Diklat MFA Medical First Aid Khusus Para Pelaut Profesional

Akhmad Fauzi

Direktur Utama Jangkar Goups

Apa Itu Diklat Medical First Aid (MFA)?

Medical First Aid (MFA) adalah program pelatihan medis tingkat lanjut yang dirancang khusus bagi para pelaut profesional. Pelatihan ini bukan sekadar P3K biasa, melainkan persiapan untuk menangani keadaan darurat medis di lingkungan yang terisolasi seperti di tengah laut.

Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai Diklat MFA:

Definisi dan Landasan Hukum

Diklat MFA adalah pelatihan wajib bagi pelaut yang mengacu pada standar internasional STCW 1978 (Standard of Training, Certification, and Watchkeeping) beserta amandemennya (terbaru Manila 2010).

Di Indonesia, diklat ini diatur oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut. Sertifikat MFA merupakan syarat mutlak bagi perwira kapal (deck maupun mesin) untuk memastikan bahwa minimal ada personel di atas kapal yang mampu memberikan tindakan medis sebelum bantuan dokter tersedia.

Perbedaan MFA dengan Basic Safety Training (BST)

Banyak yang keliru menyamakan MFA dengan BST. Berikut perbedaannya:

  • BST (Basic Safety Training): Memberikan pengetahuan dasar penyelamatan diri dan pertolongan pertama yang sangat dasar untuk semua kru.
  • MFA (Medical First Aid): Lebih spesifik dan mendalam. Peserta diajarkan untuk melakukan observasi, memberikan obat-obatan tertentu, dan melakukan tindakan medis yang lebih kompleks menggunakan peralatan medis yang ada di kapal.

Tujuan Utama Diklat MFA

Tujuan utama dari pelatihan ini adalah agar peserta memiliki kompetensi untuk:

  1. Mempertahankan Hidup: Menstabilkan kondisi korban kecelakaan atau kru yang sakit mendadak agar tidak memburuk selama menunggu evakuasi atau bantuan medis jarak jauh (tele-medicine).
  2. Diagnosa Dasar: Mampu mengidentifikasi gejala penyakit umum di atas kapal.
  3. Koordinasi Evakuasi: Memahami cara berkomunikasi dengan petugas medis di darat dan mempersiapkan pasien untuk proses evakuasi udara (helikopter) atau kapal ke kapal.

Apa yang Dipelajari?

Dalam diklat ini, Anda tidak hanya belajar membalut luka, tetapi juga:

  1. Penggunaan Medical Guide (Buku panduan medis internasional untuk kapal).
  2. Penanganan cedera tulang belakang dan kepala.
  3. Teknik resusitasi jantung paru (RJP) tingkat lanjut.
  4. Cara menangani keracunan zat kimia di atas kapal.
  5. Prosedur meminta bantuan medis melalui radio (Medical Radio Advice).

Mengapa Ini Penting?

Di darat, ambulans mungkin datang dalam 15 menit. Di laut, bantuan mungkin baru datang dalam 15 jam atau bahkan hari. Peserta MFA adalah “dokter sementara” yang menjembatani kesenjangan waktu kritis tersebut untuk menyelamatkan nyawa rekan kerjanya.

Catatan Penting: Sertifikat MFA biasanya memiliki masa berlaku selama 5 tahun dan harus diperbarui melalui kursus penyegaran (revalidation) agar pengetahuan medis peserta tetap sesuai dengan protokol kesehatan terbaru.

Siapa yang Wajib Mengikuti Diklat MFA Ini?

Berdasarkan regulasi internasional yang ditetapkan oleh IMO (International Maritime Organization) melalui konvensi STCW 1978 dan Amandemen Manila 2010, diklat Medical First Aid (MFA) bukan diperuntukkan bagi semua orang, melainkan spesifik bagi kru yang memiliki tanggung jawab komando dan keselamatan.

  Kode Diklat AFF Advance Fire Fighting

Berikut adalah rincian siapa saja yang wajib memiliki sertifikat MFA:

Perwira Kapal (Officer)

Semua perwira, baik di bagian dek maupun mesin, wajib memiliki sertifikat MFA sebagai syarat mutlak untuk mendapatkan atau memperbarui Sertifikat Keahlian (COE):

  • Mualim (Deck Officer): Mulai dari Mualim III hingga Nakhoda. Mereka bertanggung jawab atas keselamatan kru secara keseluruhan.
  • Masinis (Engine Officer): Mulai dari Masinis III hingga KKM (Chief Engineer). Hal ini dikarenakan risiko kecelakaan kerja di kamar mesin (luka bakar, terjepit, atau terkena bahan kimia) sangat tinggi.

