Diklat SCRB Survival Craft and Rescue Boat Standar STCW 1978

Akhmad Fauzi

Direktur Utama Jangkar Goups

Apa Itu Diklat SCRB?

Secara sederhana, Diklat SCRB (atau sering disebut PSCRB – Proficiency in Survival Craft and Rescue Boat) adalah pelatihan sertifikasi kompetensi bagi pelaut untuk memberikan keahlian dalam menangani prosedur darurat saat harus meninggalkan kapal (abandon ship).

Berikut adalah poin-poin kunci untuk memahami apa itu SCRB secara lebih mendalam:

Definisi Teknis

Diklat ini mengacu pada standar internasional STCW 1978 Amandemen 2010 (Tabel A-VI/2-1). Sertifikat ini memberikan bukti bahwa pemegangnya memiliki “kemahiran” (proficiency) untuk meluncurkan, mengoperasikan, dan mengambil alih komando atas sekoci penolong (survival craft) serta perahu penyelamat (rescue boat).

Fokus Utama Pelatihan

Berbeda dengan Basic Safety Training (BST) yang hanya mengajarkan cara menyelamatkan diri sendiri, SCRB lebih fokus pada kepemimpinan dan pengoperasian alat. Anda tidak hanya belajar cara melompat ke air, tetapi juga:

  1. Bagaimana memimpin orang lain di dalam sekoci.
  2. Bagaimana menurunkan sekoci menggunakan davit (dewi-dewi) dengan benar.
  3. Bagaimana mengemudikan sekoci dan mencari bantuan.

Perbedaan Objek yang Dipelajari

Dalam diklat ini, peserta akan mempelajari dua perangkat utama:

  • Survival Craft (Sekoci Penolong): Digunakan oleh semua kru dan penumpang untuk meninggalkan kapal saat kondisi darurat (misal: kapal bocor atau terbakar).
  • Rescue Boat (Perahu Penyelamat): Perahu yang lebih kecil dan cepat, khusus digunakan untuk menolong orang yang jatuh ke laut (Man Overboard) atau menarik rakit penolong.

Mengapa Ini Wajib?

Sertifikat SCRB merupakan syarat mutlak bagi:

  1. Rating (bawahan) yang akan naik jabatan atau bertugas di bagian dek/mesin tertentu.
  2. Perwira (Officer) sebagai syarat pengambilan sertifikat keahlian yang lebih tinggi (COC).
  3. Memenuhi standar minimum kru kapal komersial internasional agar kapal dianggap laik laut dari sisi keselamatan.

Intinya: Jika BST adalah tingkat “SD” dalam keselamatan laut, maka SCRB adalah tingkat “SMP/SMA” di mana Anda mulai diajarkan menjadi operator dan pemimpin dalam situasi penyelamatan.

Persyaratan Peserta SCRB

Untuk mengikuti Diklat SCRB (Survival Craft and Rescue Boat), peserta tidak bisa langsung mendaftar tanpa latar belakang maritim. Ada standar minimum yang ditetapkan oleh pemerintah (melalui perhubungan laut) dan konvensi internasional STCW untuk memastikan peserta sudah memiliki dasar keselamatan.

Berikut adalah rincian persyaratan peserta secara umum:

Persyaratan Administrasi (Dokumen)

Peserta wajib menyiapkan dokumen asli dan fotokopi yang biasanya meliputi:

  1. Sertifikat BST (Basic Safety Training): Ini adalah syarat mutlak. Anda tidak bisa mengambil SCRB jika belum memiliki sertifikat dasar keselamatan ini.
  2. Buku Pelaut (Seaman Book): Yang masih berlaku dan telah dilegalisir (untuk membuktikan masa layar).
  3. Identitas Diri: KTP atau Paspor yang masih berlaku.
  4. Pas Foto: Biasanya ukuran 3×4 atau 4×6 dengan latar belakang sesuai departemen (Merah untuk Nautika/Deck, Biru untuk Teknika/Engine).
  Penyetaraan Ijazah untuk PPPK

Persyaratan Masa Layar (Sea Service)

Berdasarkan regulasi, ada ketentuan pengalaman kerja di laut yang harus dipenuhi:

  • Memiliki masa layar minimal 6 bulan (untuk beberapa lembaga diklat tertentu) atau 12 bulan bagi pelaut yang ingin mengambil sertifikasi kompetensi lanjutan.
  • Masa layar ini harus terdaftar resmi di buku pelaut dan sesuai dengan jabatan saat bertugas di kapal.

