiap awak kapal harus memahami tindakan darurat yang tepat agar tim dapat menemukan dan menolong korban secepat mungkin.

Dalam situasi Man Overboard, waktu menjadi faktor yang sangat menentukan. Arus, angin, gelombang, dan jarak pandang dapat membuat korban semakin jauh dari kapal. Selain itu, korban berisiko mengalami kelelahan, hipotermia, cedera, atau tenggelam apabila tim penyelamat terlambat bertindak.

Karena itu, penanganan orang jatuh ke laut membutuhkan koordinasi antara orang yang melihat kejadian, anjungan, tim penyelamat, dan awak kapal lainnya. Melalui prosedur yang jelas, penggunaan peralatan yang tepat, serta latihan berkala, awak kapal dapat meningkatkan peluang penyelamatan dan mengurangi risiko korban tambahan.

Baca Juga : Penanganan Situasi Darurat di Atas Kapal: Prosedur dan Keselamatan

1. Pengertian Man Overboard dalam Pelayaran

Man Overboard merupakan istilah maritim untuk kejadian ketika seseorang jatuh dari kapal ke laut atau perairan di sekitarnya. Korban dapat berupa awak kapal, penumpang, teknisi, atau orang lain yang berada di atas kapal.

Kejadian ini membutuhkan respons segera karena kapal terus bergerak dan korban dapat menghilang dari pandangan dalam waktu singkat. Bahkan, pada kondisi gelombang tinggi atau malam hari, awak kapal dapat mengalami kesulitan mempertahankan pengamatan terhadap posisi korban.

Selain itu, penanganan MOB tidak hanya berfokus pada mengangkat korban dari air. Tim juga harus menjaga keselamatan personel, menentukan manuver kapal yang sesuai, menyiapkan alat penyelamatan, dan memberikan pertolongan setelah korban berhasil ditemukan.

Oleh sebab itu, setiap kapal perlu memiliki prosedur MOB yang jelas dan memastikan seluruh awak memahami peran masing-masing.

Baca Juga : Konsultasi Prosedur Darurat, Peralatan, dan Dokumen Keselamatan Kapal

2. Penyebab Orang Jatuh ke Laut

Pemahaman terhadap penyebab MOB membantu perusahaan pelayaran mencegah insiden serupa. Beberapa faktor berikut sering menjadi perhatian dalam pengelolaan keselamatan kapal.

A. Kondisi Dek yang Licin

Air laut, hujan, minyak, atau sisa muatan dapat membuat permukaan dek licin. Akibatnya, awak kapal berisiko terpeleset, terutama ketika kapal mengalami gerakan akibat gelombang.

Untuk mengurangi risiko, awak kapal perlu menggunakan sepatu antiselip, menjaga kebersihan area kerja, dan mengikuti jalur yang aman. Selain itu, perusahaan harus memastikan sistem drainase berfungsi dengan baik.

Baca Juga : Prosedur Penanganan Kebakaran di Atas Kapal

B. Gelombang dan Cuaca Buruk

Gelombang tinggi serta gerakan kapal yang mendadak dapat membuat seseorang kehilangan keseimbangan. Risiko tersebut meningkat ketika awak bekerja di dek terbuka tanpa perlindungan yang memadai.

Karena itu, nakhoda dan perwira perlu mempertimbangkan kondisi cuaca sebelum mengizinkan pekerjaan tertentu. Selanjutnya, awak kapal harus mengikuti pembatasan akses ke area berbahaya selama cuaca ekstrem.

Baca Juga : Prosedur Menghadapi Kapal Bocor dan Kemasukan Air

C. Kelalaian dan Kurangnya Pengawasan

Tindakan seperti berlari di dek, mengabaikan prosedur kerja, atau berdiri terlalu dekat dengan sisi kapal dapat meningkatkan risiko jatuh ke laut.

Di samping itu, kelelahan dan kurangnya konsentrasi dapat memengaruhi keseimbangan serta kemampuan mengambil keputusan. Oleh sebab itu, pengaturan jam kerja, penggunaan alat pelindung diri, dan pengawasan menjadi bagian penting dari pencegahan.

Baca Juga : Prosedur Evakuasi dan Meninggalkan Kapal

D. Kecelakaan Saat Bekerja

Pekerjaan pengangkatan muatan, perawatan kapal, dan kegiatan di sisi lambung dapat menempatkan awak dalam posisi berisiko. Karena itu, perusahaan perlu menerapkan penilaian risiko dan prosedur kerja yang sesuai sebelum kegiatan dimulai.