Personel yang Ditunjuk (Designated Person)

Setiap kapal wajib menunjuk setidaknya satu atau dua orang kru yang secara khusus bertanggung jawab atas perawatan medis di atas kapal. Jika kapal tersebut tidak membawa dokter (biasanya kapal niaga umum), maka kru yang ditunjuk ini wajib memiliki kompetensi MFA (dan seringkali berlanjut ke tingkat Medical Care).

Calon Perwira (Taruna/Cadet)

Siswa sekolah pelayaran (Taruna/i) yang sedang menempuh pendidikan untuk menjadi perwira wajib mengambil diklat ini sebelum mereka melakukan praktik kerja laut (Prada/Prala) atau sebelum kelulusan.

Kru Kapal Tanker dan Kapal Risiko Tinggi

Pelaut yang bekerja di kapal pembawa bahan kimia berbahaya (Chemical Tanker) atau gas (LPG/LNG Carrier) sangat disarankan (dan seringkali diwajibkan oleh perusahaan) memiliki sertifikat MFA karena risiko paparan zat beracun yang memerlukan penanganan medis cepat.

Mengapa Mereka Diwajibkan?

Alasan utama mengapa kelompok di atas wajib mengikuti MFA (bukan sekadar BST) adalah:

  • Tanggung Jawab Hukum: Sesuai kode STCW Tabel A-VI/4-1, personel tersebut harus mampu menunjukkan kompetensi dalam memberikan pertolongan pertama segera jika terjadi kecelakaan atau penyakit di kapal.
  • Syarat Jabatan: Tanpa sertifikat MFA yang valid, seorang pelaut tidak dapat menempati posisi jabatan perwira di atas kapal (secara administratif tidak memenuhi syarat Safe Manning).

Kemampuan Kepemimpinan: Dalam situasi darurat, perwira harus mampu memimpin proses evakuasi medis dan memberikan instruksi pertolongan pertama kepada bawahannya.

Prasyarat Sebelum Mengambil MFA

Seseorang tidak bisa langsung mengambil diklat MFA tanpa memiliki dasar. Prasyarat umumnya adalah:

  1. Memiliki sertifikat Basic Safety Training (BST) yang masih berlaku.
  2. Memiliki identitas resmi (KTP/Paspor).
  3. Memiliki Buku Pelaut (untuk pelaut aktif).
  4. Surat keterangan sehat dari rumah sakit yang ditunjuk oleh Perhubungan Laut.

Materi Utama dalam Diklat MFA

Materi dalam diklat Medical First Aid (MFA) disusun secara sistematis agar peserta mampu bertindak sebagai “tenaga medis darurat” di atas kapal. Kurikulumnya menggabungkan teori anatomi dengan simulasi praktik langsung.

Berikut adalah rincian materi utama yang diajarkan dalam diklat MFA berdasarkan standar STCW:

Pertolongan Pertama Segera (Immediate Action)

Ini adalah materi paling kritis yang berfokus pada teknik penyelamatan nyawa dalam menit-menit pertama setelah kejadian.

  1. Assessment Korban: Cara melakukan survei primer (DRABC: Danger, Response, Airway, Breathing, Circulation).
  2. Resusitasi Jantung Paru (RJP/CPR): Teknik kompresi dada dan napas buatan yang benar untuk dewasa.
  3. Penanganan Tersedak: Teknik Heimlich Maneuver.
  4. Mengontrol Pendarahan: Teknik tekanan langsung, elevasi, dan penggunaan torniket pada pendarahan hebat.
  5. Penanganan Syok: Cara mengenali dan mengatasi syok akibat kehilangan darah atau trauma.

Penanganan Cedera Fisik (Trauma Management)

Mengingat lingkungan kapal penuh dengan struktur besi dan mesin berat, materi ini sangat ditekankan.

  1. Cedera Tulang & Sendi: Teknik pembidaian (splinting) dan pembalutan pada patah tulang atau dislokasi.
  2. Cedera Kepala, Leher, dan Tulang Belakang: Prosedur evakuasi korban tanpa merusak saraf (penggunaan neck collar).
  3. Luka Bakar: Klasifikasi luka bakar (derajat 1, 2, dan 3) serta penanganannya akibat api, uap panas, atau cairan kimia.
  4. Luka Terbuka: Teknik menjahit luka sederhana (pada beberapa tingkat lanjut) atau menutup luka agar tidak infeksi.