Persyaratan Medis & Usia

Kondisi fisik sangat diperhatikan karena praktek SCRB melibatkan aktivitas berat seperti menarik tali, menaiki tangga monyet, dan mengangkat beban:

  1. Usia Minimal: Berusia minimal 18 tahun.
  2. Sertifikat Kesehatan (Medical Check-Up): Surat keterangan sehat dari dokter atau rumah sakit yang ditunjuk oleh Perhubungan Laut (Fit for Duty).
  3. Kemampuan Fisik: Tidak memiliki cacat fisik yang dapat menghalangi kegiatan praktek di air atau memanjat.

Persyaratan Kompetensi Awal

Sebelum mengikuti kelas, peserta diharapkan sudah memahami:

  1. Prinsip dasar keselamatan di laut.
  2. Penggunaan alat pelindung diri (Life Jacket dan Immersion Suit).
  3. Instruksi dasar dalam bahasa Inggris maritim (khusus untuk sertifikasi standar internasional).

Penting untuk dicatat: Setiap lembaga diklat (seperti BP3IP, STIP, atau lembaga swasta lainnya) mungkin memiliki tambahan prosedur internal, seperti kewajiban melakukan pendaftaran secara online melalui portal dephub.

Kurikulum dan Materi Utama SCRB

Kurikulum Diklat SCRB dirancang secara komprehensif untuk memastikan peserta tidak hanya memahami teori di kelas, tetapi juga memiliki keterampilan motorik yang tepat saat menghadapi situasi darurat. Kurikulum ini mengikuti standar STCW Code Table A-VI/2-1.

Berikut adalah rincian materi utama yang dipelajari selama diklat:

Materi Pengetahuan Teoritis (Ruang Kelas)

Pada sesi ini, peserta dibekali dengan landasan hukum dan pemahaman teknis mengenai peralatan keselamatan.

  1. Keselamatan dan Pengenalan Alat: Memahami jenis-jenis sekoci (Lifeboat), rakit penolong (Liferaft), dan perahu penyelamat (Rescue Boat).
  2. Konstruksi dan Peralatan: Mengenal bagian-bagian sekoci, kapasitas maksimal, dan daftar inventaris alat di dalam sekoci (makanan, minuman, obat-obatan, dan alat navigasi).
  3. Prosedur Abandon Ship: Mempelajari urutan komando, tugas kru saat alarm berbunyi, dan cara mengorganisir penumpang.
  4. Manajemen Penyintas: Teknik bertahan hidup di laut setelah meninggalkan kapal, termasuk pencegahan hipotermia dan dehidrasi.

Materi Keterampilan Praktis (Lapangan)

Bagian ini adalah inti dari diklat SCRB, di mana peserta akan melakukan simulasi langsung di kolam atau laut.

Pengoperasian Peluncuran (Launching)

  1. Persiapan: Melepaskan pengait, menyiapkan tali pengaman (painter line), dan memastikan area peluncuran bebas dari hambatan.
  2. Mekanisme Davit: Praktik menurunkan sekoci menggunakan davit (dewi-dewi) baik tipe gravitasi maupun tipe free-fall.
  3. Pelepasan (Releasing): Teknik melepas pengait sekoci dari blok saat sudah menyentuh air (on-load dan off-load release).