3. Tindakan Pertama Saat Seseorang Jatuh ke Laut

Respons awal menentukan arah operasi penyelamatan. Oleh karena itu, orang yang menyaksikan kejadian harus segera bertindak sesuai pelatihan tanpa membahayakan dirinya sendiri.

A. Berteriak Memberikan Peringatan

Saat melihat seseorang jatuh ke laut, segera teriakkan “Man Overboard!” atau peringatan yang berlaku di kapal. Tujuannya adalah menarik perhatian awak lain dan mempercepat respons anjungan.

Selain itu, sebutkan sisi kapal tempat korban jatuh, misalnya sisi kiri atau kanan. Informasi tersebut membantu anjungan memahami posisi awal korban.

Baca Juga : Penanganan Gangguan Mesin Kapal di Tengah Laut

B. Menunjuk dan Mempertahankan Pengamatan

Jika aman, orang yang melihat kejadian harus terus menunjuk ke arah korban. Tindakan ini membantu awak lain mempertahankan orientasi visual, terutama ketika kapal bergerak atau gelombang mengganggu pandangan.

Namun, saksi tidak boleh mengambil risiko dengan bersandar terlalu jauh melewati pagar kapal. Keselamatan saksi tetap penting agar insiden tidak menambah jumlah korban.

C. Melempar Alat Apung

Jika tersedia dan tindakan tersebut aman, lemparkan pelampung cincin atau alat apung yang sesuai ke arah korban. Peralatan ini dapat membantu korban mempertahankan daya apung sambil menunggu tim penyelamat.

Selanjutnya, informasikan kepada anjungan mengenai tindakan yang telah dilakukan. Jangan melompat ke laut untuk menolong korban tanpa pelatihan dan perlengkapan khusus karena tindakan tersebut dapat menciptakan korban kedua.

Baca Juga : Penanganan Cuaca Buruk dan Gelombang Tinggi Saat Berlayar

D. Mengaktifkan Alarm dan Melapor

Awak kapal harus segera menghubungi anjungan menggunakan sistem komunikasi yang tersedia. Sampaikan informasi mengenai waktu kejadian, posisi korban, kondisi laut, dan tindakan awal yang sudah dilakukan.

Dengan laporan yang jelas, anjungan dapat memulai prosedur MOB tanpa menunggu informasi tambahan yang tidak diperlukan.

Prosedur Penanganan Man Overboard di Atas Kapal

4. Prosedur Penanganan Man Overboard di Atas Kapal

Setelah menerima laporan, awak kapal menjalankan prosedur MOB sesuai sistem keselamatan kapal dan instruksi nakhoda.

A. Mengaktifkan Prosedur Darurat

Anjungan mengumumkan kejadian melalui sistem komunikasi atau alarm sesuai prosedur kapal. Selanjutnya, personel menjalankan tugas berdasarkan muster list, termasuk pengamatan korban, persiapan alat penyelamatan, dan pengendalian navigasi.

Pembagian tugas yang jelas membantu setiap personel memahami tanggung jawabnya. Dengan demikian, tim dapat bekerja secara terkoordinasi tanpa menghambat operasi penyelamatan.

Baca Juga : Pertolongan Pertama pada Kecelakaan di Atas Kapal

B. Menentukan Posisi Korban

Posisi korban menjadi informasi penting bagi anjungan untuk merencanakan manuver kapal. Awak yang melakukan pengamatan perlu memberikan informasi terbaru mengenai arah gerakan korban dan jarak relatif terhadap kapal.

Jika kapal memiliki sistem navigasi atau alarm MOB yang sesuai, petugas dapat menggunakan fasilitas tersebut berdasarkan prosedur operasional. Namun, awak kapal tetap perlu melakukan pengamatan visual apabila kondisi memungkinkan.

C. Melakukan Manuver Penyelamatan

Nakhoda atau perwira yang bertanggung jawab menentukan manuver berdasarkan jenis kapal, kecepatan, kondisi laut, arah angin, lalu lintas sekitar, dan posisi korban.

Dalam kondisi tertentu, kapal dapat menjalankan manuver Williamson turn atau manuver Anderson turn sesuai situasi dan prosedur yang berlaku. Akan tetapi, tidak ada satu manuver yang cocok untuk seluruh keadaan. Karena itu, keputusan harus mempertimbangkan karakteristik kapal serta kemampuan awak.

Selama manuver berlangsung, tim perlu menjaga komunikasi antara anjungan, pengamat, dan petugas penyelamatan.