Kondisi Medis Akibat Lingkungan & Penyakit

  1. Efek Suhu Ekstrem: Penanganan Hipotermia (kedinginan ekstrem saat jatuh ke laut) dan Heat Stroke (sengatan panas di kamar mesin).
  2. Gangguan Pernapasan: Penanganan asma atau sesak napas di atas kapal.
  3. Serangan Jantung & Stroke: Cara mengenali gejala awal dan tindakan darurat yang harus diambil.
  Cara Buat Buku Panama: Pengumpulan dan Verifikasi Dokumen

Farmakologi Dasar & Peralatan Medis

Peserta diajarkan untuk mengelola apotek kecil yang ada di kapal.

  1. Penggunaan Isi Kotak P3K: Memahami fungsi tiap alat dan obat standar di kapal.
  2. Pemberian Obat: Teknik memberikan obat secara oral atau injeksi (jika diinstruksikan oleh dokter via radio).
  3. Oxygen Therapy: Cara mengoperasikan tabung oksigen medis untuk membantu korban sesak napas.

Evakuasi dan Transportasi Korban

Memindahkan korban di dalam kapal (melalui tangga curam atau ruang sempit) membutuhkan teknik khusus.

  • Penggunaan Tandu: Praktik menggunakan tandu khusus kapal seperti Neil Robertson Stretcher atau Basket Stretcher.
  • Persiapan Evakuasi Udara: Prosedur mempersiapkan korban untuk diangkat dengan helikopter (Medivac).

Komunikasi Medis (Medical Radio Advice)

Karena tidak ada dokter, pelaut harus bisa berkonsultasi secara jarak jauh.

  • Pelaporan Medis: Cara melaporkan kondisi tanda-tanda vital korban secara akurat kepada dokter di darat melalui radio satelit.
  • Penggunaan Buku Panduan: Menggunakan International Medical Guide for Ships sebagai referensi diagnosa.

Metode Penilaian

Untuk dinyatakan lulus, peserta biasanya harus melewati:

  • Ujian Tulis: Mengetahui pemahaman teori anatomi dan prosedur.
  • Ujian Praktik: Simulasi langsung (misalnya: melakukan CPR pada manekin atau membidai kaki rekan tim).
Modul Pelatihan Topik Spesifik yang Dipelajari
Life Saving Skills Resusitasi Jantung Paru (RJP/CPR), penanganan tersedak, dan posisi pemulihan.
Penanganan Luka Cara menghentikan pendarahan hebat, balut simpai, dan perawatan luka bakar.
Cedera Tulang Pembidaian pada patah tulang dan penanganan cedera tulang belakang (spinal).
Kondisi Lingkungan Penanganan hipotermia, heat stroke, dan mabuk laut.
Farmakologi Dasar Penggunaan isi kotak P3K kapal dan pemberian obat-obatan terbatas.
Evakuasi Medis Prosedur memindahkan korban dengan tandu (Neil Robertson stretcher) di ruang terbatas.

 

Metode Pelatihan: Teori dan Praktik

Metode pelatihan Medical First Aid (MFA) dirancang dengan pendekatan “Learning by Doing”. Karena tujuannya adalah menyelamatkan nyawa, peserta tidak hanya dituntut untuk hafal teori, tetapi harus memiliki memori otot (muscle memory) dalam melakukan tindakan medis.

Berikut adalah rincian metode pelatihan yang biasanya diterapkan di lembaga diklat pelayaran:

Sesi Teori (Pemberian Fondasi Pengetahuan)

Sesi ini biasanya mencakup 30-40% dari total durasi diklat. Fokusnya adalah memberikan pemahaman logis sebelum melakukan tindakan.

  1. Presentasi Multimedia: Penggunaan video simulasi kecelakaan nyata di atas kapal untuk memicu analisis peserta.
  2. Anatomi dan Fisiologi Dasar: Mempelajari sistem peredaran darah, pernapasan, dan kerangka manusia agar peserta tahu mengapa sebuah tindakan dilakukan.
  3. Studi Kasus: Diskusi kelompok mengenai skenario medis, misalnya: “Apa yang Anda lakukan jika seorang kru pingsan di ruang tertutup (enclosed space) yang diduga beracun?”
  4. Pengenalan Regulasi: Penjelasan mengenai aspek legal dan tanggung jawab seorang pemberi pertolongan pertama berdasarkan STCW.

