Daftar Sertifikasi STCW Wajib untuk Kru Mesin

Siti Aidah

Daftar Sertifikasi STCW Wajib untuk Kru Mesin
Direktur Utama Jangkar Groups

Daftar sertifikasi STCW wajib untuk kru mesin perlu di pahami oleh setiap calon pelaut maupun awak kapal yang bekerja di bagian permesinan. Sertifikasi tersebut membuktikan bahwa kru mesin memiliki kompetensi untuk menjalankan tugas, menjaga operasional mesin, menangani keadaan darurat, serta menerapkan prosedur keselamatan di kapal. Selain itu, setiap jabatan memiliki persyaratan sertifikat yang berbeda sesuai tingkat tanggung jawab dan jenis pekerjaan.

STCW atau Standards of Training, Certification and Watchkeeping for Seafarers merupakan standar internasional yang mengatur pendidikan, pelatihan, sertifikasi, dan dinas jaga pelaut. Ketentuan ini berlaku untuk berbagai jabatan di kapal, termasuk Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer), Masinis II (Second Engineer), Masinis jaga (Watchkeeping Engineer), Juru Minyak, dan Pelaut Terampil Bagian Mesin (Able Seafarer Engine).

DAFTAR ISI

Di Indonesia, persyaratan sertifikasi awak kapal niaga juga mengacu pada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 26 Tahun 2022 tentang Pengawakan Kapal Niaga. Peraturan tersebut menjelaskan jenis sertifikat keahlian dan keterampilan yang harus dimiliki pelaut bagian mesin berdasarkan jabatannya.

Oleh karena itu, kru mesin tidak cukup hanya mempunyai sertifikat BST. Mereka juga perlu menyiapkan sertifikat keterampilan lain seperti Medical First Aid (MFA), Survival Craft and Rescue Boats (SCRB), Advanced Fire Fighting (AFF), dan Engine Resource Management (ERM) sesuai jabatan. Dengan memahami daftar sertifikasi STCW wajib untuk kru mesin, pelaut dapat mempersiapkan persyaratan administrasi dan kompetensi sebelum bekerja di kapal.

Mengenal Standar STCW untuk Awak Kapal Bagian Mesin

STCW merupakan standar internasional yang diterbitkan melalui International Maritime Organization (IMO). Standar ini bertujuan memastikan pelaut memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan sesuai tanggung jawab pekerjaannya.

Dalam struktur STCW, bagian mesin masuk dalam Chapter III yang mengatur persyaratan pelatihan dan sertifikasi bagi personel departemen mesin. Sementara itu, Chapter VI mengatur kompetensi keselamatan, pertolongan medis, dan kemampuan menghadapi keadaan darurat.

Selain itu, STCW Code memberikan penjelasan mengenai standar kompetensi minimum yang harus dipenuhi setiap pelaut. Dengan demikian, perusahaan pelayaran dapat memastikan bahwa awak kapal mempunyai kualifikasi sesuai jabatan.

Tujuan Sertifikasi STCW untuk Kru Mesin

Sertifikasi STCW membantu memastikan kru mesin memahami sistem permesinan dan prosedur keselamatan kapal. Mereka harus mampu menjalankan tugas sesuai tanggung jawab, mulai dari pengoperasian mesin utama hingga pemeliharaan peralatan pendukung.

Selain kompetensi teknis, kru mesin juga perlu memahami penanganan kebakaran, pertolongan pertama, dan prosedur penyelamatan. Sebab, kamar mesin memiliki berbagai potensi bahaya seperti suhu tinggi, tekanan, bahan bakar, listrik, dan mesin bergerak.

Oleh karena itu, sertifikasi tidak hanya berkaitan dengan persyaratan pekerjaan. Sertifikat juga menunjukkan bahwa pelaut telah memenuhi standar kompetensi untuk menjalankan tugasnya.

BACA JUGA: Engine Department di Kapal: Struktur, Tugas, dan Kamar Mesin

Pembagian Jabatan Kru Mesin

Departemen mesin memiliki beberapa tingkatan jabatan dengan tanggung jawab berbeda.

