KDRT Psikis

Reza

KDRT Psikis
Direktur Utama Jangkar Goups

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) selama ini kerap dipahami sebatas pada tindakan fisik yang meninggalkan luka di tubuh. Padahal, terdapat bentuk kekerasan lain yang tidak kalah berbahaya, yaitu KDRT psikis. Kekerasan psikis sering terjadi secara tersembunyi, berlangsung dalam jangka waktu lama, dan kerap tidak disadari oleh korban maupun lingkungan sekitar. Karena tidak meninggalkan bekas yang tampak, KDRT psikis sering dianggap sebagai masalah sepele atau bagian dari dinamika rumah tangga biasa, padahal dampaknya sangat serius terhadap kesehatan mental dan kualitas hidup korban.

KDRT psikis mencakup berbagai tindakan yang melukai perasaan, merendahkan martabat, menekan secara emosional, serta menghilangkan rasa aman dalam rumah tangga. Ucapan yang menghina, ancaman, pengendalian berlebihan, hingga manipulasi emosional dapat membuat korban kehilangan kepercayaan diri, merasa tidak berharga, dan hidup dalam ketakutan. Dalam banyak kasus, korban KDRT psikis mengalami penderitaan batin yang mendalam tanpa pernah mendapatkan pengakuan atau perlindungan yang layak.

Pengertian KDRT Psikis

KDRT Psikis adalah bentuk Kekerasan Dalam Rumah Tangga yang menyerang kondisi mental, emosional, dan psikologis seseorang, sehingga menimbulkan penderitaan batin, rasa takut, tekanan emosional, serta hilangnya rasa percaya diri. Kekerasan ini tidak melibatkan kontak fisik secara langsung, namun dampaknya dapat dirasakan secara mendalam dan berkepanjangan oleh korban.

KDRT psikis terjadi ketika salah satu pihak dalam rumah tangga melakukan perbuatan, ucapan, atau sikap yang merendahkan martabat, mengintimidasi, mengontrol, atau memanipulasi korban secara emosional. Tindakan tersebut dapat berupa penghinaan, ancaman, perlakuan meremehkan, pembatasan kebebasan, hingga pengabaian emosional yang membuat korban merasa tidak berdaya dan tidak aman dalam lingkungan rumah tangga.

Dalam konteks rumah tangga, KDRT psikis dapat terjadi antara suami dan istri, orang tua dan anak, maupun antaranggota keluarga lainnya yang tinggal dalam satu atap. Meskipun tidak meninggalkan luka fisik, KDRT psikis diakui sebagai bentuk kekerasan yang serius karena dapat menyebabkan gangguan kesehatan mental, trauma psikologis, serta menurunkan kualitas hidup korban secara signifikan.

Ruang Lingkup KDRT Psikis dalam Rumah Tangga

Ruang lingkup KDRT psikis mencakup seluruh hubungan yang terjadi dalam lingkungan rumah tangga, di mana terdapat ikatan keluarga, perkawinan, atau hubungan pengasuhan. Kekerasan psikis tidak terbatas pada hubungan suami dan istri, tetapi juga dapat terjadi dalam berbagai relasi lain yang memiliki kedekatan emosional dan ketergantungan satu sama lain.

Dalam hubungan suami dan istri, KDRT psikis sering muncul dalam bentuk ucapan yang merendahkan, sikap mengontrol, ancaman, atau perlakuan yang membuat salah satu pihak merasa tidak dihargai dan kehilangan rasa aman. Kekerasan ini kerap berlangsung terus-menerus dan menjadi pola relasi yang tidak sehat dalam rumah tangga.

  Hak Tagih Dalam Perjanjian

Pada hubungan orang tua dan anak, KDRT psikis dapat berupa tekanan emosional berlebihan, bentakan, hinaan, perbandingan yang menyakitkan, serta penanaman rasa takut yang berlebihan. Anak yang mengalami kekerasan psikis berisiko mengalami gangguan perkembangan emosional dan kesulitan membangun kepercayaan diri di masa depan.