Sesi Praktik (Simulasi dan Keterampilan Klinis)

Ini adalah bagian paling krusial (60-70% durasi). Peserta akan berinteraksi langsung dengan peralatan medis dan manekin.

  1. Praktik RJP (CPR): Menggunakan manekin bersensor yang dapat mendeteksi apakah tekanan dada sudah cukup dalam dan kecepatan napas buatan sudah tepat.
  2. Simulasi Pembidaian & Pembalutan: Peserta saling berpasangan untuk mempraktikkan cara membalut luka kepala atau memasang bidai pada patah tulang kaki menggunakan peralatan asli.
  3. Penggunaan Alat Medis: * Mengoperasikan AED (Automated External Defibrillator).
  4. Memasang tabung oksigen dan masker.
  5. Teknik mengukur tekanan darah (tensi), suhu, dan denyut nadi secara akurat.
  6. Simulasi Evakuasi (Drill): Praktik mengangkat korban menggunakan tandu Neil Robertson melewati lorong sempit atau tangga kapal yang curam.

Sesi Simulasi Terintegrasi (Scenario-Based Training)

Pada akhir pelatihan, biasanya diadakan simulasi “kejadian nyata” tanpa pemberitahuan detail sebelumnya.

Contoh Skenario: Instruktur berteriak ada “Man Down” di dek. Peserta harus berlari membawa peralatan medis, melakukan penilaian awal, memberikan pertolongan pertama, hingga melakukan pelaporan medis melalui radio simulasi ke darat.

  Seafarers With Designated Security Duties Training

Evaluasi dan Ujian

Untuk mendapatkan sertifikat, peserta harus dinyatakan kompeten melalui dua tahap:

  • Ujian Tulis: Menilai pemahaman konsep medis dan prosedur keselamatan.
  • Ujian Praktik (Checklist): Instruktur akan mengamati langsung tindakan peserta. Jika ada langkah krusial yang terlewati (misalnya lupa memeriksa napas sebelum CPR), peserta dianggap belum kompeten dan harus mengulang.

Keuntungan Metode Gabungan Ini:

  • Membangun Kepercayaan Diri: Pelaut tidak akan panik saat melihat darah atau korban pingsan karena sudah berkali-kali mempraktikkannya.
  • Kesiapan Alat: Peserta menjadi akrab dengan isi kotak obat kapal sehingga tidak bingung mencari alat saat keadaan darurat terjadi.

Pentingnya MFA dalam Operasional Kapal

Pentingnya sertifikasi Medical First Aid (MFA) dalam operasional kapal bukan sekadar untuk memenuhi persyaratan dokumen agar kapal bisa berlayar. Di tengah laut, MFA adalah instrumen manajemen risiko yang krusial.

Berikut adalah alasan mengapa MFA sangat vital dalam operasional industri maritim:

Mengatasi Keterbatasan Akses Medis (The Golden Hour)

Dalam dunia medis, dikenal istilah The Golden Hour, yaitu periode satu jam pertama setelah cedera atau serangan penyakit di mana tindakan medis yang tepat dapat mencegah kematian.

  • Fakta: Kapal sering berada di posisi ribuan mil dari daratan.
  • Peran MFA: Pemegang sertifikat MFA bertugas menjaga stabilitas kondisi korban selama waktu tunggu evakuasi (yang bisa memakan waktu berjam-jam bahkan hari). Tanpa MFA, cedera ringan bisa menjadi fatal akibat penanganan yang salah.

Kemandirian Kru dalam Situasi Darurat

Kapal niaga umumnya tidak memiliki dokter di atas kapal. Dengan adanya kru yang terlatih MFA:

  • Kapal menjadi unit yang mandiri dalam menangani kecelakaan kerja.
  • Kru mampu melakukan diagnosa awal yang akurat sebelum berkonsultasi dengan layanan medis darurat melalui satelit (Telemedical Assistance Service).

Kepatuhan terhadap Regulasi Internasional (Port State Control)

Secara operasional, sertifikat MFA adalah “tiket” legalitas kapal:

  • Audit & Inspeksi: Petugas Port State Control (PSC) di pelabuhan internasional akan memeriksa daftar kru dan sertifikasinya. Jika perwira tidak memiliki MFA yang valid, kapal dapat dianggap tidak layak laut (unseaworthy) dan ditahan (detained).
  • Asuransi: Jika terjadi kecelakaan dan terbukti bahwa tidak ada personel medis yang kompeten di atas kapal, perusahaan asuransi (P&I Club) mungkin menolak klaim kompensasi.