  1. Chief Engineer: Kepala Kamar Mesin yang bertanggung jawab atas operasional dan pemeliharaan seluruh sistem permesinan.
  2. Second Engineer: Masinis II yang membantu Kepala Kamar Mesin dan mengawasi pekerjaan teknis.
  3. Watchkeeping Engineer Officer: Masinis yang menjalankan tugas jaga di kamar mesin.
  4. Able Seafarer Engine: Pelaut terampil bagian mesin yang membantu pekerjaan teknis dan operasional.
  5. Oilier atau Juru Minyak: Awak kapal yang membantu tugas jaga dan pekerjaan perawatan mesin.
  6. Electro Technical Officer: Perwira yang menangani sistem kelistrikan dan peralatan elektronik kapal.

Setiap jabatan mempunyai persyaratan kompetensi yang berbeda. Karena itu, pelaut perlu menyesuaikan sertifikat dengan posisi yang akan diambil.

BACA JUGA: Tingkatan Ijazah Pelaut Teknika (ATT I hingga ATT V)

Daftar Sertifikasi STCW Wajib untuk Kru Mesin Berdasarkan Jenisnya

Daftar sertifikasi STCW wajib untuk kru mesin mencakup sertifikat keahlian, pengukuhan jabatan, serta berbagai sertifikat keterampilan. Berikut jenis sertifikasi yang perlu di pahami oleh pelaut bagian mesin.

1. Basic Safety Training (BST)

Basic Safety Training atau BST merupakan pelatihan dasar keselamatan bagi pelaut. Sertifikat ini menjadi salah satu persyaratan utama bagi awak kapal karena setiap personel perlu memahami prosedur keselamatan selama bekerja di laut.

Materi BST mencakup empat kompetensi utama, yaitu:

  • Personal Survival Techniques (PST).
  • Fire Prevention and Fire Fighting (FPFF).
  • Elementary First Aid (EFA).
  • Personal Safety and Social Responsibilities (PSSR).

Melalui pelatihan tersebut, kru mesin mempelajari cara bertahan hidup di laut, menggunakan perlengkapan keselamatan, mencegah kebakaran, serta memberikan pertolongan awal.

Selain itu, peserta mempelajari tanggung jawab pribadi dan prosedur keselamatan ketika bekerja bersama awak kapal lainnya.

2. Medical First Aid (MFA)

Medical First Aid atau MFA merupakan sertifikasi keterampilan pertolongan pertama di kapal. Kompetensi ini membantu kru mesin memberikan bantuan medis awal ketika terjadi kecelakaan atau kondisi darurat.

Materi MFA mencakup penanganan cedera, pemeriksaan kondisi korban, pertolongan pertama, dan tindakan awal sebelum memperoleh bantuan medis lanjutan.

Sertifikat ini penting karena kru mesin bekerja di lingkungan yang mempunyai risiko kecelakaan. Misalnya, seseorang dapat mengalami luka bakar, cedera akibat mesin, terpeleset, atau terkena paparan bahan berbahaya.

Oleh sebab itu, kemampuan pertolongan pertama menjadi bagian penting dalam kompetensi keselamatan awak kapal.

BACA JUGA: Struktur Organisasi dan Hierarki Jabatan di Bagian Engine

3. Medical Care (MC)

Medical Care merupakan sertifikasi keterampilan perawatan medis di kapal. Kompetensi ini mempunyai cakupan lebih lanjut daripada pertolongan pertama.

Pelatihan Medical Care berkaitan dengan kemampuan memberikan perawatan kepada orang sakit atau terluka ketika kapal berada jauh dari fasilitas kesehatan darat.

Materinya dapat mencakup pemeriksaan pasien, pemantauan kondisi kesehatan, penggunaan perlengkapan medis, serta penanganan keadaan darurat medis sesuai kompetensi.

Dalam ketentuan pengawakan kapal niaga Indonesia, Medical Care tercantum sebagai persyaratan bagi jabatan tertentu di bagian mesin, terutama Chief Engineer, Second Engineer, dan jabatan yang disebutkan dalam ketentuan terkait.

