Etika meminta dan menggunakan data pribadi milik orang lain merupakan bagian penting dari perilaku digital yang bertanggung jawab. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang sering membutuhkan informasi orang lain untuk berbagai keperluan, mulai dari administrasi pekerjaan, pendaftaran layanan, transaksi bisnis, hingga komunikasi melalui aplikasi digital. Namun, kebutuhan tersebut tidak berarti seseorang bebas meminta, menyimpan, atau menggunakan informasi pribadi tanpa mempertimbangkan hak pemiliknya.
Oleh karena itu, setiap individu perlu memahami batasan ketika mengumpulkan dan memanfaatkan data milik orang lain. Selain menghormati privasi, pengguna juga perlu memperhatikan tujuan penggunaan, keamanan penyimpanan, serta ketentuan hukum yang berlaku. Dengan demikian, proses pertukaran informasi dapat berjalan secara wajar tanpa menimbulkan kerugian bagi pihak lain.
Artikel ini membahas pengertian etika meminta dan menggunakan data pribadi, prinsip yang perlu di perhatikan, contoh penerapan, kesalahan yang harus di hindari, serta langkah melindungi informasi dalam kehidupan pribadi maupun profesional.
Baca Juga : Etika Digital dan Data Pribadi: Pengertian, Prinsip, Contoh, dan Cara Menerapkannya
1. Pengertian Etika Meminta dan Menggunakan Data Pribadi
Etika meminta dan menggunakan data pribadi merupakan pedoman perilaku yang membantu seseorang menentukan cara memperoleh, mengakses, menyimpan, dan memanfaatkan informasi milik orang lain secara bertanggung jawab.
Data pribadi mencakup informasi yang dapat mengidentifikasi seseorang, baik secara langsung maupun melalui kombinasi dengan informasi lainnya. Contohnya meliputi nama lengkap, alamat rumah, nomor telepon, NIK, nomor paspor, alamat email, foto wajah, informasi keuangan, dan data kesehatan.
Dalam praktiknya, seseorang mungkin membutuhkan nomor identitas untuk mengurus administrasi atau alamat email untuk mengirim dokumen pekerjaan. Namun, pihak yang meminta informasi perlu menjelaskan tujuan permintaan dan memastikan bahwa data tersebut memang relevan.
Selain itu, pihak yang menerima informasi harus menggunakannya sesuai tujuan yang sah. Misalnya, seseorang yang memperoleh nomor telepon pelanggan untuk mengatur pengiriman barang tidak seharusnya langsung menggunakan nomor tersebut untuk promosi yang tidak berkaitan tanpa dasar yang sesuai.
Dengan demikian, etika pengelolaan data tidak hanya berkaitan dengan cara meminta informasi, tetapi juga mencakup tanggung jawab setelah seseorang memperoleh akses terhadapnya.
Baca Juga : Etika Membagikan Data Pribadi di Media Sosial dan Aplikasi Digital

2. Prinsip Etika Meminta Data Pribadi Milik Orang Lain
Agar tidak melanggar privasi, setiap permintaan data sebaiknya mengikuti sejumlah prinsip dasar.
Memiliki Tujuan yang Jelas
Sebelum meminta informasi, tentukan alasan yang mendasarinya. Jelaskan apakah data di perlukan untuk keperluan administrasi, komunikasi, verifikasi identitas, atau pelaksanaan layanan tertentu.
Sebagai contoh, petugas administrasi dapat meminta alamat email untuk mengirimkan dokumen. Namun, ia perlu menjelaskan tujuan tambahan apabila ingin menggunakan alamat tersebut untuk keperluan lain.
Dengan tujuan yang jelas, pemilik data dapat memahami manfaat dan risiko ketika menyerahkan informasinya.
Baca Juga : Etika Digital untuk Mencegah Kebocoran dan Penyalahgunaan Data Pribadi
Meminta Data Sesuai Kebutuhan
Jangan meminta informasi secara berlebihan. Jika suatu layanan hanya membutuhkan nama dan nomor telepon, hindari meminta salinan KTP, alamat rumah lengkap, atau informasi keluarga tanpa alasan yang relevan.