Baca Juga : Komunikasi Darurat Kapal dan Cara Meminta Bantuan

D. Menyiapkan Peralatan Penyelamatan

Tim menyiapkan pelampung, tali penyelamat, tangga penyelamatan, jaring, alat pengangkat korban, atau sekoci penyelamat sesuai kondisi kapal.

Selain itu, petugas harus memeriksa risiko tambahan seperti baling-baling, gelombang di sisi kapal, dan kemungkinan korban terbentur lambung. Jangan melakukan pendekatan yang membahayakan korban maupun tim penyelamat.

E. Mengangkat Korban ke Kapal

Setelah tim mencapai korban, petugas menentukan metode pengangkatan yang paling aman berdasarkan kondisi fisik korban, tinggi lambung, gerakan kapal, dan perlengkapan yang tersedia.

Jika korban tidak sadar atau mengalami cedera, tim harus menghindari gerakan yang tidak perlu dan menggunakan teknik pengangkatan sesuai pelatihan. Selanjutnya, petugas membawa korban ke tempat yang aman untuk pemeriksaan serta pertolongan medis.

Baca Juga : Latihan Keadaan Darurat Kapal: Muster, Drill, dan Evaluasi

5. Peralatan Keselamatan untuk Penyelamatan MOB

Kesiapan peralatan sangat penting dalam operasi penyelamatan. Oleh sebab itu, awak kapal harus mengetahui lokasi, fungsi, dan cara penggunaan perlengkapan berikut.

A. Pelampung Cincin

Pelampung cincin membantu korban mempertahankan daya apung. Beberapa kapal melengkapi pelampung dengan tali, lampu, atau alat penanda sesuai ketentuan dan kebutuhan operasional.

Awak kapal perlu mengetahui lokasi pelampung serta cara melemparkannya dengan aman. Selain itu, pemeriksaan rutin membantu memastikan perlengkapan tetap siap digunakan.

B. Perangkat Penanda Posisi MOB

Perangkat penanda MOB dapat membantu menunjukkan lokasi kejadian melalui sinyal visual atau sistem elektronik, bergantung pada jenis perangkat yang tersedia.

Penggunaannya harus mengikuti petunjuk produsen dan prosedur kapal. Perangkat ini mendukung pencarian, tetapi tidak menggantikan pengamatan dan koordinasi penyelamatan.

C. Sekoci Penyelamat

Kapal tertentu memiliki sekoci penyelamat untuk mendukung operasi pengambilan korban. Pengoperasian sekoci membutuhkan personel terlatih dan koordinasi yang ketat, terutama ketika kapal menghadapi gelombang atau cuaca buruk.

Karena itu, awak kapal harus mengikuti prosedur peluncuran dan tidak mengoperasikan sekoci tanpa kewenangan yang sesuai.

D. Peralatan Pertolongan Pertama

Setelah korban berhasil diangkat, tim memerlukan perlengkapan pertolongan pertama, selimut, tandu, dan peralatan medis sesuai kebutuhan.

Selain itu, kapal perlu memiliki prosedur untuk menghubungi tenaga medis darat apabila korban memerlukan penanganan lanjutan.

6. Pertolongan Pertama kepada Korban yang Berhasil Diselamatkan

Korban yang berhasil ditemukan belum tentu berada dalam kondisi stabil. Paparan air dingin, kelelahan, cedera, dan gangguan pernapasan dapat menimbulkan risiko medis serius.

Pertama, periksa respons dan pernapasan korban sesuai pelatihan pertolongan pertama. Jika korban tidak bernapas normal, segera minta bantuan medis dan mulai resusitasi jantung paru (RJP) sesuai kompetensi serta panduan yang berlaku. Gunakan AED apabila tersedia dan sesuai indikasi.

Kedua, jika korban menunjukkan tanda hipotermia, pindahkan ke tempat yang terlindung, lepaskan pakaian basah apabila aman, lalu hangatkan secara bertahap. Hindari menggosok anggota tubuh dengan keras atau menggunakan sumber panas langsung yang dapat menyebabkan cedera.

Ketiga, tangani perdarahan atau cedera lain sesuai kemampuan petugas. Selanjutnya, hubungi layanan medis untuk memperoleh arahan mengenai kebutuhan pemeriksaan dan evakuasi.

Meskipun korban tampak sadar dan mampu berbicara, pemeriksaan medis tetap penting karena beberapa dampak perendaman dapat muncul setelah penyelamatan.