Selain itu, KDRT psikis juga dapat terjadi antara anggota keluarga lain, seperti mertua, menantu, saudara kandung, atau anggota keluarga yang tinggal bersama. Sikap meremehkan, mengucilkan, atau memperlakukan seseorang secara tidak adil dalam rumah tangga termasuk dalam ruang lingkup KDRT psikis apabila menimbulkan penderitaan mental dan emosional.

Bentuk-Bentuk KDRT Psikis

KDRT psikis dapat muncul dalam berbagai bentuk perilaku dan perlakuan yang secara langsung maupun tidak langsung melukai kondisi mental dan emosional korban. Bentuk-bentuk ini sering kali berlangsung secara berulang dan menjadi pola yang merusak dalam hubungan rumah tangga.

Salah satu bentuk KDRT psikis yang paling umum adalah kekerasan verbal. Kekerasan ini meliputi ucapan yang menghina, merendahkan, mengejek, memaki, atau mempermalukan korban, baik di hadapan orang lain maupun secara pribadi. Kata-kata yang menyakitkan tersebut dapat membuat korban merasa tidak berharga dan kehilangan kepercayaan diri.

Bentuk lainnya adalah intimidasi dan ancaman. Pelaku menimbulkan rasa takut melalui ancaman tertentu, seperti ancaman perceraian, pengusiran dari rumah, pengambilan anak, atau ancaman akan melakukan kekerasan fisik. Intimidasi ini membuat korban hidup dalam tekanan dan ketakutan yang terus-menerus.

KDRT psikis juga dapat berupa manipulasi emosional. Dalam kondisi ini, pelaku memutarbalikkan fakta, menyalahkan korban atas kesalahan yang tidak dilakukan, atau membuat korban merasa bersalah secara berlebihan. Manipulasi ini sering membuat korban meragukan perasaan dan penilaiannya sendiri.

Selain itu, pengendalian dan pembatasan kebebasan termasuk bentuk KDRT psikis. Pelaku mengontrol aktivitas korban, melarang berinteraksi dengan keluarga atau teman, membatasi akses komunikasi, serta mengatur kehidupan korban secara berlebihan. Perlakuan ini menghilangkan kemandirian dan kebebasan korban.

Bentuk lain yang kerap diabaikan adalah pengabaian emosional. Pelaku tidak memberikan perhatian, dukungan, atau kasih sayang yang layak, bersikap dingin, dan mengacuhkan keberadaan korban. Pengabaian ini dapat menimbulkan perasaan kesepian, tidak dicintai, dan terasing dalam rumah tangga.

Faktor Penyebab Terjadinya KDRT Psikis

Berikut beberapa faktor utama yang dapat menyebabkan terjadinya KDRT psikis dalam rumah tangga, disertai dengan penjelasannya:

Ketimpangan Kekuasaan dalam Hubungan Rumah Tangga

KDRT psikis sering terjadi ketika salah satu pihak merasa memiliki kekuasaan atau posisi yang lebih tinggi dalam rumah tangga. Perasaan dominan ini mendorong pelaku untuk mengontrol, merendahkan, dan menekan pasangan atau anggota keluarga lain secara emosional demi mempertahankan kendali.

Pola Asuh dan Pengalaman Masa Lalu

Individu yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang penuh kekerasan atau tekanan emosional cenderung meniru pola tersebut. Kekerasan psikis dianggap sebagai hal yang wajar karena telah terbiasa melihat atau mengalaminya sejak kecil.

  Gugatan Perdata Hutang Piutang Dengan Jaminan Sertifikat Tanah

Ketidakmampuan Mengelola Emosi

Pelaku KDRT psikis umumnya memiliki kesulitan dalam mengendalikan emosi, seperti marah, cemburu, atau frustrasi. Emosi yang tidak dikelola dengan baik diluapkan melalui kata-kata kasar, sikap merendahkan, dan tekanan psikologis terhadap orang terdekat.

Masalah Komunikasi dalam Rumah Tangga

Kurangnya komunikasi yang sehat dan terbuka dapat memicu kesalahpahaman serta konflik berkepanjangan. Ketika masalah tidak diselesaikan dengan dialog yang baik, pelaku cenderung melampiaskan kekecewaan melalui kekerasan psikis.