Prinsip pembatasan data membantu mengurangi risiko apabila terjadi kebocoran. Selain itu, pengumpulan informasi dalam jumlah yang wajar mempermudah proses penyimpanan dan pengamanan.
Baca Juga : Persetujuan Digital dan Privasi: Etika Saat Memberikan Data kepada Aplikasi
Menghormati Keputusan Pemilik Data
Seseorang perlu memberikan penjelasan yang memadai agar pemilik data dapat mengambil keputusan secara sadar. Dalam situasi ketika persetujuan menjadi dasar pemrosesan, pemilik data perlu memahami tujuan dan ruang lingkup penggunaan informasi tersebut.
Namun, persetujuan bukan satu-satunya dasar pemrosesan yang di kenal dalam hukum. Karena itu, pihak yang meminta data juga perlu memastikan dasar pemrosesan yang sesuai dengan konteksnya.
Baca Juga : Etika Digital di Tempat Kerja: Menjaga Kerahasiaan Data Pelanggan dan Karyawan
Menjaga Kerahasiaan Informasi
Setelah memperoleh data, penerima harus mencegah akses oleh pihak yang tidak berwenang. Misalnya, petugas tidak boleh meninggalkan dokumen pelanggan di tempat umum atau mengirimkan berkas sensitif melalui grup percakapan yang tidak berkaitan dengan pekerjaan.
Selain itu, penerima perlu menggunakan sistem penyimpanan yang sesuai dengan tingkat sensitivitas informasi.
Bersikap Transparan
Pihak yang meminta data perlu menjelaskan siapa yang mengumpulkan informasi, untuk tujuan apa, dan bagaimana pihak tersebut akan mengelolanya. Jika terdapat pihak lain yang akan menerima data, informasi tersebut juga perlu di jelaskan sesuai kewajiban yang berlaku.
Transparansi membantu membangun kepercayaan sekaligus mengurangi kesalahpahaman antara pemilik dan penerima data.
Baca Juga : Etika Mengirim Foto KTP, NIK, dan Kartu Keluarga Melalui WhatsApp
3. Contoh Data Pribadi yang Tidak Boleh Diminta Sembarangan
Tidak semua informasi memiliki tingkat risiko yang sama. Oleh sebab itu, peminta data perlu memahami karakteristik informasi yang ingin di peroleh.
Nomor Identitas dan Dokumen Kependudukan
NIK, nomor Kartu Keluarga, foto KTP, paspor, dan akta kelahiran dapat membantu proses identifikasi seseorang. Namun, informasi tersebut juga berpotensi di salahgunakan untuk penipuan atau penyamaran identitas.
Karena itu, mintalah dokumen tersebut hanya ketika terdapat kebutuhan yang jelas dan dasar yang sesuai. Selain itu, gunakan saluran pengiriman yang aman dan batasi akses setelah dokumen di terima.
Baca Juga : Etika Digital dalam Menghadapi Hoaks, Doxing, dan Penyebaran Data Pribadi
Informasi Keuangan
Nomor rekening, riwayat transaksi, informasi kartu pembayaran, dan dokumen penghasilan termasuk data yang membutuhkan perlindungan khusus sesuai konteksnya.
Jika seseorang meminta informasi keuangan, pastikan tujuan permintaan tersebut masuk akal. Jangan meminta PIN, kata sandi perbankan, atau kode OTP untuk keperluan administrasi biasa.
Baca Juga : Etika Digital dan UU Perlindungan Data Pribadi: Hak serta Tanggung Jawab Pengguna
Informasi Kesehatan
Data diagnosis, rekam medis, riwayat pengobatan, dan hasil pemeriksaan dapat mengungkap kondisi pribadi seseorang.
Oleh karena itu, informasi kesehatan sebaiknya hanya di akses oleh pihak yang memiliki kewenangan dan kebutuhan yang sesuai. Bahkan dalam lingkungan keluarga atau tempat kerja, seseorang tetap perlu menghormati batas privasi pemilik informasi.