4. Survival Craft and Rescue Boats (SCRB)

Survival Craft and Rescue Boats atau SCRB merupakan sertifikasi keterampilan penggunaan pesawat luput maut dan sekoci penyelamatan selain sekoci cepat.

Kru mesin perlu memahami prosedur meninggalkan kapal ketika keadaan darurat mengharuskan seluruh awak melakukan evakuasi.

Materi SCRB mencakup beberapa kemampuan, seperti:

  • Mengoperasikan sekoci penyelamatan.
  • Menggunakan perlengkapan keselamatan.
  • Melakukan prosedur evakuasi.
  • Memahami tindakan bertahan hidup di laut.
  • Mengendalikan survival craft sesuai pelatihan.

Selain itu, peserta mempelajari koordinasi penyelamatan bersama awak kapal lainnya.

BACA JUGA: Pendidikan Jurusan Teknika Pelayaran hingga Praktik Laut (Prala)

5. Advanced Fire Fighting (AFF)

Advanced Fire Fighting atau AFF merupakan sertifikasi pemadaman kebakaran tingkat lanjut. Sertifikasi ini penting bagi kru mesin karena kamar mesin mempunyai potensi kebakaran akibat bahan bakar, minyak pelumas, instalasi listrik, dan suhu tinggi.

Melalui pelatihan AFF, peserta mempelajari strategi penanganan kebakaran, pengorganisasian tim pemadam, penggunaan alat pemadam, serta prosedur penyelamatan.

Kru mesin juga perlu memahami karakteristik kebakaran di ruang permesinan. Sebab, penanganan kebakaran pada instalasi bahan bakar membutuhkan prosedur yang tepat.

Dengan demikian, AFF mendukung kemampuan kru dalam menghadapi keadaan darurat yang berhubungan dengan kebakaran kapal.

6. Engine Resource Management (ERM)

Engine Resource Management atau ERM merupakan sertifikasi yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya di kamar mesin.

Pelatihan ini membantu perwira mesin mengatur pekerjaan, berkomunikasi, mengambil keputusan, dan mengoordinasikan tim ketika menjalankan operasional kapal.

Materi ERM mencakup:

  • Komunikasi antaranggota tim mesin.
  • Pembagian tanggung jawab kerja.
  • Pengambilan keputusan teknis.
  • Pengawasan operasional kamar mesin.
  • Pengelolaan risiko pekerjaan.
  • Koordinasi ketika menghadapi keadaan darurat.

ERM sangat penting bagi perwira mesin karena operasional kapal membutuhkan koordinasi yang baik. Selain kemampuan teknis, mereka harus mampu mengelola sumber daya manusia dan peralatan secara efektif.

BACA JUGA: Tugas Harian Kru Mesin: Dinas Jaga, Bunkering, dan Sounding

7. Security Awareness Training (SAT)

Security Awareness Training atau SAT merupakan pelatihan kesadaran keamanan bagi awak kapal.

Materinya membantu kru mengenali ancaman keamanan, memahami prosedur perlindungan kapal, serta mengetahui tindakan yang perlu dilakukan ketika menemukan aktivitas mencurigakan.

Kru mesin juga perlu memahami aspek keamanan karena beberapa ruang permesinan memiliki peralatan penting yang mendukung operasional kapal.

Dalam ketentuan pengawakan kapal niaga Indonesia, SAT menjadi salah satu persyaratan untuk jabatan tertentu di bagian mesin, terutama jabatan masinis jaga, rating, dan pelaut terampil sesuai ketentuan masing-masing.

8. Security Duties for Seafarers (SDSD)

Security Duties for Seafarers atau SDSD berkaitan dengan pelatihan keamanan bagi pelaut yang mempunyai tugas keamanan khusus.

Pelatihan ini berbeda dari SAT karena pesertanya mempunyai tanggung jawab keamanan yang lebih spesifik.

Materinya mencakup pengenalan ancaman keamanan, prosedur pengawasan, pelaksanaan tindakan perlindungan, dan koordinasi dengan petugas keamanan kapal.