Tekanan Ekonomi dan Sosial

Masalah keuangan, beban pekerjaan, tuntutan sosial, serta tekanan dari lingkungan sekitar dapat meningkatkan stres dalam rumah tangga. Kondisi ini sering menjadi pemicu munculnya perilaku agresif secara emosional dan psikologis.

Rendahnya Kesadaran tentang Kekerasan Psikis

Banyak pelaku tidak menyadari bahwa sikap mengontrol, merendahkan, atau mengabaikan pasangan termasuk bentuk kekerasan. Minimnya pemahaman ini membuat KDRT psikis terus berulang dan dianggap sebagai hal biasa dalam rumah tangga.

Faktor Kepribadian Pelaku

Sifat otoriter, egois, posesif, dan kebutuhan untuk selalu menguasai orang lain dapat mendorong seseorang melakukan KDRT psikis. Pelaku sering merasa berhak mengatur dan menilai korban sesuai kehendaknya sendiri.

Dampak KDRT Psikis terhadap Korban

KDRT psikis menimbulkan dampak yang serius dan berkepanjangan bagi korban, meskipun tidak meninggalkan luka fisik yang terlihat. Dampak ini dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan korban, baik secara mental, emosional, sosial, maupun fisik.

Dampak Psikologis

Korban KDRT psikis sering mengalami gangguan kesehatan mental seperti stres berkepanjangan, kecemasan berlebihan, depresi, trauma psikologis, serta rasa takut yang terus-menerus. Korban juga dapat kehilangan kepercayaan diri, merasa tidak berharga, dan selalu menyalahkan diri sendiri atas perlakuan yang diterimanya.

Dampak Emosional

Tekanan emosional yang dialami korban membuat perasaan menjadi tidak stabil. Korban mudah merasa sedih, marah, cemas, atau putus asa tanpa sebab yang jelas. Kondisi ini dapat mengganggu kemampuan korban dalam mengambil keputusan dan mengelola emosi secara sehat.

Dampak Sosial

KDRT psikis sering membuat korban menarik diri dari lingkungan sosial. Korban menjadi enggan berinteraksi dengan keluarga, teman, maupun masyarakat karena merasa malu, takut, atau tidak percaya diri. Akibatnya, korban kehilangan dukungan sosial yang sebenarnya sangat dibutuhkan.

Dampak Fisik Tidak Langsung

Meskipun bersifat nonfisik, KDRT psikis dapat menimbulkan gangguan kesehatan fisik akibat stres yang berkepanjangan. Korban dapat mengalami gangguan tidur, sakit kepala, gangguan pencernaan, kelelahan kronis, hingga menurunnya daya tahan tubuh.

Dampak terhadap Fungsi Kehidupan Sehari-hari

Korban KDRT psikis sering mengalami penurunan konsentrasi, produktivitas, dan motivasi dalam bekerja atau menjalani aktivitas sehari-hari. Hal ini dapat memengaruhi prestasi kerja, pendidikan, serta kualitas hidup secara keseluruhan.

Dampak Jangka Panjang

Jika tidak ditangani, KDRT psikis dapat menyebabkan gangguan mental jangka panjang, kesulitan membangun hubungan yang sehat, serta trauma mendalam yang terbawa hingga bertahun-tahun. Dalam beberapa kasus, korban berisiko mengalami gangguan psikologis yang memerlukan penanganan profesional secara intensif.

KDRT Psikis dalam Perspektif Hukum di Indonesia

Dalam perspektif hukum di Indonesia, KDRT psikis diakui sebagai bentuk kekerasan yang sah dan dapat diproses secara hukum. Negara memandang bahwa penderitaan mental dan emosional sama seriusnya dengan kekerasan fisik, karena dampaknya dapat merusak martabat, keselamatan, dan kesehatan jiwa korban dalam rumah tangga.

  7 LEMBAGA MEDIASI YANG SIAP MEMBANTU ANDA

KDRT psikis termasuk dalam kategori Kekerasan Dalam Rumah Tangga sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang bertujuan melindungi setiap anggota keluarga dari segala bentuk kekerasan. Kekerasan psikis dipahami sebagai perbuatan yang menyebabkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan bertindak, rasa tidak berdaya, serta penderitaan psikis berat pada seseorang yang berada dalam lingkup rumah tangga.

