Hukum Pidana Formil Diatur Dalam

Nisa

Updated on:

Hukum Pidana Formil Diatur Dalam
Direktur Utama Jangkar Goups

Hukum pidana formil, sering di sebut juga hukum acara pidana, merupakan bagian penting dari sistem hukum di Indonesia. Berbeda dengan hukum pidana materiil yang mengatur perbuatan yang di larang dan sanksi pidananya, hukum pidana formil mengatur prosedur dan mekanisme penegakan hukum pidana. Dengan kata lain, hukum pidana formil menentukan bagaimana proses penyelidikan, penyidikan, penuntutan, persidangan, hingga eksekusi putusan pidana di lakukan secara sah dan adil.

Keberadaan hukum pidana formil sangat penting untuk memastikan bahwa proses peradilan berjalan sesuai aturan, menghormati hak-hak tersangka dan terdakwa, serta menegakkan keadilan bagi korban. Kemudian, di Indonesia, hukum pidana formil di atur terutama dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang menjadi landasan bagi aparat penegak hukum dalam melaksanakan tugasnya.

Pengertian Hukum Pidana Formil Di atur Dalam

Hukum pidana formil, atau yang sering di sebut hukum acara pidana, adalah cabang hukum pidana yang mengatur tata cara penegakan hukum pidana materiil. Dengan kata lain, hukum pidana formil menjelaskan bagaimana suatu tindak pidana di selidiki, di sidangkan, dan di jatuhi sanksi secara sah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Hukum pidana formil di atur terutama dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) melalui Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981. KUHAP menjadi pedoman bagi aparat penegak hukum, seperti polisi, jaksa, dan hakim, dalam melakukan tugas mereka secara prosedural dan legal.

Landasan Hukum Hukum Pidana Formil di Indonesia – Hukum Pidana Formil Diatur Dalam

Landasan Hukum Hukum Pidana Formil di Indonesia - Hukum Pidana Formil Diatur Dalam

Hukum pidana formil di Indonesia memiliki landasan hukum yang kuat untuk memastikan proses penegakan hukum pidana berjalan secara sah, adil, dan transparan. Maka, landasan ini mencakup peraturan perundang-undangan utama, peraturan pendukung, dan prinsip-prinsip hukum yang menjadi pedoman aparat penegak hukum.

  Hukum Pidana Formil Panduan,Lengkap Prosedur,Penegakan

Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP)

  1. Dasar hukum utama hukum pidana formil di Indonesia adalah KUHAP, yang di atur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981.
  2. KUHAP mengatur seluruh mekanisme hukum pidana, mulai dari penyelidikan, penyidikan, penuntutan, persidangan, hingga eksekusi putusan pidana.
  3. KUHAP bertujuan untuk menjamin perlindungan hak-hak tersangka dan terdakwa, serta memastikan proses peradilan yang adil dan sah secara hukum.

Peraturan Pendukung – Hukum Pidana Formil Diatur Dalam

Selain KUHAP, hukum pidana formil di Indonesia juga di dukung oleh peraturan lain, seperti:

  1. Undang-Undang Tentang Kepolisian Republik Indonesia – Memberikan kewenangan polisi dalam melakukan penyelidikan dan penyidikan.
  2. Undang-Undang Tentang Kejaksaan Republik Indonesia – Menetapkan peran jaksa dalam menuntut perkara pidana di pengadilan.
  3. Undang-Undang Tentang Peradilan Umum dan Peradilan Khusus – Menentukan yurisdiksi pengadilan dan prosedur pemeriksaan perkara.
  4. Peraturan Pemerintah dan Keputusan Presiden yang terkait dengan tata cara pelaksanaan hukum pidana tertentu.

Prinsip-Prinsip Hukum yang Menjadi Landasan

Hukum pidana formil juga berpegang pada prinsip-prinsip hukum universal untuk memastikan penegakan hukum yang adil:

  1. Asas Legalitas: Setiap tindakan pidana hanya dapat di tuntut berdasarkan peraturan perundang-undangan yang sah.
  2. Asas Persamaan di Hadapan Hukum: Semua orang, tanpa terkecuali, memiliki hak dan kewajiban yang sama di mata hukum.
  3. Asas Due Process of Law: Hak-hak tersangka dan terdakwa harus di hormati selama seluruh proses hukum.
  4. Asas Proporsionalitas: Setiap tindakan hukum harus seimbang dengan kepentingan keadilan dan kepentingan umum.