Namun, sertifikat SDSD tidak otomatis menjadi persyaratan untuk seluruh kru mesin. Kewajibannya bergantung pada jabatan dan tugas keamanan yang diberikan kepada awak kapal.

BACA JUGA: Prosedur Planned Maintenance System (PMS) Mesin Kapal

9. Marine High Voltage

Marine High Voltage merupakan sertifikasi keterampilan yang berkaitan dengan sistem kelistrikan tegangan tinggi di kapal.

Sertifikat ini penting bagi Second Engineer sesuai ketentuan yang berlaku. Selain itu, kompetensi kelistrikan tegangan tinggi juga relevan bagi Electro Technical Officer.

Materi pelatihan mencakup pengenalan sistem tegangan tinggi, prosedur keselamatan, pengoperasian peralatan, serta penanganan risiko kelistrikan.

Dengan memahami sistem tersebut, personel mesin dapat menjalankan pekerjaan teknis secara lebih aman.

Sertifikasi STCW Khusus Berdasarkan Jenis Kapal dan Pekerjaan

Sertifikasi STCW Khusus Berdasarkan Jenis Kapal dan Pekerjaan

Selain sertifikasi utama, daftar sertifikasi STCW wajib untuk kru mesin juga mencakup sertifikat tambahan yang bergantung pada jenis kapal, muatan, dan tugas awak kapal.

Artinya, tidak semua kru mesin perlu memiliki seluruh sertifikat khusus. Berikut beberapa sertifikasi yang perlu di perhatikan.

1. Fast Rescue Boats (FRB)

Fast Rescue Boats atau FRB merupakan sertifikasi keterampilan pengoperasian sekoci cepat.

Sertifikat ini diperlukan bagi personel yang bekerja pada kapal yang mempunyai fasilitas sekoci cepat dan menjalankan tugas sesuai persyaratan pelatihan tersebut.

Materinya mencakup pengoperasian sekoci cepat, prosedur penyelamatan, pengendalian perahu, dan tindakan keselamatan selama operasi.

2. Basic dan Advanced IGF Code

IGF Code mengatur keselamatan kapal yang menggunakan gas atau bahan bakar dengan titik nyala rendah.

Kru mesin yang bekerja pada kapal dengan sistem bahan bakar tersebut membutuhkan pelatihan sesuai tugas dan tanggung jawabnya.

Terdapat dua tingkatan pelatihan yang perlu di kenali:

  • Basic IGF Code: Untuk personel yang memerlukan pelatihan dasar terkait keselamatan kapal dengan bahan bakar gas atau bahan bakar bertitik nyala rendah.
  • Advanced IGF Code: Untuk personel yang mempunyai tanggung jawab langsung terhadap penggunaan dan pengoperasian bahan bakar tersebut.

Dengan demikian, pemilihan sertifikat harus mengikuti fungsi pekerjaan dan ketentuan kapal.

3. Basic Oil and Chemical Tanker

Sertifikat Basic Oil and Chemical Tanker berkaitan dengan pelatihan keselamatan kapal tangki minyak dan bahan kimia.

Kru mesin yang bekerja pada kapal tangki perlu memahami karakteristik muatan, bahaya bahan kimia, prosedur keselamatan, serta tindakan pencegahan kecelakaan.

Selain itu, pelatihan ini membantu awak kapal mengenali risiko kebakaran, kebocoran, dan paparan zat berbahaya.

4. Basic Liquefied Gas Tanker

Basic Liquefied Gas Tanker merupakan sertifikasi untuk personel yang bekerja pada kapal pengangkut gas cair.

Materinya berkaitan dengan karakteristik gas cair, risiko kebocoran, pengendalian bahaya, dan prosedur keselamatan selama kegiatan operasional.

Selanjutnya, personel yang mempunyai tanggung jawab langsung terhadap muatan dapat memerlukan sertifikasi tingkat lanjut sesuai ketentuan yang berlaku.

5. Advanced Oil and Chemical Tanker

Advanced Oil and Chemical Tanker merupakan sertifikasi lanjutan bagi personel yang mempunyai tanggung jawab khusus dalam kegiatan yang berkaitan dengan muatan kapal tangki minyak dan bahan kimia.