Manuver dan Pengoperasian Mesin

  1. Menghidupkan Mesin: Prosedur menghidupkan mesin diesel sekoci dalam kondisi darurat.
  2. Navigasi Dasar: Mengemudikan sekoci, menjaga posisi agar tetap berkelompok (marshalling), dan menggunakan kompas magnetik.
  3. Penggunaan Jangkar Apung (Sea Anchor): Cara memasang jangkar apung untuk mengurangi kecepatan hanyut dan menjaga kestabilan sekoci.

Penyelamatan dan Komunikasi

  1. Man Overboard (MOB): Teknik manuver cepat menggunakan Rescue Boat untuk menjemput orang yang terjatuh di laut.
  2. Sinyal Visual: Praktik menggunakan hand flare, parachute rocket, dan smoke signal untuk menarik perhatian tim penyelamat.
  3. Komunikasi Radio: Menggunakan radio VHF genggam dan perangkat SART (Search and Rescue Transponder) serta EPIRB.
  Dukcapil Jakarta Pusat

Evaluasi dan Penilaian

Untuk lulus dari diklat ini, peserta harus melewati dua jenis ujian:

  • Ujian Tulis: Menguji pemahaman regulasi dan teori keselamatan.
  • Ujian Praktek: Peserta harus mampu mendemonstrasikan kemampuan menurunkan sekoci dan mengoperasikan mesin secara mandiri atau dalam tim.

Catatan Penting: Fokus utama kurikulum saat ini adalah pada aspek keselamatan selama peluncuran, karena secara statistik, kecelakaan justru sering terjadi pada saat proses penurunan sekoci akibat kesalahan teknis atau human error.

Keterampilan Praktis

Bagian Keterampilan Praktis adalah inti yang paling menarik pembaca karena merupakan simulasi nyata dari situasi hidup-mati di laut. Materi praktek SCRB biasanya dilakukan di kolam latih atau dermaga khusus dengan peralatan asli.

Berikut adalah rincian keterampilan praktis yang wajib dikuasai peserta:

Prosedur Peluncuran dan Pengangkatan (Launching & Recovery)

Ini adalah bagian paling krusial. Peserta dilatih untuk tidak panik saat mengoperasikan tuas-tuas mekanis yang berat.

  1. Persiapan Pra-Peluncuran: Memeriksa sumbat air (drain plug), melepaskan pengikat (gripes), dan memastikan tali painter sudah terpasang dengan benar.
  2. Operasi Dewi-Dewi (Davit Operation): Mengoperasikan berbagai tipe dewi-dewi (gravitasi, pivot, atau telescopic) untuk menurunkan sekoci ke permukaan air secara stabil.
  3. Mekanisme Pelepasan (Release Gear): Mempelajari cara melepas pengait (hook) saat sekoci sudah terapung. Peserta belajar perbedaan antara Off-load Release (melepas saat tenang) dan On-load Release (melepas saat mesin masih tergantung/dalam bahaya).

Pengoperasian Mesin dan Navigasi

Setelah berada di air, peserta harus mampu mengendalikan unit agar tidak terombang-ambing tak tentu arah.

  1. Menghidupkan Mesin: Prosedur darurat menyalakan mesin diesel sekoci (seringkali dalam kondisi dingin atau basah).
  2. Teknik Manuver: Belajar mengemudi maju, mundur, dan memutar di area sempit, serta cara mendekati kapal besar atau orang yang terapung di air.
  3. Penggunaan Jangkar Apung (Sea Anchor): Mempraktekkan cara menebar jangkar apung untuk meminimalisir hanyut akibat angin dan menjaga haluan sekoci tetap menghadap ombak agar tidak terbalik.

Manajemen Penyelamatan di Air

Fokus pada tindakan menolong orang lain yang berada di luar sekoci.

  1. Penyelamatan MOB (Man Overboard): Menggunakan Rescue Boat untuk melakukan manuver pendekatan yang aman kepada korban tanpa melukai mereka dengan baling-baling kapal.
  2. Teknik Pengumpulan (Marshalling): Belajar cara menarik dan mengumpulkan rakit penolong (liferaft) yang tersebar agar tetap berada dalam satu kelompok agar lebih mudah ditemukan tim SAR.
  3. Penyembuhan dari Terbalik: Untuk Rescue Boat tipe tertentu, peserta dilatih cara membalikkan kembali perahu jika terjadi capsizing (terbalik).