Mitigasi Risiko Kecelakaan Kerja yang Spesifik

Lingkungan kapal memiliki risiko unik yang memerlukan keahlian MFA:

  • Kamar Mesin: Risiko luka bakar uap panas dan keracunan gas.
  • Dek: Risiko terjepit alat berat atau jatuh dari ketinggian.
  • Ruang Terbatas (Enclosed Space): Risiko asfiksia (kekurangan oksigen). Personel MFA dilatih secara spesifik untuk menangani skenario-skenario ini di atas kapal, bukan di rumah sakit.

Membangun Moral dan Kepercayaan Diri Kru

Secara psikologis, operasional kapal akan berjalan lebih lancar jika:

  • Kru merasa aman karena tahu ada rekan mereka yang mampu memberikan pertolongan medis jika terjadi sesuatu.
  • Mengurangi kepanikan saat terjadi situasi darurat, sehingga operasional kapal tetap terkendali.

Masa Berlaku dan Pembaruan (Revalidation)

Sama seperti sertifikat kompetensi pelaut lainnya, sertifikat Medical First Aid (MFA) tidak berlaku seumur hidup. Hal ini dikarenakan ilmu medis terus berkembang dan keterampilan teknis (seperti CPR) dapat menurun jika tidak dilatih secara berkala.

Berikut adalah ketentuan mengenai masa berlaku dan prosedur pembaruan (revalidation) sertifikat MFA:

Masa Berlaku Sertifikat

  1. Sesuai dengan ketentuan STCW dan Peraturan Dirjen Perhubungan Laut, sertifikat MFA memiliki masa berlaku selama 5 (lima) tahun.
  2. Setelah melewati batas 5 tahun, sertifikat tersebut dianggap Expired (kedaluwarsa).
  3. Pelaut dengan sertifikat yang kedaluwarsa tidak diizinkan untuk melakukan sign-on (bekerja di atas kapal) untuk jabatan perwira atau posisi yang bertanggung jawab atas medis.

Mengapa Perlu Pembaruan (Revalidation)?

Pembaruan bukan sekadar prosedur administratif, melainkan bertujuan untuk:

  1. Penyegaran Keterampilan: Mengingat kembali teknik-teknik penyelamatan nyawa yang mungkin jarang dipraktikkan di atas kapal.
  2. Update Protokol Medis: Protokol kesehatan internasional (seperti panduan dari American Heart Association atau WHO) sering diperbarui. Contohnya, perubahan rasio kompresi dada pada CPR atau prosedur penanganan wabah (seperti saat pandemi).
  3. Verifikasi Kesehatan: Memastikan pelaut masih dalam kondisi fisik yang mumpuni untuk memberikan pertolongan medis.

Prosedur Pembaruan (Revalidation)

Untuk memperbarui sertifikat MFA, pelaut tidak perlu mengulang diklat dari awal secara penuh. Prosedurnya biasanya melalui kursus penyegaran (Refresher Course):

  • Durasi: Lebih singkat dibandingkan diklat awal (biasanya hanya 1–2 hari).
  • Fokus Pelatihan: Langsung pada praktik-praktik inti seperti RJP/CPR, penggunaan AED, dan teknik evakuasi terbaru.

Persyaratan Dokumen:

  1. Sertifikat MFA lama yang asli.
  2. Masa layar yang diakui (biasanya minimal 12 bulan dalam 5 tahun terakhir).
  3. Sertifikat kesehatan dari rumah sakit yang ditunjuk (Medical Check-Up).
  4. Buku Pelaut yang masih berlaku.

Bagaimana Jika Masa Layar Tidak Mencukupi?

Jika seorang pelaut tidak memiliki masa layar yang cukup dalam 5 tahun terakhir, namun ingin mengaktifkan kembali sertifikat MFA-nya, mereka biasanya diwajibkan mengikuti diklat secara penuh kembali atau mengikuti ujian kompetensi khusus sesuai kebijakan lembaga diklat yang berwenang.

Penting bagi setiap perwira untuk memantau tanggal kedaluwarsa sertifikat mereka. Sangat disarankan untuk melakukan pembaruan 3-6 bulan sebelum masa berlaku habis guna menghindari hambatan saat akan berangkat kontrak kerja (sign-on).

Akhmad Fauzi

Penulis adalah doktor ilmu hukum, magister ekonomi syariah, magister ilmu hukum dan ahli komputer. Ahli dibidang proses legalitas, visa, perkawinan campuran, digital marketing dan senang mengajarkan ilmu kepada masyarakat