Lingkup rumah tangga dalam perspektif hukum mencakup hubungan suami istri, hubungan orang tua dan anak, hubungan keluarga karena darah, perkawinan, pengasuhan, serta orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap di dalamnya. Dengan demikian, pelaku dan korban KDRT psikis tidak terbatas pada pasangan suami istri saja.

Salah satu tantangan utama dalam penanganan KDRT psikis secara hukum adalah pembuktiannya. Karena tidak meninggalkan bekas fisik, pembuktian KDRT psikis biasanya didasarkan pada keterangan korban, saksi, hasil pemeriksaan psikolog atau psikiater, serta rekam jejak perilaku pelaku. Meski demikian, hukum tetap memberikan ruang bagi korban untuk memperoleh keadilan dan perlindungan.

Dalam proses hukum, korban KDRT psikis berhak mendapatkan perlindungan, pendampingan, serta penanganan yang berorientasi pada pemulihan. Aparat penegak hukum diharapkan tidak hanya berfokus pada pemidanaan pelaku, tetapi juga pada keselamatan dan kondisi psikologis korban.

KDRT Psikis Bersama PT. Jangkar Global Groups

KDRT psikis merupakan bentuk kekerasan yang sering tidak disadari, namun memiliki dampak yang sangat serius terhadap kehidupan korban. Tekanan emosional, perlakuan merendahkan, serta pengendalian yang berlangsung terus-menerus dapat merusak kesehatan mental, harga diri, dan rasa aman seseorang dalam rumah tangga. Dalam banyak kasus, korban KDRT psikis terjebak dalam situasi yang sulit karena kekerasan ini tidak meninggalkan bukti fisik, sehingga kerap diabaikan atau dianggap sebagai persoalan internal keluarga.

Melalui pemahaman yang utuh mengenai KDRT psikis, PT. Jangkar Global Groups memandang bahwa perlindungan terhadap korban tidak hanya berfokus pada aspek hukum semata, tetapi juga pada pemulihan martabat dan kondisi psikologis korban. KDRT psikis harus dipahami sebagai pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia yang dapat menghancurkan kehidupan seseorang secara perlahan. Oleh karena itu, kesadaran hukum, keberanian untuk berbicara, serta dukungan dari lingkungan sekitar menjadi kunci penting dalam menghentikan siklus kekerasan ini.

PT. Jangkar Global Groups menekankan pentingnya pendekatan yang manusiawi dan berkeadilan dalam menangani KDRT psikis. Korban berhak mendapatkan rasa aman, pendampingan, dan perlindungan yang layak agar dapat kembali menjalani kehidupan secara bermartabat. Upaya pencegahan dan penanganan KDRT psikis memerlukan keterlibatan semua pihak, baik keluarga, masyarakat, maupun lembaga yang berkompeten, agar rumah tangga kembali menjadi ruang yang aman, sehat, dan penuh penghormatan terhadap nilai kemanusiaan.

Dengan pemahaman yang tepat dan langkah yang berkesinambungan, KDRT psikis bukan hanya dapat diidentifikasi, tetapi juga dicegah dan ditangani secara menyeluruh. Komitmen bersama untuk menghentikan kekerasan psikis dalam rumah tangga merupakan langkah penting menuju terciptanya keluarga yang harmonis, adil, dan menjunjung tinggi martabat setiap anggotanya.

PT. Jangkar Global Groups berdiri pada tanggal 22 mei 2008 dengan komitmen yang kuat dari karyawan dan kreativitas untuk menyediakan pelayanan terbaik, tercepat dan terpercaya kepada pelanggan.

YUK KONSULTASIKAN DULU KEBUTUHAN ANDA,
HUBUNGI KAMI UNTUK INFORMASI & PEMESANAN
KUNJUNGI MEDIA SOSIAL KAMI

 

 

Website: Jangkargroups.co.id
Telp kantor : +622122008353 dan +622122986852
Pengaduan Pelanggan : +6287727688883
Google Maps : PT Jangkar Global Groups

Reza