Ruang Lingkup Hukum Pidana Formil – Hukum Pidana Formil Di atur Dalam

Ruang Lingkup Hukum Pidana Formil - Hukum Pidana Formil Di atur Dalam

Hukum pidana formil mencakup seluruh prosedur yang harus di lalui dalam proses penegakan hukum pidana. Maka ruang lingkup ini tidak hanya membahas tindakan aparat penegak hukum, tetapi juga hak-hak tersangka, terdakwa, dan pihak korban agar proses hukum berjalan adil, transparan, dan sah secara hukum. Maka, Secara garis besar, ruang lingkup hukum pidana formil meliputi:

Penyelidikan dan Penyidikan

  • Penyelidikan adalah tahap awal untuk mengetahui apakah suatu tindak pidana telah terjadi.
  • Penyidikan adalah tahap lanjutan yang lebih formal, bertujuan mengumpulkan bukti dan menetapkan tersangka.
  • Aparat yang berwenang: polisi, kejaksaan (terbatas), dan lembaga khusus sesuai peraturan.
  • Contoh kegiatan: pemeriksaan saksi, pengumpulan barang bukti, olah TKP.
  Pidana Umum Adalah

Penuntutan

  • Penuntutan di lakukan oleh jaksa untuk membawa perkara ke pengadilan.
  • Proses ini mencakup penyusunan surat dakwaan, tuntutan pidana, dan dokumen hukum lainnya.
  • Tujuan: memastikan kasus di sidangkan secara sah dan sesuai hukum.

Persidangan di Pengadilan – Hukum Pidana Formil Diatur Dalam

  • Persidangan adalah tahap pemeriksaan perkara di pengadilan.
  • Hakim memeriksa bukti, mendengar saksi, dan memastikan hak-hak terdakwa terpenuhi.
  • Termasuk mekanisme seperti pembelaan terdakwa, interogasi saksi, dan pembuktian.
  • Prinsip: persidangan harus terbuka untuk umum dan adil.

Eksekusi Putusan

  • Setelah putusan hakim berkekuatan hukum tetap, tahap eksekusi di lakukan.
  • Selanjutnya, bentuk eksekusi dapat berupa: pidana penjara, denda, atau tindakan lain yang sah secara hukum.
  • Sehingga, aparat yang melaksanakan eksekusi: lembaga pemasyarakatan, polisi, dan instansi terkait.

Perlindungan Hak dan Jaminan Hukum

  • Hukum pidana formil juga menekankan perlindungan hak tersangka, terdakwa, dan korban, seperti hak untuk di dampingi pengacara, hak mengajukan banding, dan hak memperoleh keadilan.
  • Selanjutnya, prinsip ini memastikan bahwa penegakan hukum tidak menyimpang dari asas keadilan dan legalitas.

Contoh Penerapan Hukum Pidana Formil di Indonesia – Hukum Pidana Formil Di atur Dalam

Hukum pidana formil bukan sekadar teori, tetapi di terapkan secara nyata dalam berbagai kasus di Indonesia. Selanjutnya, penerapannya terlihat dalam seluruh tahapan proses hukum pidana, mulai dari penyelidikan hingga eksekusi putusan. Beberapa contoh penerapan yang umum antara lain:

Korupsi

  • Penyelidikan dan Penyidikan: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan penyelidikan awal dan penyidikan formal terhadap dugaan korupsi.
  • Penuntutan: Jaksa KPK menyusun surat dakwaan dan menuntut pelaku korupsi di pengadilan.
  • Persidangan: Hakim memeriksa bukti, saksi, dan memberi kesempatan bagi terdakwa untuk membela diri.
  • Eksekusi Putusan: Jika terdakwa terbukti bersalah, eksekusi berupa pidana penjara, denda, dan pengembalian kerugian negara di laksanakan.

 Pembunuhan atau Kekerasan

  • Penyidikan: Polisi melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), memeriksa saksi, dan mengumpulkan barang bukti.
  • Penuntutan dan Persidangan: Jaksa menuntut terdakwa sesuai fakta hukum yang di temukan, sementara hakim menilai bukti dan keterangan saksi.
  • Eksekusi: Jika terdakwa di jatuhi pidana penjara seumur hidup atau hukuman lain, lembaga pemasyarakatan mengeksekusi putusan.
  Kasus Pidana Terbaru, dan Kronologi Kejadian

Kejahatan Siber

  • Penyidikan: Tim cybercrime Kepolisian Republik Indonesia mengumpulkan bukti digital, termasuk jejak transaksi online atau akun media sosial.
  • Penuntutan: Jaksa menyiapkan dakwaan yang sesuai dengan undang-undang kejahatan siber.
  • Persidangan: Hakim memeriksa bukti digital dan saksi ahli untuk memastikan kebenaran kasus.
  • Eksekusi: Putusan hakim di laksanakan sesuai sanksi pidana, seperti penjara atau denda.