Komunikasi dan Sinyal Darurat

Peserta mempraktekkan cara memberi tahu lokasi mereka kepada tim penyelamat.

  • Alat Instruksi Visual: Cara memegang dan menyalakan Hand Flare dan Parachute Rocket dengan aman tanpa membakar tangan atau sekoci.
  • Pengoperasian Perangkat Elektronik: Mengaktifkan SART (Search and Rescue Transponder) agar muncul di radar kapal penyelamat dan memastikan EPIRB memancarkan sinyal satelit.

Tabel Ringkasan Keterampilan Praktis

Keterampilan Alat yang Digunakan Tujuan Utama
Launching Davit & Winch Meninggalkan kapal dengan aman.
Manoeuvring Mesin Diesel & Kemudi Menjauh dari zona bahaya kapal.
Pyrotechnics Flare & Smoke Signal Memberi tanda posisi kepada tim SAR.
Towing Tali Painter & Towing Line Menarik rakit penolong ke posisi aman.

 

Pentingnya Sertifikasi SCRB di Industri Maritim

Sertifikasi SCRB bukan sekadar dokumen tambahan, melainkan standar profesionalisme yang menentukan keselamatan nyawa dan keberlangsungan karier seorang pelaut.

Berikut adalah alasan mengapa sertifikasi SCRB sangat krusial di industri maritim:

  Medical Gamca Appointment

Kepatuhan terhadap Regulasi Internasional (STCW)

  1. Industri maritim diatur secara ketat oleh IMO (International Maritime Organization) melalui konvensi STCW.
  2. Tanpa sertifikat SCRB, seorang pelaut dianggap tidak memenuhi syarat (unqualified) untuk bekerja di kapal komersial internasional.
  3. Kapal yang mempekerjakan kru tanpa sertifikasi yang sesuai dapat ditahan oleh Port State Control (PSC) karena dianggap melanggar aturan keselamatan pelayaran.

Kesiapan Menghadapi Skenario Terburuk

Laut adalah lingkungan yang tidak terduga. Sertifikasi SCRB menjamin bahwa kru kapal:

  • Tidak Panik: Pelatihan ini membangun “memori otot” sehingga saat alarm darurat berbunyi, pelaut tahu persis apa yang harus dilakukan tanpa harus berpikir lama.
  • Meminimalkan Human Error: Banyak kecelakaan fatal terjadi justru saat proses menurunkan sekoci. Pemegang sertifikat SCRB dilatih untuk mengoperasikan mekanisme pelepasan (release gear) dengan presisi untuk menghindari sekoci jatuh atau terbalik.

Syarat Mutlak Kenaikan Jabatan (Career Path)

Bagi pelaut yang ingin berkembang, SCRB adalah “pintu gerbang”:

  • Untuk Rating: Menjadi syarat jika ingin mengambil sertifikasi COP (Certificate of Proficiency) yang lebih tinggi.
  • Untuk Perwira: Menjadi syarat wajib sebelum mengambil sertifikat keahlian (COC) seperti ANT/ATT IV, III, II, dan I. Tanpa SCRB, karier seorang pelaut akan terhenti di level dasar.

Manajemen Kepemimpinan dalam Darurat

  1. Di tengah laut, saat kapal harus ditinggalkan, nakhoda tidak bisa mengawasi semua orang.
  2. Pemegang sertifikat SCRB dilatih untuk menjadi Komandan Sekoci (Coxswain).
  3. Mereka bertanggung jawab atas nyawa puluhan orang di dalam sekoci, mengatur jatah makanan/air, menjaga moral penyintas, dan memastikan sinyal bantuan terus terpancar.