Pelatihan ini memberikan pengetahuan lebih mendalam mengenai penanganan muatan, pengendalian risiko, serta prosedur keselamatan.

Namun, persyaratan tersebut tidak berlaku untuk semua kru mesin. Pemohon perlu mencocokkan jabatan dan tanggung jawabnya dengan ketentuan kapal.

6. Advanced Liquefied Gas Tanker

Sertifikasi Advanced Liquefied Gas Tanker berkaitan dengan kompetensi lanjutan untuk personel yang mempunyai tanggung jawab terhadap kegiatan muatan kapal tangki gas cair.

Materinya mencakup karakteristik muatan, pengendalian sistem, prosedur keselamatan, dan penanganan keadaan darurat.

Karena kapal gas mempunyai risiko operasional khusus, pelaut perlu mengikuti pelatihan sesuai standar yang berlaku.

BACA JUGA: Sistem Penggerak Kapal: Main Engine dan Auxiliary Machinery

Sertifikasi Keahlian Kru Mesin Berdasarkan Jabatan

Selain sertifikat keterampilan, kru mesin juga membutuhkan sertifikat keahlian atau Certificate of Competence (CoC). Sertifikat ini menunjukkan tingkat kompetensi profesional sesuai jabatan dan tanggung jawab pelaut.

Di Indonesia, sertifikat keahlian bagian mesin dikenal melalui jenjang Ahli Teknika Tingkat (ATT).

ATT I untuk Chief Engineer

ATT I merupakan jenjang sertifikat keahlian untuk jabatan Kepala Kamar Mesin pada kapal sesuai batas kewenangannya.

Chief Engineer bertanggung jawab mengawasi seluruh sistem permesinan, termasuk mesin utama, mesin bantu, instalasi listrik, dan peralatan pendukung.

Selain sertifikat ATT I, pemegang jabatan ini membutuhkan Certificate of Endorsement (CoE) sesuai jabatan serta sertifikat keterampilan yang menjadi persyaratannya.

ATT II untuk Second Engineer

ATT II berkaitan dengan kualifikasi keahlian Masinis II atau jabatan lain sesuai ketentuan dan pembatasan sertifikat.

Second Engineer membantu Chief Engineer dalam pengawasan pekerjaan dan pemeliharaan permesinan.

Selain itu, jabatan ini membutuhkan sertifikat keterampilan seperti BST, MFA, MC, SCRB, AFF, ERM, serta Marine High Voltage sesuai ketentuan yang berlaku.

ATT III untuk Watchkeeping Engineer

ATT III menjadi salah satu jenjang keahlian bagi masinis yang melaksanakan tugas jaga di kamar mesin.

Masinis jaga mempunyai tanggung jawab mengawasi kondisi mesin dan memastikan sistem bekerja sesuai prosedur.

Selain CoC dan CoE, persyaratan keterampilan mencakup BST, MFA, MC, SCRB, AFF, SAT, SDSD, dan ERM sesuai ketentuan jabatan.

BACA JUGA: Standar K3 Kamar Mesin dan Oily Water Separator MARPOL

Daftar Sertifikasi STCW Berdasarkan Posisi Kru Mesin

Untuk mempermudah pemahaman, berikut gambaran sertifikasi berdasarkan jabatan dalam pengawakan kapal niaga Indonesia.

JabatanSertifikat Keahlian atau Keterampilan Utama
Chief EngineerCoC, CoE, BST, MFA, MC, SCRB, AFF, ERM
Second EngineerCoC, CoE, BST, MFA, MC, SCRB, AFF, ERM, Marine High Voltage
Watchkeeping EngineerCoC, CoE, BST, MFA, MC, SCRB, AFF, SAT, SDSD, ERM
Able Seafarer EngineCoP Able Seafarer Engine, BST, MFA, SCRB, AFF, SAT, SDSD
Juru MinyakCoP Rating Forming Part of Engine Watch, BST, MFA, SCRB, AFF, SAT, SDSD
Rating Mesin LainnyaBST, MFA, SCRB, AFF, SAT

Tabel tersebut merupakan gambaran persyaratan utama berdasarkan jabatan dalam PM 26 Tahun 2022. Selain itu, sertifikat kesehatan dan sertifikasi khusus kapal tetap perlu di perhatikan.