7. Peran Nakhoda dan Awak Kapal dalam Operasi MOB

Nakhoda memimpin pengambilan keputusan dan memastikan operasi penyelamatan sesuai dengan kondisi kapal. Ia juga menilai kebutuhan bantuan dari kapal lain atau pihak penyelamatan maritim.

Sementara itu, perwira jaga mengoordinasikan navigasi dan komunikasi sesuai tugasnya. Pengamat mempertahankan informasi visual mengenai posisi korban, sedangkan tim penyelamat menyiapkan perlengkapan serta menjalankan pengambilan korban.

Awak kapal lainnya membantu berdasarkan muster list. Misalnya, petugas medis memberikan pertolongan pertama, sedangkan personel tertentu mempersiapkan area penerimaan korban.

Oleh karena itu, setiap awak kapal harus memahami tugas sebelum insiden terjadi. Latihan yang konsisten membantu membangun koordinasi dan mengurangi kebingungan saat tekanan meningkat.

8. Pencegahan Insiden Man Overboard

Pencegahan tetap menjadi cara terbaik untuk mengurangi risiko jatuh ke laut. Perusahaan dan awak kapal dapat menerapkan sejumlah langkah berikut.

  • Gunakan alat pelindung diri. Kenakan sepatu antiselip dan perlengkapan keselamatan sesuai jenis pekerjaan.
  • Jaga kebersihan dek. Segera tangani tumpahan minyak, air, atau material yang dapat menyebabkan seseorang terpeleset.
  • Patuhi prosedur kerja. Hindari bekerja di sisi kapal tanpa pengendalian risiko dan perlindungan yang sesuai.
  • Perhatikan kondisi cuaca. Batasi aktivitas di area terbuka ketika gelombang dan angin menimbulkan bahaya.
  • Kelola kelelahan. Patuhi pengaturan kerja dan istirahat agar awak kapal dapat mempertahankan konsentrasi.
  • Lakukan latihan MOB. Latihan membantu awak memahami alarm, komunikasi, manuver, dan penggunaan peralatan penyelamatan.
  • Periksa perlengkapan secara rutin. Pastikan alat apung dan perangkat penanda selalu siap digunakan.

Selain langkah tersebut, perusahaan perlu mengevaluasi kejadian nyaris celaka. Dengan begitu, awak kapal dapat mengenali pola bahaya dan memperbaiki prosedur sebelum kecelakaan terjadi.

9. Dokumentasi dan Evaluasi Setelah Penyelamatan

Setelah operasi selesai, petugas yang bertanggung jawab perlu mendokumentasikan kronologi kejadian, waktu laporan, posisi korban, kondisi cuaca, tindakan penyelamatan, dan kondisi medis awal korban.

Selanjutnya, perusahaan perlu mengevaluasi penyebab insiden serta efektivitas respons. Evaluasi dapat mencakup kecepatan alarm, kejelasan komunikasi, kesiapan peralatan, dan koordinasi antarawak.

Berdasarkan hasil evaluasi, perusahaan dapat memperbaiki prosedur, meningkatkan pelatihan, atau mengubah pengendalian risiko di area tertentu. Selain itu, pelaporan kepada otoritas terkait harus mengikuti peraturan yang berlaku.

Dokumentasi yang akurat membantu perusahaan mengambil pelajaran dari insiden dan memperkuat sistem keselamatan untuk pelayaran berikutnya.

Penanganan orang jatuh ke laut (Man Overboard) membutuhkan tindakan cepat, koordinasi yang kuat, serta pemahaman terhadap prosedur penyelamatan. Mulai dari memberikan peringatan, mempertahankan pengamatan, mengaktifkan alarm, hingga menjalankan manuver dan mengangkat korban, setiap tahap harus mengikuti prosedur kapal.

Selain itu, kesiapan peralatan, kompetensi awak, dan pertolongan pertama setelah penyelamatan turut menentukan hasil operasi. Nakhoda dan seluruh personel harus menjalankan tanggung jawab masing-masing serta mengutamakan keselamatan selama proses berlangsung.

Pada akhirnya, latihan MOB, pemeriksaan perlengkapan, dan pencegahan risiko di dek merupakan bagian penting dari budaya keselamatan pelayaran. Dengan persiapan yang baik dan respons yang terkoordinasi, kapal dapat meningkatkan peluang penyelamatan korban sekaligus mengurangi risiko bagi awak lainnya.

Konsultasi Dokumen Pelaut Sekarang

Isma
Konsultasi Gratis Balas cepat via WhatsApp