Narkotika

  • Penyelidikan dan Penyidikan: Polisi dan Badan Narkotika Nasional (BNN) melakukan penggerebekan dan penyitaan barang bukti narkotika.
  • Penuntutan dan Persidangan: Jaksa menuntut terdakwa, sementara hakim memeriksa bukti dan mendengar pembelaan terdakwa.
  • Eksekusi: Pelaksanaan pidana penjara dan penyitaan barang bukti di lakukan sesuai putusan pengadilan.

Keunggulan Hukum Pidana Formil Di atur Dalam PT. Jangkar Global Groups

Penerapan hukum pidana formil di PT. Jangkar Global Groups membawa sejumlah keunggulan strategis, baik bagi perusahaan maupun bagi karyawan, mitra bisnis, dan pihak terkait. Maka, keunggulan ini membuat perusahaan mampu menegakkan kepatuhan hukum secara efektif sambil menjaga integritas dan profesionalisme.

Kepatuhan Hukum yang Terjamin

  • Dengan menerapkan prinsip-prinsip hukum pidana formil secara internal, PT. Jangkar Global Groups memastikan seluruh kegiatan perusahaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan di Indonesia.
  • Selanjutnya, mengurangi risiko sanksi pidana bagi perusahaan dan pihak terkait, baik secara administratif maupun hukum.

Prosedur Penanganan Kasus yang Jelas

  • Setiap pelanggaran hukum, baik yang di lakukan karyawan maupun pihak eksternal, dapat di tangani melalui prosedur yang sistematis dan transparan.
  • Selanjutnya, perusahaan memiliki mekanisme penyelidikan internal yang selaras dengan KUHAP, sehingga tindakan yang di ambil sah secara hukum.

Perlindungan Hak Semua Pihak – Hukum Pidana Formil Di atur Dalam

  • Hukum pidana formil memastikan hak karyawan, mitra, dan pihak ketiga tetap terlindungi selama proses penyelidikan atau tindakan hukum.
  • Selanjutnya, setiap individu memiliki kesempatan untuk membela diri dan memberikan klarifikasi, sehingga proses penegakan hukum adil dan proporsional.

Pencegahan Pelanggaran Hukum

  • Penerapan hukum pidana formil di sertai program edukasi dan pelatihan hukum untuk karyawan.
  • Selanjutnya, karyawan lebih memahami risiko hukum dari tindakan yang salah, sehingga potensi pelanggaran dapat di minimalkan sejak awal.

Meningkatkan Reputasi dan Kepercayaan

  • Perusahaan yang konsisten menegakkan hukum pidana formil akan mendapatkan kepercayaan lebih dari klien, mitra bisnis, dan publik.
  • Selanjutnya, menjadi bukti bahwa PT. Jangkar Global Groups mengutamakan profesionalisme dan integritas dalam operasional bisnis.

Efisiensi Penegakan Hukum

  • Dengan prosedur internal yang jelas, penyelidikan dan penanganan kasus pidana dapat di lakukan lebih cepat dan efisien.
  • Selanjutnya, mengurangi ketergantungan pada proses hukum eksternal yang bisa memakan waktu lama.

Keunggulan penerapan hukum pidana formil di PT. Jangkar Global Groups tidak hanya terlihat dari kepatuhan terhadap hukum, tetapi juga dari perlindungan hak individu, pencegahan pelanggaran, efisiensi proses, dan peningkatan reputasi perusahaan. Hal ini menjadikan perusahaan lebih aman, profesional, dan terpercaya dalam menjalankan operasional bisnisnya.

PT Jangkar Global Groups berdiri pada tanggal 22 mei 2008 dengan komitmen yang kuat dari karyawan dan kreativitas untuk menyediakan pelayanan terbaik, tercepat dan terpercaya kepada pelanggan.

YUK KONSULTASIKAN DULU KEBUTUHAN ANDA,
HUBUNGI KAMI UNTUK INFORMASI & PEMESANAN
KUNJUNGI MEDIA SOSIAL KAMI

Nisa