Foto, Video, dan Lokasi
Foto wajah, rekaman suara, alamat rumah, serta informasi lokasi dapat mengungkap identitas dan aktivitas seseorang. Sebelum meminta atau menggunakan informasi tersebut, pertimbangkan tujuan dan potensi dampaknya.
Misalnya, penyelenggara acara dapat meminta foto peserta untuk kebutuhan identifikasi yang telah di jelaskan. Namun, penggunaan foto untuk promosi memerlukan pertimbangan tambahan terkait tujuan, persetujuan, dan dasar pemrosesan yang sesuai.
Baca Juga : Cara Melaporkan Penyalahgunaan Data Pribadi di Internet Secara Bertanggung Jawab
4. Etika Menggunakan Data Pribadi yang Telah Di peroleh
Tanggung jawab tidak berhenti setelah seseorang mendapatkan informasi. Sebaliknya, penerima harus menjaga agar penggunaannya tetap sesuai tujuan.
Gunakan Data Sesuai Tujuan Awal
Jika seseorang memberikan nomor telepon untuk keperluan pengiriman barang, gunakan informasi tersebut untuk mengatur pengiriman dan komunikasi terkait. Jangan langsung memasukkan nomor itu ke daftar pemasaran tanpa dasar yang sesuai.
Selain itu, jika kebutuhan awal telah selesai, evaluasi apakah data masih perlu di simpan.
Baca Juga : Etika Digital dalam Pengurusan Dokumen Resmi, Penerjemahan, dan Legalisasi
Jangan Membagikan Data Tanpa Alasan yang Sah
Hindari meneruskan dokumen, daftar pelanggan, foto identitas, atau percakapan pribadi kepada pihak yang tidak berkepentingan.
Apabila pekerjaan membutuhkan pembagian data kepada rekan kerja, pastikan penerima memang memerlukan informasi tersebut untuk menjalankan tugasnya. Dengan begitu, akses data tetap terkendali.
Hindari Manipulasi dan Penyalahgunaan
Jangan mengubah informasi pribadi untuk menipu, mempermalukan, atau merugikan pemilik data. Selain bertentangan dengan etika, tindakan tertentu juga dapat menimbulkan konsekuensi hukum.
Sebagai contoh, menggunakan alamat orang lain untuk membuat akun palsu tanpa hak dapat merusak reputasi dan menimbulkan masalah bagi pemilik identitas.
Perbarui dan Koreksi Informasi secara Bertanggung Jawab
Data yang tidak akurat dapat menimbulkan kesalahan dalam pelayanan atau pengambilan keputusan. Karena itu, periksa ketepatan informasi sebelum menggunakannya.
Jika pemilik data meminta koreksi, tangani permintaan tersebut sesuai kewajiban, prosedur, dan ketentuan yang berlaku.
5. Contoh Penerapan Etika dalam Kehidupan Sehari-hari
Prinsip etika akan lebih mudah di terapkan ketika seseorang memahami situasi nyata yang sering terjadi.
Di Lingkungan Kerja
Bagian sumber daya manusia mungkin memerlukan data pegawai untuk administrasi gaji, asuransi, atau pengelolaan kehadiran. Dalam kondisi tersebut, petugas perlu mengumpulkan informasi yang relevan dan membatasi akses hanya kepada pihak yang berwenang.
Selain itu, pegawai tidak boleh menyebarkan daftar gaji atau dokumen identitas rekan kerja melalui grup informal. Jika perusahaan menggunakan penyedia layanan eksternal, perusahaan juga perlu memperhatikan ketentuan pemrosesan dan pengamanan data.
Dalam Hubungan Pertemanan
Seorang teman mungkin meminta nomor telepon orang lain untuk mengatur pertemuan. Walaupun tujuannya terlihat sederhana, sebaiknya ia meminta izin terlebih dahulu sebelum membagikan nomor tersebut.
Sebagai alternatif, ia dapat meneruskan pesan kepada pemilik nomor dan membiarkan orang tersebut memutuskan apakah ingin menghubungi pihak yang meminta.