Keunggulan di Mata Perusahaan Pelayaran

Perusahaan pelayaran besar (terutama kapal tanker, pesiar, dan kargo internasional) sangat selektif. Memiliki sertifikat SCRB yang valid dari lembaga diklat ternama menunjukkan bahwa pelaut tersebut:

  1. Memiliki standar kompetensi global.
  2. Peduli pada keselamatan kerja (Safety First culture).
  3. Siap ditempatkan di kapal-kapal dengan teknologi keselamatan terbaru.

Masa Berlaku Sertifikat SCRB

Sertifikat SCRB (Survival Craft and Rescue Boat) tidak berlaku selamanya. Sebagai bukti kompetensi yang krusial, sertifikat ini memiliki masa kedaluwarsa untuk memastikan pelaut selalu memiliki pengetahuan yang segar mengenai teknologi dan prosedur keselamatan terbaru.

Berikut adalah rincian mengenai masa berlaku dan prosedur pembaruannya:

Durasi Masa Berlaku

Sesuai dengan regulasi internasional STCW 1978 Amandemen 2010, sertifikat SCRB memiliki masa berlaku selama 5 (lima) tahun. Setelah melewati batas waktu tersebut, sertifikat dianggap expired (kedaluwarsa) dan pelaut tidak diizinkan secara hukum untuk menduduki jabatan yang mensyaratkan kompetensi tersebut di atas kapal.

Prosedur Revalidasi (Pembaruan)

Ada dua metode utama untuk memperbarui sertifikat SCRB, tergantung pada pengalaman berlayar Anda dalam 5 tahun terakhir:

  • Tanpa Ujian Praktek/Refreshing (Revalidasi Langsung): Jika Anda memiliki masa layar yang cukup (biasanya minimal 12 bulan dalam 5 tahun terakhir atau 3 bulan dalam 6 bulan terakhir sebelum sertifikat habis), Anda dapat melakukan revalidasi dengan melampirkan bukti masa layar yang sah di Buku Pelaut.
  • Melalui Diklat Penyegaran (Refresher Course): Jika Anda tidak memiliki masa layar yang cukup, Anda wajib mengikuti kursus penyegaran. Diklat ini biasanya berlangsung lebih singkat (sekitar 1–2 hari) dibandingkan diklat awal, dengan fokus pada pengulangan materi praktek peluncuran sekoci dan penggunaan alat keselamatan terbaru.

Persyaratan Pembaruan

Untuk memperbarui sertifikat, Anda biasanya harus menyiapkan:

  1. Sertifikat SCRB asli yang lama.
  2. Sertifikat BST yang masih berlaku.
  3. Buku Pelaut yang menunjukkan masa layar (jika mengambil jalur revalidasi tanpa praktek).
  4. Sertifikat Kesehatan dari dokter/rumah sakit yang ditunjuk (fit for duty).

Mengapa Harus Diperbarui?

Banyak pelaut yang bertanya mengapa harus ada pembaruan. Alasan utamanya adalah:

  1. Perubahan Regulasi: Organisasi Maritim Internasional (IMO) sering memperbarui standar keselamatan berdasarkan evaluasi kecelakaan laut di seluruh dunia.
  2. Keandalan Teknis: Mekanisme sekoci (seperti sistem release gear) terus berkembang menjadi lebih otomatis dan aman. Pelaut harus tetap familiar dengan perkembangan ini.
  3. Keamanan Sistem Verifikasi: Mulai tahun 2026, sistem verifikasi nasional dan internasional semakin ketat. Sertifikat yang kedaluwarsa akan secara otomatis tertolak dalam sistem aplikasi bekerja di perusahaan pelayaran.

Saran Penting: Sebaiknya lakukan proses revalidasi 3 hingga 6 bulan sebelum tanggal kedaluwarsa untuk menghindari hambatan saat ada panggilan kerja mendadak.

Akhmad Fauzi

Penulis adalah doktor ilmu hukum, magister ekonomi syariah, magister ilmu hukum dan ahli komputer. Ahli dibidang proses legalitas, visa, perkawinan campuran, digital marketing dan senang mengajarkan ilmu kepada masyarakat