Persyaratan tambahan dapat mencakup FRB, IGF Code, sertifikasi tanker, serta pelatihan kapal penumpang sesuai jenis kapal dan tanggung jawab pekerjaan.

BACA JUGA: Peran Electro-Technical Officer (ETO) dalam Kelistrikan Kapal

Perbedaan Sertifikat CoC dan CoP untuk Kru Mesin

Dalam dunia kepelautan, CoC dan CoP mempunyai fungsi berbeda. Pemahaman mengenai kedua jenis sertifikat ini membantu pelaut menentukan dokumen yang perlu mereka siapkan.

Certificate of Competence (CoC)

Certificate of Competence merupakan sertifikat keahlian yang menunjukkan bahwa pelaut memenuhi standar kompetensi untuk jabatan tertentu.

Contohnya adalah sertifikat ATT I, ATT II, dan ATT III pada bagian mesin.

Sertifikat ini berkaitan dengan tingkat tanggung jawab profesional serta kewenangan pelaut dalam menjalankan jabatan di kapal.

Certificate of Proficiency (CoP)

Certificate of Proficiency merupakan sertifikat keterampilan yang menunjukkan kemampuan pelaut dalam menjalankan pelatihan atau fungsi tertentu.

Contohnya meliputi BST, AFF, SCRB, MFA, dan ERM.

Dengan demikian, CoP melengkapi kompetensi yang diperlukan untuk melaksanakan tugas keselamatan dan operasional kapal.

Certificate of Endorsement (CoE)

Certificate of Endorsement merupakan sertifikat pengukuhan yang memberikan kewenangan jabatan sesuai sertifikat keahlian yang dimiliki pelaut.

Misalnya, seseorang yang memiliki ATT I tetap perlu memenuhi persyaratan pengukuhan untuk menjalankan jabatan Chief Engineer sesuai ketentuan.

Oleh karena itu, pelaut perlu memeriksa kesesuaian CoC, CoE, dan CoP sebelum mengajukan pekerjaan.

BACA JUGA: Tanggung Jawab Chief Engineer: Teknis dan Keselamatan Kapal

Cara Memeriksa Kelengkapan Sertifikasi STCW Kru Mesin

Setelah memahami daftar sertifikasi STCW wajib untuk kru mesin, pelaut perlu memeriksa seluruh dokumen yang dimiliki.

Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan.

Memeriksa Kesesuaian Jabatan

Pertama, tentukan jabatan yang akan diambil. Apakah sebagai Chief Engineer, Second Engineer, masinis jaga, Able Seafarer Engine, atau Juru Minyak.

Selanjutnya, cocokkan jabatan tersebut dengan persyaratan sertifikasi berdasarkan ketentuan pengawakan kapal niaga.

Memeriksa Masa Berlaku Sertifikat

Periksa masa berlaku sertifikat dan kebutuhan penyegaran kompetensi. Beberapa sertifikasi keselamatan memiliki ketentuan pembuktian kompetensi lanjutan atau pelatihan penyegaran.

Sebagai contoh, amandemen Manila STCW menetapkan persyaratan penyegaran setiap lima tahun untuk kompetensi tertentu dalam BST, AFF, dan keterampilan survival craft.

Karena itu, jangan menunggu hingga dokumen bermasalah ketika perusahaan meminta pemeriksaan.

Memeriksa Keaslian Sertifikat

Pastikan seluruh sertifikat berasal dari lembaga yang memiliki kewenangan sesuai ketentuan.

Periksa nomor sertifikat, nama pemilik, jenis pelatihan, serta informasi penerbit. Jika tersedia layanan verifikasi digital, gunakan sistem resmi untuk mencocokkan data.

Menyiapkan Dokumen Pendukung

Selain sertifikat STCW, siapkan dokumen administrasi seperti KTP, Buku Pelaut, sertifikat kesehatan, ijazah, dan dokumen masa layar apabila diperlukan.