Dalam Transaksi Jual Beli
Penjual daring membutuhkan nama, alamat pengiriman, dan nomor telepon pelanggan untuk mengantarkan pesanan. Namun, penjual perlu menjaga informasi tersebut dan tidak menggunakannya untuk kepentingan yang tidak berkaitan.
Setelah transaksi selesai, penjual perlu mengikuti kebijakan penyimpanan data serta kewajiban administrasi yang berlaku sebelum menghapus informasi yang tidak lagi di perlukan.
Dalam Kegiatan Pendidikan
Sekolah dapat mengumpulkan informasi siswa untuk keperluan pembelajaran dan administrasi. Namun, guru sebaiknya tidak menyebarkan nilai, alamat, kondisi kesehatan, atau informasi keluarga siswa ke ruang publik.
Khususnya untuk data anak, pihak sekolah dan orang tua perlu memperhatikan kepentingan terbaik anak serta membatasi penyebaran informasi yang dapat membahayakan privasinya.
Dalam Penggunaan Aplikasi Digital
Ketika menggunakan aplikasi, pengguna mungkin memperoleh akses ke daftar kontak, foto, atau lokasi orang lain. Akses teknis tersebut tidak otomatis memberikan hak untuk menggunakan seluruh informasi demi kepentingan pribadi.
Oleh karena itu, periksa tujuan akses dan gunakan data hanya sesuai kewenangan yang di miliki.
6. Kesalahan yang Harus Dihindari Ketika Meminta Data
Beberapa kebiasaan dapat merusak kepercayaan dan meningkatkan risiko pelanggaran privasi.
Pertama, meminta dokumen identitas tanpa menjelaskan tujuan membuat pemilik data kesulitan menilai risiko. Karena itu, sampaikan alasan permintaan secara terbuka.
Kedua, mengumpulkan terlalu banyak informasi meningkatkan dampak jika terjadi kebocoran. Sebaliknya, batasi permintaan pada data yang benar-benar di perlukan.
Ketiga, menganggap informasi yang tersedia di media sosial bebas di gunakan merupakan kekeliruan. Informasi yang dapat di lihat publik tetap perlu di gunakan dengan memperhatikan privasi, hak orang lain, dan ketentuan hukum.
Keempat, menyimpan dokumen tanpa batas waktu dapat memperbesar risiko keamanan. Oleh sebab itu, tentukan kebutuhan penyimpanan dan lakukan evaluasi secara berkala.
Terakhir, mengirim data sensitif melalui perangkat atau saluran yang tidak aman dapat membuka peluang akses tanpa izin. Gunakan metode pengiriman yang sesuai dan hindari membagikan dokumen melalui grup yang tidak relevan.
7. Hubungan Etika Penggunaan Data dengan Hukum Indonesia
Indonesia memiliki Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi sebagai salah satu landasan hukum utama dalam pengelolaan informasi pribadi.
Peraturan ini mengatur hak subjek data serta kewajiban pihak yang memproses data sesuai perannya. Ketentuannya mencakup dasar pemrosesan, tujuan penggunaan, keamanan informasi, dan pemenuhan hak individu.
Dalam praktiknya, pihak yang meminta atau menggunakan data perlu memastikan bahwa pemrosesan memiliki dasar yang sah. Selain itu, mereka perlu memperhatikan tujuan yang jelas, pembatasan akses, serta pengamanan yang sesuai.
Penting pula untuk memahami bahwa persetujuan bukan satu-satunya dasar pemrosesan. Dasar lain dapat berlaku sesuai kondisi yang diatur dalam undang-undang. Karena itu, organisasi sebaiknya menilai konteks dan kewajiban hukumnya sebelum mengumpulkan informasi.
Sementara itu, individu perlu menghormati privasi orang lain dan menghindari penggunaan data untuk tujuan yang merugikan.
Dengan demikian, penerapan etika digital membantu memperkuat kepatuhan hukum sekaligus membangun budaya perlindungan informasi.
8. Langkah Praktis Meminta dan Menggunakan Data secara Bertanggung Jawab
Untuk menerapkan prinsip tersebut, gunakan langkah-langkah berikut.
- Tentukan Kebutuhan. Identifikasi informasi yang benar-benar diperlukan sebelum mengajukan permintaan.
- Jelaskan Tujuan. Terangkan alasan pengumpulan data dan bagaimana pihak terkait akan menggunakannya.
- Pastikan Dasar yang Sah. Periksa dasar pemrosesan yang sesuai dengan situasi dan ketentuan hukum.
- Batasi Pengumpulan. Hindari meminta informasi tambahan yang tidak relevan.
- Amankan Penyimpanan. Gunakan perangkat, sistem, dan pengaturan akses yang sesuai.
- Batasi Pembagian. Berikan akses hanya kepada pihak yang memiliki kebutuhan dan kewenangan.
- Evaluasi Masa Penyimpanan. Tinjau apakah informasi masih diperlukan atau harus dihapus sesuai kewajiban yang berlaku.
- Tanggapi Permintaan Pemilik Data. Sediakan mekanisme untuk menangani pertanyaan, koreksi, atau permintaan lain sesuai hak yang berlaku.
- Tangani Insiden dengan Cepat. Jika terjadi kebocoran atau akses tanpa izin, amankan bukti dan lakukan penanganan melalui prosedur yang tepat.
Melalui langkah-langkah tersebut, individu maupun organisasi dapat mengelola informasi secara lebih tertib dan bertanggung jawab.
9. Pertanyaan Umum tentang Etika Meminta dan Menggunakan Data Pribadi
Apakah meminta data pribadi orang lain selalu dilarang?
Tidak. Seseorang dapat meminta data untuk tujuan yang sah, misalnya administrasi, transaksi, atau pemberian layanan. Namun, peminta perlu memperhatikan kebutuhan, kewenangan, dasar pemrosesan, dan ketentuan yang berlaku.
Apakah data yang tersedia di internet boleh digunakan bebas?
Tidak selalu. Ketersediaan informasi untuk publik tidak otomatis menghapus hak privasi atau membenarkan semua bentuk penggunaan. Pertimbangkan tujuan, konteks, hak pihak terkait, dan aturan yang berlaku.
Bolehkah membagikan nomor telepon teman kepada orang lain?
Sebaiknya minta izin terlebih dahulu, terutama jika pemilik nomor tidak mengetahui tujuan pembagian tersebut. Sebagai alternatif, sampaikan pesan kepada pemilik nomor tanpa mengungkapkan informasi kontaknya.
Apa yang harus dilakukan jika seseorang menyalahgunakan data pribadi?
Simpan bukti yang relevan, hubungi pihak atau platform terkait, dan amankan akun jika diperlukan. Jika tindakan tersebut menimbulkan kerugian atau mengindikasikan pelanggaran hukum, pertimbangkan untuk melapor melalui saluran yang berwenang.
Etika meminta dan menggunakan data pribadi milik orang lain menuntut setiap individu untuk menghormati privasi, menjelaskan tujuan pengumpulan informasi, membatasi data sesuai kebutuhan, serta menjaga keamanan setelah memperoleh akses.
Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip tersebut berlaku di tempat kerja, lingkungan pendidikan, hubungan pertemanan, transaksi bisnis, dan penggunaan aplikasi digital. Selain itu, pengguna perlu memahami bahwa akses terhadap informasi tidak otomatis memberikan hak untuk menyebarkan atau menggunakannya tanpa batas.
Dengan menerapkan prinsip transparansi, tanggung jawab, pembatasan tujuan, dan keamanan informasi, setiap orang dapat membangun hubungan yang lebih tepercaya sekaligus mengurangi risiko penyalahgunaan data.
Pada akhirnya, meminta data secara etis bukan sekadar persoalan sopan santun. Tindakan tersebut juga mencerminkan penghormatan terhadap hak individu dan tanggung jawab dalam menciptakan lingkungan digital yang aman.
Konsultasikan Kebutuhan Dokumen Anda Sekarang