Dengan persiapan tersebut, proses pemeriksaan administrasi dapat berjalan lebih teratur.

Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Mengurus Sertifikasi STCW

Pelaut terkadang mengalami kendala karena kurang memahami perbedaan persyaratan setiap jabatan. Oleh sebab itu, hindari beberapa kesalahan berikut.

Menganggap Semua Kru Mesin Membutuhkan Sertifikat yang Sama

Setiap jabatan memiliki tanggung jawab berbeda. Chief Engineer mempunyai persyaratan yang tidak sepenuhnya sama dengan Juru Minyak.

Karena itu, periksa daftar persyaratan sesuai posisi pekerjaan sebelum mengikuti pelatihan.

Mengabaikan Sertifikat Tambahan Kapal Khusus

Kapal tanker, kapal berbahan bakar gas, dan kapal penumpang mempunyai kebutuhan pelatihan khusus.

Jika pelaut melamar pekerjaan pada jenis kapal tersebut, periksa sertifikat tambahan yang sesuai dengan tugasnya.

Tidak Memeriksa Masa Berlaku Sertifikat

Sertifikat yang sudah melewati masa berlaku atau membutuhkan penyegaran dapat menimbulkan kendala administrasi.

Oleh sebab itu, periksa status seluruh dokumen sebelum mengirim lamaran pekerjaan.

Mengikuti Pelatihan Tanpa Memastikan Kewenangan Lembaga

Pastikan lembaga pelatihan mempunyai persetujuan atau kewenangan yang sesuai. Selain itu, periksa pengakuan sertifikat dan kesesuaiannya dengan kebutuhan administrasi kepelautan.

Langkah ini membantu menghindari risiko mengikuti pelatihan yang tidak sesuai dengan persyaratan pekerjaan.

Pentingnya Melengkapi Sertifikasi STCW bagi Kru Mesin

Daftar sertifikasi STCW wajib untuk kru mesin menjadi pedoman penting bagi pelaut yang ingin bekerja secara profesional di kapal niaga. Setiap sertifikat mempunyai fungsi berbeda, mulai dari kompetensi teknis, keselamatan dasar, pertolongan medis, pemadaman kebakaran, hingga pengelolaan sumber daya kamar mesin.

Selain itu, kebutuhan sertifikasi mengikuti jabatan dan jenis kapal. Chief Engineer, Second Engineer, masinis jaga, Able Seafarer Engine, dan Juru Minyak mempunyai persyaratan yang tidak selalu sama. Oleh karena itu, pelaut perlu memeriksa ketentuan yang berlaku sebelum mengikuti pelatihan.

Dengan dokumen yang lengkap dan kompetensi yang sesuai, pelaut dapat mempersiapkan persyaratan pekerjaan secara lebih baik. Pastikan juga setiap sertifikat mempunyai status yang dapat di verifikasi melalui sistem atau lembaga penerbit yang berwenang.

Jasa Pengurusan Sertifikasi STCW Kru Mesin

PT Jangkar Global Groups melalui Jangkar Groups menyediakan layanan pendampingan pengurusan dokumen sesuai kebutuhan pelaut. Pendampingan dapat membantu memeriksa kelengkapan administrasi, memahami persyaratan sertifikasi, dan menyiapkan dokumen pendukung sesuai kebutuhan pekerjaan di kapal.

Bagi calon kru mesin maupun pelaut aktif, pemeriksaan dokumen sejak awal dapat membantu mengurangi kesalahan dalam proses administrasi. Selain itu, pendampingan dapat membantu memetakan kebutuhan sertifikat berdasarkan jabatan dan jenis kapal yang menjadi tujuan pekerjaan.

Pastikan setiap pelatihan dan sertifikasi mengikuti ketentuan lembaga resmi yang berwenang. Adapun kelulusan pelatihan, penerbitan sertifikat, dan pengukuhan jabatan tetap mengikuti prosedur serta keputusan instansi terkait.

Konsultasi Dokumen dan Sertifikasi Pelaut Sekarang

Siti Aidah
Konsultasi Gratis Balas cepat via WhatsApp